Cinta Untuk Khansa

Cinta Untuk Khansa
Part 55. masih libur


__ADS_3

Ameer terbangun dari tidurnya setelah merasakan ada yang menggoyangkan tubuhnya. Ia merasa terganggu Ameer sangat ngantuk sekali, semalam selepas dari rumah Gaza ia tak langsung tidur karena menerima telepon dari temannya di Amerika cukup lama.


Ameer hanya beralih memeluk guling nya saja, ia tak ingin bangun meski matahari sudah meninggi rasanya ngantuk sekali. Setelah shalat subuh zikir dan mengaji Ameer tak kuat untuk berjaga ia tidur lagi. Rasa lapar yang mendera pun ia tak peduli ia cuma ingin tidur lagi mumpung hari libur dan ada di rumah.


" ayah bangun..." suara kecil itu pun keluar dari mulut Gaza.


" Gaza..." Ameer langsung tersadar jika sejak tadi yang mengganggu nya adalah Gaza.


" bangun ayah..." kembali Gaza menggoyangkan tubuh Ameer.


" putri Gaza mengganggu tidur om saja." Ameer lalu menarik Gaza di peluknya gadis kecil itu ia ajak tidur. Ameer masih enggan membuka matanya, Gaza pun usil menusuk mata Ameer dengan jarinya juga hidung nya yang akhirnya Ameer terbangun.


Alira dan Aisha yang memeperhatikan Gaza dan Ameer pun tertawa, alira sengaja mengajak Gaza ke rumah dokter Azzam. Dari bangun tidur Gaza terus menanyakan ayahnya, sedangkan Khansa sedang tidak libur ia bekerja.


" Sama siapa ke sini sayang." tanya Ameer sembari menguap.


" Nini..." ucapnya. Ameer lalu duduk bersila di hadapan Gaza ia mengusap kepala gadis kecil itu.


" om laper mau makan, Gaza sudah makan". Gaza pun mengangguk.


" anak pinter saliha, sebentar om cuci muka dulu sudah laper mau sarapan." Ameer pun bangun ia mencuci mukanya, sebenarnya sebelum subuh tadi Ameer sudah mandi.


Gaza mengacak-acak meja Ameer, ia melihat foto-foto keluarga dan Gaza menemukan kertas dulu yang pernah Ameer tulis. Gadis kecil yang masih polos itu pun berlari keluar membawa kertas itu juga album foto yang tertera. Ameer keluar dari kamar mandi melihat sosok Gaza yang sudah tidak ada, ia pun ikut keluar mencari Gaza.


" om Ameer sudah bangun apa belum sayang". Gaza mengangguk.


" apa ini sayang ". Tanya alira lalu Gaza menunjuk semua foto yang ada di sana, foto saat Ammar dan Ameer masih kecil, foto keluarga, foto saat pernikahan Khansa dan ammar.


Kertas yang di bawa oleh Gaza pun terjatuh lalu di raihnya oleh Aisha yang saat itu duduk di samping Gaza juga. Gaza masih asyik melihat album-album itu dan Aisha membuka kertas yang terdapat tulisan tangan Ameer.

__ADS_1


Bunda menutup mulutnya ketika membaca tanggal yang tertera dalam kertas itu. Sebelum dirinya mengkhitbah Khansa untuk Ammar, Ameer turun ia melihat Gaza dan para nenek ada di sana. Aisha langsung memasukkan lembar kertas ke dalam sakunya.


Wajah Gaza sudah sumringah, pagi tadi sudah tak panas lagi tapi dia mencari ayahnya. Kemudian alira janji untuk mengajaknya ke rumah Aisha. Gaza tertawa lagi melihat Ameer turun dari tangga, ia berlari menemui Ameer dan menggandeng tangannya berjalan ke meja makan. Gaza ingat jika Ameer tadi lapar ingin makan.


" Gaza sarapan yuk".


" sudah ayah". Jawab Gaza, ameer mengusap kepalanya duduk di samping Ameer.


" sebentar ya om makan dulu". Gaza mengangguk ia setia menunggu sang ayah makan.


Aisha dan alira mengobrol layaknya wanita dewasa sedangkan Gaza dan Ameer lanjut bermain. Di rumah Aisha juga banyak mainan Gaza, jika ia ke sini tak khawatir untuk mencari mainan untuk nya.


" jadi pulang sore nanti nak."


" iya bunda Ameer harus dinas pagi besok". ucap Ameer yang sudah mengatakan kepada Hamdan jika pesawatnya untuk mengantar ke Yogya, kebetulan dapat jadwal penerbangan sore hari.


" ajaklah dulu Gaza jalan-jalan sebentar nak, dia sungguh sangat merindukan mu".


" Demi Gaza sering pulanglah nak, bunda tak tega dengan nya "


" tapi bunda Ameer...".


" bunda tau kegelisahan mu nanti bunda ingin bicara padamu nak". Ucap Aisha.


" bicara apa bunda." tanya Ameer.


" penting, nanti saja sekarang kita ajak Gaza jalan-jalan dulu". Ameer mengangguk lalu ia berganti pakaian santai, di ikuti alira dan Aisha Gaza dan Ameer jalan-jalan. Gaza tak melepaskan genggaman nya kepada Ameer.


" yang ia tau Ameer tetaplah ayahnya jeng, bagaimana jika kenyataannya ia tau jika ayahnya telah tiada." ucap Aisha.

__ADS_1


" lambat laun Gaza juga akan mengerti, apalagi ketika nanti Ameer sudah menikah. Kenapa dia tak menikah sampai sekarang Bu." tanya balik alira.


" saya sudah menyuruhnya tapi ia kekeh tak mau di carikan istri katanya mau cari sendiri saja dan sekarang masih fokus dengan karirnya ". Jawab Aisha.


" lagian Ameer juga sudah dewasa tak mungkin ia pun di paksa menikah, macam anak kecil saja pastilah menolak". Alira terkekeh.


" Apa Khansa juga belum ingin menikah lagi, ustadzah sudah tanya padanya".


" ia selalu menghindar jika ditanya Abi nya, sebenarnya yang ingin mengkhitbah nya ada beberapa orang tapi Khansa belum mau ia semakin menutup diri. Sekarang yang saya khawatir kan itu Gaza Bu, tak enak begini terus dengan nak Ameer ".


" iya Gaza terlihat cukup bahagia bisa bersama Ameer, baginya Ameer adalah sang ayah. Jika saja Khansa mau dan Ameer mau Gaza pasti akan bahagia." ucap Aisha kalimat akhirnya tanpa sadar. Alira langsung menoleh kepada Aisha ucapannya membuat alira jadi berfikir.


" benar Bu andai mereka bisa bersatu, tapi kasihan Ameer harus dapat janda apa dia mau." Aisha menoleh menatap Alira.


" mungkin kita juga harus ikut andil demi kebahagiaan mereka jeng, aku lihat Ameer juga bahagia ada di sisi Gaza. Ameer pasti tak mempermasalahkan status Khansa seorang janda tapi bagaimana dengan Khansa apa dia bisa menerima Ameer ". Kata Aisha lagi.


" Khansa ia memang keras kepala sejak dulu Bu, tapi apa salahnya kita mencoba. saya coba sedikit merayu Khansa dan Bu Aisha coba bicara sama Ameer ". Keduanya tersenyum berharap rencana mereka untuk mempersatukan ke-dua nya berhasil.


" wah bawa apa sayang." Gaza datang bersama Ameer membawa bungkusan makanan, eskrim, dan mainan yang mereka beli.


" es krim..." Gaza menyuapkan kepada kedua neneknya.


" ayah mau..." Gaza menunjuk es krim yang di bawa oleh Ameer.


" oke putri Gaza, pelan-pelan makannya ya sayang." mereka duduk di taman, setelah menghabiskan es krim Gaza bermain bersama Ameer di taman itu.


" mereka terlihat bahagia apalagi Gaza kerinduan nya terobati". Ucap Alira mengusap air matanya yang hampir jatuh.


" iya wajar saja dari ia hadir di bumi ini tak ada sosok ayah di sampingnya, meskipun kita semua menyayangi nya tetap saja berbeda rasanya. sosok ayah yang ia butuhkan". Aisha menghela nafasnya melihat Gaza dan Ameer bermain cukup bahagia.

__ADS_1


Hingga siang hari akhirnya mereka pun pulang, Gaza yang tertidur pulas di dalam mobil saking lelahnya. Ameer tersenyum mengusap kepala Gaza beberapa kali, tak tega sebenarnya meninggalkan Gaza namun ia tetap harus melakukan. Berharap Gaza suatu saat akan terbiasa jika Ameer bukanlah ayah kandung Gaza yang sebenarnya.


__


__ADS_2