Cinta Untuk Khansa

Cinta Untuk Khansa
Part 54. Gaza sebagai prioritas


__ADS_3

Tepat selepas Maghrib pesawat landing, Ameer turun dari pesawat di jemput oleh Hamdan setelah mendengar jika Gaza sakit Hamdan dan Zakia pun ingin menjenguknya. Gaza memang sangat lucu bikin kangen semua orang.


" assalamu'alaikum om". Ucap Ameer.


" wa'alaikumsalam sehat pak dokter." Hamdan langsung memeluk keponakan nya itu.


" Alhamdulillah sehat om." lalu Ameer menelangkupkan tangan nya kepada Zakia.


" Sudah mau menikah belum nih dokter tampan, lama amat nikahnya".


" doakan saja om semoga Allah kasih Ameer jodoh lekas". ucap ameer nyengir ia lalu duduk di depan karena Hamdan membawa sopirnya.


" tak usah lama-lama pilihnya, dulu om seumuran mu anaknya sudah gede-gede". Ucap Hamdan.


" maunya sih gitu om, tapi belum ada yang mau sama Ameer ".


" tak mungkin dokter muda tampan begini tak ada yang mau." Ameer hanya tertawa saja.


Tak lama mobil sampai di rumah Barra di sana masih ada Azzam dan Aisha. Barra menyambut Ameer dan Hamdan, Gaza sejak tadi masih ada dalam gendongan Alira. Ia letakkan kepalanya di bahu Nini nya tak mau di gendong oleh siapapun.


" nak Nini capek gantian sama bunda ya." Gaza tetap menggeleng, panasnya juga mulai tinggi azzam pun tak bisa buat mengimpusnya.


" Bagaimana ini umi demamnya tinggi lagi." ucap Khansa panik.


Ameer mendengar cerita Barra ia langsung menemui Gaza, Gaza masih terjaga hanya yang biasanya dia aktif kini Gaza lemas.


" ayah..." ucap Gaza ketika melihat Ameer datang. Gaza seakan ingin langsung turun dari gendongan Alira.


" anak hebat kenapa sakit sayang". Ucap Ameer menahan tangis, merasakan panas kulit Gaza. Gaza langsung berhamburan memeluk Ameer di kalungkan nya tangan di leher Ameer tak ingin di lepas.


" om mau tanya kenapa tak makan sayang". Gaza menggeleng tak ingin tangannya ia lepaskan dari pelukan Ameer.


" makan ya sayang sudah ada om Ameer, kalau tak mau makan om pergi lagi ya." di kendurkan nya pelukan tangan Gaza ia menoleh ke wajah Ameer. Semua yang ada di sana hanya melihat adegan Gaza dan Ameer yang saling melepas rindu.


". Sudah ada ayah makan ya sayang." ucap Alira menyodorkan buburnya kembali yang tadi sudah ia hangatkan.


" makan ya nak Gaza saliha anak pintar anak bunda." Gaza lalu mengangguk.


Semua lega ada yang menitikkan air mata karena haru, Gaza menerima suapan demi suapan dari tangan Ameer. Wajah Gaza pun sudah sumringah sesekali ia tertawa cekikikan bersama Ameer.

__ADS_1


" pelan-pelan makannya tertawa nya nanti, habiskan dulu ya sayang biar cepat sehat." ucap Ameer dan Gaza pun menurut ia mengangguk.


Satu mangkuk kecil bubur nasi ia habiskan, dengan satu gelas air. Gaza lalu bercerita banyak tentang rasa kepalanya yang sangat sakit. Ameer terus menanggapi ucapan Gaza mengajak bermain bonekanya, kini juga Ameer membawakan boneka yang baru untuk Gaza.


" Alhamdulillah akhirnya Gaza mau makan juga bi". Ucap Alira senang, ia membawa mangkuk bubur ke belakang.


" Alhamdulillah, sekarang sedang apa".


" bermain sama ayahnya, eh sama om nya Ameer ".


" ayah bobo sini." Gaza menepuk bantal sebelah kanannya.


" bunda bobo sini". Gaza menepuk bantal sebelah kirinya..


Aisha dan alira saling pandang juga Khansa dan ameer netranya bertemu. Jika menolak pasti Gaza akan kecewa terlebih sekarang Gaza dalam keadaan sakit. Prioritas mereka sekarang adalah kesembuhan Gaza.


" nenek saja yang di sini, bunda mau makan dulu dari pulang kerja bunda belum makan sayang. kasihan nanti bunda sakit seperti Gaza". ucap Aisha mendekat. Gaza melihat ke arah Khansa lalu ia mengangguk.


" cepat keluar nak makan dulu dari semenjak pulang kerja kamu juga belum makan". Akhirnya Khansa pun keluar.


" om periksa dulu ya nak, masih pusing ". Tanya Ameer menempelkan tangannya ke dahi Gaza, mulai turun tak sepanas saat Ameer menggendong nya.


Ameer lalu menghancurkan obatnya ia tumbuk menggunakan sendok agar Gaza mudah minum. Gaza menurut sekali meski sedikit kepahitan namun ia mau menelan obatnya. Lalu Gaza tidur di usapnya kepala Gaza oleh aisha, Ameer pun masih di dekat Gaza memeluk gadis kecil itu.


" Sepertinya Gaza sudah pulas tertidur bunda, lebih baik kita pulang tak mungkin Ameer menginap di sini." ucap Ameer melerai pelukan Gaza perlahan.


" tapi nak bagaimana nanti jika dia bangun dan mencari mu." tanya Aisha ia khawatir dengan cucu satu-satunya itu.


" insyaallah ngga Bunda panasnya juga sudah turun ia pasti akan bangun pagi nanti". Ucap Ameer.


Aisha dan Ameer keluar ia ikut bergabung bersama tetua duduk mengobrol.


" bagaimana Gaza nak". Tanya azzam.


" demamnya sudah turun yah, tadi juga sudah mau makan"


" Alhamdulillah, dia itu rindu sama kamu Ameer kenapa juga kamu harus ambil tugas jauh kasihan Gaza kan jadinya." ucap Hamdan.


" rumah sakit di sana membutuhkan Ameer om".

__ADS_1


" di sini juga sebenarnya banyak rumah sakit yang membutuhkan kamu, Gaza pun Khansa". Hamdan sengaja menyinggung soal Khansa.


" mungkin memang Gaza sedang sakit saja om".


" Akhir-akhir ini ia sulit sekali makan, hanya terus menunjuk foto ayahnya Ammar ". Foto pernikahan Ammar dan Khansa masih terpajang di dinding kamar.


" kamu juga cocok jadi ayahnya Gaza, teruskan saja tak apa Gaza nyaman denganmu." ucap Hamdan lagi. Ameer hanya nyengir saja semua menatap ke arah Ameer.


" Ameer masih bujang pasti dapat yang lebihlah masa sama Khansa dia janda". Ucap Barra merasa tak enak dengan Ameer.


" Rasulullah saja menikah dengan ibunda Khadijah seorang janda." kata Hamdan lagi.


" tapi kasihan nak Ameer nya." ucap barra lagi.


Ameer jadi bingung semua mengarah pada obrolan itu ia tak nyaman sekali apalagi om nya Hamdan terus mengompori nya.


" maaf ustadz saya izin pulang, Gaza sudah tidur demamnya juga turun."


" besok ke sini lagi ya, Gaza pasti menanyakan kamu". Ucap Alira.


" insyaallah umi, "


" kan pulangnya bisa besoknya ". Kata alira lagi prioritas ia sekarang adalah Gaza sang cucu.


" gampang Ameer nanti ke Yogya biar di antar sama pesawat jet om, kamu ngga usah khawatir yang penting sekarang kasihan Gaza ia sangat merindukan mu".


" yang ia rindukan itu ayahnya ammar om bukan Ameer, karena wajahnya mirip makanya Gaza tetap menganggap Ameer ayahnya".


" tapi jika umi liat tidak seperti itu nak, ia paham itu ayahnya juga kamu seseorang yang berbeda.


" dia masih anak-anak umi, dengan berjalannya waktu nanti juga akan mengerti jika ayahnya ammar sudah berpulang."


" tapi umi selalu tak tega jika begini bi".


" ini ujian untuk kita juga mi bagaimana kita bisa menaklukkan Gaza." sifat kerasnya Gaza meniru dari Khansa, kokoh dengan pendiriannya.


Benar yang Barra katakan manusia itu tak lepas dari ujian, ketika Allah ingin menaikkan derajatnya maka ujian itu pun akan silih berganti. ujian manusia itu berbeda-beda sesuai dengan kadar kemampuan nya.


__

__ADS_1


__ADS_2