Cinta Untuk Khansa

Cinta Untuk Khansa
Part 48. hati yang rapuh


__ADS_3

Sekuat hati ia menahan air matanya agar tidak jatuh di pusara suaminya, kini ammar sudah berada di bawah tanah. Di temani oleh Barra dan keluarga inti nya Khansa masih belum ingin beranjak dari makan suaminya. Tanah yang masih basah bau bunga yang masih harum bahkan papan nama yang tertera masih terukir baru. Khansa mengusap-usap papan nama yang menancap di tanah gundukan.


Ameer dua meter jauh berada di belakang Khansa tak kuasa ia melihat tanah gundukan itu. Setelah memasukkan tubuh ammar ke liang lahat dan mengadzani ameer keluar dengan keadaan sedikit lemas. Ameer terus mengusap air matanya yang tak henti terjatuh. Dalam kandungan bersama, lahir di hari yang sama, melewati hari-hari nya bersama terngiang dalam benak Ameer.


" ikhlaskan kakakmu Ammar nak." Abah sang kakek mengusap bahu ammar.


" Seperti mimpi kek, kak ammar pergi."


" kita tak bisa menolak takdir ini nak, semua sudah Allah tuliskan di lauhul Mahfudz Nya." ucap Abah, Ameer mengusap air matanya.


" Hapus air matamu, kesedihan mu justru akan mempersulit jalannya menemui Rabb Nya." ucap kakek agar Ameer berhenti menangis.


Hampir satu jam setelah semuanya pulang Khansa tak beranjak dari sana. Entah apa yang di lakukan nya ia berbisik seolah berbicara dengan suaminya.


Senja kini menjadi sendu waktu sudah hampir Maghrib, perlahan Barra mendekat meminta Khansa untuk lekas berdiri tak baik wanita hamil berada di luar saat akan Maghrib tiba.


" Nak pulang ya, ammar suamimu sudah tenang di sana. Allah menyayangi nya sehingga lebih dulu menjemput nya, jangan menangis terus kasihan dia". Ucap Barra lalu memapah Khansa. Dada Khansa terasa sesak menahan tangisnya sejak ada di pemakaman sedari tadi.


" Aku tak kuat kakek". Ucap ameer ketika akan membawa mobil untuk pulang ke rumah.


" biar paman mu Ikrom yang bawa mobilnya". Ameer selalu merasa bersalah karena ia tak bisa menyelamatkan ammar kakaknya, sehingga menyalahkan profesi nya selama ini menjadi dokter.


Kediaman dokter Azzam pun masih ramai beberapa pelayat ada yang baru datang juga dari kerabat Azzam ataupun rekan bisnis ammar. Orang terpandang dan terkenal, ammar meskipun baru tapi dia sudah di kenal sebagai pebisnis muda yang sukses. Sedangkan azzam memang terkenal sebagai dokter hebat.

__ADS_1


Khansa mengambil air wudhu untuk melakukan shalat Maghrib di kamarnya, ia lebih memilih untuk berdiam diri di kamar sang suami ammar. Khansa terdiam saat teringat sosok Suaminya yang dingin berubah menjadi manis saat di depannya.


flashback on


" mas aku jadi basah." ketika mereka sedang akan melaksanakan shalat magrib ammar sengaja mencipratkan air ke Khansa.


" Sedikit saja sayang". Ammar terkekeh.


" kan aku jadi ganti baju ini." Ammar tertawa itu cara dia agar istrinya berganti baju rumahan, ammar senang melihat Khansa memakai daster pendek saja saat di kamar nya.


Flashback off


Khansa menarik napas di hapusnya lagi bulir air mata yang jatuh lagi. Lalu Khansa shalat berdoa memohon kepada Allah untuk di berikan jalan benderang.


" ya Allah aku adalah saksi jika mas ammar suamiku adalah lelaki paling baik, ia tak pernah menyakiti ku sedikitpun. Ampunilah segala dosanya, terimalah segala amal ibadahnya dan berikanlah jalan yang terang untuk nya kembali kepadaMu." tes... Air mata itu tak pernah henti menetes.


Suara orang-orang yang membaca Yasin terdengar hingga keluar rumah, para tetangga juga ikut menghadiri mendoakan ammar yang telah berpulang. Khansa duduk bersama keluarga nya di dampingi oleh Aisha, tatapannya kosong ia hanya terus mengingat kebersamaan nya dengan ammar. Aisha sudah menerima takdir yang menimpanya jika anak sulung nya telah pergi dan tak akan pernah kembali.


" sayang makan ya sejak tadi kamu belum makan." ucap Aisha membawakan satu piring berisi nasi, sup iga dan kerupuk sebagai pelengkap. Biasanya Khansa sangat menyukai nya makanan itu.


" Khansa ngga lapar bunda". ucap khansa tanpa menoleh ke arah Aisha.


" nak, ammar akan sedih jika melihat mu begini setidaknya pikirkan bayi yang ada di perutmu nak. Sejak tadi ia belum kamu kasih makan, ammar menitipkan benihnya di perut mu agar ia bisa menemani harimu". Ucap Aisha.

__ADS_1


dug..


Terasa perut Khansa ada yang menendang di dalam seakan ia protes sejak tadi tidak Khansa beri makan. Khansa hanya diam tak merespon, biasanya ia akan tertawa riang jika bayinya menendang-nendang.


" makan ya sayang sedikit saja." rayu Aisha lagi. Masih sama mulut Khansa mengatup sedikitpun ia tak mau membukanya.


Aisha menggeleng ke arah semua tak ada yang bisa merayu Khansa saat ini. Alira lalu menemui suami nya Barra yang duduk di dekat pintu, membisikkan sesuatu kepadanya. Lalu Barra berdiri mengikuti alira ke belakang, ketika Barra lewat pun seakan Khansa tak sadar ada sosok abinya yang lewat.


" Nak makan dulu ya." ucap Barra mengusap bahu khansa.


" Khansa ngga lapar BI." ucapnya lagi sama.


" Kamu boleh ngga lapar tapi anakmu buah cinta kalian kasihan dia pasti di dalam sedang sangat kelaparan. Apa kamu akan menyiksanya nak, bagaimana jika ammar tau dia pasti akan marah padamu ". Ucap Barra.


" Hiks... Abi mas ammar pergi." tumpah lagi tangisan itu di peluknya abinya.


" Nak kamu tau takdirkan, manusia sudah di tulis sampai kapan ia memijakkan kakinya di bumi ini. Dan sudah sampai waktunya batas waktu ammar di dunia ini nak. Ikhlaskan ya jika kamu seperti ini dia juga akan sedih melihat mu. Hidupmu tetap harus berjalan nak sekuat apapun kita meminta jika memang sudah kehendakNya kita tak akan bisa mangkir ". ucap Barra langsung mengenai hati Khansa yang rapuh.


" Sekarang makan ya, kasihan anakmu sejak dari sekolahan tadi perutmu belum kamu isi apa-apa, kecuali sedikit air. Dia pasti menangis kelaparan nak coba kamu rasakan ia bergerak kan sejak tadi". Lalu Khansa mengusap perutnya, bayi dalam kandungan nya terus bergerak.


Akhirnya Khansa luluh dia mau makan lewat tangan abinya Barra. Sejak dulu memang Khansa sangat dekat sekali dengan Barra, memang cinta pertama dari seorang anak perempuan adalah ayahnya. Semua yang melihat Khansa sudah mulai mau makan meski sedikit merasa lega dan senang.


Suara orang yang membacakan Yasin masih terdengar menggema di rumah dokter Azzam. Sangat ramai yang di pimpin oleh sang kakek.

__ADS_1


___


Othor nulis sembari nyesek ini ya Allah, kok sedih ya 🥺.


__ADS_2