
Cuaca yang makin dingin menyeruak karena memang musim salju. Ammar terbangun dari tidurnya ia melihat Khansa yang masih tidur di dalam pelukannya. Jam 3 pagi waktu Swiss saatnya ammar melakukan aktivitas rutin nya. Perlahan ia bangun agar sang istri tak terganggu dari tidurnya. Ammar meraih handuk yang sudah ia siapkan di sana dan memunguti pakaian yang berserakan di lantai.
Senyum itu terukir dari wajah ammar, akhirnya nafkah batin pun sudah tertunaikan meski terlambat. Ammar masuk ke dalam kamar mandi ia menyiapkan air hangat terlebih dahulu untuk mandi nya. Sekitar hampir 30 menit ammar membersihkan diri lalu ia berpakaian rapi dengan sarung dan baju kurta nya tanpa peci. Dia memang sengaja tak membawanya karena di sini tempat asing jarang sekali ada masjid bahkan hotel yang mereka tinggali jauh dari masjid.
Di lihatnya lagi Khansa yang masih tertidur di kelilingi oleh bantal dan guling, ammar tersenyum melihat istrinya yang masih terlelap. Hingga dua belas rakaat ia tunaikan dan di tutup dengan tiga witir, meski tak pernah sekolah di tempat yang berbasis agama namun Aisha bundanya membekali semua anak-anak nya dengan agama yang kuat. Aisha tak pernah membatasi permintaan anaknya untuk memilih pendidikan nya.
Di tengadahkan tangannya ke atas Ammar berdoa dengan khusuk meminta ampunan keselamatan dan kebahagiaan keluarga nya serta istri yang kini sangat ia cintai. Tak ada alasan untuk tidak menumbuhkan rasa cinta terhadap istrinya yang tak hanya cantik tapi juga Solehah.
Khansa menggeliat tangannya meraih mencari sosok yang semalaman mengajak dia berada di surga dunia. Merasa tak menemukan sosok nya dan mendengar alunan ayat suci yang terbaca Khansa lalu terbangun membuka matanya. Di lihatnya ammar yang masih mengaji lalu jam dinding yang sudah menunjukkan pukul empat pagi.
Merasa ada pergerakan ammar lalu menoleh di dapati istrinya yang masih terbungkus selimut. Ammar langsung menutup kitab sucinya di letakkan nya di atas meja dekat ranjang. Ammar membuka sarung nya berniat untuk membantu Khansa bangun.
Khansa justru malah terbelalak berpikiran yang bukan-bukan lagi. Otaknya sedikit konslet, ia meringis merasakan sakit pada daerah inti nya.
" mas mau apa ini masih sakit mas." Ammar terkekeh Khansa kini sudah suudzon saja.
" kenapa sayang, mas mau siapkan air. mau mandi apa mau lagi." kembali Khansa meringis rasanya kembali ngilu.
" sebentar ya kamu di sana dulu" ucap ammar. Khansa terkekeh malu sendiri dia jadinya.
Khansa bangun di carinya pakaian nya tadi tapi sudah tak ada ammar pasti sudah membawanya ke ranjang baju kotor. Lalu di raihnya selimut untuk membungkus dirinya, sprei hotel yang berwarna putih bersih tadinya rapih kini sudah ternodai dengan merahnya darah perawan Khansa lalu menariknya ingin membawanya.
" Letakkan saja sayang kamu cepetan mandi tak dapet witir nanti kan sayang."
" tapi mas itu". Khansa malu sendiri untuk mengatakan jika sprei ada darahnya.
" tak apa aku yang melakukan nya aku yang bertanggung jawab, udah cepetan mandi mas mau buat minuman hangat dulu." ucap ammar sembari menunggu subuh.
Dengan tertatih Khansa jalan masuk ke dalam kamar mandi ia membersihkan dirinya. Berendam sebentar ke dalam bathtub untuk merilekskan tubuh nya yang berasa remuk.
Minuman hangat sudah ammar siapakan pakaian ganti pun ammar sudah siapkan. Ammar duduk kembali di depan laptop nya sembari menunggu Khansa. Khansa keluar kamar mandi dengan rambut basahnya, tersenyum melihat pakaian sudah Ammar siapkan.
__ADS_1
" makasih ya mas" ammar hanya mengangguk tak ingin ia melihat ke arah Khansa rasanya belum sanggup lagi melihat keindahan alam eh keindahan istri.
Khansa hanya shalat empat rakaat di tutup nya dengan satu witir karena waktu sebentar lagi subuh. Ia memanjat kan doa untuk dirinya dan sang suami dengan doa agar selalu di beri kebahagiaan.
__
Ammar dan Khansa menghabiskan waktunya di Swiss untuk jalan-jalan di saat siang hari dan istirahat di malam hari. Bermain salju hingga puas, ammar mengusap kepalanya ketika berada di depan laptop nya seperti nya ada pekerjaan yang harus ia selesaikan sekarang juga.
" kenapa mas " Khansa bergelayut manja di punggung ammar.
" ngga apa-apa dek." ucap ammar menutupi ia juga tak ingin bulan madu nya terganggu yang jelas tak ingin Khansa kecewa.
" mas tak apa katakan saja tolong jangan kamu tutupi segalanya". ucap Khansa kemudian duduk di pangkuan ammar.
" ini ada klien baru dia ingin bertemu mas langsung tak mau di wakilkan om Hamdan." Ammar memberitahu email yang masuk.
" ya udah mas besok kita pulang".
" kan tinggal dua hari sayang tanggung kalau pulang ada tempat yang belum kamu ingin datangikan." ucap ammar menggeser rambut Khansa yang tergerai indah.
" kamu serius sayang " Khansa mengangguk yakin.
" mas tak ingin kamu kecewa sayang".
" ngga mas aku sudah puas di sini".
" baiklah kalau itu maumu malam ini kita habiskan waktu semalaman di sini." Ammar menggendong Khansa untuk naik ke ranjang.
Tak perlu di bahas apa yang mereka lakukan biarkan mereka saja yang tau. Hheheh...
__
__ADS_1
Khalid gusar ia merasa tak tenang belajar di sana ada sesuatu yang tertinggal di sana... hatinya. Di tutup nya buku yang ia pelajari sejak tadi karena tak masuk ke dalam otaknya sama sekali.
" aku harus cepat melakukan nya jika tidak aku tak akan pernah fokus." gumam Khalid yang kini sedang berada di Kairo.
Barat terkejut ketika suara dering handphone nya terdengar, kini barra sednag ada di pesantren selesai mengisi kajian.
" assalamu'alaikum Khalid kenapa malam begini kamu telepon Abi".
" wa'alaikumsalam Abi, ada yang penting mau Khalid bicarakan sama Abi."
" bicaralah Abi ada di mobil mau pulang sekarang." ucap barra duduk di dalam mobil, Fauzan langsung menghidupkan mesin mobilnya untuk mengantar Barra pulang.
" bi dengan tidak mengurangi rasa hormat Khalid minta tolong." ucap Khalid. Barra pun terkekeh mendengar ucapan anaknya.
" kenapa nak kamu tidak betah di sana atau bagaimana".
" bukan bi, jika Abi tidak melakukan nya Khalid tidak akan tenang belajar di sini. Aku sedang ikhtiar langit tapi bumi nya belum."
" apa maksud mu Khalid jangan bertele-tele." ucap barra.
" tapi Abi janji dulu jangan marah sama Khalid dan mau menuruti apa ucapan Khalid."
" ya tergantung apa yang akan kamu pinta."
" plis bi."
" sudah cepat katakan apa yang membuat gerangan Kisana gelisah." goda barra sembari terkekeh.
" Abi tolong khitbahkan gadis untuk Khalid.
" hah, apa yang kamu katakan Khalid.....
__ADS_1
__
bersambung