Cinta Untuk Khansa

Cinta Untuk Khansa
Part 34. Ameer berangkat


__ADS_3

Hari yang semakin panas, Ameer sudah siap dengan segala kebutuhan nya untuk di bawa pergi. Ia turun menoleh sedikit pintu kamar Ammar yang masih tertutup setelah mereka melaksanakan shalat Zuhur di masjid tadi.


Kini keluarga besar sudah ada di meja makan menunggu yang belum turun ke bawah. Ameer tersenyum ketika melihat semuanya berkumpul bahkan kakeknya pun belum pulang sengaja ingin mengantar Ameer juga. Meski Ameer belum mengatakan nya kakek selalu tau apa yang akan Ameer lakukan.


Tak lama pasangan halal yang baru itu turun juga, tak pernah sama sekali Ammar untuk menggandeng Khansa. Belum ya karena Ammar masih malu untuk melakukan lebih pada khansa. Sungguh butuh kesabaran yang luas untuk seorang Khansa.


" ada yang tertinggal tidak nak, jika mau ambil jauh Lo." ucap bunda mengingat kan , sebenarnya berat tapi apa mau di kata Ameer memilih Amerika untuk menyelesaikan pendidikan spesialisnya.


" insyaallah ngga Bunda". Ucap ameer tersenyum, kalau si Ameer ini memang banyak tersenyum.


" Jangan lupa ya kak nanti pulang pas aku lulus SMP, azkiya mau kak Ameer yang mendaftar kan azkiya masuk SMA ". Ucap azkiya cemberut.


" kan ada kak ammar ya dek"


" kak ammar akan sibuk dengan keluarga barunya kak."


Ammar dan Khansa saling pandang adiknya kini sudah tak mau dekat dengan nya lagi.


" Kak Ameer itu perginya jauh bukan hanya ke Bandung saja dek, dan ia juga tak bisa mengatur jadwal untuk kuliahnya. kasihan kalau harus pulang hanya gara-gara kamu lulus , baru juga SMP ". Kata ammar lumayan panjang.


" tuh kan kak, kak ammar saja sudah ngga peduli lagi sama aku".


" astaghfirullah dek jangan cemburu gitu, kakak akan selalu peduli sama kamu". Ucap ammar dengan nada agak tinggi.


" mbak Khansa juga bisa kok antar azkiya". Ucap Khansa lemah lembut.


" Tapi azkiya mau keluarga azkiya yang lengkap ada kak Ameer juga. Kelulusan azkiya fotonya harus lengkap, azkiya mau jadi remaja loh".


" iya ya insyaallah kakak usahakan pulang, kamu tanggung tiketnya ya dari uang tabungan kamu." goda Ameer.


" oke deh Dil". Semua terkekeh geli mendengar negosiasi antara Ameer dan azkiya.


" memang mau sekolah di mana".


" madrasah aja ya Bunda ".


" oke, bunda lebih senang kamu di sana ".


" sudah ayo makan keburu siang nanti pesawatnya terbang duluan ". ucap azzam.


Hari pertama Khansa berkumpul dengan mertuanya dan berada di meja makan bersama. Hati Khansa pun menghangat ketika keluarga ini juga keluarga harmonis seperti keluarga Khansa. Ia melihat satu-satu ke arah semuanya menelusuri orang-orang yang kini menjadi keluarga nya, keluarga kedua baginya.


Hingga sampai di bandara

__ADS_1


" Ameer pamit ya semua." Ameer memeluk satu persatu kecuali Khansa yang jelas ya ia hanya menangkupkan kedua tangannya saja.


" jangan lupa makan jaga kesehatan, meski dokter kamu harus ingat." ucap nenek yang sudah menitikkan air mata pertama kali.


" jika kangen bunda langsung pulang ya nak." ucap Aisha mulai menangis.


" Raih impian mu, ayah bangga padamu" azzam menepuk bahu Ameer.


" Hidup tetap harus berjalan nak apapun yang terjadi, jangan menoleh ke belakang terus majulah ke depan. Takdir Allah sudah tentukan mana yang terbaik untukmu."


" iya kek." Ameer menangis saat di peluk kakeknya karena hanya kakek yang tau hati Ameer yang sedang rapuh.


" Jangan lupa pulang kakak butuh kamu dek " ucap ammar dengan pelukannya.


" sukses ya kak Ameer ". Ucap Khansa, Ameer hanya mengangguk.


" janji pulang". Ameer mengusap kepala adiknya yang sedikit bawel.


Langkah kaki Ameer sebenarnya berat masih ingin rasanya dia berkumpul bersama mereka namun inilah langkah yang harus ia ambil demi kebaikan hatinya.


Ameer tanpa menoleh ke belakang ia takut yang ia lihat justru Khansa bukan yang lain. Tak semudah bilang untuk melupakan dan menghilangkan dari ingatannya, semakin di lupakan semakin melekat saja.


Meninggalkan cinta tanpa pengharapan lagi, menggores hati yang mulai berbunga atas tumbuhnya rasa cinta. Ameer duduk di dalam pesawat dengan merapalkan doa dan dzikir hanya itu yang bisa membuat hatinya tenang.


__


" Bunda nanti kita langsung menginap di sana". Kata ammar meminta izin.


" tak tidur di sini dulu nak ". ucap Bunda.


" rupanya pengantin baru tak ingin di ganggu, biarkan saja Aisha." ucap kakek menggoda ammar.


" ya sudah kalau itu keinginan kalian hati-hati di jalan". Khansa pamit mencium tangan mertuanya.


" pakai sabuk nya dek". Kata ammar tak menoleh ke Khansa.


" iya mas." padahal maunya romantis di pakaikan namanya ammar tetap ngga peka.


Rumah dengan dua lantai cukup luas keberadaan nya, sudah ada security juga bibik yang bantu bersih-bersih dan masak. Bibik membukakan pintu ketika tau majikannya datang, meski ammar tak tinggal di sana tapi rumah itu di rawat oleh bik Siti.


" Ini bik Siti yang bantu jaga rumah ini".


" nyonya Khansa ya istri Den Ammar."

__ADS_1


" panggil saja Khansa bik".


" wah tak etis dong nyonya, ya udah nona turun dikit ". Khansa terkekeh bik Siti sangat langsung bisa akrab.


" Ayo istirahat naik ke atas". Bik Siti membawakan koper tapi di cegah oleh Khansa.


" biar Khansa saja bik, bibi istirahat ya".


" sudah jadi tugas saya ini non"..


" tak apa ini tak berat Khansa bisa sendiri ". Bibik langsung berlalu ke dapur dan Khansa mengikuti Ammar ke atas.


" rumah nya besar ya mas".


" kamu suka".


" iya suka terima kasih mas"


" hemmm.... " Ammar langsung saja membuka laptopnya kembali ia gila kerja lagi.


Khansa mulai menyusun pakaian nya, beberapa gamis dan hijab serta kaos kaki yang melengkapi kesempurnaan menutup aurat nya. Di lemari itu sudah nampak beberapa pakaian Ammar, Ammar memang belum tinggal di sini tapi jika hari libur tak ingin di ganggu orang rumah ia dengan laptopnya berada di sini.


Khansa turun untuk membuatkan minuman juz untuk Ammar, menemani sang suami sibuk dengan bekerjanya. Khansa tau jika ammar suka bekerja, tak lupa juga cemilan buah kesukaan ammar ia bawakan.


" biasanya mas ammar suka minum apa bik". Tanya Khansa.


" kalau siang gini ia minta dibuatkan juz jeruk saja, saya buatkan non".


" biar Khansa saja bik".


" non ini selain cantik juga baik ya, den ammar beruntung memiliki non Khansa". Ucap bik Siti.


" saya yang beruntung bik di nikahi mas ammar".


" non sabar ya emang den ammar itu dari dulu kaki sedikit bicaranya, mudah-mudahan sama non ngga ".


" Alhamdulillah baik mas ammar baik". Setelah selesai Khansa langsung membawanya ke kamar atas.


" Di minum dulu mas." ucap Khansa.


" iya sebentar letakkan di sana, kamu istirahat lah aku kerja dulu." ucap ammar.


Itu juga cara ammar menghilangkan grogi nya, sebenarnya ingin juga romantis tapi ammar sungguh malu.

__ADS_1


__


__ADS_2