Cinta Untuk Khansa

Cinta Untuk Khansa
Part 8.


__ADS_3

' ingat semua awalnya dari mata, jaga pandangan ketika melihat hal yang tak layak bagimu dan beristighfarlah.


_____


Kembali mouza, Risha dan Rozi mengobrol sembari menunggu makanan yang mereka pesan datang. Suara cekikikan terdengar Khansa dan Mahya yang mendengar banyolan Rozi pun ikut tersenyum.


Ketiga sahabat itu memang teman dari saat SMA, mereka selalu berjalan bersama dan mempunyai hobi yang sama yaitu makan. Khansa terlihat sangat anggun dengan balutan jilbab nya, ada pasang mata yang melihat nya. Diego mahasiswa kedokteran semester tiga, sejak lama dia memandangi Khansa dari seberang sana.


" Udah jangan tertawa terus ayo makan nanti keburu masuk lagi." ucap Risha mereka lalu berhenti dan makan dengan lebih banyak terdiam.


__


Kebahagiaan orang tua adalah ketika melihat rumah tangga anaknya adem ayem penuh kebahagiaan. begitulah kini yang di rasakan Abah dan emak, ia bersyukur memiliki menantu seorang ustadz Barra yang sangat menyayangi dirinya. juga kini adiknya Amira juga sudah menikah dengan ustadz di salah satu pondok pesantren Jawa.


Baginya doa yang mereka panjatkan itu lebih penting, Abah tak pernah menahan anaknya untuk bersama nya. Memang sudah waktunya mereka akan sibuk dengan kehidupan nya sendiri yang tersisa adalah suami dan istri. seperti yang di katakan bahwa semua adalah titipan jika mengingat itu kita tidak akan teramat sedih ketika kehilangan.


Emak dan Abah sudah menunggu karena menantu nya yang akan mengisi pengajian pagi ini. Emak dan Abah saling pandang karena yang turun hanyalah Barra. Barra langsung tersenyum kala mertuanya menyambut nya, itulah emak dan Abah tak hanya terhadap barra terhadap Gufron suaminya Amira pun begitu.


" Assalamu'alaikum Abah emak". barra langsung Salim.


" wa'alaikumsalam Sehat nak." ucap emak dan Abah.


" Alhamdulillah sehat gimnaa Abah sama emak".


" sehat juga, mana alira dan anak-anak".


" alira masih menyelesaikan pesanan nya mak anak-anak harus sekolah. maaf mereka tak bisa ikut tapi ada pesan dari anak-anak bah". Abah dan emak saling pandang, mereka memang sangat merindukan sosok cucunya.


" pesan apa nak". emak yang penasaran.


" Barra di minta mengajak emak dan Abah ke rumah, mereka katanya rindu". Abah terkekeh.


" Ee... bocah bukannya ke sini malah aki nya disuruh ngeluyur ke sana."


" tadi emak sudah masak banyak, aku kira kalian akan datang semua". wajah emak terlihat sayu ada rasa kecewa di hatinya. Barra menangkap mertua nya yang sudah patuh baya itu dengan kekecewaan.


" maaf ya Mak, kan memang ini jadwal sekolah".


" emakmu tuh emang ngeyel sudah ku bilang anak-anak pasti sekolah tetap saja masak banyak". ucap Abah.


" Tenang Mak, nanti makanannya di bungkus saja kita bawa ke rumah. emak dan Abah harus ikut ya. Kasihan anak-anak rindu sama aki nini nya".


Kalua emak sih pengen, karena ia di rumah cuma nganggur saja tak ada kerjaan. emak sudha tak menjahit lagi matanya sudah kurang jelas memegang jarum.


" bah boleh " kata emak ragu, kasihan juga jika Abah di tinggal sendirian.


" Boleh dong nanti emak bareng bara Abah nyusul agak sore. ".


" kenapa ngga sekalian bah".

__ADS_1


" ayam Abah bagaimana ".


" potong aja ". celetuk emak.


" eh jangan tadi emak udah potong dua". Barra terkekeh.


" ya sudah nanti Abah bisa nyusul kita masuk yuk bah, sebentar lagi akan di mulai pengajian nya."


Fauzan masih asyik mendengarkan bunyi rebana dari anak-anak TPA. ia juga ikut Salim sama Abah tapi langsung izin melipir menemui temannya.


___


Khalid masih terbilang baru masuk di madrasah meski semua sudah banyak yang tau jika Khalid adalah anak dari ustadz barra tapi ia tak pernah menggunakan nama kebesaran orang tuanya. Sepeda gunung yang biasa ia pakai untuk ke sekolah ia letakkan di tempat parkir.


" kak Fahri". teriak Khalid.


Fahri menoleh merasa ada yang memanggil dirinya.


" kamu to Khalid kenapa ".


" ngga apa-apa bareng masuk nya". Fahri menunggu Khalid ia lalu berjalan bersama.


" nanti latihan ngga kak".


" insyaallah latihan, kamu".


" kakak setelah ini mau lanjutin ke mana kak". tanya Khalid l, Fahri sudah kelas tiga jelas pastinya sudah terpikir untuk melanjutkan sekolah di mana.


" Kata Abi kakak di minta melanjutkan di Kairo".


" wih keren".


" Doakan ya kakak mau ambil beasiswa soalnya biar ringan biayanya untuk orang tua kakak".


" aamiin Khalid doakan di lancarkan". keduanya tersenyum lalu terus berjalan masuk.


' astaghfirullah hal adzim'. gumam Khalid kala melihat sosok wanita yang cantik istimewa.


' ingat semua awalnya dari mata, jaga pandangan Khalid ketika melihat hal yang tak layak bagimu dan beristighfarlah '. ucapan yang pernah di lontarkan abinya terngiang di kepala Khalid.


" Kenapa kamu Khalid." tanya Fahri.


" eh ngga apa-apa kak."


" ya udah aku masuk dulu ya, sudah sampai di kelas". Khalid tersenyum ia lanjut jalan ke depan.


___


Emak ikut bersama Barra, makanan yang sudah emak siapkan di bungkusnya untuk cucu dan alira. ada ayam ungkep juga opor ayam. makanan kesukaan semuanya.

__ADS_1


" Alira apa pernah ngerasain sakitnya lagi seperti dulu nak."


" Alhamdulillah ngga emak semenjak berobat dengan dokter azzam alira bisa di katakan tak pernah kambuh".


" syukurlah semoga sudah tak ada penyakit lagi ya."


" aamiin, " setelah alira mengangkat rahimnya kini ia sering sakit kepala. semenjak berobat di dokter Azzam sakit kepalanya berangsur menghilang. tak lupa check up terus setiap bulan.


" Emak masih senang tinggal di desa." tanya Barra di perjalanan.


" abahmu yang tak ingin meninggalkan rumahnya".


" sebenarnya kami sangat senang jika emak dan Abah bisa tinggal ikut bersama kami". Ucap Barra.


" tak apa nak, kami sehat di desa kami juga bahagia. biarkan kami menikmati masa tua kami, uang belanja yang kamu berikan pada emak sudah cukup kan. emak sama Abah bisa sering jenguk kalian. kemarin emak tak bisa kemari soalnya abahmu sakit".


" sakit apa Mak kenapa tak bilang". tanya Barra kaget.


" ngga apa-apa cuma demam biasa nak".


" astaghfirullah hal adzim Mak maafkan Barra Mak sampai tak tanya kabar emak dan Abah".


" Abah mu memang sengaja tak boleh memberitahukan kepada kalian ".


" lain kali jangan gitu yah Mak, barra merasa sangat bersalah".


" tak apa-apa nak di kerokin sama minum obat udah sembuh, abahmu itu kuat sejak dulu tak pernah mengeluh ketika sakit".


" ya Allah Abah, tapi tetap saja Mak yang namanya sakit ya sakit".


" Abah selalu memikirkan alira kesehatan nya".


" insyaallah alira sehat terus Mak, ia sudah mengurangi jadwal ke pesantren dan butiknya. alira itu selalu nurut omongan barra Mak Alhamdulillah. Terima kasih ya Mak sudah mendidik alira dengan baik, barra jadi yang petik hasilnya ".


" Bukan emak tapi kamu, alira dulu itu tak sefeminim sekarang kamu ingat kan saat dia di kejar sapi". barra terkekeh. Fauzan yang mendengar menahan tawa meski ia tak tau kejadian itu.


" iya Mak aku ingat, dia memang wanita berbeda saat para temannya mengidolakan bara hanya alira saja yang acuh. Alhamdulillah kita berjodoh ".


" terus kamu bisa melamar alira jadi kamu yang mengidolakan alira ". cecar emak.


" eh iya Mak habisnya lucu." bohong Barra namun memang kasus lampau terjadinya pernikahan mereka itu tak boleh siapapun tau.


" nak Fauzan masih takut sama hantu".


" eh..ngga lah Mak." emak terkekeh di diikuti barra, karena barra tau Fauzan itu paling penakut Untung istrinya Ratih pemberani.


__


bersambung

__ADS_1


__ADS_2