Cinta Untuk Khansa

Cinta Untuk Khansa
part 69. merengkuh pahala


__ADS_3

...Jika Allah tidak mengizinkan semuanya tidak akan pernah terjadi....


...💕💕💕...


Panas terik mentari siang ini membuat semua orang tak ingin keluar rumah saking panasnya. Semua yang akan di bawa sudah di susun di dalam mobil, Gaza pun senang mereka akan pulang hari ini. Oleh-oleh khas bandung tak lupa mereka beli terlebih dahulu untuk orang-orang di rumah.


" ada yang tertinggal tidak Khansa ". Tanya Ameer masih menyusun beberapa barangnya di mobil.


" sepertinya tidak kak sudah semua". Ucap Khansa mengusap pelipisnya berasa keringat mulai bercucuran.


" istirahat, masuk ke mobil ini kakak selesaikan tinggal sedikit". Ucap Ameer mengusap dahi Khansa dengan sapu tangannya.


" Khansa bantu kak biar cepet selesai".


" ini sudah selesai sebentar lagi, masuk saja ke dalam. Cuacanya panas ini." kata Ameer menuntun Khansa agar masuk ke dalam mobil, Khansa pun menurut saja ia di dalam mobil menoleh ke belakang memeperhatikan suaminya yang sedang menyusun barang supaya mobilnya cukup.


" bunda kita pulang ke rumah baru ya". Tanya Gaza dengan memeluk boneka Barbie kesukaan nya.


" ke rumah nenek dulu sayang, rumah Gaza kata ayah belum jadi masih di perbaiki".


" Gaza sudah pengen banget bobo di kamar Gaza, terus ada adiknya ". Ucap Gaza begitu polos, Khansa hanya tersenyum mengusap kepala putri nya itu.


" ayo kita berangkat". ucap Ameer masuk ke dalam mobil.


" minum dulu kak." Khansa menyodorkan minuman botol untuk Ameer.


" Alhamdulillah, tuan puteri sudah siap."


" siap ayah".


" permaisuri sudah siap." Khansa mengangguk sembari tertawa.


Dua jam perjalanan Ameer menyopiri mobilnya sendiri tanpa membawa sopir pribadi, layaknya ia sudah terbiasa saat dulu masih lajang. Di Yogyakarta ia juga ada mobil ia pakai untuk perjalanan.


Mobil berhenti di rumah dokter azzam, Ameer meminta security dan tukang kebun membantunya mengeluarkan barang-barang nya. Lumayan banyak meski hanya pakaian dan beberapa peralatan Ameer.


" nenek..." teriak Gaza ketika melihat sang nenek menghampirinya.


" masyaallah cucu nenek makin besar, nenek tak kuat lagi gendong nya ini." ucap Aisha terasa berat menggendong Gaza, Gaza pun cekikikan.


Gaza berceloteh cerita tentang harinya di sana, mendengar itu Aisha ikut bahagia ia tertawa bersama Gaza.


" Gaza kan sudah besar jadi bobonya sekarang ngga boleh sama ayah dan bunda ya." ucap Aisha.


" Gaza bobo sama siapa nek".


" sama nenek buyut saja." ucap ibunya dokter Azzam menghampiri.

__ADS_1


" oke... bunda bobonya di temenin ayah, nenek bobonya di temenin kakek jadi Gaza di temenin nenek buyut dong." Gaza tertawa di ikuti yang lain.


" hayuk mandi sudah sore sebentar lagi adzan ashar kan ". Gaza mengangguk ia bersama Aisha mandinya.


Ameer dan Khansa pun berjalan naik ke atas ke kamar Ameer yang masih sama dengan yang dulu. Khansa terhenti langkah nya ia menoleh kamar yang dulu ia tempati bersama ammar. Memori kebersamaan nya pun tiba-tiba berputar di otak Khansa.


" Ayo kita liat kamar nya sudah bunda rehab menjadi kamar Gaza." ucap Ameer menggenggam tangan Khansa, ia tau pikiran Khansa saat ini.


Foto pernikahan nya bersama ammar pun masih terpajang di sana, Ameer meminta bundanya sengaja tidak menurunkan foto itu.


Khansa menggenggam erat tangan Ameer ketika melihat senyum ammar dalam foto tersebut.


" Kak ammar dia sosok yang hebat bagiku, Allah menyayangi nya hingga di usia muda sudah mengambilnya terlebih dahulu". Ucap Ameer.


" maaf kan Khansa ya kak yang masih sesekali mengingat mas ammar ". Ucap khansa.


" kak ammar adalah kenangan untuk kita, kakak juga tak ingin melupakan nya apalagi menyuruh mu melupakan nya. Tidak Khansa ia tetap ada dalam hati kita, hanya saja kehidupan memilih seperti ini. "


" iya kak semua masa lalu dan sekarang masa depan, kak Ameer adalah masa depan Khansa kita akan berjalan bersama mengarungi bahtera rumah tangga kita ini." ucap Khansa, ia menahan agar air matanya jangan sampai menetes mengingat ammar suami nya.


Ameer mengusap kepala Khansa kemudian mereka sampai di kamarnya membersihkan diri dan beristirahat sejenak meskipun ngga tidur.


Khansa memberi kabar kepada abinya jika mereka sudah sampai di jakarta namun belum bisa pulang ke rumah abinya. Barra pun mengerti ia percaya dengan Ameer apalagi setelah membaca surat yang Aisha perlihatkan jika Ameer mencintai Khansa sejak lama.


" sudah malam ayo tidur, kan masih lelah. Besok jangan kerja dulu tadi kakak udah bilang sama ayah". Ucap Ameer merapikan tempat tidurnya.


" tak apa jika perlu kamu tak usah bekerja saja". Ucap Ameer dengan keinginan nya.


" Khansa masih suka bekerja kak, apa kakak tak mengizinkan ". Tanya Khansa ingin tau jawaban Ameer.


" iya boleh tapi ingat jangan sampai lelah jika ingin berhenti bekerja berhenti saja ".


" iya". Khansa mulai naik ke atas ranjang nya.


" Khansa...".


" hemmm..."


" ngga jadi". Ucap Ameer rasanya dirinya sudah adem panas, bau parfum wanginya khansa menguar dalam hidung nya.


" kok ngga jadi kenapa kak". Tanya Khansa ia menoleh ke arah Ameer yang telentang tidur di sebelah nya.


" emmm... Ayo tidur". Kata Ameer ia benar-benar tak berani memulainya lebih dulu, Ameer merasa kalah dengan perasaan nya yang tak ingin menyakiti orang yang di cintai nya.


" Katakan saja jika ada yang perlu di katakan kak, jangan di simpan nanti jadi bisul. ngga etis aja jika dokter bisulan". Khansa terkekeh Ameer lalu mencubit hidung Khansa.


' ya Allah dia pura-pura ngga ngerti apa memang ngga ngerti sih, apalagi dia janda pasti sudah pernah melakukannya '. Monolog Ameer dalam hati.

__ADS_1


" Ngga apa-apa tidurlah Khansa sudah malam besok kita ke rumah Abi sembari melihat rumah kita ya." kata Ameer ia membelai pipi Khansa yang halus itu.


" kak.."


" ya..."


" dingin..." ucap Khansa ia mendekat ingin berada di pelukan Ameer, Ameer pun meraihnya dengan menghujani ciuman di puncak kepala Khansa.


Khansa mendongak melihat ke wajah Ameer, mata mereka bertemu kepingan cinta itu seakan mulai tersusun rapi. Hembusan nafas keduanya menyapu wajah mereka masing, terasa panas membuat bulu kuduk keduanya meremang.


Naluri kelakian Ameer pun membuncah seakan ingin ia tuntaskan sekarang juga, Ameer mengusap wajah Khansa lalu ke bibirnya. Khansa merasakan sentuhan halus dan tulus dari suaminya ia memejamkan mata menghayati setiap sentuhan tangan Ameer di wajahnya.


Perlahan benda kenyal itu tiba-tiba mendarat di bibir Khansa, nafas keduanya memburu bertukar Saliva satu sama lain bahkan tak sadar Khansa pun mend*sah pelan. Ameer pun makin semangat terus mencium b*bir Khansa semakin dalam, suara des*han Khansa makin terdengar.


Tangan yang tadinya hanya diam saja kini sudah mulai aktif masuk ke dalam sesuatu yang tak pernah Ameer jamah sebelumnya bahkan ini untuk pertama kali baginya. Khansa pun semakin di buat gila oleh Ameer ia menutup rapat rasa malunya yang ada di pikiran nya yaitu merengkuh pahala dengan pasangan halal.


Tut...Tut...Tut...


Suara handphone mengagetkan keduanya, dalam mode masih panas-panasnya mereka berhenti dengan aktivitas nya. Khansa tersipu malu karena sejak tadi Khansa lebih dulu mendominasi nya. Ameer melepaskan tautan mereka lalu mencium kening Khansa sebelum mengangkat handphone nya yang sejak tadi berbunyi.


" assalamu'alaikum kak." suara Khalid di seberang telepon.


" wa'alaikumsalam ada apa Khalid."


" maaf no kak Khansa tak bisa di hubungi jadi Khalid hubungi kakak." dengan suara gugup yang tergesa-gesa.


" iya tak apa ada apa Khalid ." tanya Ameer ia lalu duduk dari posisinya tadi yang sedang terbaring.


" aki masuk rumah sakit kak, ini Khalid bawa ke rumah sakit harapan".


" innalilahi aki kenapa Khalid."


" lebih baik kakak cepat kesini tolong tangani aki kak, ". ucap Khalid masih gugup suara nya kadang sedikit terbata.


" oke kakak ke sana sama mbak mu". ucap Ameer menyibakkan selimutnya.


" ada apa kak". Tanya Khansa.


" sekarang kita ke rumah sakit, aki ada di rumah sakit."


" aki kenapa kak".


" kita dengar cerita mereka saja nanti yang penting kita ke rumah sakit terlebih dahulu ".


Di malam yang akan menjadi sejarah bagi mereka berdua kini gagal, semesta belum mengizinkan menguji kesabaran untuk Ameer kembali.


___

__ADS_1


__ADS_2