
Gaza terbangun dari tidurnya namun Aisha sudah siaga ada di samping Gaza takut anak itu akan marah lagi jika tak ada ayahnya. Gaza belum begitu paham juga dengan rutinitas Ameer yang sebagai seorang dokter.
" sudah bangun sayang". Aisha langsung merentangkan tangan menyambut cucu kesayangan nya itu.
" ayah mana nek". ucapan itu sudah menjadi kebiasaan Gaza sejak lama menanyakan sosok ayahnya.
" ayah sedang keluar sama bunda, Gaza mandi dulu makan ya sayang". Aisha merayu dengan hati-hati tak ingin Gaza marah lagi.
" kemana kok Gaza ngga di ajak nek".
" ke rumah sakit sayang, ayah sama bunda kan kerjanya di rumah sakit". Gaza pun cemberut karena merasa ia tak di bangunkan terlebih dahulu oleh ayahnya.
Suara dering handphone Aisha terdengar, ada nama Ameer di layar kacanya dan ia menekan tombol hijau untuk menerima panggilan itu.
" angkat tidak ini ayah sayang." Gaza pun mengangguk dan meraih handphone sang nenek.
" ayah..." Gaza mengucek matanya yang masih terasa lengket.
" assalamu'alaikum putri Gaza". Sapa Ameer terlebih dahulu mengucapkan salam untuk sang putri nya dan di samping ada permaisuri yang juga ingin menyambut putri nya.
" wa'alaikumsalam ayah."
" pinter putrinya ayah sudah bangun". Gaza mengangguk dengan mengulang adegan yang sama mengucek matanya yang terasa lengket.
" ayah di mana kenapa tak pamit sama gaza.". cecar Gaza seakan ia marah.
" maaf sayang ayah dan bunda terburu-buru, melihat Gaza tertidur pulas ayah tak tega putri Gaza terbangun ". ucap Ameer lembut, Aisha yang ada di sampingnya mendengar itu tersenyum dengan perasaan senang.
" ayah sama bunda cariin Adik buat Gaza ya." Ameer dan Khansa saling pandang.
" Gaza sudah mau punya adik."
" iya ayah, Gaza mau punya adik." Aisha pun terkekeh dengan sikap polos sang cucu.
" nanti kalau sudah waktunya juga adiknya akan hadir masih otw sayang".
" kok lama ayah, kata Evelin itu nanti ibunya perutnya gede terus keluar adiknya ".
" iya sayang nanti ayah bikin perut bunda jadi gede". Khansa mencubit pelan pinggang Ameer, Ameer hanya meringis saja merasakan sedikit rasa sakit nya.
" hore... Gaza mau punya adik".
" sekarang Gaza mandi lalu makan ya dirumah sama nenek yang pinter sayang. Nanti kalau udah selesai di sini bunda sama ayah pulang ya sayang".
" iya ayah." hampir tiga puluh menit berbicara kemudian Ameer menutup teleponnya.
__ADS_1
" kak jangan memberi janji sama Gaza , ia pasti akan tanya itu setiap hari. Seperti kemarin saat Khansa bilang jika ayahnya masih bekerja, setiap hari itu yang ia tanyakan". Ameer mengusap kepala Khansa.
" ayahnya tak akan bohong, nanti perut bundanya mau ayah bikin gede". Khansa makin mencubit pinggang Ameer merasa malu mengingat adegan keduanya yang gagal semalam.
" Udah yuk sarapan kak ". ucap Khansa ingin beranjak pergi menuju kantin, sungguh ia malu.
" Kenapa hemmm... Wajahnya kok jadi merah begitu".
" kak ayo Khansa laper ". Khas suara Khansa manjanya pun terdengar, Ameer menyukainya.
Belum sampai mereka beranjak emak dan alira sudah sampai di sana mereka membawa sarapan untuk orang-orang yang menunggu Aki semalaman.
" tuh kan bidadari ku datang, semalam pasti tak nyenyak tidur kan Mak". celoteh Abah.
" Abah sudah tua, jangan bucin begitu malu sama cucu ". ucap emak tersipu malu.
" yah ngga boleh, nak Barra emang ada larangan tua-tua ngga boleh bucin ". tanya aki pedenya.
" ngga Abah boleh kok."
" tuh kan Mak".
" aki-aki satu ini sakit masih saja begini". Emak geleng-geleng kepala yang lainnya tertawa.
Ameer izin keluar untuk menemui Athar sebelum Athar pulang, kapan aki bisa lakukan scanning.
" kak Ameer." panggil Salsabila dokter yang baru juga masuk ke rumah sakit itu.
" Salsabila kamu kerja di sini juga". tanya Ameer kemudian tak enak jika mengabaikan toh sekarang dia juga sudah menikah.
" iya kak, kakak juga dinas di sini."
" iya baru pindah". Ucap Ameer ingin segera pamit Namum Salsabila terus memberondong pertanyaan terhadap nya.
Situasi itu terekam oleh Khansa yang sengaja keluar mau menyusul Ameer, Khansa berlindung di balik dinding mendengar rentetan obrolan mereka.
" eh mbak Khansa sudah mulai masuk bekerja mba." tanya Nilam sang suster yang mengenal Khansa.
" belum kakek ku masih masuk rumah sakit".
" oh kakek yang ada di ruang sebelah ". Khansa mengangguk.
" boleh aku tanya sesuatu ". Tanya Khansa penasaran.
" boleh mba silahkan".
__ADS_1
" itu yang perempuan dokter siapa". Tanya Khansa.
" yang bersama kak Ameer, oh itu dokter Salsabila ".
" kamu kenal dokter Ameer ". tanya Khansa lagi .
" kenal dong kak, dia dulu kakak kelas saat kami SMA. Gebetannya dokter Salsabila ". Nilam terkekeh.
" gebetan maksudnya mereka pacaran ". Tanya Khansa lagi makin penasaran.
" ngga kak Ameer sejak dulu ngga pernah pacaran namun Salsabila suka dengan kak Ameer sejak SMA, dan sampai sekarang pun masih mengejar-ngejar kak Ameer sih." ucap Nilam yang memang belum tau pernikahan antara Khansa dan Ameer karena belum publik.
" lalu hubungan mereka sekarang". Khansa mencoba mengorek informasi.
" seperti nya tak ada hubungan apa-apa sih kak, tapi aku kurang tau juga sih. Kelihatan nya mereka sekarang dekat apa mereka akan menikah ya, aduh aku ngga tau ketinggalan informasi ".
Deg...
berdesir hati Khansa terasa sakit rasa cemburu kini membuncah dalam dadanya. Ia tidak tau tentang Ameer sebelumnya setelah Ameer dinas di luar kota.
" Kenapa kak."
" ngga apa-apa mau tau aja, aku baru liat dokter Salsabila di rumah sakit ini".
" iya kak memang Salsabila itu cantik mempesona banyak yang menyukai dia tapi Salsabila masih menunggu kak Ameer untuk melamarnya . Antusias amat bukan Salsabila itu." Nilam terkekeh.
" ya sudah makasih ya Nilam infonya".
" mbak Khansa mau aku kenalkan sama mereka".
" ngga usah lain kali saja aku mau kembali ke ruangan aki ku".
" oh ya sudah nilam kerja dulu ya kak, sepertinya ada yang mau melahirkan itu." tunjuk Nilam dengan wajahnya.
Ada ibu-ibu dengan perut besar di dorong dengan kursi roda dan meringis seperti kesakitan. Lalu Nilam bergegas menolongnya dan Salsabila sebagai dokter spesialis kandungan pun juga beranjak menolongnya. Ameer bergegas menemui Athar terlebih dahulu memastikan kesehatan akinya.
Tiba-tiba saja Khansa menitikkan air mata entah kenapa dirinya, hati yang sudah lama layu. mekar kini ia redup lagi mendengar kenyataan yang ada.
' kenapa aku begini, kak Ameer kan hanya sebatas ayah Gaza. Kenapa aku harus cemburu aku sudah berusaha menerima dia menjadi suamiku, tapi melihat itu semua keinginan ku jadi rapuh. Ya Allah kenapa aku merasa terluka, luka yang aku buat sendiri dengan mencintai nya. Mencintai dia yang kini menyandang status sebagai suami ku'. Monolog Khansa dalam hati, ia menghapus air matanya sebelum masuk ke dalam ruangan.
Pikiran Khansa pun sudah kemana-mana seakan ia merasa bersalah menerima pernikahan nya dengan Ameer, Khansa merasa dirinya sebagai pengganggu hubungan Ameer dan Salsabila. Ia merasa terlalu egois dengan hanya mementingkan dirinya tanpa melihat ke arah lawan.
Yang ada di kepala Khansa kini jika Ameer dan Salsabila saling menyukai melihat kebersamaan mereka mengobrol tadi. Khansa merasa dirinya sebagai pengganggu hubungan antara mereka.
___
__ADS_1