Cinta Untuk Khansa

Cinta Untuk Khansa
Part 22. satu minggu


__ADS_3

Hampir satu minggu namun Ammar belum menemui titik terang masalahnya dengan bundanya. mencari jodoh tak semudah membalikkan telapak tangan, jika segala proyek bisa langsung Ammar dapatkan tapi untuk jodoh Ammar pusing tujuh keliling di buatnya.


" ya Allah besok adalah hari terakhir hari yang bunda berikan untuk aku mencari calon istri, nyari di mana sih ". ucap Ammar kesal ia menutup wajahnya dengan bantal.


Ammar menscroling handphone nya mencari wanita yang kira-kira pantas ia jadikan istri. teman lama mungkin atau tetangga yang tergila-gila padanya, bagiamana tidak ketampanan Ammar menghipnotis banyak wanita apalagi kini dia sekarang gelar sebagai CEO. lagi yang keluar justru Instagram Khansa dengan senyuman nya saat di pinggir pantai.


" kok dia yang nongol, ." ucap Ammar kemudian ia lanjut menggeser layar lagi tapi tetap saja tak ada yang sreg dalam hati Ammar. Ammar pun karena lelah akhirnya terlelap, malam ini bukan lelah karena kerjaan nya tapi karena memikirkan jodoh yang belum ia dapatkan.


Pagi sekali Ammar berangkat ia meminta bibik membawakan bekal makanan, sebenarnya tak ada yang urgent dalam perusahaan tapi ia menghindari jika bundanya bertanya.


" pagi sekali kamu Ammar ke kantor nya apa ada masalah." tanya azzam melihat anaknya sudah rapi.


" iya ayah penting Ammar harus pagi sekali datangnya". ucap Ammar meminum susu yang sudah di buatkan lalu ia meminta bekal yang bibik bawakan.


" hati-hati nak jangan lupa sarapannya di makan". teriak Aisha.


" Kak Ammar tumben bunda pagi sekali berangkat". ucap Ameer yang tau kakaknya langsung berjalan cepat.


" katanya ada kerjaan penting yang harus di selesaikan pagi nak".


" oh kirain menghindari bunda jika di tanya udah dapat jodoh apa belum". ucap Ameer mengingatkan bundanya.


" apa mungkin begitu ya nak." tanya bunda antusias.


" ngga tau juga Ameer bunda, kan waktu satu minggu yang di berikan bunda ini adalah hari terakhir." ucap Ameer.


" iya ya bunda baru ke inget, bener juga kata kamu. terimakasih sudah mengingatkan nak".


" emang siapa yang sudah bunda siapkan calonnya untuk kak Ammar sih ". tanya Ameer.


" nanti pasti kamu tau nanti aja kalau sudah mau mengkhitbah bunda kasih tau." ucap bunda.


" isshh.. bunda pelit amat". kata Ameer.

__ADS_1


" biar surprise aja, bunda mau jika ini tuh berkesan untuk Ammar".


" Ameer yakin pasti bunda kasih jodoh yang ngga kaleng-kaleng".


" ya ngga dong sayang insyaallah ini benar-benar saliha doakan lancar ya."


" aamiin". ucap Ameer mengaminkan.


" kamu ngga mengajar nak". tanya bunda


" ada jam nanti jam 10 bunda ".


" oh kamu sudah niat bener mau ambil spesialis di Amerika." tanya bunda seakan tak rela jika anaknya jauh.


" iya bunda insyaallah mumpung ada beasiswa di kampus ayah dulu".


" ya sudah kamu harus hati-hati nanti di sana ya, kabari bunda setiap hari".


" pasti bunda." ucap Ameer tersenyum.


" pagi pak Ammar".


" pagi pak." balas sapa Ammar dan terus berjalan.


" tumben pak lagi dini sudah sampai ke kantor ada apa gerangan, penting ya pak". tanya security mengikis rasa penasaran nya.


" iya pak ada hal penting yang harus saya kerjakan."


" oh baik pak, bapak ini memang bis disiplin sekali". Ammar hanya tersenyum lalu masuk.


Merasa lega kini pertanyaan dari Bunda nya bisa ia hindari meski belum punya cara nanti jika pulang di rumah mau alasan apalagi. Ammar melepas jasnya, ia lalu memakan sarapannya terlebih dahulu sebelum memulai pekerjaan nya. Tetap saja pikiran mencari jodoh menari-nari di benaknya, lalu gadis seperti apa yang bunda akan jadikan sebagai istrinya. Ammar begidik saja entahlah meskipun sebenarnya ia laki-laki sejati tapi ketika ia membayangkan para wanita merayunya ia jijik.


Segitunya ya Ammar sama wanita....

__ADS_1


__


Khansa keluar dari kelas setelah satu mata kuliah sudah ia ikuti, Mahya pun sama ingin mencari angin di luar sejenak karena di kelas begitu bising.


" ini mata kuliahnya pak Ameer kan Khansa."


" iya.." khansa masih fokus membolak-balikan bukunya.


" Katanya pak Ameer resign sebentar lagi dari kampus ini." ucap Mahya, Khansa mendengar tapi ia tidak menanggapi menurutnya bukanlah urusan Khansa.


" ia mau lanjutin sekolah di Amerika dapet beasiswa". Khansa tetap diam tapi telinga nya tidak tuli jadi mendengar semua ucapan Mahya.


" khansa kok kamu ngga peduli sih sama dosen kita yang tampan itu mau resign loh dia".


" terus aku suruh ngapain Mahya, ya itukan urusan dia baguslah bisa di terima dengan beasiswa ". ucap Khansa kembali ia menatap bukunya.


" kamu ini Khansa jadi orang jangan terlalu lurus kenapa sih, kamu kayak ngga normal saja ada cowok tampan cuek dosen tampan muda cuek. jangan jangan kamu Khansa...ihhh..."


" astaghfirullah hal adzim Mahya, bukan begitu kenapa juga kita membicarakan hal yang tak penting untuk kita bicarakan lagian dia laki-laki bukan mahram kita ".


" ya tapikan..." khansa akhirnya berdiri karena jam sudah menunjukkan pukul sepuluh dan dosen pun akan segera datang.


" khansa kebiasaan kalau sedang bicara soal laki-laki pasti aku di tinggal pergi". ucap Mahya cemberut sedangkan Khansa hanya terkekeh saja.


Ameer berjalan seperti biasa dengan senyum penuh ramah kepada siapapun. Bukan mau bikin wanita meleleh padanya tapi memang itulah pembawaan nya berbeda dengan Ammar sang kakak yang dingin mahal senyum. Ameer masuk ke dalam kelas Khansa, ia mengajar dengan profesional meski terkadang mata itu tak bisa ia elakkan. khansa menjadi target yang ia lihat pertama kali, jika sudah memastikan Khansa hadir berarti itu menandakan jika Khansa sehat.


" kita mulai pelajaran nya ya buka halaman 293 silahkan baca sejenak nanti akan saya terangkan sebentar dan kita kuis".


" ha..." semua mahasiswa mangap hanya Khansa yang diam ia tadi tak sengaja baca-baca sebentar materi ini.


" isshhh... bapak ini baik, ganteng, murah senyum, suka menolong juga menabung tapi kalau soal pelajaran kenapa sih jahat banget. banyak tugas ini tiba-tiba kuis aduh bapak untung tampan." celetuk salah satu mahasiswi hingga membuat semuanya tertawa suasana gaduh sejenak.


" semua ini demi kalian, kalian pasti jarang belajar jika tak saya kasih tugas saya yakin itu. dan tak akan pernah membaca jika tidak langsung saya beri kuis. sekarang hafalkan materinya lima belas menit lagi kita kuis". Kemudian para mahasiswa siswa diam mereka fokus menghafal materi dalam buku itu dan pelajaran yang sudah di jelaskan oleh Ameer beberapa hari lalu.

__ADS_1


__


bersambung


__ADS_2