
Melewati jalanan yang sudah tak begitu ramai, setiap insan pasti sudah banyak yang pulang dan bermukim di kediaman nya masing-masing. Lampu jalanan yang temaram membuat suasana malam makin mencekam meski waktu menunjukkan belum isya.
Azzam tak henti-hentinya tersenyum, perasaan bahagia itu bersemayam dalam hatinya. Sesekali ia mengusap kepala istrinya dan mengecup punggung tangan Khansa tiada henti. Khansa pun tersenyum ia juga merasa bahagia suaminya yang dingin kini luluh oleh sosok dirinya.
Azzam menghentikan mobilnya di saat ada penjual sate Madura di pinggir jalan. Seorang azzam tak pernah ia jajan di pinggir jalan namun sekarang itulah yang di lakukan nya.
" Sebentar ya sayang mas mau beli sate sebentar". Ucap azzam mengusap kepala Khansa.
" untuk siapa mas kan tadi udah makan."
" untuk mas kamu mau ngga sayang, mas pingin ".
" Baru ketahuan tadi Khansa hamil mas kok langsung ngidam gini". Khansa terkekeh.
" sebenarnya mas sudah kepengen dari kemarin tapi males aja, saat ingat tusukan sate seakan liur mas menetes ". ucap azzam mengingat saat ia berada di kantor.
" ya Allah mas kenapa ngga beli dari kemarin sih kayak ngga punya uang aja".
" Males juga malu sayang ".
" sekarang ngga malu." Azzam menggeleng Khansa terkekeh.
" ya sudah cepat beli mas Khansa ngantuk mau pulang ".
Azzam lalu turun di pesannya empat bungkus untuk security, bibik dan mamang juga. Azzam menunggu sejenak Khansa tidak turun dari mobilnya, azzam berkali-kali menelan ludahnya ingin cepat menelan sate nya. Setelah selesai azzam memberikan tiga lembar uang seratus ribu untuk tukang sate.
" ini saja pak cukup." mamang menarik satu lembar saja.
" ini untuk bapak semua ambil pak rezeki buat bapak ".
" haduh tapi pak." Azzam pun memaksa memberikan uangnya kepada mamang. Mamang itu berterima kasih tak henti-hentinya ia mengucapkan doa yang terbaik buat azzam.
" sayang pengen apa mumpung masih di luar nih."
" ngga mas, Khansa mau pulang saja ngantuk". Karena lelah seharian mereka jalan-jalan membuat Khansa mengantuk hingga ia tidur di mobil.
" Sudah sampai mas". Khansa terbangun ketika mobil berhenti.
__ADS_1
" sudah ini di rumah". Lalu mereka turun dan Khansa naik ke atas sedangkan ammar membagi satenya dan langsung ia makan tanpa nasi.
Keluarga Barra pun turut bahagia mendengar kabar dari Khansa sore tadi. Tak lain Ameer yang di beri kabar oleh azkiya jika Khansa hamil.
" Alhamdulillah ya Allah rezeki kak ammar cepat, semoga sehat ibu dan bayinya hingga melahirkan". Ucap ameer ikut bahagia.
Di tutup nya gawai itu meski masih ada perasaan yang tak kasat mata itu namun Ameer benar-benar mencoba mengubur perasaan nya dalam-dalam. Ia sadar sekuat apapun ia gunakan jalur langit dan bumi jika Allah tidak berkehendak semua tidak akan pernah terjadi.
Di ucapkannya doa dan Ameer pun terlelap memeluk guling nya.
__
Sembilan bulan berlalu kini kandungan Khansa sudah beranjak sembilan bulan, setelah wisuda nya kemarin kini ia memilih menjadi ibu rumah tangga saja karena memang perutnya yang sudah besar tak mungkin akan bekerja. Berbeda dengan Mahya dia bekerja di salah satu rumah sakit di sekitar kota-nya menjadi apoteker.
Khansa sudah mulai sulit berjalan dan ketika ammar tidak di rumah sebelum berangkat kerja ammar menitipkan Khansa di rumah bundanya ataupun umi. Ammar tak ingin istrinya di rumah sendirian meski ada bibik di rumah. Ammar begitu sangat khawatir dengan kandungan Khansa.
" pelan-pelan saja jalannya sayang". Ammar memegangi tangan khansa saat akan naik ke mobil.
" mau ke rumah siapa hemm.."
" nanti pulang mau di bawakan apa sayang." ucap ammar mengusap kepala khansa.
" Khansa mau mas pulang lebih cepat dengan sehat dan selamat, perut Khansa sudah begah mas tak ingin makan apapun ".
" sabar ya sayang sebentar lagi baby girl akan lahir." kata ammar mengusap perut Khansa yang begitu besar.
Semenjak kehamilan nya yang semakin tua Khansa selalu ingin berada di sisi ammar terus menerus tak ada yang ia inginkan selain itu.
__
Langkah kaki turun dari pesawat setelah satu tahun lamanya baru kali ini Ameer kembali ke tanah airnya. Sebenarnya ia tak ingin pulang jika bukan azkiya yang memintanya. Libur selama satu bulan setelah ujian semester dan akhirnya tetap memutuskan pulang. Setiap malam sebelum tidur azkiya selalu menelepon kakaknya itu supaya benar-benar pulang.
Ameer terkejut ketika yang menjemput nya adalah ammar bukan ayahnya. Biasanya ayah yang selalu sigap menjemput nya saat pulang. Ammar melambaikan tangan ketika melihat sosok Ameer, Ameer lalu menyunggingkan senyum nya dan berjalan menemui ammar. Ammar langsung memeluk adik kembarnya itu, suasana yang menjadi perhatian banyak orang karena mereka memiliki wajah yang sama.
" sehat kan.". ucap ammar.
" Alhamdulillah kak selalu". Ameer terkekeh.
__ADS_1
" yuk cepat semua sudah menunggu mu." ucap ameer.
" kemana ayah kak." pasti itu akan Ameer pertanyakan, Ammar pun sudah menebaknya.
" ayah ada di rumah sedang menunggu mu, tadi aku habis ketemu klien di dekat bandara sini makanya aku bilang ke ayah mau jemput kamu dek." ucap ammar.
" oh kirain ayah ke mana atau ke rumah sakit ". Lalu keduanya berbincang ringan di mobil hingga mobil sampai di rumah.
Benar keluarga nya sudah berkumpul ayah, bunda, azkiya dan Oma. Kaki Ameer gemetar saat turun dari mobil ia sudah membayangkan Khansa dengan perut besar nya.
' astaghfirullah hal adzim '. Batin ameer ia istighfar berkali-kali dalam hatinya.
Azkiya yang tau kakaknya pulang ia langsung berlari memeluk Ameer saking senangnya akhirnya pulang. Ameer mengusap kepala azkiya berkali-kali ia juga rindu dengan adek perempuan satu-satunya itu. Ameer langsung Salim dan memeluk satu-satu keluarga nya di sana matanya menyapu ruangan itu sosok Khansa tak terlihat.
" sehat nak." tanya bunda.
" Alhamdulillah sehat bunda selalu". Mereka pun berbincang, azkiya masih nempel aja dengan kakaknya Ameer tak mau jauh-jauh.
" nak Khansa di rumah atau di rumah Abi mu." tanya bunda.
" di rumah Abi, kata umi sebaiknya Khansa di sana saja tak boleh Ammar ajak pulang ".
" sebaiknya memang begitu kandungan nya sudah sembilan bulan kalau di rumah Abi mu kan banyak orang nak."
" iya bunda, ammar juga berfikir begitu kasian Khansa ".
" apalagi perkiraan dokter tinggal dua Minggu lagi " kata bunda.
" mau balik ke kantor kak." tanya azkiya kemudian.
" ngga aku mau pulang." ucap Ammar, kini semenjak kehamilan Khansa ammar pulang lebih cepat.
" yang lagi bucin udah bukan laptop lagi pacar nya." semua terkekeh mendengar ucapan azkiya.
" Namanya udah ada yang di bucinin dek, halal sama istri sendiri". Azkiya mencebik ammar memang beda semenjak Khansa hamil seakan ia tak ingin terlewatkan momennya bersama sang istri.
__
__ADS_1