Cinta Untuk Khansa

Cinta Untuk Khansa
part 72. merasa bersalah


__ADS_3

Dalam setiap kegalauan hatimu ingatlah Allah dan berdzikir lah. Kata-kata abinya yang teringat oleh Khansa, meskipun dia sedang berkumpul dengan keluarga lisannya tak pernah lupa untuk berdzikir. meski rasa sakit hatinya masih sangat terasa, ia tak ingin siapapun tau tentang apa yang ia alami.


Ameer kembali setelah berbicara dengan dokter Athar, dan aki akan melakukan scanning. Bukan dokter Athar yang melakukan nya tapi nanti dokter azzam yang akan mengambil alih penanganan untuk aki.


Di lihat dari aki sendiri sehat ia masih tetap terus bercanda dengan Nini, karena Nini lah yang bisa membuat aki semangat untuk menjalani harinya. Khansa terdiam saat memandang suaminya, Ameer tak lepas untuk selalu tersenyum.


" Nanti ayah yang akan melakukan scanning".


" aki tu ngga apa-apa Lo ngga perlu di clening juga ". ucap aki.


" di scanning aki". Ucap Alira kadang kakek itu antara bercanda dan serius hampir sama.


" syukur Alhamdulillah jika memang tidak apa-apa aki, lebih baik kan kita periksa". Ucap Ameer mendekat di sebelah aki.


" kamu pulanglah kasihan incu aki pasti nyariin ayahnya ". Aki jadi teringat Gaza, ia ingat saat Gaza kemarin kabur dari rumah nya.


" tadi kamu sudah menelepon nya aki jangan khawatir ada bunda, kita akan pulang setelah aki lakukan scanning ya".


Ameer beralih duduk di sebelah Khansa, memang sedikit berbeda bahkan senyum Khansa pun terlihat memaksa. Ameer ingin merengkuh jemari Khansa namun perlahan Khansa menarik nya, baginya setiap sentuhan Ameer merupakan kesalahan. Ameer pun mengerti baginya mungkin Khansa malu karena ini di tempat umum.


Dokter azzam pun datang dan memeriksa aki terlebih dahulu, sebagai kepala rumah sakit juga dokter profesional dokter azzam selalu mengunjungi pasien yang kiranya butuh penanganan ekstra..


" bagaimana ayah bisa lakukan sekarang juga." ucap Ameer ia serasa ingin pulang bertemu dengan Gaza.


" bisa, kamu bantu ayah ya ke dalam." Ameer mengangguk.


Aki di dorong oleh beberapa perawat untuk masuk ke ruangan scanning. Dokter Ameer mengarah kan pada bagian belakang kepala agar terlihat benturan keras yang terjadi saat itu.


" Hanya memar saja tidak terjadi apa-apa". ucap dokter azzam memeriksa detail kepala aki, Ameer pun ikut memeperhatikan dengan jelas.


" iya ayah Alhamdulillah, butuh waktu banyak istirahat saja sepertinya". Kata Ameer setelah juga ikut melihat detail kepala aki.


Aki di keluar kan dari alat scanning tersebut lalu perawat kembali mengantar mereka ke ruangan nya kembali.

__ADS_1


" bagaimana". Tanya emak langsung berdiri ketika melihat Ameer ikut berjalan di brankar yang perawat dorong.


" Alhamdulillah tidak apa-apa nek aman".


" kan udah Abah bilang, Abah tidak apa-apa hanya sakit saja kepala Abah".


" ya sudah kalian pulang saja kasihan Gaza pasti sudah menunggu ". Ucap barra kepada Khansa.


" iya Abi". ucap Khansa lalu berjalan lebih dulu keluar rumah sakit.


Ameer yang masih memasang infus pun tak tau jika Khansa sudah keluar terlebih dahulu ".


Di lihatnya Khansa yang tidak terlihat Ameer masih terus berjalan hingga ke luar ia melihat istrinya sudah berada di samping mobil Ameer menunggu nya.


" Kok ngga tunggu kakak sih sayang." kini Ameer sudah mulai berani memanggil Khansa dengan sebutan sayang.


' ya Allah kenapa kak Ameer justru memang Khansa sayang, apakah dia munafik untuk menutupi hatinya dari dokter Salsabila '. Monolog Khansa dalam hati.


" tadi belum selesai mengganti infus aki". Kata Ameer ia mulai akan menyalakan mobilnya, sebelumnya Ameer mengusap kepala khansa terlebih dahulu.


Gaza yang sedang bermain sama Oma melihat mobil ayahnya pulang sangat senang sekali. Ia lalu berlari menuju pintu untuk bertemu dengan ayahnya Ameer dan bunda Khansa.


" ayah..." Gaza berlari, Ameer langsung merentangkan tangannya menyambut putri yang langsung Ameer gendong.


Setelah berbicara sebentar dengan Gaza dan Aisha lalu Ameer dan Khansa naik ke atas untuk bebersih.


" istirahat dulu saja ya, sepertinya aki bisa pulang sore nanti kita nanti ke rumah Abi saja tak perlu ke rumah sakit lagi. Kamu pasti lelah kan". Ameer mengusap kepala Khansa lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Ameer menangkap perubahan dari diri Khansa ia hanya terdiam saja sejak pulang dari rumah sakit dan ngomong hanya seperlunya saja. Ameer hanya takut saja jika Khansa sakit karena semalam dia tidur di rumah sakit.


Ameer menyiapkan pakaian khansa, ternyata Khansa lupa masuk kamar mandi tak membawa baju ganti nya.


" kak tolong ambilkan pakaian ku.". Teriak Khansa dari bilik kamar mandi.

__ADS_1


" pakai baju di luar saja sayang, nanti di kamar mandi basah loh." ucap ameer sengaja menggoda sang istri.


" kak bawakan sini tolong, kalau tak mau Khansa tak keluar nih".


" nanti Kakak susul saja ya, bolehkan".


" kak, Khansa kedinginan ini". Ameer terkekeh sendiri di dalam membayangkan bagaimana rona merahnya wajah Khansa.


" Sini keluar kakak hangatkan".


" kak..." Ameer makin tertawa. Karena tak tega Ameer memberikan pakaian Khansa, Khansa hanya menjulurkan tangannya saja.


_


Siang yang cukup terik itu Ameer dan Khansa tak keluar rumah mereka sengaja ingin istirahat semalam tak bisa tidur di rumah sakit. Gaza yang sudah di beri tahu Aisha jika orang tua nya istirahat ia tak menganggu dan terus bermain dengan Aisha dan Oma.


Khansa tidur memunggungi Ameer namun Ameer pun sigap untuk memeluk khansa dari belakang. Khansa pun tak akan menolak namun ia hanya diam saja berusaha memejamkan matanya. Ameer memeluknya sembari terus menciumi kepala Khansa.


" Tidurlah nanti sore kita ke rumah Abi". ucap ameer yang kini sudah berani mendekat kan dirinya untuk menyentuh Khansa.


Tes


air mata menetes ia teringat dengan rasa bersalahnya telah memisahkan Ameer dan Salsabila. Menikahi dirinya wanita yang tak Ameer cintai, begitulah sekarang pikiran Khansa.


' haruskah aku mengakhiri pernikahan ini, aku tak ingin kak Ameer makin tersiksa bersama ku. Sebelum semuanya terlambat, sebelum aku pun terlalu mencintai nya'. Monolog Khansa dalam hati.


Ameer pun terlelap memeluk Khansa dari belakang, dengkuran halus terdengar panasnya hembusan nafas Ameer pun terasa di ceruk leher Khansa membuat nya meremang.


Khansa pun tak bisa memejamkan mata, pikirannya berperang bertolak belakang dengan perasaannya yang kini mulai muncul dalam hatinya. Mungkinkah Khansa sudah mencintai Ameer seperti cintanya dulu terhadap Ammer.


Memang begitulah seharusnya mencintai yang halal bagimu itu adalah kewajiban. Khansa terus berusaha memejamkan matanya agar ia terlelap tidur meski masih dalam dekapan suaminya. Dirinya merasa kala tangan itu menyentuh tapi ketika mengingat perkataan Nilam pagi tadi ia merasa sangat bersalah. perlahan Khansa ikut tertidur dalam dekapan Ameer.


___

__ADS_1


__ADS_2