
Suasana pagi yang cukup cerah, matahari sudah mulai tampak sinar nya. Azkiya kini telah lulus dan ia mau keluarga nya ikut menghadiri acara perpisahan. Azkiya tak hanya mengajak kedua orang tuanya tapi semua kakaknya dan Oma ia ajak. itulah kebahagiaan azkiya bisa di sayangi oleh orang-orang terdekatnya.
" Mba make up nya jangan terlalu tebal ya nanti kakak ku marah." ucap azkiya memperingati perias yang ia sewa ia ingin tampil sempurna hari ini.
" oke pakai bibir mau warna apa".
" yang seperti warna kulit saja yang penting tidak norak masih terlihat alami ya mba." Ameer akan marah jika azkiya norak dalam berdandan, Ameer ingin adeknya kalem apa adanya tanpa polesan make up.
Hampir satu jam lamanya demi mengharapkan yang senatural mungkin akhirnya perias selesai sesuai dengan yang azkiya mau. Bunda ayah dan Ameer pun sudah bersiap untuk datang ke acara azkiya tak lupa di sana ibu hamil dan ammar juga sedang bersiap-siap.
Azkiya hampir setiap hari merengek kepada anggota keluarganya agar semuanya menghadiri acara nya hari ini. Perias itu lekas pulang sebelum Ameer keluar dari kamarnya. Jika tidak bisa-bisa azkiya menangis guling-guling karena di marah.
Ayah dan bunda sudah menunggu di bawah untuk sarapan terlebih dahulu agar tak pingsan nantinya. Ameer lalu turun di barengi azkiya yang keluar dari kamarnya. Ameer menatap adiknya lekat-lekat seperti ada yang berubah dari wajah azkiya terlihat lebih dewasa.
" kamu dandan dek." tanya Ameer yang prosesif kalau soal azkiya.
" cuma pakai bedak kak, nanti azkiya pucat lagi kalau tak pakai bedak kan malu. Foto azkiya jadi jelek , jarang kan kak azkiya dandan gini." berharap Ameer tidak akan memarahinya.
" okelah cukup ke acara ini ya kakak ngga mau di hari biasa kamu seperti ini tak baik macam anak sekolah kayak kamu". Kata Ameer yang memang tak suka dengan wanita yang menor.
" iya kak, ini kan karena azkiya ada acara saja."
Lalu keduanya turun ke meja makan untuk sarapan bersama.
" masyaallah anak ayah sudah gadis ya Bun". Puji azzam di hadapan semuanya, azkiya hanya senyum-senyum.
" udah lima belas tahun juga yah, kita yang semakin tua." kata Aisha sembari mengambilkan sedikit nasi untuk azzam.
" masih bau kencur itu". Kata Ameer ia sengaja karena azkiya jika di puji akan ngaca terus.
" isshh.. Kakak nih sirik." ucap azkiya.
__ADS_1
Ammar dan Khansa berangkat sendiri dari rumah barra, meski dengan perut besar nya Khansa tetap mau ikut demi azkiya karena momen seperti ini tak akan pernah terulang lagi.
Mobil Azzam sampai di sekolah dimana azkiya belajar, Ameer sebagai supirnya. Di ikuti mobil Ammar di belakangnya, kini mereka sampai di sekolah bisa berbarengan.
Ammar memegang Khansa saat perlahan akan turun dari mobil perutnya kini benar-benar sudah besar tinggal menghitung hari pagi dan sore. Ammar yakin membawa Khansa karena ada dua dokter yang mendampingi nya ayahnya sendiri dan Ameer jadi ia tak begitu khawatir.
" assalamu'alaikum ayah bunda." sapa Khansa. Deg... Ameer memegang dadanya saat jantungnya kembali berdetak kencang.
" wa'alaikumsalam sayang." bunda langsung mencium pipi Khansa tak lupa usapan lembut pada perutnya.
" coba dek kamu sudah keluar pasti akan liat aunty pakai kebaya cantik ini." kata azkiya sembari mengusap perut Khansa. Semuanya terkekeh, ameer hanya berdiri di belakang ayah dan bundanya ia juga belum menyapa Khansa.
Kemudian semuanya masuk di sana, juga sudah penuh dengan para wali murid ada yang datang hanya ayahnya saja, ibunya saja pun ada juga yang bawa semua keluarga. Acara mulai berlangsung sesekali ammar mengusap perut khansa takut jika istri nya merasa pegal dan menenangkan bayi dalam kandungan nya.
Nama azkiya di panggil sebagai murid dengan nilai terbaik, kejutan untuk keluarga nya. Ameer langsung mengusap kepala azkiya ia bangga pada adiknya.
" tak sia-sia punya adek bawel". ucap ameer.
" isshhh... Kakak rusak nih, jangan lihat bawelnya kak. lihat aku dapet nilai terbaik kan anaknya siapa dulu ayah." kata azkiya yang lain terkekeh lalu azkiya naik ke atas panggung.
" ternyata azkiya itu pintar ya mas." ucap Khansa yang tatapan nya masih ke depan.
" ya itulah cuma bawel" kata ammar terkekeh.
" tapi dia bisa membuktikan Lo dapet nilai terbaik ". Ammar mengangguk membenarkan.
" sayang aku ke toilet sebentar ya." ucap ammar, Khansa pun mengangguk memberi izin. Tinggallah di meja itu hanya Ameer dan Khansa, Ameer fokus menatap ke depan ia tak ingin pikirannya buyar karena di meja itu hanya Khansa dan ameer.
" kak Ameer gimana kuliah nya kak". Tanya Khansa memecah suasana yang tadi hening.
" Alhamdulillah baik." ucap Ameer lalu melemparkan senyum tapi tetap tak ingin menatap Khansa.
__ADS_1
" masih lama lulusnya." tanya Khansa lagi, bagi Khansa meski adik ipar Ameer adalah dosennya dulu.
" insyaallah tahun depan selesai". kata Ameer lagi menjawab sesuai pertanyaan dan ngga bertele-tele atau Ameer balik bertanya.
Azkiya ayah dan bunda turun setelah mendapatkan penghargaan dari gurunya, azkiya senangnya ia turun dengan senyum-senyum kepada kakaknya.
" ternyata bawelnya membawa berkah ya". Ucap ameer meledek azkiya.
" jangan lihat bawelnya dong kak aku ini tetap pandai sama dengan kalian." ucap azkiya terkekeh.
" sekarang kakak baru percaya kamu memang adek kakak paling pintar." azkiya tertawa ia sangat bahagia keluarga nay semua kumpul.
Di sesi terakhir adalah foto bersama keluarga, azkiya ada di tengah-tengah ammar dan Ameer dengan pose azkiya di angkat oleh keduanya. Beberapa kali foto terbidik dengan gaya berbeda-beda, azkiya bahagia sekali momen ini sangat di inginkan nya.
Setelah selesai mereka keluar dari sekolah menuju parkiran mobil yang sedikit jauh dari sana, apalagi mobil ammar yang dekat sekali dengan jalan karena sudah penuh. Ritme berjalannya semua mengikuti Khansa yang berjalan perlahan tak bisa ia cepat-cepat dengan perutnya yang besar.
" mas mau pergi kamu nanti bersama mereka ya sayang".
" iya mas, ." ucap Khansa tanpa menanyakan mau pergi ke mana yang Khansa tau suaminya memang begitu. Meskipun ia mengutamakan Khansa tapi pekerjaan tak pernah juga ia tinggalkan.
" astaghfirullah di mana orang tuanya itu.". Ucap ammar melihat anak kecil yang sedang ingin menyebrang.
" ya Allah ada mobil dari sana". ucap Ammar lalu melepaskan pegangan tangannya dari Khansa. Ammar berlari ingin menolong anak laki-laki berumur sekitar lima tahun yang berlari akan menyeberang.
" mas ammar." teriak Khansa yang di tinggal pergi. Semua menoleh Ameer dan azzam melihat ammar yang berlari ke jalan besar.
Brakkk...
Suara benturan tubuh ammar terdengar cukup keras, anak berumur lima tahun tadi terselamatkan oleh ammar karena di tarik keluar dari jalan namun ammar lebih dulu tercium oleh bodi mobil ia terpental di depannya ada mobil ammar kembali tertabrak mobil yang berlawanan arah tubuhnya langsung terbanting ke aspal.
" mas ammar". Teriak Khansa dengan mata kepalanya sendiri ia melihat suaminya yang tertabrak oleh mobil, Khansa langsung lemas langsung di pegang oleh Aisha dan azkiya.
__ADS_1
Azzam dan Ameer pun langsung berlari ke jalanan menyusul tubuh ammar yang tergeletak di jalan. Suasana riuh mobil yang menabraknya berhenti mendadak, semua melihat ke arah korban kecelakaan tersebut. tubuh ammar sudah berlumuran darah dengan posisi tengkurap, mobil tersebut cukup keras menabrak tubuh ammar.
__