Cinta Untuk Khansa

Cinta Untuk Khansa
Part 13. bunda menangis


__ADS_3

Matahari bersinar tampak terik, ia masuk melewati sela-sela jendela kamar Ammar. Ammar memicingkan matanya ketika sinar itu masuk ke dalam. Sudah ada Bunda nya yang merapikan kamar Ammar, kertas masih berserakan laptop pun masih menyala. Aisyah geleng-geleng kepala melihat anaknya yang begitu gila kerja.


" Sudah sholat subuh hmmm,,, kata ayah kamu tak ke masjid." Marah bunda terlihat.


" Sholat sih sudah bunda hanya tak ke masjid saja, semalam Ammar lembur Bunda". Bunda lalu duduk di tepi ranjang.


" Sayang bunda meminta mu pulang agar kamu tak lembur, tapi ini malah lembur ngga sampai ingat waktu. pekerjaan itu jangan di bawa ke rumah sampai begini, rumah tempat mu istirahat nak jaga kondisi badan mu." nasehat bunda sedikit kesal melihat Ammar.


" Ammar cuma nyelesaiin sedikit kok bunda " Ammar duduk lalu tersenyum mencoba merayu bunda nya agar tak marah.


" Kalau cuma sedikit kenapa sampai tak sholat subuh di masjid, rugi nak. kamu terlena dengan dunia mu."


" tapi bunda Ammar juga shalat sunah subuh".


" nak jika tak ada urgent berhalangan apapun laki-laki itu wajib shalat berjamaah di masjid apalagi rumah ini dengan masjid tak jauh." kesal bunda nada bicaranya sudah mulai meninggi.


" maaf bunda maaf." ucap Ammar merasa bersalah hingga membuatnya marah.


" jangan ulangi ya nak, bekerjalah sewajarnya. boleh cari bekal yang banyak di dunia tapi jangan lupa bekal untuk akhirat mu. tak ada yang bisa menyelamatkan bunda selain anak-anak bunda." bulir air mata Aisyah mengalir seakan ia ingat suaminya Hanafi. Hanafi meninggal sebelum Aisyah di karuniai seorang anak.


" bunda jangan menangis bunda, maaf Ammar minta maaf. Ammar janji tak akan mengulangi lagi." Ammar memegang kedua tangan bundanya ia sungguh-sungguh tak ingin jika bunda nya sampai menangis. dan jatuhnya air mata bundanya kali ini tak lain Ammar penyebab nya.


" Anak bunda mandi lalu kita makan ya nak, sarapan ayah sudah menunggu di bawah." Ammar mengangguk sebelum beranjak ia mencium bunda nya terlebih dahulu. meski sikapnya dingin tapi di hadapan orang tuanya ia akan luluh.


" mana azkiya sayang belum turun." tanya Azzam.


" Tadi masih mandi mas baru pulang lari pagi dia".


" anak kita sayang, yang laki-laki semua anak bunda yang perempuan begitu ya Bun tomboi keras galak ". Aisyah terkekeh.


" Allah adil mas, azkiya mempunyai sifat seperti itu ada untungnya juga di kita, bunda tak begitu was-was. tau sendiri kan mode anakmu satu itu, mode senggol hajar ". mendengar istrinya berbicara Azzam tertawa. azkiya memang sifatnya begitu ia justru senang latihan bela diri.


" iya memang benar, tapi tetap saja dia perempuan sayang tak mungkin kita lepaskan begitu saja. azkiya butuh pengawasan yang ketat gadis remaja seperti dia masih labil dan mudah sekali dengan rayuan gombal." terang Azzam tak ingin anaknya jadi berandal.


" Kak Ameer belum pulang yah." azkiya turun ia langsung saja duduk di tempatnya.

__ADS_1


" belum, jam segini belum visit dia. mungkin sebentar lagi Ameer datang". ucap ayah yang tau detail jadwal Ameer.


Badan tinggi tegap gagah dengan rahang yang sudah di tumbuhi bulu-bulu halus menambah ketampanan nya. Ammar turun setelah dia mandi, hari ini hari Minggu libur. Ammar langsung duduk di samping azkiya ia acak-acak rambutnya, kebiasaan tak Ammar ataupun Ameer.


" kakak ih rusak rambutku". ucap azkiya kesal.


" cewek itu cantik kalau rambutnya panjang dan di tutup, ". ucap Ammar adeknya ini masih sulit di minta untuk berhijab, saat sekolah dan keluar rumah saja.


" iya kakak tau."


" tau kok ini di biarkan begini."


" kan di dalam rumah kak, cuma ada kakak dan ayah doang." ucap azkiya masih kesal.


" tapi liat ada security juga tukang kebun, kalau tiba-tiba masuk gimana. adek ini udah remaja Lo wajib pakai jilbab, haram di liat orang mahkota nya."


" iya-iya". kesal azkiya ia langsung menyahut jilbab yang ia letakkan di bahu sebagai sampiran. Aisyah dan Azzam tertawa melihat anak-anak yang selalu ribut, tapi itulah kerinduan nya mendengar keributan mereka.


" ayah azkiya minta izin ya." Azzam berhenti menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


" azkiya pengen nonton sama Zahra".


" nonton apa bocil, di laptop kakak tuh banyak ". ucap Ammar.


" nonton film itu Lo ayah " Rahim Untuk Suamiku " yang lagi tenar di bioskop karya penulis Fenitri A." Aisyah langsung menutup mulutnya ingin tertawa.


" astaghfirullah hal adzim dek, itu bukan film untuk remaja kayak kamu". ucap Ammar melotot azkiya pun nyengir emang benar sih itu di peruntukkan untuk dewasa meski tak ada adegan syur tapi tetap saja ceritanya untuk orang dewasa.


" lagi tren kak teman-teman liat".


" karya penulis Fenitri A itu memang religi namun itu buat enam belas tahun ke atas, delapan belas tahun ke atas bukan macam kamu lima belas tahun ke bawah." Aisyah menahan tawanya.


" udah nonton sama kakak saja di rumah film action ". gemas Ammar.


" tapi azkiya udah janjian kak, ".

__ADS_1


" Kalau nonton kakak ngga izinkan, itu bukan film untuk kamu. bunda ada tuh novelnya pasti sudah baca." Aisyah hanya tersenyum semenjak anak-anak nya besar ia lebih sering suka membaca.


" iya-iya kak aku batalin nih sama Zahra, tapi kakak janji ya belikan Zahra eskrim yang gede."


" hemmm..." azkiya tertawa senang begitulah kakaknya yang begitu menyayangi adik perempuan satu-satunya.


__


Suasana pagi di rumah Barra begitu ramai, masih ada aki dan Nini mereka menginap lebih senang nya ini hari libur. Khalid bisa lari pagi bareng aki nya, karena dengan aki jadi lebih banyak berjalan.


" aki capek Khalid istirahat dulu ya." ajak aki yang sudah berjalan sembari terengah.


" oke aki duduk aja di sini, Khalid mau muter satu puteran di taman ya ". ucap Khalid terus berlari aki pun berhenti ia duduk melihat orang-orang berlarian pagi.


" maaf saya numpang ikut duduk ya". seorang yang umurnya hampir sama dengan aki menghampiri.


" iya silahkan mangga saya juga sedang istirahat."


" sendirian." tanya laki-laki berperawakan tinggi meski sudah banyak rambut putih yang bertengger masih tetap kelihatan gagah.


" sama cucu saya, sedang lari tuh anaknya." tunjuk aki.


" kalau anda sendirian".


" iya cucu saya sudah pulang duluan katanya laper, oh sepertinya anda bukan warga sini atau orang baru, jarang liat maaf."


" iya ke sini saya ke rumah anak saya, saya tinggal di desa mungkin hanya beberapa hari saja di sini." kakek itu mengangguk mengerti.


" ayo aki sudah siang, Khalid laper." Khalid terus berlari kecil menunggu akinya berjalan.


" maaf saya pamit ya ". berpisah dengan senyuman sang kakek yang masih duduk istirahat di taman.


__


bersambung

__ADS_1


__ADS_2