Cinta Untuk Khansa

Cinta Untuk Khansa
Part 79. nafkah batin


__ADS_3

Ameer menghela nafasnya mengatur dada yang kian membuncah lalu ia mengambil gawainya membuka pesan. Ada beberapa pesan dari teman-temannya di Amerika dan grup-grup yang ia miliki. Ameer pasrah ia pun berjanji tak akan memaksa jika memang Khansa belum siap.


Ameer berdiri berganti pakaian dengan kaos putih tipisnya yang biasa ia pakai saat tidur. Ameer terdiam saat kedua kalinya Khansa memeluk Ameer dari belakang. Ameer memejamkan mata, gairah nya yang tadi belum surut ia tahan kembali takut menyakiti Khansa. Tangan Khansa menari-nari di perut sixpack Ameer, gelenyar panas tubuh Ameer kembali berdenyut.


" Khansa..." ucap Ameer tanpa mau menoleh ke wajah sang istri.


" Kak buktikan jika kakak mencintai Khansa".


" Bukti apalagi, kakak sudah bertahun-tahun menahan nya. Apalagi untuk bertemu dengan mu pun kakak enggan, karena setiap bertemu dengan mu jantung ini berdebar tak bisa mengontrol diri". Ameer menggigit bibirnya menahan diri.


" Bukti kakak saat ini untuk cinta kakak untuk Khansa". Ameer lalu berbalik tak tahan diri nya yang terus Khansa goda.


Mata Ameer membulat sempurna dengan Khansa yang memakai lingerie warna pink rose. Seakan tak percaya jika di depannya kini adalah Khansa terlihat sangat cantik dengan rambut panjang lurusnya yang tergerai indah.


" Kakak mencintai mu khansa".


" Khansa tak mau hanya dengar ucapan kakak saja, Khansa ingin bukti kak".


" Tak ada yang bisa kakak perbuat lagi untuk membuktikan cinta kakak sama kamu. Kamu siap menjadi bagian dalam hidupku, bersatu dengan ragaku dan menjadi kita. Kakak akan berikan kewajiban nafkah batin kakak untuk mu itulah bukti cinta kakak terhadap mu sekarang sayang." Khansa mengangguk dengan senyuman termanis nya. Ameer membacakan doa bersenggama terlebih dahulu.


Ameer mengangkat tubuh Khansa hingga ke ranjang, dengan khansa yang kini tanpa penolakan sama sekali. Di matikan nya lampu yang menyala terang hingga tinggal lampu tidur yang meremang. Khansa dan Ameer telah menyatu yang terdengar kini hanya ******* memenuhi kamar mereka.


__


Suara adzan membangunkan Ameer yang kini masih polos tanpa sehelai benangpun di balik selimut. Ia pun bangun bergegas untuk ke kamar mandi takut jika ia ketinggalan shalat berjamaah di masjid.


Seperti biasa Ameer tak tega membangunkan Khansa, semalam mereka hampir semalaman merajut kasih.Ameer tersenyum mengusap kepala Khansa dan menciumnya sejenak kemudian ia pergi ke masjid.


Khansa merasakan tubuhnya yang sangat letih, ia merasa bagian sisinya namun sudah kosong. Perlahan Khansa membuka matanya dan melihat tak ada suaminya di sisinya. Khansa lalu tersenyum dirinya yang kini benar-benar polos, semalam ia sudah mendapatkan bukti cinta dari suaminya.


Khansa pun bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri melaksanakan dua rakaat subuhnya. Setelah selesai ia turun ke dapur untuk membuat kopi kesukaan Ameer mengisi perutnya yang kosong di pagi hari. Sembari menunggu suami pulang dari masjid Khansa membaca surat Al waqi'ah terlebih dahulu.


Ameer selalu mengikuti kajian pagi di masjid setelah subuh baru akan pulang jika sudah selesai. Ameer mengucap salam lalu masuk ke dalam kamar yang tak terkunci. Melihat istrinya yang masih mengenakan mukena menyelesaikan bacaannya Ameer memeluk Khansa dari belakang.


" Terima kasih". bisik Ameer, khansa tersipu malu ia lalu menutup kitabnya yang sudah selesai ia baca.


" Kopinya kak di minum dulu ".


" aku mau minum sama istri ku." Khansa lalu beranjak mengikuti Ameer ia duduk dan Khansa duduk di pangkuan nya menikmati minuman itu bersama.


" Kakak nanti kerja."


" iya ada jadwal operasi yang cukup padat hari ini, maaf ya waktu kita mungkin tak terlalu banyak. Kakak akan coba untuk kurangi jam praktek kakak saja."


" jangan kak mereka butuh tangan ahli kakak kasihan pasien nya."

__ADS_1


" tapi kakak jadi tak punya waktu buatmu, ingat tidak apa ucapan Gaza." khansa ingat iapun terkekeh sembari menutup mulutnya.


" iya jika memang Allah akan kabulkan tak akan menunggu lama nanti kan ." .


" tapi kakak pengen cepat wujudkan keinginan Gaza." Ameer melingkar kan tangannya di pinggang khansa dan Khansa mengalungkan tangannya di leher Ameer.


" insyaallah aamiin". ucap Khansa pun senang.


" Kakak mencintai mu khansa ". Khansa kembali tersenyum.


Khansa turun ke bawah untuk membantu bunda menyiapkan sarapan nya dan Ameer membangunkan Gaza agar lekas mandi dan berganti pakaian untuk ke sekolah.


Suasana pagi itu nampak ceria, bunda yang melihat wajah cerah Khansa merasa senang. Berharap keduanya sudah tidak ada kesalahan pahaman lagi.


" ayah mana adiknya kok lama sekali perut bunda ngga gede-gede". semua tertawa mendengar celotehan Gaza.


" Nanti sayang kalau udah waktunya perut bunda akan gede, Gaza berdoa terus ya." Gaza mengangguk dan melanjutkan sarapan nya.


" Ayah bunda, Ameer minta izin besok kita akan pindah, rumah kita sudah jadi Alhamdulillah".


" ya yang penting jika kalian bekerja biarkan Gaza di sini saja."


" kami akan tetap menyewa suster untuk menemani Gaza setiap hari".


" insyaallah Allah selalu menjaganya bunda ". Ameer meyakinkan bundanya.


Ameer dan Khansa terlebih dahulu mengantar ke sekolah sebelum mereka ke rumah sakit. Gaza pamit dengan melambaikan tangannya.


Tak henti-hentinya Ameer memegang jemari tangan Khansa dan sesekali mengecupnya di sela ia mengendalikan setir mobilnya.


" sayang agar semua tau kamu istriku, kakak hari ini mau memperkenalkan istri kakak sama seluruh pekerja rumah sakit. supaya juga tak ada fitnah jika kita bersama." Khansa mengangguk tersenyum, bahkan ada banyak hati yang patah idolanya sudah menikah bahkan dengan seorang janda.


" Nanti pulangnya tunggu kakak jangan pulang sendiri, jika kakak masih di ruang operasi kamu tunggu kakak di dalam ruangan kakak ya sayang*.


" Khansa pulang dulu saja naik taksi ya kak."


" ngga sayang kita harus pulang bareng." Khansa justru malah tertawa.


" kenapa tertawa sih".


" Khansa batu tau sosok kak Ameer yang sebenarnya".


" inilah yang sesungguhnya anak yang manja bersama bunda tapi aku akan menjadi lebih baik. bantu kakak y."


" iya kakak terima kasih sudah mempertahankan cinta kakak untuk Khansa."

__ADS_1


" aku laki-laki yang sangat beruntung bisa di cintai oleh Khansa ku ".


Sampai di rumah sakit Khansa menarik nafas panjang ia harus siap dengan semua resiko ketika Ameer akan mengenalkan dirinya.


" tak perlu untaian kata cukup genggaman tangan saja sudah akan mewakili jika kamu milik kakak" Ameer menyodorkan telapak tangannya, Khansa mencium punggung tangan suaminya dan Ameer mengecup kening Khansa sebelum mereka turun.


Ameer membukakan pintu mobil nya mengajak Khansa untuk turun dan masuk ke dalam rumah sakit tentunya dengan genggaman tangan mereka yang bertautan.


Banyak pasang mata yang melihat dan bisik-bisik para pekerja di sana melihat Ameer dan Khansa jalan bersisian dengan tangan yang saling bertaut.


" itu kan dokter Ameer dan Khansa". Tanya Mala suster tersebut.


" iya masa Khansa pacaran itu tak mungkin ".


" namanya juga janda bebas lah ." ucap Mira menimpali


Ameer langsung mengantar Khansa ke tempat kerjanya senyum keduanya merekah menyapa siapapun yang lewat di sana dengan ramah. Semua balik menyapa namun dengan wajah keheranan.


" Kakak masuk dulu ya, nanti makan siang tunggu di ruangan kakak." Khansa mengangguk, Ameer mengusap kepala Khansa dan berlalu masuk ke ruangan nya.


" khansa itu kan tadi dokter Ameer kalian pacaran, astaghfirullah hal adzim". ucap meta teman dalam satu pekerjaan nya.


" Mbak dalam Islam pacaran itu di perbolehkan setelah menikah." ucap Khansa berlalu masuk meletakkan tas kerjanya.


" apa maksud mu, jangan bilang kamu menikah dengan dokter Ameer ya". Cecarnya, Khansa hanya tersenyum membuat Meta penasaran.


" Memang kenapa kalau Khansa menikah dengan dokter Ameer ada yang salah".


" dia kan masih bujangan mau sama janda". meta makin penasaran".


" Rasulullah saja menikahi bunda Khadijah yang seorang janda, jika itu terjadi pada kami apa ada yang salah." kini Khansa bisa menjawab pertanyaan teman kerjanya tanpa rasa malu dan menyembunyikan hubungan mereka.


" kamu serius Khansa." tanya meta.


" ngga ada alasan untuk berbohong kan, doakan kami ya mbak." Khansa tersenyum mulai duduk di tempat racikan obat nya.


" masyaallah selamat ya, siapa juga yang akan menolak janda macam kamu masih muda dan cantik nya ngga hilang-hilang". Meta memberi selamat pada Khansa kemudian ia memeluk nya.


" iya kamu pantas kok sama dokter Ameer". Ucap Nadine salah satu pekerja apotik.


" pantas saja kemarin dokter meminta kamu untuk mengantar obat nya, lama juga kamu di ruangan dokter Ameer ". Ucap meta membuat Khansa tertawa.


Semua para pekerja di apotik itu kini sudah tau jika Khansa adalah istri dokter Ameer.


__

__ADS_1


__ADS_2