
Ameer menceritakan dongeng tentang tuan putri raja hingga Gaza pun terlelap dalam tidurnya tak hanya Gaza ternyata Khansa juga akhirnya terlelap. Ameer mencium kepala Gaza dan menarik selimut hingga ke tubuh Gaza, ia pun beralih ke Khansa hampir tak percaya jika kini Khansa sudah berubah status sebagai istrinya. Ameer pun menaikkan selimut hingga menutupi tubuh Khansa ia lalu mengusap kepalanya.
Mentari pagi bersinar hingga menembus ruang rumah sakit melewati ventilasi ruangan di mana Gaza di rawat. Suster sepagi ini sudah membawakan sarapan pagi untuk pasien, sejak tadi Khansa sibuk merapikan kamar rumah sakit ini. Ameer sudah memeriksa jika Gaza di perbolehkan pulang hari ini. Karena di dampingi dokter jadi Gaza di izinkan untuk pulang.
" ayah Gaza mau es krim ya".
" iya sayang nanti kita pulang langsung beli ya." Gaza tertawa senang.
" kak di minum dulu kopinya ". Ucap Khansa menyodorkan satu gelas kopi untuk Ameer.
" terima kasih". Ucap Ameer berusaha tersenyum namun masih kaku begitu juga dengan Khansa ia lalu menyiapkan makanan untuk gaza.
" assalamu'alaikum..." alira masuk bersama Barra.
" wa'alaikumsalam ". jawab orang yang ada di dalam.
" Nini ". Gaza langsung senang.
" wah cucu Nini sudah sembuh" Gaza mengangguk.
" habiskan dulu makannya Gaza lalu minum obat". Ucap Khansa.
" ayah, Gaza ngga mau minum obat." Gaza sembunyi di belakang Ameer.
" biar lekas sehat sayang ya katanya mau pulang." ucap Ameer merayu gaza.
" makan sama Nini biar ayah sama bunda sarapan dulu ya sayang ". alira meraih piring di tangan Khansa.
" kalian sarapan dulu biar Gaza sama umi". Ucap Alira membawa sarapan untuk mereka.
Ameer masih sangat canggung dengan keadaan mereka, Khansa menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
" kakak mau sama apa".
" itu saja dek eh Khansa ...". Ucap Ameer ia garuk-garuk kepala merasa malu dengan perubahan panggilan nya.
" mau telur ."
" iya..." ucap Ameer singkat, jujur ia malu.
' ya Allah tak ada yang lebih indah ketika aku bisa memandang nya dalam keadaan halal. Rencana mu pasti yang terbaik, terima kasih ya Allah '. Monolog Ameer dalam hati ia mencuri pandang Khansa yang sedang menyiapkan makanan nya.
__
__ADS_1
Gaza di nyatakan sudah sehat dan ia sudah di perbolehkan untuk pulang terlebih juga di dampingi oleh ayahnya yang seorang dokter. Gaza sangat senang kini ia akan pulang dan sementara Barra mengajak nya pulang di kediaman Barra dahulu. Untuk selanjutnya akan di bicarakan kembali di mana mereka akan tinggal.
Semua ada di rumah menyambut kepulangan Gaza dan ada kejutan untuk Gaza. Om nya Khalid pulang dari Kairo dan sudah menyelesaikan S1 nya.
" om Khalid..." Gaza berlari ketika melihat Khalid yang sudah berdiri di ambang pintu.
" wah putri Gaza pulang." Khalid langsung merentang kan tangannya memeluk Gaza .
" anak pintar ngga boleh sakit lagi ya."
" kata Bunda kalau kita ngga pernah sakit ngga akan merasakan nikmatnya sehat." ucap Gaza sembari tangannya menunjuk Khalid.
" masyaallah putri Gaza sekarang sudah pintar ya". Khalid mencubit gemas pipi Gaza.
" ayo ayah Gaza mau kasih tau ayah ". Ucap Gaza.
" apa sayang." Gaza menarik Ameer ke meja belajar ada di bawah tangga.
" ini ayah ini Gaza dan ini Bunda." Gaza memberikan gambar yang ia buat saat di sekolah.
" bagus bener gambarnya sayang."
" nanti Gaza selesaikan ya ayah". Ameer mengangguk ia membantu Gaza mewarnai gambar tersebut.
" kapan kamu pulang" tanya Khansa pada Khalid.
" selamat ya mba, Khalid senang akhirnya kak Ameer yang akan jadi ayah Gaza.". Khansa hanya tersenyum saja.
" Hore.... Selesai, Gaza sayang ayah." di peluknya ameer oleh Gaza karena begitu senang.
" Lihat bunda baguskan gambar Gaza." Gaza menyodorkan kertas yang tergambar dirinya ayah dan bundanya.
" iya sayang bagus sekali". Ucap Khansa duduk di sisi Khalid.
" Mau langsung ngajar di pesantren dek". Tanya Khansa kepada Khalid.
" Aku mau lanjut S2 mbak, dua tahun lagi di Kairo mumpung lagi semangat ". Ucap Khalid nyengir.
" kirain udah mau nikah".
" nanti lah mbak sekolah tinggi dulu aku, laki-laki harus punya pendidikan tinggi". Khansa mencebik.
__
__ADS_1
Suasana malam di rumah Barra terlihat cukup bahagia, apalagi tawa Gaza yang tak henti-hentinya sejak tadi. Khalid dan aki selalu membuat suasana menjadi tawa, Ameer hanya tersenyum melihat tawa Gaza yang begitu lepas.
" jangan malu-malu nak Ameer makan yang banyak". Ucap Alira mengambilkan nasi untuk barra. Sedangkan Khansa juga ikut sigap mengambilkan makanan untuk Ameer.
" terima kasih." ucap Ameer setelah satu potong ayam goreng di letakkan dalam piringnya.
Ameer jadi teringat ammar seandainya masih ada pasti yang akan duduk bersama keluarganya dan Gaza adalah ammar kakaknya. Ia menahan air mata nya agar tak menetes, Ameer janji pada dirinya sendiri jika ia akan menjaga kedua orang yang ammar tinggalkan.
" om mau bobo sama Gaza ya." ucap Khalid sengaja atas permintaan Barra.
" Gaza mau bobo sama ayah om." kata Gaza merajuk.
" semalam kan sudah bobo sama ayah dan bunda, om kangen loh sama Gaza. Gaza ngga kasihan sama om Khalid hiks...". Khalid pura-pura menangis.
" iya sayang nanti Nini juga temenin Gaza".
" biarin aja nanti bobo sama Ameer ". Ucap Ameer, yang pasti dia pasti masih canggung dengan Khansa jika berdua dalam kamar.
" eh ngga boleh dong kak, sama Khalid saja. Khalid kangen banget sama Gaza". Ameer hanya diam saja kini ia lebih pendiam dari sebelumnya.
Malam makin larut Gaza sudah masuk ke dalam bersama Khalid dan alira sedangkan barra, Ameer dan abah masih ngobrol di ruang keluarga. Khansa sudah masuk ke dalam lebih dulu ia merapikan kamar nya yang kini akan di huni bersama Ameer.
Di raihnya foto pernikahan nya bersama ammar yang ia letakkan di meja kecilnya, ingin ia simpan tapi enggan. Tak ingin juga menyakiti Ameer sang suaminya sekarang, Khansa menitikkan air mata sembari mengusap foto ammar yang memakai gaun pengantin bersama dirinya.
Ceklek
Ameer masuk ke dalam dan sebelumnya mengucapkan salam.
Khansa cepat-cepat menyimpan foto itu di bawah bantal, namun Ameer bisa tau lebih dulu.
" Tak akan ada yang menghapus kak Ammar dalam kehidupan kita". Ameer meraih foto itu yang di simpan Khansa di bawah bantal. ia lalu meletakkan kembali di atas meja.
" maaf kak." ucap Khansa menghapus air matanya.
" kak ammar adalah orang yang aku sayangi juga kalian, aku akan menjaga apa yang sudah ia tinggalkan. Sudah malam tidur lah Khansa biar aku tidur di sofa." ucap Ameer tersenyum ia pun tak berani menyentuh Khansa.
" Tidur di ranjang saja kak."
" sudah tidak apa-apa, kamu pasti tak akan nyaman jika aku tidur di ranjang. Tidurlah aku juga sudah mengantuk ". Ucap Ameer ia lalu ke sofa merebahkan tubuhnya.
Suasana di kamar itu memang masih terasa kaku, Khansa dan Ameer belum bisa layaknya suami istri. Dan Ameer juga tak ingin memaksakan nya, perlahan namun pasti Ameer berusaha untuk mengambil hati Khansa untuk diri nya.
Terdengar dengkuran halus dari sisi sofa, Khansa menoleh jika Ameer terlihat sudah tertidur pulas. Khansa mengambil selimut ia letakkan di atas tubuh Ameer, sembari sejenak memandang sang suami.
__ADS_1
" wajahmu memang mirip dengan mas ammar, tapi kalian orang yang berbeda. Bantu aku untuk bisa menerima mu seperti aku menerima kak ammar dulu kak". Ucap Khansa lirih ia menyentuh pelan wajah Ameer. Ameer merasa terganggu ia beralih Khansa langsung cepat-cepat naik ke ranjang takut ketahuan Ameer.
__