
Seharusnya masih minggu depan keberangkatan ameer ke Amerika, tapi ia lebih memilih berangkat hari ini. Untung saja semalam temannya mendapatkan tiket secara online untuk nya. Ameer tak ingin di rundung dosa secara terus menerus ketika melihat Ammar dan Khansa, terutama Khansa yang kini menyandang status sebagai kakak ipar nya.
Rasa cinta itu hanya berhenti di hati Ameer saja, ingin di ungkapkan tapi belum sampai hingga di patahkan oleh kenyataan hidup. Khansa adalah jodoh Ammar seorang pria yang menjadi saudara kembarnya. Hidup bersama dari kandungan hingga mereka dewasa semua di lakukan bersama-sama tapi kenapa harus wanita yang sama menjadi tujuannya. Ameer sungguh menyesal telah menyimpan cinta untuk Khansa, ia ingat kata-kata kakeknya jika cinta itu anugerah jadi jangan pernah membenci cinta ini hanya ujian hidup saja melatih kesabaran.
Ameer sudah menyusun pakaian nya ke dalam kopernya, keberangkatan pesawat selepas shalat Zuhur. Azkiya yang biasa usil mencari kakaknya, biasanya sih dia lebih dekat dengan Ammar tapi karena yang ada Ameer azkiya masuk ke kamar Ameer tanpa permisi. Azkiya terkejut saja melihat Ameer yang menyiapkan tas ransel nya dengan berbagai alat yang ia masukkan ke dalam nya.
" kamu bikin kakak kaget saja, ketuk pintu kalau masuk dek." ucap Ameer yang masih sibuk membuka tutup tas memastikan sesuatu yang tak boleh tertinggal.
" Pintunya juga tak di kunci sama Kakak, kok sudha lengkap begini memang kakak berangkat kapan." tanya azkiya heran ia lalu duduk di ranjang.
" siang ini dek, teman kakak semalam udah kirim tiket nya jadi kakak mau tak mau harus berangkat". ucap Ameer sembari tersenyum.
" apa kakak ngga capek, beberapa hari dengan rentetan acara keluarga kita." tanya azkiya heran dengan kakak satunya ini.
" ya capek sih tapi gimana lagi tak mungkin kakak batalkan, tiket itu mahal." Ameer terkekeh, padahal tiket itu bisa saja ameer beli lagi dengan uangnya Ameer sendiri.
" aku temannya siapa kak kalau kakak pergi". sayu azkiya.
" ada ayah, bunda, Oma, kak Ammar juga kakak ipar." ucap Ameer.
" Biasanya azkiya sama kak Ammar, sekarang kak Ammar pasti akan fokus sama istrinya. Issh... kalian ini ngga asik". Azkiya cemberut.
" maaf adikku sayang, kakak hanya dua tahun saja nanti di sana."
" tapi libur bisa balikkan ".
" insyaallah doakan kakak punya ongkos." Ameer nyengir, kalau ongkos mah jangan di tanya Ameer punya banyak uang. Selama bekerja ia tabung saja gajinya tak pernah dia pakai Karana hasil saham dari perusahaan kakeknya yang sekarang di kelola Ammar cukup untuk kehidupan sehari-hari.
" jangan dua tahun ngga pulang ya kak kayak bang Toyib." kata azkiya merangkul bahu kakaknya.
" Dua tahun itu ngga lama Lo dek".
" azkiya ngga mau tau kakak harus pulang, tahun depan Dede lulus SMP kak mau SMA". Ucap azkiya senang.
" udah mau jadi gadis remaja kamu yah, oke insyaallah doakan kakak bisa pulang. Belajar yang bener jangan banyak main udah kelas tiga kakak akan pantau kamu terus awas ya kalau main terus".
__ADS_1
" siap kakak azkiya akan jadi wanita soliha."
" aamiin".
__
Rencana Ammar pulang dulu sebelum melihat rumah yang akan Ammar tinggali, sekalian mau ambil mobil Ammar kini ia akan naik taksi bersama Khansa terlebih dahulu.
Khansa mengerjap saling lelahnya mereka bangun setelah mendengar adzan subuh berkumandang. Karena masih ada di hotel Ammar memutuskan shalat di kamar saja bersama Khansa.
Jika saja pasangan lain mungkin kamar ini bisa menjadi saksi penyatuan mereka berdua. Tapi untuk pasangan ini tidak, masih belum terjadi apapun antara keduanya. Sosok Ammar yang masih gengsi untuk memegang Khansa istri nya.
Khansa tersenyum tak di sangka nya kini ia menjadi seorang istri sosok Ammar. Meski kaku begitu tapi membuat khansa tetap senang, cinta Khansa tumbuh perlahan namun pasti.
". Apa tak sebaiknya sekali saja kita menginap di rumah bunda mas, Khansa tak enak jika tiba-tiba harus pindah rumah." ucap Khansa merasa tidak enak dengan bunda.
" Tak apa dek, rumah juga sudah ku beli beberapa bulan yang lalu sayang kalau tak di tempati. ". kata Ammar masih dengan memandang ke depan.
" Besok Khansa sudah mulai kuliah mas".
" tidak mas saja yang antar Khansa" Khansa ingin menumbuhkan kedekatan di antara keduanya.
" tapi mas berangkat nya pagi dek kamu tak mungkin ke kampus pagi bener". ucap Ammar.
Harapan romantis pupus lagi, maunya Ammar yang antar Khansa ke kampus apalagi mereka pengantin baru. Khansa menghela nafas mungkin ia masih terus harus berjuang agar suaminya juga mencintai dirinya. Khansa hanya diam tak mau lagi dia berharap kepada suaminya jika ujung-ujungnya akan kecewa lagi. Dari awal Khansa sudah tau jika itulah konsekuensinya menikah dengan Ammar, jarang romantis dan kaku.
Mobil sampai di pelataran rumah dokter azzam, setelah membayar nya Ammar dan Khansa turun. Mereka lalu mengucap salam dan masuk saja, ada bunda yang masih mengobrol dengan ayah, Oma serta kakek dan neneknya dari desa.
" Loh kok udah pulang nak" tanya bunda yang langsung berdiri menyambut menantu dan anaknya.
" acaranya kan sudah selesai bunda kita pulang". ucap Ammar, Khansa hanya tersenyum saja.
" Ngga papa kamu ambil cuti dulu Ammar, pekerjaan kamu sudah di handel sama om mu Hamdan." ucap bunda.
" Masih banyak proyek yang Ammar harus tangani bunda, lagian Khansa besok juga sudah harus masuk kuliah."
__ADS_1
" iya bunda liburnya masih bulan depan". ucap Khansa.
" Oh ya sudah tidak apa-apa, kalau lelah langsung istirahat saja. Ajak Istri mu ke kamar atas Ammar ". Ammar mengangguk ia lalu pamit sama keluarga nya untuk naik ke atas.
Ammar dan Khansa naik, Khansa mengekori nya di belakang, sampai di atas bertemu dengan Ameer dan azkiya yang baru saja keluar sembari menarik kopernya. Ammar pun berhenti melihat Ameer membawa kopernya.
" kamu mau berangkat sekarang." tanya Ammar langsung, Khansa masih mematung berdiri.
" iya kak semalam sudah dikirimkan tiketnya untuk ku". Ucap Ameer tanpa menoleh ke arah Khansa, karena tekadnya benar-benar ingin melupakan Khansa.
" cepet amat kata bunda masih Minggu depan." ucap Ammar.
" di ajuin kak jadi hari ini." Ameer nyengir.
" jam berapa berangkat aku akan mengantarmu".
" tak usah kak ada ayah nanti yang antar kakak istirahat saja." ucap Ameer tersenyum.
" tak apa aku antar, jam berapa". Ammar tak suka yang namanya penolakan terhadap adik-adiknya.
" sehabis Zuhur, ya udah kak Ameer ke bawah dulu." tak ingin matanya munafik lalu menatap Khansa ia pun langsung pamit. Ammar hanya mengangguk membiarkan adiknya terus berjalan. azkiya sudah turun lebih dulu membawa ransel kakaknya yang tak begitu berat.
" masuk". Khansa menelusuri kamar Ammar si pria dingin suaminya. Tak sesuai pemikiran Khansa ternyata kamarnya tertata sangat rapi, ada foto keluarga nya tertempel di dinding dan foto Ammar saat menjadi peraih nilai terbaik di kampusnya.
" Mas hebat ya..." kata khansa terus memandangi foto itu.
" bukan mas yang hebat tapi doa bunda yang kuat". ucap Ammar.
" tetap saja mas hebat, peraih nilai terbaik loh".
" hmmm... Aku mau tidur dulu nanti siang mau antar Ameer. ". Ammar langsung saja terlelap tanpa peduli dengan Khansa yang kini ada di kamarnya juga.
" ya Allah di tinggal tidur". gumam Khansa menghembus nafas kasarnya.
Ammar terkadang memang menyebalkan, manisnya sedikit. Sikap dingin garang sudah melekat dalam dirinya.
__ADS_1
_