
Fauzan datang membawakan pakaian ganti buat mereka semua atas perintah Barra. Semuanya lalu berganti pakaian agar tak juga ikut demam, di dalam masih ada Ameer menunggu Gaza. Saat bangun pasti Gaza akan mencari Ameer ayahnya.
" ayah ada di sini nak, ayah ngga akan pergi lagi. Gaza sembuh ya ayo cepat bangun kita jalan-jalan lagi sayang." bisik Ameer di telinga Gaza.
" maafkan Gaza ya kak." ucap Khansa yang baru masuk bersama abinya.
" dia masih anak-anak". Ucap Ameer tak menoleh ke arah Gaza.
Khansa mendekat ia mengusap kepala Gaza menahan tangis, melihat Gaza terbaring dengan infus yang menancap di tangan nya merasa miris hatinya. Hilir mudik suster di luar membuat suasana rumah sakit terasa semakin mencekam, ada teriakan seseorang karena saudara nya yang meninggal.
" ayah..." ucap Gaza mulai sadar.
" iya sayang ayah di sini nak." ucap Ameer mengusap kepala Gaza, Gaza pun tersenyum senang melihat Ameer ada di sisinya.
" pusing..." ucap Gaza.
" iya sayang nanti juga sembuh".
" ayah sama bunda bobo sini." Gaza menepuk bantal sisi kanan dan kirinya. Ameer dan Khansa saling pandang lagi.
" iya sayang tapi makan dulu supaya lekas sehat nanti kita jalan-jalan." ucap Ameer dengan senyuman yang memaksa karena menahan tangis yang ingin tumpah sejak tadi.
Suster membawakan makanan untuk Gaza sejak pulang dari sekolah memang Gaza tak makan sama sekali. Hingga kejadian yang membuat Gaza harus berlari pergi untuk mencari Ameer ayahnya.
" Biar Nini yang suapin ya nak, ayah sama bunda keluar sebentar cari makan kan juga belum makan biar ngga sakit seperti Gaza." ucap Alira sengaja menyuruh keduanya keluar.
" keluar lah nak Abi mau bicara pada kalian berdua." ucap Alira menegaskan, akhirnya keduanya keluar masuk ke ruangan dokter azzam. Rumah sakit ini di mana azzam bekerja. Ameer berjalan lebih dulu lalu masuk ke ruangan ayahnya di ikuti khansa, di dalam sudah ada azzam, Barra dan Aisha.
" Ameer, Khansa, Abi sengaja memanggil kalian di sini nak. Kami ingin bicara tentang Gaza, kejadian hari ini membuat kami syok semua. Gaza benar-benar nekat dengan apa yang dia inginkan mencari ayahnya, bahkan tak peduli bahaya yang akan menimpa nya".
" Gaza gadis kecil yang memang di bilang tidak tau apa-apa, kalian Ameer dan Khansa sayang sama Gaza kan." keduanya mengangguk.
" Menikahlah kalian, demi Gaza jika memang kalian tak ingin kehilangan Gaza seperti kejadian hari ini."
" apa maksud ustadz." ucap Ameer terkejut.
" seperti yang saya katakan tadi, Gaza akan menjadi korban keegoisan kalian terus hingga nanti. Dan kalian tak mungkin selalu bersama jika tak adanya ikatan pernikahan. Seperti sekarang Gaza pasti ingin kalian berdua yang menunggu nya di ruang rawat inap". Jelas Barra, Khansa pun hanya terdiam sejak tadi.
__ADS_1
" tapi bagaimana dengan Khansa, aku tak mau memaksakan semua ini".
" bagaimana Khansa, Abi melakukan semua ini demi Gaza kamu juga Ameer. Perlahan kalian nanti bisa saling mencintai karena cinta pada yang halal adalah hal yang Allah ridhoi " sengaja azzam dan Aisha diam biar Barra saja yang berkata.
" Kasihan kak Ameer Abi, Khansa seorang janda".
" Abi yakin Ameer mau menerima mu apa adanya ". ucap Barra.
" Abi tanya sekali lagi kepada kalian berdua, kalian bersedia menikah." tekan Barra membuat Ameer dan Khansa bingung.
" lihatlah Gaza nak dia membutuhkan kalian berdua, bunda tak tega nak." ucap Aisha menahan tangisnya.
" Ammar pasti akan senang jika melihat kalian bisa bersama dalam membesarkan Gaza , tak ada yang lebih menyayangi nya selain dirimu Ameer". Ucap azzam menambahi meyakinkan keduanya.
Hening tak ada ucapan apa-apa dari semuanya bahkan Ameer dan khansa sibuk dengan pemikiran nya masing-masing.
" bagaimana Abi butuh jawaban kalian sekarang". Kata Barra.
" bismillah Ameer bersedia". Ucap Ameer menunduk ia malu dengan Khansa.
" nak Khansa " Khansa pun mengangguk mengiyakan.
" sekarang apa maksud nya ayah". ucap Ameer bingung.
" Gaza ingin kalian berdua berada di sisinya, jika malam ini kalian bisa sah kalian berdua bisa menunggu Gaza tanpa harus berfikir tentang dosa ". ucap barra, sebelumnya memang para tetua sudah berdiskusi sebelum mempertemukan keduanya.
Ameer melirik khansa ia ingin memastikan diri Khansa terlebih dahulu tanpa adanya paksaan dan keadaan.
" boleh Ameer bicara dengan Khansa sebentar". Para tetua mengangguk.
" Khansa aku tak mau jika kamu terpaksa karena keadaan, jika kamu tak bersedia boleh kamu mengatakan tidak."
" aku bahagia jika Gaza bahagia kak, demi Gaza dan demi diriku yang ingin juga bahagia aku ikhlas menerima pernikahan ini tanpa paksaan". Ucap Khansa ia sangat yakin.
" tak ada lagi yang perlu di bicarakan atau diskusikan, sebentar lagi penghulu datang dan segala saksi yang ada. Pernikahan akan di adakan di ruangan ini."
" kamu mau maskawin apa Gaza." tanya Ameer.
__ADS_1
" apa saja kak asal tak memberatkan kakak".
" bunda sudah membawanya Ameer." bunda mengeluarkan kotak kecil berisi berlian yang memang dulu Ameer simpan untuk melamar Gaza.
" itu kan...".
" sudah sekarang lebih baik kamu bersiap sebentar lagi penghulu datang, yang penting kalian sah dulu Gaza sudah tak sabar menunggu kalian." ucap Aisha tersenyum kini ia nampak bahagia.
Kelegaan ada pada diri para tetua mereka sudah tak mengkhawatirkan Gaza lagi. Gaza pasti akan ikut bahagia jika melihat kedua orang yang ia sayangi bisa bersatu dalam ikatan suci pernikahan. Gaza tak akan berlarian mencari Ameer setiap hari, ketika ia bangun sudah bisa mendekap ayahnya.
Semua sibuk, tak ada gaun tak ada make up hanya persediaan mahar juga saksi dan dukungan para keluarga. Hamdan datang bersama penghulu ia membawa Istrinya Zakia, Fahri pun datang bersama Ratih ibunya setelah Fauzan memberi kabar. Mahya datang bersama abinya, juga ustadz Ilyas sang kakek Khansa yang rumahnya tak jauh dari rumah sakit.
Suasana khidmat masih merasakan ketegangan bahkan author yang menulis. Gaza di dalam bersama alira, Khansa dan Ameer masuk untuk melihat sejenak sembari menunggu persiapan semuanya. Barra sendiri yang akan menikahkan Khansa sama seperti sebelumnya.
" Lo mba Mahya ada di sini." tanya Fahri terkejut ia kira hanya beberapa orang saja yang datang.
" iya kamu juga ngapain ke sini".
" aku mau liat mba Khansa menikah sembari belajar". Fahri terkekeh.
" oh kamu sudah mau menikah juga to." ucap Mahya melengos.
" ya mau to mba, empat tahun mencari ilmu supaya bisa di pantaskan untuk bersanding dengan bidadari ku mbak."
" syukurlah selamat ya Fahri." Fahri hanya nyengir.
" Fahri nanti tunggu Ameer dulu menikah kamu banyakin sabar nya cari jodoh dulu."
" jika memang jodoh tak perlu di cari Abi, ini udah ada di sini jodoh Fahri tinggal Abi mendoakan Fahri bagaimana. Khitbahkan gadis nya ya bi." ucap Fahri.
" anak sekarang ngga bisa tunggu nanti, iya Abi khitbahkan siapa nak."
" mbak Mahya saja bi, ia wanita saliha temannya mbak Khansa".
" kamu ngga salah."
" ngga lah bi, buat Fahri yang penting saliha." Fauzan tersenyum ia melihat ke arah Mahya yang sedang berdiri di samping Khansa. Fauzan pun tau sedikit keluarga Mahya, berasal dari keluarga religius.
__ADS_1
__