Cinta Untuk Khansa

Cinta Untuk Khansa
Part 35. cinta itu anugerah


__ADS_3

Khansa duduk dengan terus memandang ammar menelisik wajah suaminya yang cukup kaku. Ammar sadar hal itu ia makin tak bisa konsentrasi dalam berkerja, mengecek semua hal yang ada di perusahaan selama dia tak masuk kerja.


" kenapa tak tidur dek".


" ngga mas mau nemenin mas aja."


" aku biasa sendiri ngga perlu di temani". ucapan ini sungguh membuat hati Khansa menciut, apa ammar tak sadar jika kini ia sudah ada yang menemani tapi kenapa ia tetap abai. Kata-kata 'ngga perlu di temani' itu membuat Khansa sakit, keberadaan nya sangat tidak di inginkan Ammar.


Khansa lalu membaringkan tubuhnya membelakangi Ammar dengan meremas ujung bantal di sana. Terdengar Isak tangis, Khansa ingin menahannya tapi lolos begitu juga ia menutup mulutnya erat agar suaminya tidak mendengar. Namun telinga ammar sungguh tajam, suara itu menggangu telinga nya.


Ammar mendekat di usapnya kepala Khansa, ia mengulang lagi perkataan nya tadi di dalam hati. Ammar sadar ucapan nya melukai istrinya hingga membuat Khansa menangis.


" kan mas udah bilang jangan menangis dek." di usap-usap nya beberapa kali kepala Khansa. Khansa hanya terdiam merasakan lembutnya sentuhan Ammar.


" mas minta maaf." Ammar mengecup kepala Khansa lalu di baliknya tubuh Khansa agar menghadap nya.


" jangan nangis lagi mas mohon". Ammar mengusap air mata yang terus mengalir di pipi Khansa dan membasahi jilbabnya.


" apa Khansa harus nangis dulu sehingga Khansa bisa merasakan lembutnya kecupan dan belaian mu mas." deg... Hati Ammar tercubit, benar seharusnya ammar mulai belajar menangkis kekakuannya.


" maaf sayang". Kata sayang lolos pertama kalinya dari bibir ammar untuk sang istri. perlahan ammar membuka jilbab Khansa agar Khansa leluasa, juga jilbab itu basah oleh air mata.


Perlahan ammar mendekat setelah jilbab Khansa sudah terlepas, di sisihkan nya anak rambut yang menutupi mata Khansa. Dalam hati dengan mengucap bismillah ammar meraih pinggang Khansa ia lingkarkan tangannya di perut khansa ammar memeluk erat sang istri ia pun mengecup kepala Khansa beberapa kali.


" maafkan mas, bantu mas mengikis jarak ini. ingatkan mas jika lalai, mas tak ingin kamu menangis lagi. Maaf..." Khansa pun lalu melingkar kan tangannya di pinggang Ammar.


Ammar melerai pelukannya di lihatnya wajah Khansa lebih dekat ia menyusuri setiap inci wajah Khansa dari dahi hingga dagu. Tak ada kata-kata yang terucap Khansa pun melihat mata Ammar seakan ingin menghipnotis nya. Ammar mulai dekat tak tahan juga dia melihat bibir Khansa yang tebal itu. Perlahan ammar mengusap bibir Khansa dengan jarinya, lalu Khansa menutup matanya merasakan sensasi sentuhan tangan ammar. Dan semakin dekat wajah ammar, kini rasa sayang itu sudah mulai hadir dengan adanya sentuhan lembut. Bib*r ammar menyapu bibir Khansa dengan lembut, keduanya benar-benar kaku karena memang hal ini pertama kali untuk keduanya.


Tak bisa lama karena ritme mereka yang belum terbiasa, ammar pun malu tak terhingga. Setelah sadar apa yang terjadi ammar melepaskan pagutannya lalu membelakangi Khansa dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Sungguh Ammar malu terhadap Khansa, Khansa terkekeh menutup mulutnya.


" mas kenapa..." tanya Khansa sembari menggoyangkan-goyangkan lengan ammar.


" tidurlah dek"


" iya tapi mas kenapa ".

__ADS_1


" mas malu". Khansa tersenyum kini ia yang berinisiatif memeluk ammar dari belakang. Tubuh ammar yang cukup besar hingga tangan nya saja yang menggantung di atas.


---


Cinta itu memang anugerah, tapi cinta tak selalu menjadi takdir yang harus di miliki. Cinta dalam diam dan mendoakan nya agar bahagia itulah yang terbaik.


Ameer sampai di Amerika di sambut temannya Haris yang kini juga mengenyam pendidikan spesialisnya. Harus sudah satu tahu lebih dulu berada di sana, di saat Ameer di ajaknya untuk mendaftar Ameer enggan belum ingin jauh dari bunda nya. Tapi kini Ameer benar-benar memutus kan pergi ke sini demi spesialis nya.


" apa kabar Ameer." hafid langsung memeluk Ameer karna memang mereka bersahabat juga saat di Indonesia.


" Alhamdulillah baik teman, kamu sendiri "


" seperti yang kamu lihat aku juga baik".


" maaf aku tak sempat menemui orang tuamu jika akan ke sini" ucap ameer.


" tak apa semalam sudah ku hubungi dan aku memang tak ingin di titipi apa-apa . yuk aku sudah sewakan tempat kos untuk mu, kenapa kamu tak ingin bersama ku saja."


" aku ingin tenang di sini"


" Biasalah masalah hati". Ameer terkekeh.


" siapa gerangan wanita yang beruntung kamu cintai "


" sudah lah tak perlu di bahas, sudah ayo". ucap Ameer ingin cepat sampai di tempat kostnya.


" Aku dengar kakakmu ammar sudah menikah." tanya Haris.


" iya Minggu kemarin ".


" senang mendengar nya aku kira kamu akan cepat menyusul "


" belum aku masih ingin fokus ke pendidikan ku,"


" jangan lama-lama umurmu sudah 28 tahun Ameer "

__ADS_1


" masih ada 2 tahun lagi kan untuk ke angka 30". Ameer terkekeh.


" sepulang dari sini aku akan menikah doakan ya"


" wah hebat brother ". Haris tertawa pasalnya Haris juga di jodohkan oleh orang tuanya.


" ini tempat mu ya sudah aku ada urusan maaf hanya mengantar sampai ke pintu ".


" tak apa aku banyak terima kasih padamu ".


" oke tak masalah aku senang bisa membantu mu, jika perlu sesuatu hubungi aku" Ameer mengacungkan jempolnya tanda setuju.


Ameer sampai di sana ia langsung meletakkan barang-barang nya agar tertata rapi, seorang Ameer memang tak suka berantakan. Di ambilnya handphone ia ingin memberikan kabar jika ia telah sampai terutama kepada bundanya.


" assalamu'alaikum nak". Suara bundanya ketika mengangkat video call dari Ameer. Langsung saja azkiya menyerbunya.


" wa'alaikumsalam bunda, Alhamdulillah Ameer sudah sampai".


" syukurlah Alhamdulillah nak, bunda juga senang. kamu banyak istirahat ya di sana makan jangan sampai telat"


" iya bunda pasti." mereka berbincang cukup lama meski baru sebentar rindu itu membuncah karena jarak.


Ameer lalu mandi setelah selesai memberi kabar kepada bundanya perutnya yang sixpack itu juga terasa begitu lapar. Dalam kost ada dapur kecil untuk bisa meletakkan kompor kecil di sana, ia tersenyum ternyata sahabat nya haris sudah mengisi kulkas kecil dengan berbagai cemilan dan yang bisa Ameer masak. Di ambilnya satu telor dan mie instan karena lapar yang mendera Ameer langsung mengeksekusi nya.


" apa ini yang di sebut lari dari kenyataan". Gumam Ameer sendiri.


" tidak-tidak memang ini rencana ku dari awal sebelum aku ingin mengkhitbah Khansa, takdir memang begitu elok ya cinta memang tak harus memiliki cukup mendoakan dia selalu bahagia." Ameer tertawa kecil lalu ia terlelap saking lelahnya.


____


Pembaca terima kasih sudah setia, jika komentar nya selalu banyak aku akan up esok dobel lagi. Karana komentar pembaca bagiku membangun tulisanku.


Penulis amatiran yang betul-betul masih banyak belajar.


Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2