
Meskipun cuaca malam ini dingin karena gerimis menyapa namun masih sama ammar belum menunaikan nafkah batinnya. Hanya pembicaraan yang ada bersenda gurau menangkis rasa gugup dan malunya.
Khansa mengusap lengannya karena angin yang bertiup mengenai tubuh Khansa. Ammar mendekat memeluk istrinya itu dari belakang, Khansa pun memejamkan matanya merasakan kehangatan yang Ammar berikan.
" Aku bukan laki-laki yang bisa mengumbar kata romantis juga sikap yang manis, jangan bosan padaku ya dek".
" kita sama-sama belajar mas, Khansa juga masih banyak belajar. Terima kasih untuk semuanya". Khansa mengusap-usap tangan suaminya yang melingkar di pinggang nya.
" masuk yuk di sini dingin". Ajar ammar karena malam ini mereka ada di balkon melihat bintang dan bulan namun tak muncul karena tiba-tiba gerimis.
" enak di sini mas "
" tapi ini dingin loh".
" Biar bisa gini terus sama mas". goda Khansa.
" nanti di dalam mas peluk bobonya".
" janji ya." Ammar mengangguk, memang butuh di pancing dulu si Ammar supaya bisa aktif.
Rasa gugup itu timbul kembali kala Khansa melepas jilbab nya dan berganti pakaian menggunakan piyama dengan tangan pendek namun celana panjang. Lingerie hadiah dari sahabat nya Mahya belum ia pakai karena ia tak mau terburu-buru terhadap ammar.
Khansa ingin semua terjadi karena ammar sendiri yang ikhlas melakukan nya bukan Khansa yang menggoda. Seperti janjinya ammar akan memeluk Khansa di saat tidur karena beberapa malam tidur ammar hanya kaku seperti tak ada istri di sebelahnya padahal halal itu ada tapi sekali lagi ammar malu.
" mas mau punya anak berapa". Ammar langsung melihat wajah Khansa.
" berapapun mas mau, bukan banyak atau sedikit nya dek yang penting kita bisa mendidik menjadi anak-anak yang Soleh. Kenapa hemm... Sudah mau bikin anak." Khansa tersenyum malu tapi tetap saja ammar belum aktif hanya menarik Khansa dalam pelukannya lagi.
' tak apa segini aku udah bahagia, setidaknya ia mau menerima ku menjadi istrinya '. Batin Khansa.
Khansa memejamkan mata, ammar mengusap-usap punggung Khansa yang membuat Khansa nyaman. Setelah terlihat Khansa benar-benar tertidur ammar melepaskan pelukannya perlahan ia ganti dengan guling lalu ammar kembali berkutat dengan laptopnya.
Duh ammar bikin gemessss.
__
__ADS_1
Hari-hari berlalu kini Khansa libur dan sesuai kesepakatan kemarin ammar ingin mengajak jalan-jalan ke Swiss. Bulan madu itulah, sebagai pengantin baru sudah menikah sebulan lamanya belum tertunaikan juga.
Khansa pamit kepada semuanya Abi dan umi juga ayah bunda, mereka mengizinkan berharap juga rumah tangga Khansa dan Ammar sakinah mawadah warahmah. Azzam dan Aisha mengantar ke bandara mereka pakai jet pribadi milik Hamdan, sebenarnya ammar menolak tapi Hamdan memaksanya.
Negara Swiss impian Khansa yang ingin ia datangi, baru kali ini Khansa melihat salju. Sungguh bahagia nya Khansa apalagi bisa pergi bersama orang yang ia cintai. Ya seiring berjalannya waktu cinta itu makin tumbuh melekat tak hanya Khansa namun ammar juga. Tangan ammar tak pernah lepas untuk memegang tangan Khansa.
" hati-hati dek jangan lari". Teriak ammar melihat Khansa berlarian sembari memainkan salju.
" Khansa bahagia mas." Ammar terkekeh ia ambil foto istri nya beberapa kali dengan tawanya yang lepas.
" Boleh main salju tapi di luar dingin sekali ayo masuk sayang badanmu tak akan kuat nanti". Ammar tak ingin istrinya sakit.
" dingin mas". Khansa menggosokkan tangannya agar hangat.
Ammar membuat kopi mocca yang hangat untuk istrinya agar rasa dingin itu hilang.
" minum dulu biar lebih hangat sayang." Khansa tersenyum meraih gelas yang berisi kopi hangat itu untuk nya.
Selepas waktu isya Khansa mengaji terlebih dahulu sebelum ia tidur. Surat Al Mulk yang menjadi rutinan Khansa sebelum tidur. Ammar membuka laptopnya ia duduk di atas ranjang dengan bersila, ia memantau pekerjaan nya dari sini. itulah ammar tak pernah lepas dari laptopnya.
" wudhu dulu yuk". Ammar menarik tangan Khansa agar ikut ke kamar mandi untuk berwudhu padahal Khansa belum batal dari wudhu nya.
" kita sholat dua rakaat ikuti mas". Khansa mengikuti tanpa bertanya.
Setelah selesai Khansa Salim ia tersenyum ammar lalu mengecup kening Khansa cukup lama. Ammar membuka mukena Khansa ia menggendong Khansa di letakkan nya di ranjang.
" Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithanaa wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa" ucap ammar berdoa sebelum melakukan nya.
Senyum Khansa mengembang setelah sebulan lamanya kini apa yang seharusnya di lakukan sang pengantin terjadi juga. Kamar hotel negara Swiss menjadi penyatuan cinta mereka berdua. Angin pun berhembus semakin kencang seakan ikut bersorak senang melihat dua insan yang sedang bergerumul dalam selimut.
" terima kasih mas". bisik Khansa di telinga ammar, ammar hanya tersenyum lalu memeluk Khansa erat mereka pun tertidur setelah melakukan aktivitas panas antara suami istri itu.
__
Ameer sangat fokus dengan pendidikan nya satu bulan berada di sana ia hanya belajar dan belajar ingin cepat selesai. Jika memang dia pandai waktu nya bisa lebih cepat dari perkiraan masa kuliah nya. Bahkan tak ada waktu untuk Ameer bermain, hanya buku dan buku hari-hari nya.
__ADS_1
" kamu serius bener Ameer sampai tak pernah ikut kita jalan setidaknya malam mingguan kumpul bareng temen-temen"
" maaf tujuan ku ke sini sekolah dan aku jug angin cepat selesai". Ucap Ameer sembari tersenyum membolak-balikan bukunya.
" wah pengen cepet menikah ya". Haris tertawa meledek Ameer.
" ah tau aja kamu haris, emang kamu aja yang mau menikah aku juga iya kawan". Ameer terkekeh.
" baiklah aku tak ingin memaksamu satu bulan di sini nilai mu sudah cukup baik, kamu menikung ku koas mu dengan nilai terbaik kemarin aku lihat."
" kan aku udah bilang haris aku ingin cepat selesai". Ucap Ameer tersenyum saja ia lalu berjalan menuju dapur untuk membuat kopi panas untuk mereka berdua.
" minumlah nongkrong di sini saja aku tak ingin keluar ". Ucap Ameer serius, akhirnya haris pun tak ingin memaksa ia tau jika Ameer sejak dulu orangnya lurus ngga pernah neko-neko.
" oke aku mengerti, kemarin ada yang menanyakan mu dia titip salam padamu" .
" kembali salam"
" kamu tak ingin bertanya siapa."
" yang penting sudah aku jawab kan salam nya." Ameer nyengir.
" Salsabila ia sedang ambil kuliah dokter kandungan di sini".
" siapa dia aku tak kenal". Ucap Ameer karena memang dia tak kenal.
" jangan cupu-cupu amat Ameer dia anaknya pak menteri kamu tak tau". Ameer menggeleng.
" ya Allah dulu adik kelas kita saat kita kelas 3 dia kelas 1 SMA". Ameer hanya mengedikkan bahunya.
" seperti nya dia suka padamu, mau saja Ameer lumayan kan numpang tenar jadi menantu pak menteri".
" tak penting sudah aku tak mau bahas". Haris hanya geleng-geleng kepala sejak dulu begitulah Ameer, padahal sejak lama Salsabila menyukainya tapi Ameer abai.
__
__ADS_1