
Ameer berjalan cepat kini dinas malam untuk jaga rumah sakit sebagai dokter umum selesai. mungkin rasanya memang sangat lelah semalaman ia tak bisa tidur, ada kecelakaan di jalan tol. korban cukup banyak ia jadi kerepotan menolong korban karena semua di bawa ke rumah sakit.
Akibat dari pengendara yang mengantuk sehingga tak sadar jika mobilnya menembus pagar sisi jalan tol. masih beruntung bukan jurang, jika itu jurang kemungkinan selamat kecil. Semua menjadi korban beruntung saja tak ada yang meninggal, kecelakaan tunggal yang lumayan dahsyat.
" Mau pulang kak." tanya Athar ia pun berjalan di sisi Ameer mengikuti Ameer dengan langkah cepat.
" iya aku ngantuk". ucap Ameer.
" ngga ada jadwal ke kampus".
" Libur Athar sekarang aku ingin cepat pulang mau tidur.". ucap Ameer.
" oke deh Athar juga mau langsung pulang, capek". Ameer tersenyum Athar termasuk rajin juga ke kampus.
" ya sudah saya pamit langsung pulang ya Athar ".
" okey siap kak, hati-hati ". Athar melambaikan tangannya. Ameer tersenyum dan mengangguk.
Jalanan sudah tak macet lagi, jam beroperasi berangkat ke kantor sudah terlewati. Ameer mengendarai mobilnya dengan pelan dan hati-hati, mengingat tadi dirinya ngantuk. namun sebelum pulang Ameer minum kopi dulu dan kini mobilnya terdengar suara nasyid yang lebih keras. nyanyian Maher Zain yang menemaninya dalam perjalanan.
" assalamu'alaikum". sapa Ameer masuk ke dalam.
" wa'alaikumsalam." jawab bunda yang langsung menghampiri anaknya.
" kok sepi bunda pada kemana". tanya Ameer.
" lagi pada Asyik di belakang ". Rumah dokter Azzam ada ruangan khusus untuk mereka nonton, ruangan itu langsung berhubungan dengan area luar rumah terasa sejuk. jika tidak biasanya mereka hanya duduk di ruang tengah.
" Ameer ke atas dulu ya bunda ".
" iya nak."
Sekitar 30 menit Ameer selesai bebersih sebenarnya matanya ngantuk tapi hati libur adalah momen di mana ia bisa kumpul dengan saudaranya. terlebih Ammar yang sangat jarang sekali ia bareng kalau tak libur.
" nonton apa sih." Ameer duduk mendesak adiknya azkiya, kalau tak reseh tak asyik bagi Ameer.
" ya ampun kakak sempit nih kak, badan gede begini ." ucap azkiya manyun.
__ADS_1
" Kangen beginian sama kamu."
" tapi kakak badannya sekarang gede, kak Ammar juga nih geser sih."
" eh kenapa aku yang di salahkan kan Ameer yang dorong."
" ya ampun duo kakakku ini ." azkiya memutar bola matanya rasanya jengah.
Azzam dan Aisyah yang sedang duduk di belakang mereka tertawa, ia tautkan jemari tangan nya bersama istrinya.
" anak-anak sudah besar ya mas". Azzam tersenyum di usap-usap punggung tangan istrinya.
" iya mereka besar dengan baik, kamu mendidik nya dengan sangat baik. makasih sayang".
" sama-sama mas, tanpa ada kamu juga tak mungkin bisa sampai besar begini mereka. kamu lebih andil dalam mengurus mereka". Azzam tersenyum di usapnya kepala Aisyah.
___
Seperti keluarga yang lain jika hari libur Barra selalu mengosongkan jadwalnya kecuali urgent. Berusaha semuanya agar tetap tinggal di rumah, karena kedekatan keluarga itu harus di bangun menumbuhkan kasih sayang antara yang lain.
" Terus gimana rumah di desa kalau di tinggal lama neng, kasihan itu tokek ngga ada yang dengerin suaranya kalau malam."
" Biarin ni dia bernyanyi sendirian, tuan nya masih refreshing."
" kasihan ayam Abah neng ngga ada yang ngasih makan." ucap Nini.
" tapi Nini sering-sering ke sini ya." rayu Khansa ia memang dekat dengan semua neneknya.
" insyaallah neng, kalau libur kamu teh ke desa."
" Khansa masih mahasiswi baru ni tugas juga sudah lumayan di beri banyak, pusing ternyata jadi mahasiswi ya ni".
" Nini mah kagak tau sekolah lulus aja syukur, dulu Nini taunya penting sekolah bisa baca sama nulis neng tak tau sampai kayak kamu gitu."
" emak tuh dulu sekolahnya ngga serius tiap hari liatin Abah terus."
" ih GeEr Abah mah mana pernah kenal aja kagak." Abah terkekeh.
__ADS_1
" terus yang ngikutin Abah minta tanda tangan siapa kalau bukan emak, ngintilin Abah ngefans minta tanda tangan. untung cantik ".
" itu mah bukan ngefans Abah emang lagi MOS siswa baru, perintah nya suruh minta tanda tangan nama yang ada di name tag kebetulan itu abah. macam mana emak nge-fans sama Abah orang desa gitu." semua terkekeh.
" yang penting sekarang kan Abah sama emak sama-sama ngefans tak usah ribut Mak malu udah tua." ucap Alira ia malu di hadapan Barra jika orang tua nya memang suka narsis.
" tua orangnya, umur angkanya jiwa masih kawula muda semangat 45.". ucap Abah kembali semua tertawa.
" kadang mah lupa punya sakit encok Abah tuh, kalau kumat aja bikin susah. ngerengek sakit minta di pijit ini itu ".
" Yah itu yang ngga bisa di bohongi sakit encok menginginkan jika sudah tua saatnya menumpuk pahala untuk bekal pulang nanti."
" nanti biar umi yang bawain bekal Abah mau tenang aja." ucap Khalid.
" bukan bekal itu Khalid, bekal buat mati".
" hiks...jangan mati dulu kakek sebelum Khalid menikah dan punya anak."
" ngga ada yang tau kapan umur kita akan sampai nak, selain perbekalan dunia yang kamu cari jangan lupa bekal akhirat harus lebih banyak lagi. Satu detik hidup kita ke depannya pun kita tak akan tau, masih bisa bersama di sini atau pulang lebih dulu. Sebagai seorang muslim kita harus yakin bahwa kematian itu pasti, yang belum pasti adalah di mana kita nanti bersandar di surgaNya atau neraka Nya". ucap Abah menerangkan.
" jangan santai-santai sejak dini bilang masih muda, kelapa itu jatuh dari pohonnya ngga harus menunggu tua. begitu juga dengan kita jika memang Allah sudah menggariskan umur kita sampai di sini, ya sudah hanya sampai di sini saja ngga akan bisa maju ataupun mundur." terang Abah lagi.
Barra dan alira mendengarkan petuah dari orang tua nya. benar yang di katakan jika tak butuh menunggu tua malaikat mencabut nyawa kita jika sudah waktunya.
" iya aki Khalid ngerti, Khalid mau jadi anak Soleh Khalid mau seperti Abi karena Khalid nanti akan jadi pemimpin."
" itu baru cucu aki, Abi mu butuh kamu untuk melanjutkan perjuangannya. berbeda dengan mbakmu Khansa karena dia seorang wanita yang akan ikut kemanapun suaminya pergi.". Khalid manggut-manggut mengerti. nasehat dari Abah bisa di mengerti kedua cucunya.
" Mbak mu perempuan ia mau jadi seorang apoteker, umi ngga ada yang mewarisi".
" maaf umi, Khansa ngga suka desain".
" ya mau gimana lagi, di paksa kan juga nanti jadi ngga bener kerjaan nya." Khansa nyengir ia memang tak suka fashion padahal jika dia mau ambil model busana apa saja di butik umi nya ada. tapi Khansa tipe wanita yang sederhana, berpakaian nya biasa tak hobi juga mengoleksi pakaian. mirip alira dulu saat gadis masa bodoh sama pakaian yang dia pakai, tapi dia suka menggambar mendesain baju.
__
bersambung
__ADS_1