Cinta Untuk Khansa

Cinta Untuk Khansa
Part 38. Kegelisahan Barra


__ADS_3

" Abi tolong khitbahkan gadis untuk Khalid."


" hah, apa yang kamu katakan Khalid kamu lagi bermimpi nak." ucap barra kaget begitupun Fauzan yang langsung menginjak rem mobilnya membuat Barra hampir terbentur dasbor mobil.


" astaghfirullah hal adzim Fauzan ada apa". Tanya barra kemudian, Fauzan sedang mengusap dadanya dan beristighfar.


" Maaf ustadz saya kaget saat ustadz terkejut".


" Maaf saya kaget ini Khalid bikin saya langsung jantungan". Ucap Barra.


" Abi, tolong minta kan anak gadisnya dokter Fadhil untuk Khalid katakan padanya jika setelah Khalid selesai sekolah di Kairo S1 Khalid akan nikahin anaknya".


" kamu tu sedang keselek apa Khalid tiba-tiba minta khitbahin anak gadis orang ". Ucap barra heran dengan anaknya yang satu ini.


" tolong Khalid Abi ". Fauzan menutup mulutnya ingin menahan tawa.


" Ya ampun pikirin sekolah kamu dulu nak baru mikirin anak gadis orang ". Ucap Barra.


" kalau Abi tak mau bilang ke dokter Fadil agar anaknya jangan di serahkan sama siapapun, Khalid akan pulang saat ini juga biar Khalid sendiri yang datang ke dokter Fadil." Barra menghembus nafas kasar kali ini di buat puyeng sama anak laki-laki satu nya ini.


" oke Abi pikirkan ".


" isshh... kelamaan Abi". Barra geregetan kalau dekat udah di getok kepala Khalid itu.


" nak coba kamu pikirkan lagi ya."


" sudah Abi satu bulan di sini Khalid sudah pikirkan matang-matang".


" ya sudah nanti Abi bicarakan sama umi mu". ucap Barra agar Khalid tak terus merajuk.


" jangan lama-lama Abi takut keduluan orang".


" iya insyaallah". Ucap barra menahan gemas.


Lalu Khalid menutup teleponnya dengan mengucap salam dan di jawab oleh Barra.


" ke apa tadz Khalid".

__ADS_1


" pakai tanya kamu Fauzan, dengar sendiri kan kamu tadi apa yang Khalid ucapkan".


" iya maaf ustadz".


" bagaimana menurut mu". Fauzan justru malah mengedikkan bahunya meski dia punya anak bujang juga tapi tak se absurd Khalid begitu.


Barra kemudian menyuruh nya jalan lagi agar sampai ke rumahnya, tubuhnya sudah sangat lelah.


__


Ammar sudah menghubungi pesawat pribadi milik Hamdan, kemudian co pilot mendapat jadwal jika penerbangan akan di lakukan pukul sepuluh pagi. Khansa menyiapkan seluruh bawaannya juga oleh-oleh untuk para keluarga di Indonesia.


" Coba di cek sayang ada yang tertinggal atau tidak". ucap ammar juga ikut sibuk mengemas barang.


" insyaallah ngga mas sudah Khansa bawa semua." ucap Khansa tersenyum.


Salju di daerah Swiss sudah mulai mencair cuaca hari ini sedikit terik seolah memberi jalan untuk Khansa dan Ammar untuk pulang ke negaranya.


" Suatu saat nanti kita ke sini lagi kalau ada rezeki dan waktu, maafkan mas harus maksa kamu pulang". ucap ammar menggait tubuh istrinya di pegangnya pinggang ammar.


" insyaallah jika diberi kesempatan lagi dan umur panjang." Khansa memeluk tubuh ammar merasakan hangatnya tubuh suaminya yang cukup besar.


Rasa malu itu kini lama-lama terkikis karena seringnya bersama, ammar sudah tak malu lagi untuk menggandeng tangan istrinya saat memasuki jet pribadi milik Hamdan. Di sana hanya mereka berdua menikmati perjalanan udara beberapa jam.


Sengaja ammar tak menghubungi keluarga nya jika pulang hari ini, ia cukup memesan taksi untuk mengantarkan nya sampai ke rumah nya. Semenjak menikah ammar tak mau tinggal di rumah mertua atau pun ayah nya, hanya sesekali saja menginap.


___


Di negara asing di mana Ameer sedang mengenyam pendidikan nya, hari-hari yang di lalui nya hanya sekolah dan belajar. Sesekali saja praktek di ajak oleh dokter Bastian kerabat dari ayahnya Azzam. Kebetulan dokter Bastian adalah dokter spesialis jantung karena ameer mengambil jurusan itu. Bastian sering mengajak Ameer untuk ikut operasi pasien, di sana Ameer banyak belajar.


Ameer keluar dari ruangan operasi bersama team dokter Bastian, ia mengusap keningnya yang basah dengan keringat meskipun ruangan itu ber AC namun karena tegang tetap saja terasa panas baginya.


" Fokus mu bagus Ameer kamu akan jadi dokter yang hebat nantinya". Dokter Bastian menepuk bahu Ameer.


Anggap aja ucapannya pakai bahasa inggris ya antara dokter Bastian dan Ameer. Mau othor tulis pakai bahasa inggris takut pembaca ngga ngerti wkwkwk.(ngeles othor )


" Saya masih harus banyak belajar dokter, dokter tetap yang terhebat". Ucap Ameer. Setelah sedikit berbincang Ameer lalu pamit untuk pulang badannya sudah cukup terlalu lelah.

__ADS_1


Sesampainya di tempat kost Ameer langsung mandi membersihkan diri lalu membuka bungkusan yang ia beli tadi saat akan pulang. Ameer memang jarang memasak mungkin jika ingin masak sendiri mie instan yang menjadi santapannya.


Ia rebahkan tubuhnya di atas ranjang ingin segera terlelap tapi bayangan senyuman orang yang kini menjadi kakak iparnya terlintas. Ameer mengusap wajahnya ia heran kenapa hal yang tidak halal ia pikirkan masih saja mengusik pikirannya.


" ya Allah ampuni hamba." ucap Ameer sendiri di dalam kamar kostnya. Ia memilih sendiri menempati kamar kost padahal haris sudah menawarkan untuk tinggal bersamanya, juga para dokter teman ayahnya namun Ameer menolak dengan alasan ingin fokus.


Ameer teruskan untuk berdzikir agar pikirannya lebih tenang akhirnya diapun terlelap.


__


Sejak semalam barra belum mengatakan kepada istrinya alira atas ucapan Khalid. Ia memilih diam terlebih dahulu menyelami ucapan Khalid yang terlihat tidak main-main. Barra setelah sarapan pagi ia tak keluar lagi karena ada jam saat siang saja, barra naik ke atas ke kamar nya dan berdiri di balkon.


Alira yang tau kegelisahan suaminya ia pun ikut naik ke atas meninggal kan emak dan Abah yang masih asyik mengobrol. Alira masuk di lihatnya sang suami di balkon kamar miliknya, lalu ia mendekat di peluknya barra dari belakang. Barra memejamkan mata saat merasakan pelukan istri nya, barra tau jika istri nya pasti mengkhawatirkan nya.


" Sudah selesai sarapan nya." tanya barra mengusap tangan yang melingkar di pinggang nya.


" Alhamdulillah mas sudah."


" aku tidak apa-apa sayang." ucap barra kemudian.


" Kalau tidak ingin mengatakan nya tidak apa-apa mas, aku hanya ingin memeluk mu saja. Alira kangen." ucapan alira membuat hati barra sejuk, barra pun berbalik lalu memeluk alira erat.


" terima kasih sayang sudah menemaniku hingga usia senja ini, terima kasih atas sikapmu yang tak pernah menuntut ku dan atas keikhlasan menerima ku apa adanya ".


" mas seharusnya itu ucapan alira bukan mas barra ". Ucap Alira cemberut. Barra terkekeh meski sudah tua masih juga alira bersikap manja itulah yang membuat barra gemas.


" ini tentang Khalid sayang". ucap barra menjeda kalimat nya.


" Khalid ada apa dengan nya mas." alira melepaskan pelukannya ia ingin dengar jelas apa yang di katakan suaminya.


" iya Khalid semalam menelepon mas jika ia minta di khitbah kan seorang gadis."


" masyaallah Khalid mas, mas serius....


__


Happy weekend buat semua pembaca ya.

__ADS_1


__ADS_2