Cinta Untuk Khansa

Cinta Untuk Khansa
Part 51. brondong


__ADS_3

Gaza sangat senang berada di pangkuan Ameer, di bukanya bungkusan dari tangan Ameer. Boneka Barbie yang Ameer beli sebelum ke rumah barra. Sebenarnya Ameer sudah pulang sekitar satu bulan tapi memang ia enggan untuk datang bertemu Khansa. Bukan tak ingin bertemu dengan Gaza tapi takut perasaan yang masih tersirat hadir kembali dan ameer tak bisa menahannya.


Gaza terus tertawa bercanda dengan Ameer, ia menggendong Gaza di ajaknya untuk main kuda-kudaan. Gaza naik ke punggung Ameer, Ameer terus melajukan tubuhnya ke sana ke mari terlihat sekali Gaza sangat bahagia.


" om Ameer capek sayang sudah dulu ya." ucap Ameer ia lalu perlahan menurunkan Gaza.


" A...yah". Gaza tertawa menampakkan giginya yang tumbuh belum lengkap itu.


Khansa mendesah lesu Gaza pun tetap memanggil Ameer dengan sebutan ayah. Mengingatkan Khansa kembali pada sosok Ammar karena wajahnya memang sangat mirip.


" ini.." Gaza menyodorkan bungkusan roti kepada Ameer.


" Gaza mau". Gaza pun mengangguk.


" oke om suapin ya ". Ameer mengusap kepala Gaza, padahal mereka baru bertemu kali ini. Tapi Gaza sudah nempel saja seperti perangko.


" kapan kamu pulang Nak Ameer". Tanya Barra yang kemudian menghampiri Ameer.


" Alhamdulillah sudah ada satu bulan ini Abi".


" loh kok Abi ngga tau kamu ngga ke sini".


" maaf Abi, Ameer langsung mengurus tempat tugas". Ucap Ameer masih menyuapi Gaza.


" langsung dinas, dimana nak." tanya Barra langsung.


" di Yogyakarta Abi ". Ucap Ameer sesekali mengusap kepala Gaza.


" lumayan jauh ya , ngga cari yang dekat saja nak".


" ingin cari pengalaman bi di tempat lain." kata Ameer tersenyum.


" Baiklah di manapun itu yang penting sungguh-sungguh. asah kepintaran mu nak, kamu pasti bisa menjadi dokter hebat ". Kata Barra ikut senang.


" insyaallah Abi doakan Ameer ya,".


" pasti nak." ucap Barra, Gaza menarik-narik ujung kaos milik Ameer dia menguap mengantuk.


" Siang ini memang Gaza belum tidur, sini nak sama bunda." Khansa ingin meraih tubuh Gaza, namun Gaza berpaling ia tetap erat memegang Ameer.


" Biar aku saja ". Ucap Ameer, Gaza mengalungkan tangannya di leher Ameer kepalanya ia sandarkan di bahunya tak lama pun terlelap. Setelah yakin Gaza benar-benar tidur Ameer pindahkan di ranjang.


" Kapan menikah nak kamu sudah lulus umurmu sudah cukup ". Tanya Nini sengaja.

__ADS_1


" doakan saja Nini ". Ameer nyengir, aki melihat gelagat Nini dengan maksud lain menanyakan hal itu.


" Jangan tunggu lama-lama, dokter ganteng belum laku." sambung nini lagi. Ameer hanya terkekeh ia garuk-garuk kepala.


" Nih ada gadis tua juga." celetuk aki.


" hah... aku Mahya belum tua aki". ucap Mahya kesal aki tertawa di ikuti yang lain.


" coba saja kalian istikharah siapa tau jodoh". Kata aki lagi menggoda keduanya.


" Ameer masih mau fokus dulu kerja di Yogya aki jodohnya nanti saja di pikirin hehehe..." tawa Ameer ia tak menyukai Mahya sama sekali meski Mahya pasti mau ia nikahi tapi Ameer tak mau menjalaninya tanpa adanya cinta.


" nanti kamu jadi bujang lapuk". Semua lalu tertawa.


" janganlah abah, doanya yang baik-baik dong." ucap Nini kemudian.


Aisha dan Ameer lalu pamit karena Aisha ada acara arisan dengan ibu-ibu komplek. Ameer menghela nafasnya ternyata cinta itu belum hilang di hatinya makanya ia sulit untuk menerima orang lain. Tapi apakah mungkin jika ia akan mengkhitbah Khansa, baginya tak akan mungkin Khansa adalah kakak iparnya meski Ammar sudah pergi. ia hanya ingin membuat Gaza bahagia itu saja kali ini dalam benaknya.


__


Ameer sudah menyiapkan semuanya jika ia akan tinggal di Yogyakarta dan akan menempati rumah dinas.


" sudah siap semuanya nak."


" sudah bunda,"


" Ameer ingin cari pengalaman lagi bunda".


" umurmu nak sudah di atas 30 tahun apa tak berpikir untuk menikah." tanya bunda. Ameer lalu duduk memegang erat tangan bundanya.


" doakan Ameer ya bunda, Ameer tak mungkin bisa hidup dengan orang yang tak Ameer cintai. Menurut Ameer menikah itu untuk seumur hidup bunda, Ameer mohon jangan paksa ameer." ucap Ameer.


" kemarin itu Mahya juga gadis yang baik juga cantik nak." ucap bunda lagi.


" Ameer tau bunda dia wanita saliha. juga dulu muridnya Ameer tapi Ameer tak ada sedikit pun getaran dengannya. Yang penting bunda doakan Ameer saja supaya Ameer cepat Allah dekatkan dengan jodoh yang Ameer cintai."


" ya sudah nak, bunda hanya berdoa saja untuk kebaikan mu semoga segala cita-cita dan impianmu terkabul."


" aamiin bunda terima kasih banyak, bunda sehat-sehat ya Ameer insyaallah akan sering pulang. Yogya Jakarta tak jauh, jika bunda kangen bunda datang saja." bunda menitikkan air mata.


" Jujur bunda ingin kamu tetap ada di samping bunda nak, ammar telah pergi itu membuat luka yang teramat dalam buat bunda ".


" Ameer hanya dua tahun saja di Yogyakarta bunda setelah itu Ameer akan menetap di sini lagi." bunda mengangguk Ameer mengusap air mata bundanya.

__ADS_1


" sudah siap nak." ucap azzam yang sejak tadi menunggu akan mengantar anaknya ke bandara.


" iya ayah". Ameer lalu pamit pesawatnya akan terbang jam 11 pagi.


__


Fahri anak dari Fauzan sudah selesai pendidikan nya di Kairo kini dia sedang ikut fokus mengajar di pesantren Barra. Menjadi ustadz adalah keinginan nya ia sangat kagum dengan sosok Barra.


" Nak nanti tolong belikan obat ibu ya ". ucap Ratih badannya berasa tidak enak saja kini ia sudah resign dan hanya menjadi ibu rumah tangga.


" iya bu nanti setelah dari pesantren Fahri mampir". ucap Fahri.


" Jangan lupa sama vitaminnya ya." Fahri mengangguk ia lalu pamit mencium tangan ibunya.


sreg brakkk...


Motor saling bertabrakan tapi mereka tidak terjatuh masih sama-sama di motor. Mahya membuka helmnya memastikan motornya tidak apa-apa.


" maaf mbak saya tidak sengaja." ucap Fahri.


" untung saja tadi bawanya pelan syukurlah aku juga ngga apa-apa ". Mahya mendongak melihat pemilik motor yang telah bertabrakan dengan nya.


' brondong'. Batin Mahya.


" mbak Mahya kan teman mbak Khansa." tebak Fahri.


" iya maaf kamu siapa ." Mahya sungguh lupa sekarang Fahri sudah menjadi sosok yang tampan gagah. Tidak dulu masih SMA yang masih sangat kurus.


" saya Fahri mba anaknya ayah Fauzan." Mahya mengingat ingat.


" tapi kok beda ya."


" beda apanya mbak". Tanya Fahri.


" makin ganteng, eh...beda aja gitu dulu kamu krempeng". Ucap Mahya, Fahri justru terkekeh benar sekali sewaktu SMA Fahri begitu kerempeng.


". Iya mba memang iya kelihatan beda ya, ya sudah saya mau ke pesantren mbak. Mbah Mahya benar nih ngga apa-apa." tanya Fahri lagi.


" iya aman, ya udah Sono gih nanti kamu telat." Fahri tersenyum Mahya yang sok jutek mukanya membuat Fahri penasaran.


" Fahri permisi ya Mbak, assalamu'alaikum".


" wa'alaikumsalam ". Jawab Mahya.

__ADS_1


" astaghfirullah hal adzim kenapa jantungku berdetak dia itu brondong ". ucap Mahya istighfar beberapa kali, iapun langsung melajukan motornya ke tempat kerja.


__


__ADS_2