Cinta Untuk Khansa

Cinta Untuk Khansa
Part 53. demam


__ADS_3

Di suatu mall di mana Khansa dan Mahya untuk berbelanja kebutuhan Mahya, Khansa hanya menemani saja. Tak butuh waktu lama dua puluh menit sudah mereka selesai, Mahya tau jika Khansa tak akan mungkin mau di ajak berlama berbelanja. Prioritas Khansa sekarang adalah Gaza buah hatinya.


Motor melaju dengan kecepatan sedang saja hingga sampai di halaman rumah khansa. Mahya pun memarkirkan motornya di garasi milik Ustadz Barra. Sebenarnya Khansa ingin menggunakan motor nya saat bekerja tapi barra tidak mengizinkannya. Posisi seorang janda akan lebih sulit daripada seorang gadis.


" mana Gaza Nini." tanya Mahya .


" Badannya sedikit demam sejak tadi tak mau makan". Ucap Nini membawakan baskom berisi air hangat untuk mengompres Gaza.


" ya Allah kenapa tak kabari Khansa ni, sudah di beri obat apa belum." tanya Khansa panik menuju kamar Gaza.


" Sudah kakeknya juga sudah ke sini memeriksa Gaza, mereka masih ada di dalam". Kata Nini sembari berjalan. Khansa langsung meletakkan tas kerjanya lalu dia menghampiri Gaza.


" Ya Allah nak kamu kenapa, tadi pagi masih sehat." panik Khansa memeluk Gaza. Gaza lalu duduk tak ingin ia terbaring, dan memanggil bundanya.


" Nda...". ucap Gaza.


" iya nak ada apa, jangan sakit begini sayang. Gaza makan ya". Gaza menggeleng.


" Sudah ayah beri obat dan tadi hanya makan sedikit roti dari neneknya ". Ucap azzam yang juga ikut menunggu di sana.


Suara dering telepon terdengar dari handphone Aisha ia lalu mengangkat nya karena Ameer yang menelepon.


" assalamu'alaikum Bunda".


" wa'alaikumsalam nak, "


" Bunda sehatkan". tanya Ameer, sejak tadi ia gelisah saat di rumah sakit.


" ayah..." ucap Gaza langsung turun dari ranjang nya dengan di bantu oleh Nini Alira.


" Suara Gaza, bunda ada di mana." tanya Ameer setelah telinga nya mendengar Gaza memanggil sebutan ayah.


" ada di rumah Gaza nak, badannya demam dan tak mau makan jadi sedikit lemah."

__ADS_1


" astaghfirullah hal adzim." ucap Ameer.


Gaza menarik-narik pakaian neneknya ingin dia berbicara dengan Ameer.


" iya sayang sebentar ya, mau bicara sama om Ameer." Gaza mengangguk.


Gaza menggelengkan kepalanya karena tidak ada gambar Ameer di sana, saat itu Ameer hanya menelepon saja tidak video call.


" ayah ..." ucap Gaza namun ia memukul mukul handphone milih Aisha.


" Coba video call bunda..." ucap azzam menyarankan, karena Gaza sedikit kesal tak melihat Ameer di layar hanya terdengar suara saja. Aisha mengangguk lalu ia alihkan ke video call agar terlihat wajah Ameer di sana. Terlihat wajah Ameer di layar senyum Gaza lebar ia tertawa sangat senang nya.


" A yah sa kit." dengan suara cedalnya, Gaza mengusap layar handphone nya seakan ia ingin menyentuh wajah Ameer.


" Iya sayang sakit apa, minum obat jangan lupa makan ya biar cepat sehat." ucap Ameer merasakan sesak di dadanya, serasa ia ingin memeluk Gaza dengan erat matanya pun berembun.


Orang-orang yang melihat Gaza terasa pilu, terlihat sekali jika Gaza menginginkan sosok seorang ayah. Gaza tertawa sejak tadi berbicara dengan Ameer, Ameer seperti biasa mengeluarkan candaan nya. Khansa keluar tak tahan ia melihat Gaza yang terus menyebut Ameer dengan sebutan ayah, itu selalu mengingatkan nya pada sosok ammar.


Buliran air mata pun jatuh di pipi Khansa, Mahya yang berada di sana langsung memeluk Khansa ia tahu jika temannya sedih teringat suaminya.


" Setiap Gaza menyebut ayah aku tak sanggup mendengar nya Mahya, bahkan sebenarnya kami mengajari nya untuk memanggil om juga kak Ameer. tapi Gaza tetap memanggil ayah, aku jadi tak enak dengan kak Ameer." ucap Khansa sembari terisak.


" aku yakin kak Ameer juga tak keberatan jika di panggil ayah, dia juga bisa menjadi wali Gaza ". Ucap Mahya.


Khansa sudah tak bisa berkata-kata lagi ia masih terus terisak di pelukan Mahya. Sedangkan Gaza tertawa terus ketika bisa melihat ameer di layar handphone.


" Nak pulanglah sebentar Gaza sangat merindukan mu, ia tak mau makan sejak tadi." ucap Aisha ikut nimbrung dengan Gaza.


" Gaza makan ya biar cepat sehat." ucap Ameer, alira yang ada di sana langsung membawa mangkuk bubur yang tadi akan di berikan. Alira langsung menyuapkan di mulut nya namun Gaza tetap menggeleng masih terus menatap layar handphone nya.


" Pulanglah Ameer besok hari libur kan dua hari, pasti Gaza senang. ia tak mau makan, ayah khawatir demamnya makin tinggi karena perutnya tak terisi makanan susu pun ia tak mau." rayu ayah, Ameer masih enggan tak ingin dia bertemu sosok Khansa bukan benci tapi ia tak mau terus zina hati.


" Nak Ameer ini umi, kalau bisa untuk pulang meski sehari nak demi Gaza". Ucap Alira. Ameer pun akhirnya menyerah karena umi alira yang memintanya.

__ADS_1


" ayah coba hubungi Hamdan siapa tau belum pulang, ia bilang pesawat jetnya ke Yogya mengantar asistennya." Azzam langsung menelepon Hamdan, kebetulan sekali pesawat akan terbang setengah jam lagi.


Lalu Ameer menutup teleponnya ia pun segera bersiap-siap untuk menuju bandara. Hatinya bahagia bisa menemui Gaza, tapi ia tak mau bertemu Khansa bukan karena sudah tak cinta tapi justru cinta nya menyiksa dirinya.


Karena Azzam memberinya obat yang bisa menyebabkan kantuk, Gaza pun tertidur dengan memeluk boneka yang Ameer belikan. Alira dan Aisha yang ada di sampingnya terus mengusap kepala Gaza.


" Maaf Bu Aisha apa Ameer sudah punya calon pendamping hidup." tanya alira.


" belum jeng, entahlah kami sebenarnya ingin dia juga cepat menikah tapi belum mau katanya masih fokus dengan karier nya". ucap Aisha.


" oh, sebenarnya saya merasa tak enak dengan nak Ameer ketika Gaza memanggil nya ayah. "


" tak apa Lo jeng, Ameer juga wali nya Gaza. Wajar jika Gaza rindu sosok seorang ayah, dari kecil tak ada belaian kasih sayang seorang ayah."


" Tapi kenapa ia mengerti tentang ucapan ayah ya Bu, padahal masih sedini ini."


" Kami memang mengenalkan Gaza dengan ayahnya lewat foto, sebenarnya juga Ameer kami menyebutnya dengan om." kata Aisha.


" hal itu pun kami lakukan, tapi kami hanya mengatakan jika ayah sudah di surga."


" Miris rasanya kalau melihat Gaza sakit begini apalagi sampai tak mau makan." ucap Aisha masih mengusap pelan Gaza.


" iya Bu, sedini ini ia menjadi anak yatim".


Khansa duduk di teras samping bersama Mahya, kini Khansa sudah tenang air matanya sudah berhenti melihat Gaza yang sudah tertidur pulas.


" Masa idahmu sudah habis Khansa, tak inginkan kamu menerima khitbah orang lain lihatlah Gaza... ". Ucap Mahya berhenti tak ingin melanjutkan ucapannya.


" Aku belum bisa Mahya, aku sangat mencintai mas ammar dan belum tentu juga Gaza mau menerima orang lain".


" kamu belum mencobanya Khansa mengenalkan sosok laki-laki kepada Gaza. Dan kamu juga cobalah membuka hatimu."


" aku tak bisa Mahya". ucap Khansa lagi, Mahya pun menghela nafasnya memang tak semudah itu menggantikan sosok seorang yang sudah terpatri dalam hati.

__ADS_1


Ammar masih membekas indah di dalam hati Khansa, ia pun masih sering mengunjungi makam suaminya itu. Bercerita tentang harinya juga sosok Gaza yang kini tumbuh besar.


______


__ADS_2