Cinta Untuk Khansa

Cinta Untuk Khansa
Part 43


__ADS_3

Suara adzan ashar membangunkan Khansa yang tidur dengan memeluk guling nya di lihatnya kanan dan kiri suaminya tidak ada. Khansa tersenyum karena suara adzan itu adalah suara suami nya, meski Khansa belum pernah mendengar suaminya adzan tapi Khansa yakin jika itu suara Ammar.


Khansa lalu duduk mendengarkan adzan dan menjawab adzan hingga selesai. Khansa tersenyum kini ia merasa sangat bahagia apalagi tadi selepas jalan-jalan bersama ammar suaminya. Perutnya merasa mual lagi ini lebih hebat dari yang tadi lidahnya terasa pahit.


" ya Allah kenapa sih perutku". Gumam Khansa.


Khansa lalu beranjak ke bilik kamar mandi, ingin muntah tapi tak bisa hanya mual saja. Rasa mual justru lebih menyiksa berbeda jika kita bisa langsung muntah akan lebih lega berasa. Setelah lebih enak Khansa lalu melaksanakan shalat ashar.


" assalamu'alaikum". Setelah pintu terbuka, ammar dengan baju kokonya masuk ke kamar.


" wa'alaikumsalam mas." Khansa langsung menyambut tangan nya untuk Salim begitupun ammar langsung mencium kening Khansa.


" harum sudah mandi sayang".


" iya mas, bangun langsung mandi habisnya gerah".


" main yuk".


" main lagi, ke mana mas."


" terserah mau umi atau bunda." Khansa berfikir sejenak.


" bunda saja ya mas, Khansa pengen makan masakan Bunda".


" oke sayang yuk siap-siap mas juga sudah mandi ". Alangkah senangnya Khansa jarang sekali suaminya mengajaknya begini biasanya ammar hanya menghabiskan hari libur nya dengan laptopnya.


Sesampainya di rumah bunda ada Oma yang sedang duduk di teras melihat bibik yang sedang menyirami bunga kesukaan Oma. Oma sudah terlihat cukup tua dan kini jalan juga tidak bisa cepat lalu azzam memberinya kursi roda. Oma senang jika sore hari ada di teras melihat bibik atau mamang merapikan kebun.


" assalamu'alaikum Oma". Ucap Khansa langsung mencium tangan dan memeluk Oma nya itu.


" wa'alaikumsalam sayang". Oma pun mencium pipi Khansa.


" Duduk di luar Oma ngga di dalam saja." tanya ammar setelah Salim dan mencium Oma nya.


" oma senang di sini nak, terang bisa lihat di luar". ucap Oma tersenyum mengusap dua kepala di hadapannya yang sedang berjongkok.


" kalau lelah masuk ya Oma."


" iya itu ada bibik juga mamang, kamu masuk aja ada bundamu di dapur masih masak." ucap Oma.


" masyaallah masak apa ya bunda." Khansa langsung beranjak masuk, bau masakan menguar di hidung Khansa.


" assalamu'alaikum bunda." ucap Khansa menemui bundanya yang sedang mengaduk sayur.


" wa'alaikumsalam anak bunda, masak sup iga nak".


" bikin perut Khansa jadi laper". Ucap Khansa kini sudah akrab dengan mertuanya selebih Aisha memperlakukan Khansa dengan begitu lembut seperti anaknya sendiri.

__ADS_1


" Sebentar lagi matang nak terus makan ya".


" tapi ayah ini buat ayah kan".


" ayahmu juga sebentar lagi pulang kita makan bareng ya". Khansa tersenyum sepertinya lidahnya sudah berasa Kelu ingin menyantap masakan bundanya.


" Nah itu suara mobil ayah, lanjutin aduk sayur nya ya nak tinggal tunggu mendidih bunda mau nemuin ayah dulu". Khansa mengangguk sungguh bahagia nya dia memiliki suami yang sayang juga mertua yang begitu menyayangi nya.


Khansa memegangi perut berasa bau yang membuat nya mual tapi bukan bau masakan bunda. Khansa menutup hidung nya hidungnya semakin menyengat saja.


" kenapa sayang." Ammar yang melihat langsung menemui Khansa.


" ini bau apa ya mas, kok bau banget". Sebenarnya bau itu sudah tercium dari tadi tapi karena fokus Khansa pada bundanya baunya tak ia sadari.


" ini pasti kerjaan azkiya ". ucap ammar mencari sumber bau yang menyengat hidung nya.


Azkiya sangat menyukai buah durian ia bisa makan tiga buah sekaligus entah anak itu meski makan banyak tak pernah merasa pusing. Ammar menemukan nya dan langsung membawanya jauh dari sana karena ammar juga tak suka dengan durian baunya bikin dia jadi eneg.


" Hueekk..." Khansa lalu berlari ke kamar mandi setelah mematikan kompor nya karena sup nya sudah mendidih.


Ammar langsung juga berjalan cepat menyusul Khansa ia khawatir istrinya seperti muntah.


" kenapa dek". Tanya ammar ikut panik.


" bau mas ". ucap Khansa.


" kenapa nak." tanya bunda melihat Khansa memegang perutnya.


" ngga apa bunda cuma tadi bau di dapur ".


" Bau apa sayang." tanya azzam kepada bunda yang baru pulang. tadi ada temannya memanggil nya untuk memeriksa bapaknya yang sakit.


" oh iya bau durian tadi azkiya beli mas."


" sudah tau kakaknya ngga suka masih aja nyimpen durian di rumah".


" aduh aku mau muntah perutku mual." ucap Khansa, azzam dan Aisha saling pandang biasanya begitu tak sampai orang muntah-muntah.


" apa ngga suka durian juga nak." tanya bunda yang mendekat.


" biasanya Khansa suka bunda tapi kenapa ini baunya saja Khansa mual".


" emang dari sejak kemarin Khansa mual gitu bunda." ucap Ammar datang dari belakang membawa minuman hangat lalu di berikan nya kepada bunda.


" mual sejak kemarin, pusing tidak nak"


" iya bunda tapi hanya kadang saja." ucap Khansa.

__ADS_1


" sudah terlambat berapa hari nak menstruasi nya." tanya ayah, karena ayah seorang dokter ia tak malu untuk mengatakannya.


" menstruasi, astaghfirullah iya Khansa lupa ." ia lalu mengingat-ingat, ammar yang tak mengerti hanya melongo melihat Khansa yang masih berfikir.


" ini tanggal 12, sudah hampir tiga Minggu ayah". Kata Khansa.


" Alhamdulillah semoga benar apa yang ayah do'akan terkabul ".


" ya bunda masih ada satu itu ayah, bunda ambil ya." bunda semangat naik ke atas untuk mengambil yang di maksud.


Ammar dan Khansa hanya tertegun sama-sama ngga tau, tapi Khansa lalu tersenyum ia ingat jika ini kabar baik.


" kenapa senyum-senyum dek".


" ya aaminn semoga Allah ijabah." ucap Khansa, azzam yang melihatnya ikut tersenyum melihat sang menantu nampak bahagia. awalnya azzam khawatir karena Khansa masih sekolah, ia khawatir jika Khansa belum ingin hamil sekarang.


" nak coba pakai dulu bunda antar ke kamar mandi".


" apa itu bunda ". Polosnya ammar.


" nanti kamu juga ngerti." Aisha menuntun Khansa ke kamar mandi.


" bisa pakainya nak". Tanya Aisha, Khansa mengangguk masih dengan senyuman.


Sekitar hampir dua puluh menit Khansa lalu keluar dengan menitikkan air mata, tentunya air mata kebahagiaan.


" gimnaa nak kok malah nangis." Khansa lalu menyodorkan alat tespek tersebut kepada Aisha.


" masyaallah Alhamdulillah, ayah kita jadi kakek nenek." ucap Aisha berjalan cepat sembari menggandeng Khansa.


" kenapa bunda." ucap ammar ikut terkejut kaget dengan teriakan bunda.


" coba liat ini nak." Ammar lalu meraih benda panjang dan di berikan nya kepada dirinya.


" ini apa maksud nya bunda."


" makanya jangan laptop terus yang di pantengin nak, perhatikan istrimu juga. Kamu akan jadi ayah Ammar".


" benarkah ayah." Azzam mengangguk.


Ammar kegirangan langsung memeluk Khansa dengan tetesan air mata bahagia. Tak ada yang lebih bahagia ketika di karuniai seorang anak. Kini keluarga Azzam sedang merasakan kebahagiaan itu.


__


Dear pembaca ikuti terus ya mungkin jalan cerita nya masih terbaca datar ya.


Bab selanjutnya akan masuk ke bab sebagai inti dari judul nya ya, pantengin terus jangan lupa beri semangat author.

__ADS_1


Terimakasih banyak.


__ADS_2