
Hanya terdapat satu ranjang saja di perumahan dinas Ameer, yang juga tak begitu besar. Rencana Ameer akan tidur di sofa saja, di kamar biar Gaza dan Khansa saja yang tidur.
Setelah makan malam di luar mereka membeli sedikit cemilan untuk di rumah. Jalan-jalan sebentar ke taman yang terang dengan lampu-lampu penerangan temaram. Gaza membeli bunga gula dan mereka makan bersama.
Setelah lelah selepas jam sembilan malam lalu mereka pulang, karena Gaza bilang jika sudah mengantuk.
Ameer menggendong Gaza hingga sampai di kamarnya, ia melepaskan kaos kaki jaket dan jilbab Gaza yang ia pakai saat keluar rumah tadi.
" Bunda bobo sini". Lalu Ameer menyuruh Khansa untuk tidur di ranjang nya. Khansa lalu berganti pakaian piyama untuk tidur.
" kak izin buka jilbab Khansa ya."
" iya tak perlu izin juga Khansa, tidurlah". Ucap Ameer ia sedikit melirik Khansa yang kini tanpa hijabnya.
" ayah bobo sini."
" sebentar ya sayang ayah ganti baju dulu ". ucap Ameer ia melepas kemejanya dan mengganti nya dengan kaos putih tipis yang biasa ia pakai untuk tidur.
Ameer ingin tidur di samping Gaza agar ia bisa dekat dengan Gaza tapi Gaza justru melarangnya.
" ayah bobo dekat bunda saja, Gaza mau dekat tembok". Memang ranjang di pepetkan ke tembok karena ruangan yang sempit.
" tempat nya sempit sayang, Gaza bobo sama bunda ayah ke sofa ya."
" ngga mau, ayah bobo di samping bunda kan tangan ayah panjang bisa peluk bunda juga Gaza." Gaza merajuk, Ameer bingung ia belum berani menyentuh tubuh Khansa.
" tak apa kak tidur lah di sini".
" kamu tak apa Khansa".
" iya". ucap Khansa sambil tersenyum.
karena keinginan Gaza supaya tangan Ameer juga meraihnya mau tak mau Ameer pun tidur memeluk Khansa. Menghirup aroma rambutnya yang begitu wangi, Ameer dan Khansa pun terlelap. Semakin lama cuaca di kota bandung dingin dan Khansa beralih menghadap Ameer dengan masih memejamkan mata nya pun Khansa tanpa sengaja memeluk Ameer.
_
__ADS_1
-
" mas, alira bahagia akhirnya Khansa dan ameer bisa bersatu. hati ini jadi tenang Khansa dan Gaza sudah ada yang menjaganya". Ucap Alira berada di pelukan Barra di atas ranjang.
" iya sayang, tak menyangka juga ternyata Ameer mencintai Khansa sejak lama, makanya ia tak menikah hingga jadi bujang tua".
" mungkin itu yang Allah gariskan untuk kehidupan mereka ya mas ". alira mengeratkan pelukannya malam ini di daerah nya hujan gerimis.
" iya sayang, memang kita tak tau sedetik kehidupan kita ke depan nya. mas dulu juga ngga menyangka bisa menikahi murid mas sendiri ini". Barra menarik hidung Alira.
" alira juga ngga punya niatan punya suami ustadz, takut alira di suruh-suruh, takut juga jika mas menikah lagi. Seorang ustadz biasanya istrinya lebih dari satu".
" sayang jangan begitu, coba kamu lihat di sekitar kita tak ada kan ustadz yang punya dua istri. Pertanggung jawaban nya berat sayang, satu istri saja esok mas tak lepas di tanya oleh malaikat bagaimana tanggung jawab mas selama di dunia. Apalagi punya istri lebih dari satu, bisa-bisa mas kelamaan sampai rambut memutih di tanya oleh malaikat ". Alira lalu terkekeh.
" mas cinta sama kamu sayang, insyaallah tak akan ada yang lain. kamu istriku di Dunia juga surga kelak sayang." barra mengecup kepala alira, mereka merasa lega dengan tidak terlalu lagi memikirkan Khansa dan Gaza.
" makasih ya mas." barra mengangguk kemudian mereka terlelap.
Di tempat lain.
Aisha dan azzam juga tidur dalam selimut yang sama, mereka membicarakan tentang Ameer dan Khansa juga Gaza.
" tunggu mereka pulang saja sayang, biar mereka yang memilihnya ".
" kira-kira mereka mau tidak kita bikin acara resepsi." tanya Aisha.
" makanya mas bilang tunggu mereka pulang, tak ingin juga memaksakan kepada mereka sayang.".
" tapi hal ini harus di umumkan mas, takutnya ada fitnah antara mereka ".
" iya mas tau itu, tapi mas tak mau memaksakan keinginan kita ini." ucap azzam.
" iya terlebih Ameer menikahi kakak iparnya sendiri, meski dalam agama boleh sih tapi mungkin mental mereka di pertaruhkan dengan suara-suara di luar sana."
" tapi aku yakin Ameer tidak begitu sayang, ia menyayangi ammar. Ameer mencintai Khansa dan kasih sayang yang lebih untuk Gaza ".
__ADS_1
" kisah ini seperti aku menikahi istri sahabat ku sendiri " ucap azzam.
" tapi berbeda mas, Ammar dan Ameer anak kembar. mas azzam dan mas Hanafi hanya sekedar sahabat ".
" tapi jujur dulu mas beranggapan mengkhianati sahabat mas sendiri ". ucap azzam teringat Hanafi sahabatnya mantan suami Aisha.
" Aisha yakin mas Hanafi bahagia karena Aisha ada di tangan laki-laki yang tepat. Aisha sangat bahagia hidup bersama mas azzam".
" aku juga bahagia sayang memiliki mu, dengan ketiga anak-anak kita." ucap Azzam memeluk erat istrinya.
" sudah malam ayo tidur biar ngga kesiangan bangun nya untuk shalat malam". Aisha mengangguk mereka lalu tertidur.
__
Ameer merasa terganggu dengan tubuh yang menempel pada dirinya karena ini hal yang pertama untuk Ameer. Khansa beralih kembali memeluk erat Ameer karena cuaca di bandung cukup dingin sekali.
Ameer membuka matanya, di lihatnya Khansa yang ada di sisinya. Ranjang yang sempit membuat Ameer susah untuk bergerak. Ia pandangi wajah teduh Khansa, di selipkannya anak rambut yang menutupi wajah khansa perlahan Ameer usap wajah Khansa.
" meski hatimu masih untuk kak ammar aku akan tetap mencintai mu khansa, karena mencintai yang sudah halal bagiku itu adalah kewajiban. Kamu wanita hebat yang pernah aku kenal, cinta itu tak butuh alasan terlepas siapa dirimu dulu. yang jelas sekarang kamu adalah milikku permaisuri hatiku sayang." gumam Ameer lirih takut ia membangunkan Khansa ia belai pipi Khansa dengan sangat lembut.
Angin yang berhembus melewati celah jendela semakin mengeratkan pelukan khansa kepada Ameer, hingga membuat Ameer sulit untuk bernafas. Menahan birahi yang kini mulai terasa, Ameer laki-laki dewasa dan normal. Ameer sudah berjanji jika ia tak akan pernah memaksa Khansa. ia mau Khansa benar-benar ikhlas menyerahkan dirinya kepada nya.
Suara petir mengagetkan Gaza hingga ia berteriak.
" ayah..." ucap Gaza.
Khansa pun jadi ikut terbangun, ia malu ketika sadar bahwa dirinya yang memeluk Ameer.
" ayah takut". Ucap Gaza menangis.
" iya sayang sini bobo di tengah ya." Gaza lalu mengangguk. Di rapihkan nya selimut agar bisa menutupi mereka bertiga.
Khansa masih terjaga, di lihatnya Ameer dengan mata yang terpejam. Khansa tersenyum sendiri teringat saat ia tadi tidur ada di pelukan Ameer.
" tidur Khansa ini masih malem". Ucap Ameer ia tau jika Khansa saat itu telah memandangi nya.
__ADS_1
" iya kak." khansa pun tersipu malu ia lalu memejamkan matanya. Ameer mengusap kepalanya terlebih dahulu, Khansa begitu merasakan kasih sayang Amer yang begitu tulus.
___