
Hari-hari yang di lalui nya masih sama, sudah tujuh hari lamanya kepergian ammar dan Khansa lebih senang mengurung dirinya di kamar. Ia habiskan hari-hari nya hanya di kamar ammar yang penuh kenangan dengan suaminya. Sengaja ia tak pulang ke rumah ammar itu akan lebih membuka lukanya atas kepergian suaminya karena di sana terlalu banyak kenangan yang mereka lalui.
Rencana setelah melahirkan saja Khansa akan kembali ke rumah abinya Barra. Tinggal menunggu jam kapan bayi itu akan kontraksi. Setelah shalat duha khansa habiskan waktu nya untuk mengaji dan ia mengirimkan doa untuk sang suami. Hampir dua jam lamanya ia membaca ayat demi ayat kitab sucinya Al Qur'an.
" ah... Kenapa sakit ya mules " ucap Khansa ia lalu mencoba berdiri dari duduknya.
" Astaghfirullah hal adzim, mulesnya makin sering apa aku mau melahirkan ya Allah". ucap Khansa. Ia merambah mencari handel pintu dengan jalan terseok-seok.
" ayah, bunda..." Khansa memanggil orang yang ada di rumah itu.
Karena kamar itu ada di atas, tak ada yang mendengar teriakkan Khansa. Azkiya dan Ameer baru saja keluar dari kamar Ameer, semenjak ammar meninggal azkiya lebih sering ke kamar kakaknya mereka berdua memang berniat mau keluar kamar untuk turun ke bawah.
" mbak Khansa.." ucap azkiya melihat Khansa meringis.
" kak Ameer mbak Khansa kak." Ameer lalu menoleh ke arah Khansa.
" astaghfirullah hal adzim kamu kenapa Khansa." tanya Ameer panik, sebenarnya ia tau jika Khansa meringis pasti perutnya sakit akan melahirkan.
" perutku mules sejak tadi kak, sakit..." Khansa meringis lalu ia duduk di lantai karena tak kuat berjalan.
" gimana ini kak." azkiya ikut panik. Ameer tak berani sedikit pun menyentuh Khansa.
" panggil ayah dek." kata Ameer juga panik.
Azkiya berlari ke bawah tapi ia tak mendapati ayah dan bundanya di bawah. Azkiya makin bingung di kelilingi nya rumah itu tapi ayahnya tetap tak ada, sedangkan Khansa sudah sangat menahan sakitnya.
" tahan ya Khansa, azkiya sedang panggil ayah."
" sakit..." Khansa merintih.
" bik bunda sama ayah ke mana bik". tanya azkiya.
" Bu Aisha ada di belakang kalau ayah tadi ada panggilan pasien sednag pergi, kenapa non".
" haduh mbak Khansa bik, tolong mamang suruh siapkan mobil ya bi".
" iya iya non, " bibik pun langsung mengerti. Azkiya lalu menemui bunda bersama Oma sedang menyiangi tanaman nya.
" Bunda mbak Khansa bunda."
" kenapa nak."
__ADS_1
" mbak Khansa kesakitan ". Bunda langsung melempar gunting yang ada ditangannya terus sedikit berlari menemui Khansa.
Ameer juga berjalan ke sana kemari dia bingung mau bagaimana ia tak berani sedikit pun menyentuh Khansa. Bunda akhirnya sampai menemui Khansa yang meringis memegangi perutnya.
" ya Allah nak kamu kenapa."
" sakit bunda".
" kamu mau melahirkan ini, Yuk bunda tuntun ." Khansa berusaha untuk berdiri tapi ia tak bisa karena sakitnya yang luar biasa.
" Ameer angkat Khansa nak." ucap bunda panik.
" tapi Bunda "
" ayo cepat ini dalam keadaan darurat nak tak apa, ayahmu sedang tak ada di rumah. cepat ameer Khansa sudah tak kuat ini nak." bunda berusaha meyakinkan Ameer.
" bismillah maaf ya Khansa ". Ameer menggendong tubuh Khansa jelas dengan tangan yang gemetar, untuk pertama kalinya ia memegang wanita yang bukan muhrim. Dengan reflek satu tangan Khansa pun ada di leher Ameer.
" menaiki mobil yang sudah di siapkan oleh mamang, mereka mengantar Khansa hingga ke rumah sakit". Di jalan bunda terus mengusap perut Khansa.
" sakit bunda,". Ucapnya lagi
" sabar ya nak sebentar lagi sampai, cepat Ameer". Ameer pun menambah kecepatannya namun juga dengan hati-hati.
" tolong anak saya dokter." ucap bunda yang panik kebetulan dokter Almira sedang ada di rumah sakit.
" sebentar saya periksa ya."
" sakit dok."
" oke bukaannya cukup lengkap ikuti saya mengejan nya ya." Khansa menurut dengan ucapan dokter ada bunda di dalam. Ameer dan azkiya di luar, azkiya berusaha menghubungi alira tak lama alira datang bersamaan dengan suara tangisan bayi.
". Alhamdulillah". Ucap Ameer dengan linangan air mata.
' anakmu lahir kak'. batin Ameer kemudian ia lalu mengusap matanya yang berembun.
Suster membersihkan darah dan kotoran serta bayinya, Khansa melahirkan dalam keadaan normal. Bunda terus mengusap kepala Khansa, mengusap keringat Khansa yang bercucuran dan menciumnya lembut.
" Bagaimana nak dengan Khansa". Tanya alira ke Ameer.
" Alhamdulillah seperti nya bayinya sudah lahir umi kita tunggu ya." alira bersama dengan Nini karena barra masih ada di desa bersama aki mengisi kajian di sana.
__ADS_1
Suster membuka pintu membawa bayinya keluar agar segera di adzani, bayi mungil berjenis kelamin perempuan itu begitu terlihat sangat sehat.
" masyaallah cucu Nini." ucap Alira bahagia.
" mohon segera di adzani Bu bayi belum bisa di luar lebih lama". Ucap suster masih mendorong bayinya di box bayi.
" nak umi mohon adzani bayi Khansa ya."
" saya umi." Ameer terkejut.
" iya di sini hanya kamu yang ada nak, ayo cepat kamu juga walinya". ucap Alira.
Dengan sangat senang Ameer lalu mengadzani bayi cantik yang terlihat mirip ibunya itu. Air mata pun menggenang di pelupuk mata Ameer, suaranya serak menahan tangis.
Setelah selesai kemudian bayi di bawa masuk oleh alira juga suster. Semua ikut masuk tapi Ameer tidak ia tak berani karena Khansa bukan muhrim baginya.
" lihatlah dia cantik sepertimu". ucap bunda.
" mas ammar bayi kita lahir mas, matanya mirip sekali denganmu". Ucap Khansa dengan linangan air mata, semua yang mendengar di sana ikut menahan tangis.
" Ammar pasti juga bahagia nak melihat mu lahir dengan keadaan sehat serta anak kalian." ucap Alira mengusap kepala Khansa. Khansa pun mengangguk.
Kebahagiaan terpancar dari keluarga Khansa anak yang mereka nanti akhirnya lahir juga.
__
Setelah dua hari di rumah sakit akhirnya Khansa di perbolehkan pulang beserta bayinya. Ia pulang ke rumah abinya barra karena lebih leluasa di sana. Di rumah pun menggelar syukuran beserta akikahan dan mengundang para tetangga serta anak yatim piatu.
" Kapan balik ke Amerika nak." tanya ustadz barra kepada Ameer.
" insyaallah dua hari lagi Abi."
" oh hati-hati ya doakan keponakan mu sehat selalu, jika kau pulang pasti ia bisa berjalan nantinya".
" aamiin pasti Ameer selalu mendoakan nya bi." Ameer tersenyum.
" di kasih nama siapa mbak." tanya azkiya senang sekali mengusap pipi bayi yang masih halus.
" Adeera Gaza Ar Rasyid itu dulu pesan mas ammar untuk memberinya nama Gaza." kata Khansa sembari menyusui sang bayi.
" wah keren sang pemberani, wanita juga harus berani ya dek." ucap azkiya makin gemas dengan bayi mungil itu.
__ADS_1
Ingin rasanya menangis tapi Khansa kini berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menangis lagi demi sang buah hati. Ia bertekad untuk membesarkan Gaza tanpa air mata kesedihan lagi, hati Khansa sudah mulai ikhlas menerima takdirnya yang harus menjadi janda dan anaknya yang lahir langsung menyandang sebagai anak yatim.
___