Cinta Untuk Khansa

Cinta Untuk Khansa
Part 15. rasa terpendam Ameer


__ADS_3

Dua tahun berlalu Khansa sudah masuk pada semester empat dan Khalid naik ke kelas tiga madrasah. Khalid sudah mulai melobi arah dirinya untuk ke perguruan tinggi. Menjalani sebagai mahasiswi memang menjadi hal baru untuk Khansa kini dia mulai nyaman.


Ameer berjalan masuk ke dalam kampus setelah memarkirkan mobilnya. dosen satu ini berkeinginan untuk melanjutkan sekolah nya ke spesialis namun ia undur lagi. entah apa yang membuat Ameer jadi mundur padahal ia sudah mendaftar beberapa kali ke kampus yang ada di sini saja.


Ada rasa dalam hati yang tak bisa ia bendung namun bagaimana status nya wanita itu adalah mahasiswi nya. meski banyak sekali yang tergila-gila padanya namun Ameer hanya tertuju pada satu wanita itu. iya Khansa wanita yang tampak sederhana meskipun dia mampu menggunakan fasilitas lebih dari yang ia gunakan. hanya dengan motor maticnya pakaian yang sederhana lebih lagi suka yang polos tak banyak dengan macam bunga ataupun renda dengan jilbab yang menjulang menutupi dada


" Khansa bagaimana tugasmu sudah selesai." tanya Mahya sebagai sahabatnya kini.


" Alhamdulillah sudah semalam aku lembur kerjakan, kamu sudah." tanya balik Khansa.


" sudah tapi kenapa sih pak Ameer kasih tugas lagi ke kita." gerutu Mahya, dosen yang paling sering memberi tugas memang Ameer.


" ya supaya mahasiswa nya pintarlah Mahya nanti kamu keenakan tak dapat tugas." mereka duduk di tempat biasa.


" yah tapi kan pak Ameer sering banget kasih tugas, mana kadang aku belum mengerti hal yang ini nomor tiga."


" sama sih kalau yang itu aku coba saja selesaikan tak tau ini benar apa salah yang penting aku kerjakan, di rumah ngga ada yang bisa mengajari ku kamu tau kan. Abi ustadz, umi desainer."


" lagian kamu kenapa ngga sekolah kayak umi mu saja menjadi desainer tinggal lanjutin tuh usahanya ".


" aku ngga suka Mahya mendesain, aku lebih suka di bidang kesehatan ini".


" terserah lah aku pun sama sih suka dengan meracik obat. tapi makin ke sini kenapa semakin sulit pelajaran nya ya".


" apanya yang sulit ". terdengar suara Ameer ternyata sejak tadi duduk di belakang mereka mendengarkan obrolan dua gadis itu.


" pak Ameer". teriak keduanya.


"mana yang tak bisa di kerjakan". ucap Ameer ia berbalik badan dan duduk di depan keduanya.


" ini pak yang nomor tiga kami kesulitan soal ini." ucap Mahya dengan entengnya.


" Mahya ." suara lirih Khansa memanggil ia merasa tak enak dengan Ameer dosen nya.


" apa sih Khansa, kebetulan ada pak Ameer sekalian kita minta di jelaskan".


" tak apa dengarkan baik-baik ya saya jelaskan". ucap Ameer lalu dengan detail Ameer menjelaskan nya, sedikit melirik Khansa.


" makasih ya pak kami sudah mengerti, Alhamdulillah". Khansa hanya mengangguk saja mengerti.


" Khansa mengerti juga." tanya Ameer ia ingin tau suara Khansa lagi.

__ADS_1


" iya insyaallah mengerti". kini suara Khansa terdengar.


" saya kasih tugas kalian supaya kalian bisa lebih banyak belajar lagi. ini masih semester empat jika nanti sudah mulai akhir semester kamupun akan lebih sulit lagi ".


" kalian ini saudara atau hanya teman saja, saya liat sering bersama ". tanya Ameer penasaran.


" kami teman, orang tua kami berteman jadi kami juga mengenal lebih akrab".


" oh gimana kabar ustadz Barra Khansa, ." tanya Ameer memecah suasana karena Khansa hanya diam saja dan menunduk.


" Alhamdulillah baik pak, ".


" salam dari ku ya, anaknya dokter azzam ".


" insyaallah akan saya sampaikan ".


" baiklah kalau begitu saya permisi, saya mau masuk kelas sebentar lagi ". Ameer lalu meninggalkan mereka.


" Khansa ganteng banget kalau lebih dekat aroma maskulin nya menggoda." ucap Mahya sembari menghirup udara, bau parfum Ameer serasa masih tertinggal.


" astaghfirullah hal adzim Mahya, " Khansa geleng-geleng kepala sembari terkekeh.


" buat penyemangat ke kampus Khansa." Khansa tak mendengar kan Mahya lagi ditinggal kan nya untuk masuk ke kelas.


__


" Ammar itu sudah dewasa sayang, jangan terlalu kamu perlakukan dia seperti bayi ". ucap Azzam, Aisyah memang sangat khawatir dengan anak-anaknya.


" Bukan gitu mas, mas lihat kan jika dia terlalu fokus bekerja. hingga lupa makan mas, Ammar punya riwayat sakit asam lambung mas jika dia sudah serius melakukan sesuatu pasti dia lupa akan perutnya "


" iya sayang mas mengerti cukup ingatkan saja, dia anak yang penurut ".


" umur Ammar juga semakin dewasa mas, apa tak sebaiknya kita Carikan istri untuk nya setelah itu baru Ameer ".


" itu sempat ada di pikiran ku juga sayang, tapi apa mau anak sekarang di jodohkan ". ucap azzam khawatir ia tak ingin memaksakan kehendak kepada anaknya.


" Ammar jika tidak kita yang berusaha untuk menjodohkan mana mungkin dia ingat untuk cari istri ".


" lalu gimana apa kamu punya calon."


" belum sih tapi Aisyah lihat kemarin anaknya ustadz Barra cantik mas juga saliha Aisyah mau punya menantu seperti itu".

__ADS_1


" sepertinya anaknya ustadz Barra masih sekolah ". ucap azzam karena dia tau jika Khansa kuliah di mana Ameer mengajar.


" iya sih tapi apa salahnya, menikah bisa juga masih sembari kuliah." kata Aisyah ngotot.


" jadi kamu akan menjodohkan azzam dengan anaknya ustadz bara." selidik Azzam melihat gelagat istrinya.


" iya mas, Aisyah yakin sebelum ada yang mengkhitbah nya lebih dulu mas."


" kamu berani amat mengkhitbah anak seorang ustad"


" harus mas, kita ambil mutiara itu sebelum ada yang mengambilnya ". Azzam tersenyum melihat Aisyah yang sangat bersemangat.


" ya semoga saja ustadz Barra menerima khitbah kita, tapi bagaimana dengan Ammar apa dia mau."


" dia itu anakku mas, pasti dia mau apa yang ibunya katakan".


mobil sampai di kantor Ammar, Aisyah membawa rantang berisi masakan yang ia masaknya sendiri.


" mana Ammar". tanya Aisyah kepada sekretaris nya jingga.


" ada Bu di dalam, apa dia sudah keluar untuk makan atau membeli makanan".


" belum bu pak Ammar juga tak berpesan kepada saya untuk membelikan makanan". ucap jingga yang sudah mengenal keluarga Ammar.


seperti yang Aisyah duga anaknya masih sibuk dengan laptopnya. Ia mengetuk pintu Ammar tak tau jika itu ibunya, dia kira jingga langsung saja Ammar persilahkan masuk.


tok..tok .tok..


" masuk ". ucap Ammar tapi tak menatap ke arah pintu.


" ada apa jingga apa ada jadwal saya setelah ini".


" iya ada jadwal makan siang". Ammar mendongak karena mengenal suara itu


" bunda..." Ammar garuk-garuk kepala ia langsung mencium tangan ayah dan bundanya.


" kan apa bunda bilang ayah, Ammar lupa makan."


" iya sebentar lagi Ammar akan makan bunda".


" tutup laptop nya makan dulu " Ammar menurut saja lalu menutup mulutnya mengikuti sang bunda.

__ADS_1


___


bersambung


__ADS_2