Cinta Untuk Khansa

Cinta Untuk Khansa
Part 57. Gaza pergi


__ADS_3

Hampir setiap hari Gaza menghubungi Ameer kini Ameer sudah pindah tugas ke bandung. Gaza semakin besar dan ia masuk ke sekolah paud. Hari-hari Gaza teralihkan dengan teman-temannya, sengaja memang Khansa agar tak terus berhubungan dengan Ameer.


Suatu ketika ada hari ayah, sebagian temannya membawa ayahnya untuk menggambar bersama di sekolah namun Gaza hanya bersama Nini Alira karena Khansa juga bekerja. Gaza tak mau melanjutkan kegiatan lomba menggambar nya ia hanya diam saja ngambek.


" loh kenapa sayang ayo selesaikan menggambarnya biar dapat juara." ucap Alira memberi semangat, Gaza hanya menggeleng.


" bilang sama Nini kenapa".


" Gaza mau pulang" ia berlari untuk keluar sekolah, alira pun mengikuti.


" ada apa Bu." tanya ibu guru.


" maaf Bu guru, kami izin ya Gaza tidak mau mengerjakan kegiatan nya dan ia mengajak pulang."


" ya Bu baiklah tidak apa-apa ".


" alira bisa menyusul Gaza lalu ia menghentikan taksi membawa Gaza pulang." sejak tadi Gaza menghubungi Ameer tapi tak bisa, Ameer sedang ada rapat ia sekarang sebenarnya ada di jakarta karena ada panggilan dari rumah sakit jakarta akan adanya operasi besar di rumah sakit tersebut. Ameer sudah di katakan sebagai dokter ahli jantung.


" mungkin om Ameer sedang ada operasi sayang." Gaza kesal ia lalu tertidur pulas karena lelah.


Khansa pulang dari kerja ia cukup lelah, di letakkan nya tas kerja lalu ia rebahkan tubuhnya di sofa. Di luar hujan rintik-rintik mengiringi suasana sore tersebut, masih beruntung Khansa tidak kehujanan sampai di rumah.


Gaza terbangun ia berlari untuk turun ke bawah melihat bundanya ada di sofa dengan lelah.


" Bunda kapan ayah pulang." tanya Gaza.


" nanti ya nak jika perkejaan ayah selesai pasti pulang." ucap Khansa menenangkan Gaza.


" Tapi kenapa lama sekali bunda, setiap hari bunda bilang sebentar lagi." Gaza menyilangkan tangannya di depan dada ia merajuk marah.


Gadis empat tahun itu selalu merajuk di kala pulang dari sekolah nya. Gaza sudah di masukkan ke dalam sekolah paud, dan di saat ia melihat sosok ayah dari temannya Gaza selalu mengingat ayahnya.


" ya sabar sayang".


" Gaza mau ayah bunda."


" iya sayang, tapi ayah masih kerja."

__ADS_1


" Gaza mau susul ayah". Gaza berlari padahal di luar hujan angin bertiup cukup dingin.


" Gaza mau ke mana nak di luar hujan sayang". Gaza tak peduli ia terus berlari hingga menyebrang jalan.


Khansa ingin menyusul tapi sudah ketinggalan jauh, Khansa terhalang oleh mobil yang melintas. Gaza terus berlari tak peduli ia dengan hujan yang makin lebat. Gaza berfikir jika ia bisa menyusul ayahnya, sejak pulang tadi ia tak bisa menghubungi Ameer.


" ada apa nak." tanya Barra yang baru pulang dari pesantren.


" Gaza Abi ia lari keluar".


" di hujan seperti ini ada apa".


" mau menyusul ayahnya Abi, ayo Abi cari Gaza ". Barra pun ikut turun tak peduli juga jika hujan mencari cucunya yang lari entah kemana. Bahkan mereka tak menemukan nya tak ada yang tau dimana Gaza barada sekarang.


" Gaza di mana kamu nak." ucap Khansa yang terduduk di sebuah taman yang tak menemukan Gaza.


Lalu Barra menghubungi besannya azzam dan Aisha. Keduanya pun kaget mereka akhirnya keluar untuk mencari di mana Gaza berada.


" ayah hiks..." Gaza menangis di bawah pohon besar ia berlindung karena ada suara petir yang cukup keras.


" assalamu'alaikum ayah." ucap Ameer dari seberang telepon.


" wa'alaikumsalam nak kamu di mana ".


" di rumah sakit jakarta Harapan ayah." jawab Ameer ia meletakkan snelinya dan duduk di kursi tunggu keluarga pasien.


" Gaza kabur nak".


" kabur apa maksud ayah."


" ceritanya panjang Ameer, ia ingin menyusul dirimu nak."


" astaghfirullah hal adzim, sekarang ayah di mana."


" mencari Gaza nak kemungkinan ia belum jauh dari taman kota, di sini hujan."


" iya ayah di sini hujan juga, Ameer segera ke sana ayah ". Ameer cukup panik ia pun izin kepada dokter lainnya yang tadi ikut operasi.

__ADS_1


" ya Allah nak di mana kamu". Ucap Ameer yang juga panik.


Semua mencari tapi belum ada yang bisa menemukan nya karena Gaza tak mengeluarkan suaranya. Ia hanya menggigil ketakutan di bawah pohon besar dekat toilet umum yang ada di taman tersebut. Semua basah kuyup mencari keberadaan Gaza yang tak mereka temukan.


" Gaza di mana kamu nak, di luar hujan. Iya kita susul ayah nak tapi jangan pergi sendiri." ucap khansa ia berteriak kuat. Meski Gaza mendengar suara ibunya ia tak mau keluar dari balik pohon besar tersebut.


Ameer datang dengan naik taksi karena Ameer tak membawa mobil, rencana ia memang akan pindah ke rumah sakit jakarta karena di bandung juga sudah satu tahun habis kontrak kerja nya di sana.


Ameer berlari tak peduli juga jika dia basah karena air hujan ikut mencari Gaza.


" Bagaimana ustadz, Gaza di mana." tanya Ameer dengan panik.


" kami belum menemukan nya nak". ucap ustadz Barra. Ameer pun melihat ke arah Khansa dengan rasa kasihan ia sudah basah juga sejak tadi belum menemukan Gaza, air mata pun tak hentinya mengalir.


" Gaza di mana kamu nak ini ayah nak, ayah pulang. Jika sayang ayah kamu keluar ya nak ayah ngga akan pergi lagi". Ucap ameer untuk pertama kalinya ia memanggil dirinya ayah Gaza.


Di balik pohon itu Gaza keluar dengan tubuh yang menggigil, badannya basah kuyup ia berlari untuk menemui Ameer.


" ayah..." ucap Gaza berlari memeluk Ameer.


Dan tiba-tiba tubuh Gaza lemas ia pingsan saking tak kuat merasakan tubuhnya yang menggigil. Hampir dua jam lamanya Gaza berada di balik pohon itu, ia tak mau orang menemukan nya dalam pikirannya ia ingin menyusul ayahnya Ameer.


" astaghfirullah hal adzim nak bangun." ucap Ameer panik.


" bawa Gaza langsung ke rumah sakit Ameer seperti nya dia kedinginan, ayah takut jika ia demam ". Ucap Azzam lalu berlari menghidupkan mobilnya, Ameer mengangkat tubuh Gaza masuk ke dalam mobil untuk di bawanya ke rumah sakit.


" kamu sama Abi nak ." ucap Barra, lalu Khansa menyusul mobil azzam di belakangnya.


" Suster tolong, ambil sneli saya sus." ucap Ameer panik, ia memeriksa Gaza memberinya oksigen.


" ganti pakaian nya dulu lalu bungkus selimut agar tak kedinginan." ucap azzam yang ikut masuk. Suster pun langsung sigap menangani Gaza. Ameer sesekali mengusap air matanya, melihat tubuh mungil yang sedikit membiru karena merasakan dingin


" maafkan Ameer kak." ucap Ameer mengingat ammar kakaknya


" aku tak bisa menjaga Gaza." air mata pun mengalir kembali. Belum ada gerakan dari Gaza sama sekali tubuhnya masih terlihat biru karena kedinginan Ameer terus mengusap tangan Gaza agar terasa hangat. Azzam pun memasang infusan pada tangan Gaza karena Ameer terasa tak kuat menyakiti tangan Gaza dengan jarum suntik ya.


__

__ADS_1


__ADS_2