Cinta Untuk Khansa

Cinta Untuk Khansa
part 50. Ayah


__ADS_3

Seusai kepergian ammar semua selalu datang menemui Khansa bahkan Aisha hampir setiap hari datang ke rumah Barra untuk menengok cucunya. Keluarga mencurahkan kasih sayang berlebih untuk Khansa dan Gaza.


Satu tahun lebih sudah berlalu kini Gaza sudah mulai belajar berjalan. Satu dua langkah kakinya menapaki pijakannya di bumi. Semua keluarga tertawa bahagia saat Gaza bisa berjalan hingga sampai ke tempat aki nya barra duduk.


" Masyaallah cucu aki pandai nya." ucap Barra langsung meraih Gaza ke dalam gendongannya dan menciumnya, Gaza pun tertawa riang merasakan geli bulu halus di rahang sang aki.


Tes


Air mata Khansa luluh ketika melihat tawa Gaza yang begitu lepas tanpa beban. Nini memberi tisu untuk Khansa agar menghapus air matanya.


" Hilangkan semua tangismu nak, ammar sudah tenang di sana jangan kamu buat ammar juga sedih". ucap Nini mengusap bahu khansa.


" maaf ni ini tangis bahagia melihat Gaza sehat dan apalagi sekarang sudah bisa berjalan." ucap khansa menghapus air matanya dan tersenyum.


" Khansa Abi mau bicara padamu nak." ucap Barra menurun kan Gaza di berikan kepada Alira.


" iya Abi." lalu Nini pergi karena pastinya hal serius yang akan barra obrolkan, Barra mendekat.


" sudah satu tahun ammar pergi dan masa idahmu pun sudah lewat setelah kamu melahirkan. Kemarin ustadz zakhwan menemui Abi di pesantren, ia mengajukan khitbah anaknya kepadamu nak. Abiyan duda anak satu kamu masih ingat ." tanya Barra, Khansa diam justru ia menitikkan air mata.


" Nak hidupmu tetap harus berjalan dan Abi yakin ammar akan bahagia jika kamu bahagia, Gaza juga butuh sosok seorang ayah". Ucap Barra.


" Abi apakah tak boleh jika Khansa membesarkan Gaza sendirian saja, Khansa ingin membesarkan Gaza sendiri bi." ucap Khansa air matanya deras mengalir, baru satu tahun lebih memang kepergian ammar bagi Khansa masih terus ada bayangan ammar. terasa masih ada di dekat nya.


" Abi tau nak, tapi Gaza juga butuh sosok seorang ayah".


" maaf bi Khansa tak bisa, apa Abi tak bisa menjadi sosok ayah untuk Gaza ".


" Bukan tak bisa nak, Abi sangat menyayangi Gaza tapi Abi ini kakeknya nak bukan ayah pasti berbeda ".

__ADS_1


" maaf bi Khansa tidak mau menikah lagi hiks..." Khansa menangis menundukkan kepalanya.


" Maafkan Abi nak, Tapi jangan kamu bicara seperti itu kita tidak tau lauhul Mahfudz yang Allah tulis untuk mu." barra mengusap kepala Khansa lalu memeluknya. Ternyata memang Khansa belum bisa menerima sosok orang lain dalam hidup nya kini.


__


Kepergian ammar meninggalkan luka yang amat terdalam bagi Khansa. Semua hal tentang ammar masih melekat di dalam benak Khansa.


Saat ini Khansa duduk di teras samping di mana dua kursi dan satu meja, sedangkan keluarga nya masih tertawa melihat Gaza yang berjalan sedikit demi sedikit dan terkadang jatuh. Justru Gaza tertawa di saat ia jatuh baginya semua orang sedang bercanda dengan nya.


" assalamu'alaikum." ucap Mahya datang.


" wa'alaikumsalam ". Khansa memeluk Mahya .


" Wah Gaza sudah pandai berjalan Khansa, maaf ya Tante masih sibuk kerja jadi ngga nengokin kamu.". mahya mancubit pelan pipi Gaza yang gembul bikin gemas.


" kirain lagi sibuk prewed kamu bahaya." ucap Nini.


" jangan terlalu pilih-pilih soal jodoh nak yang penting agamanya baik insyaallah semuanya akan baik-baik saja". Kata Nini juga sembari mengawasi Gaza.


" ngga pilih-pilih kok nik, cuma belum ada yang klik. saat shalat istikharah ngga ada yang Mahya yakini, mungkin belum ada".


" Mungkin nanti kamu dapat brondong ". Kata aki.


" Brondong tak apa asal Soleh". Mahya tertawa.


" Allah ijabah Lo doa kamu nanti, ada malaikat yang lewat tuh." kata aki menunjuk ke luar.


" Amiin, eh ngga Mahya bercanda aki apa mau brondong sama Mahya gini." Mahya terkekeh.

__ADS_1


" ya siapa tau jodoh ngga ada yang tau, boleh kok menikah sama yang lebih muda. Contohnya saja Rasulullah jarak umurnya dengan Ibunda Khadijah lumayan jauh tapi baik-baik saja. justru nabi Muhammad sangat mencintai bunda Khadijah kan." jelas aki.


" wah aki sudah jangan ngomongin jodoh apalagi brondong, doakan saja Mahya lekas dapat jodoh."


" aamiin semoga segera ya Mahya". ucap aki, Mahya pun mengusap kedua tangan nya memohon di kabulkan. Wajar saja jadi pergunjingan umur Mahya sekarang hampir 25 tahun dan sebenarnya sudah banyak yang mengkhitbah Mahya tapi belum ada yang klik bagi Mahya.


" oh ya Khansa apa kamu tidak ingin bekerja, di tempat aku kerja sedang mencari pekerja karena ada yang resign kemarin karena ikut suaminya pindah tugas." ucap Mahya niat ke sini ingin mengajak Khansa keluar dari rumah agar tak murung terus di rumah. Gaza juga sudah besar umurnya sudah mau dua tahun bisa di sapih.


" Bagaimana dengan Gaza jika aku keluar rumah".


" kerjanya itu kan pakai sift, kita ngga full kok ".


" tak apa nak kamu ikut Mahya biar Gaza sama umi dan Nini, aki juga sering di rumah. Setidaknya kamu ada hiburan nak kesedihan mu teralihkan, kamu kan dulu punya cita-cita menjadi seorang apoteker kan meracik obat." kata umi masih bermain bersama Gaza.


" nanti aku pikirkan ya, lalu izin dulu sama Abi boleh apa tidak". ucap Khansa.


" insyaallah abimu mengizinkan nak, kegiatan positif untuk mu juga kan ngga terus di rundung kesedihan di rumah. "


" Oke nanti jika kamu sudah fix segera kabari ya sebelum pihak rumah sakit mencari pengganti nya jangan lama-lama, usaha kan besok kamu sudah kasih kabar. jujur aku kangen jalan sama kamu, aku kangen tertawa mu yang lepas Khansa." Mahya lalu memeluk Khansa, semenjak Mahya pindah dari Yogyakarta dia berteman dekat dengan Khansa.


Obrolan menghangat hingga terdengar suara deru mobil datang, satu wanita paruh baya turun dan laki-laki dewasa membawa satu kantong plastik lumayan besar. Mobil Pajero sport baru mungkin pemiliknya baru saja membelinya.


Wanita itu langsung tersenyum apalagi melihat Gaza yang langsung berdiri akan menghampiri nya. Namun wanita itu berhenti menunggu Gaza datang kepadanya sembari melihat jalan nya anak itu yang masih tertatih. Tangannya terlentang seakan ingin cepat meraih tangan yang ada di depan matanya.


" a...yah...". ucap Gaza cedal.


Semua mata tertuju pada sumbernya mereka kaget dengan kata-kata yang keluar dari mulut Gaza, ucapan yang baru saja mengejutkan semua orang yang duduk di sana. Bahkan jantung Khansa pun berdetak cukup kencang ketika ucapan ayah yang terdengar dari mulut Gaza.


Laki-laki itu merentangkan tangannya memeluk Gaza erat tak lupa ciuman menghujani wajah Gaza yang membuat Gaza bahkan terkekeh senang. Semua berhenti dengan kegiatan yang mereka lakukan hanya untuk melihat Gaza siapa yang ia panggil ayah.

__ADS_1


___


Bersambung


__ADS_2