Cinta Untuk Khansa

Cinta Untuk Khansa
Part 29. seperti keromantisan Rasulullah


__ADS_3

" Sah..."


Hamdan sebagai saksi dan ustadz Zaki.


" Alhamdulillah ". ucap beberapa orang ketika kata sah sudah di lantunkan menggetarkan Arsy nya Allah kini dua insan sudah disatukan dalam satu ikatan pernikahan yang sakral.


Tes tes


Air mata Ameer lolos begitu saja ketika mendengar kata sah dari semua orang dadanya begitu terasa sesak sangat. ia ingin berdiri meninggalkan tempat itu tapi tak bisa karena ia duduk tepat di belakang Ammar. Di usapnya air matanya sendiri dengan menggunakan tangan, mungkin orang yang melihatnya karena haru kakanya yang telah menikah.


Penghulu mengucapkan doa untuk pengantin, Ammar tertunduk lesu karena kini ia sudah mengucapkan ijab kabul untuk Khansa. Azzam menepuk bahu Ammar agar sadar jika kini banyak pasang mata yang melihatnya. Ammar lalu menegakkan tubuhnya mengangkat tangan untuk mengaminkan doa sang penghulu.


Tiba saatnya Khansa untuk keluar di pertemukan oleh Ammar yang kini sah menjadi suaminya. Khansa di antar oleh Mahya dan Hafsah untuk turun ke bawah lalu di sambut oleh tangan Barra dan alira. Di dekatkan nya Khansa di samping Ammar guna melengkapi surat menyurat pernikahan mereka.


" Salim dan cium tangan suami kamu nak." ucap Alira kepada Khansa.


Dengan tangan gemetar Khansa mengajukan tangannya dan tak lain Ammar tangannya pun dingin seperti es. Ammar mengucapkan doa dengan meletakkan satu tangan nya di atas kepala Khansa. Khansa memejamkan mata dengan mengucapkan amiin kini suami adalah prioritas utama baginya.


" Cium dahi istrimu nak." ucap Aisha, Ammar pun ragu ia kembali gemetar ini untuk pertama kalinya ia memegang wanita selain bundanya azkiya dan Oma nya.


Ameer berpaling ia bilang kepada azkiya jika ingin ke toilet, Ameer tak sanggup melihat Khansa di sentuh oleh kakaknya Ammar. ternyata hatinya belum sepenuhnya ikhlas karena rasa sakit dalam hatinya masih ada. Di balik toilet Ameer tersedu ia menangis melepaskan sesak dalam dadanya, ia kira sanggup melihat semuanya ternyata tidak jantungnya terasa di tusuk jika boleh meminta Ameer ingin di ambil nyawanya saat itu juga.


Di cucinya muka Ameer setelah rasa sesak itu sedikit hilang. Ameer berkaca memastikan jika keadaannya baik-baik saja tidak terlihat benar-benar hancur. Lalu Ameer bergegas keluar kembali ke acara pernikahan kakaknya Ammar.


" Begitulah dunia nak, tak semua yang kita inginkan sesuai dengan harapan kita". suara itu muncul ketika Ammar keluar dari toilet.


" Kakek". ucap Ameer ia tak sanggup lagi lalu memeluk kakeknya tersedu. meski Ameer tak mengatakan kepada siapapun kakeknya pasti tau apa yang Ameer derita.


" Ikhlaskan itu sudah menjadi garis takdirmu dan Ammar yang mencintai wanita yang sama ". ucap sang kakek.


" Berat kek Ameer kenapa seperti tak sanggup dengan semua kenyataan ini kek".


" Ini ujian hidupmu nak, belajar lah untuk ikhlas hanya itu yang bisa kamu perbuat. doakan kakakmu Ammar bahagia sampai kamu bisa melepas Khansa untuk Ammar". ucap kakek.


" maafkan ameer kek, maaf Ameer terlalu lancang mencintai seseorang yang bukan halal untuk Ameer". ucap ameer masih tersedu.


" Kamu tidak salah rasa cinta itu anugerah hadir untuk mu nak, tapi kini kamu harus membuang rasa cinta dalam hatimu menjadi cinta sebagai seorang kakak. sekarang dia kakak ipar mu yang harus kamu hormati nak". ucap kakek, ayah dari Aisha.


" insyaallah kakek Ameer akan berusaha, besok Ameer akan langsung cari tiket untuk keberangkatan ameer ". ucap Ameer sudah mulai tenang. Kakek mengusap bahunya agar lebih tenang lagi.


" kakek percaya padamu nak, raih apa yang sudah menjadi kewajiban mu menjadi seorang pelajar nak. Kamu harus menjadi dokter spesialis hebat seperti ayahmu".

__ADS_1


" iya kek". Ameer mengangguk.


" sudah jangan cengeng hapus air mata mu cuci muka lagi, kita ke depan makan."


Proses sudah terlewati bahkan sungkem kepada kedua orang tua pun sudah di lakukan. Ammar celingukan mencari keberadaan saudara kembar nya yang tidak ada di sana. Ameer pun muncul bersama sang kakek, Ameer tak mau menatap Khansa ia langsung saja memeluk Ammar sang kakak.


" Selamat ya kak." Ameer menepuk punggung Ammar.


" terima kasih dek." ucap Ammar terharu.


Acara ijab kabul selesai siang ini akan langsung pada acara resepsi di kediaman Barra hingga sore. Kerabat saudara ustadz Barra dan alira datang ikut merasakan kebahagiaan keluarga Barra.


Hingga acara itu selesai.


" Bunda pulang ya nak". ucap Aisha menahan tangis. Ammar hanya bisa mengangguk ia tak bisa mengucapkan apapun.


" iya bunda ". ucap Khansa memeluk Aisha.


" ayah pulang dulu nak." ucap azzam, Kembali Ammar mengangguk sebenarnya ia menahan tangis tapi malu sama orang yang ada di sana.


Semua saling peluk meninggalkan Ammar di sana di rumah keluarga Barra. Berat hati Ammar di tinggal sendirian di rumah mertuanya.


" iya Abi". ucap Ammar lalu ia mengikuti Khansa untuk ke kamar nya.


Ceklek


Suara pintu terbuka Khansa masuk lebih dulu.


" masuk mas." ucap Khansa kini panggilan Khansa terhadap Ammar berubah.


" i,,, iya dek". ucap Ammar gugup.


" mas mau mandi pakai air hangat atau dingin." tanya Khansa yang mulai melepas kaos kakinya.


" air dingin saja dek lebih segar ".


" tunggu ya akan Khansa siapakan." ucap Khansa mencoba tidak canggung. Ammar mengangguk ia duduk di tepi ranjang melepas jasnya yang ia pakai seharian ini.


" mandilah dulu mas sudah Khansa siapkan." ucap Khansa memecah suasana. Ammar hanya bisa mengangguk kembali.


Ammar mengguyur tubuhnya yang sudah cukup lengket. seharian ini dia harus menyambut tamu dari keluarga mertuanya. Cukup lama Ammar mandi karena memang itu kebiasaan nya. sedangkan Khansa sedang menyiapkan baju untuk Ammar perlahan Khansa membuka koper yang Ammar bawa tadi. Baju Koko sarung celana pendek sudah lengkap Khansa siapkan.

__ADS_1


Pintu kamar mandi terbuka, Ammar memakai baju mandi milik Khansa karena ia masih malu untuk memperlihatkan perut seksinya di depan Khansa.


" Lo mas apa tak ada handuk kenapa pakai baju Khansa" ucap Khansa terkejut.


" tak apa pinjam sebentar". Ammar lalu mengambil pakaian nya ia kembali lagi ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Khansa tertawa kecil suaminya yang dingin itu ternyata pemalu juga.


Kemudian Khansa turun ke bawah untuk membuat minuman hangat agar tubuh suaminya merasa lebih enak. Masih ada beberapa saudara di bawah juga beberapa jasa katering yang sedang merapikan tempat yang di pakai siang ini.


" cari apa Khansa ." tanya Nini kebetulan baru ambil air minum.


" Wedang jahe di mana ya ni, mau buatkan mas Ammar". ucap Khansa.


" ada di bawah tadi Nini letakkan situ." Khansa mencari nya lalu di buatkan nya wedang jahe hangat untuk sang suami.


Ammar sudah keluar dari kamar mandi dengan baju kokonya juga sarung, ia masih belum nyaman jika pakai celana pendek saja. Ammar ini sikapnya dingin juga begitu pemalu terhadap orang asing. Khansa masuk, Ammar kikuk ia bingung apa yang harus ia lakukan kini berdua bersama istrinya.


" sudah ku siapkan airnya mandilah." ucap Ammar dengan nada dingin dan kaku, Khansa menyadari hal itu dari awal jika suaminya ini sedikit kaku dingin dan banyak yang bilang menyebalkan karena tak pernah merespon para wanita.


" terima kasih". ucap Khansa ia membawa pakaian gantinya masuk ke dalam kamar mandi.


Ammar terbaring di ranjang milik Khansa yang sudah di hias sedemikian rupa oleh WO. Di tatapnya sekeliling kamar milik istrinya itu, Ammar tersenyum ketika melihat foto cantik Khansa di dinding saat ia lulus madrasah.


Ceklek


pintu kamar mandi terbuka Ammar pura-pura memainkan handphone nya, memang banyak sekali ucapan selamat dari para teman-teman nya saat kuliah dulu. Berita itu langsung menyebar karena sebagian saudara ada yang memposting foto pernikahan Ammar dan Khansa.


" mas tadi Khansa buatkan air jahe, mungkin sudah hangat tak panas lagi. minumlah..." ucap Khansa sembari menyodorkan satu gelas minuman jahenya.


" terima kasih". Ammar meraih gelas nya di minumnya pelan hingga hampir habis.


" mas jangan di habiskan". kata Khansa membuat Ammar berhenti menegak minumnya.


" kenapa, aku haus ". kata Ammar.


" sisakan sedikit untuk ku mas tak ada susu air jahe pun jadi" ucap Khansa. Khansa tersenyum malu, Ammar menyisakan nya untuk Khansa sedikit.


" Seperti keromantisan Rasulullah terhadap istri nya." tanya Ammar, Khansa pun mengangguk lalu Ammar berbaring membelakangi Khansa yang sedang minum. Ammar tersenyum malu ia tak ingin terlihat oleh Khansa.


___


bersambung

__ADS_1


__ADS_2