
Azzam dan Ameer menghampiri tubuh ammar yang berlumuran darah, Ameer langsung mengangkat tubuh ammar agar cepat bisa terselamatkan. Air mata itu jatuh dengan sendirinya, mungkin di saat keadaan yang tidak begini Ameer tak akan kuat mengangkat tubuh kakaknya karena memang tubuh ammar lebih besar dari tubuh Ameer. namun dengan tekad ingin ammar terselamatkan entah kekuatan dari mana sehingga Ameer bisa mengangkat tubuh kakaknya.
Darah itu mengalir dari kepala ammar bagian depan, dahinya saat itu yang terbentur oleh aspal jalanan. Mobil yang menabraknya membawa ammar hingga ke rumah sakit di mana biasa azzam praktek. Di perjalanan sesekali Ameer mengusap darah kakaknya yang ada di dahi dan entah seberapa banyak tetesan air matanya mengalir tanpa permisi.
Langit yang tadinya cerah mendadak mendung seakan mengikuti suasana yang ada di muka bumi. Awan seakan menyelimuti hati yang sedang kacau.
" kak bangun kak ." ucap ameer gemetar.
" kak ayo bangun kak kasihan Khansa." kata Ameer lagi. Azzam yang ada di sampingnya hanya terdiam seakan seperti tidak percaya pasien yang ia bawa adalah ammar darah dagingnya sendiri.
Azzam dan ammar berlari mengikuti arah suster membawa tubuh ammar ke ruang UGD.
" cepat ambilkan snelinya." ucap Azzam kepada suster yang berjaga.
" baik dok." gugup itulah yang di rasakan azzam dan Ameer.
" bertahanlah nak kamu akan menjadi seorang ayah." ucap azzam optimis jika ammar akan sembuh.
" hiks ayah..." ucap ameer ia tak kuat menangani ammar, melihat darah yang terus mengalir saja membuat Ameer tak kuasa melihatnya.
" menyingkirlah jika kamu tak kuat nak." ucap ayah terhadap Ameer, azzam masih terus memeriksa ammar dan dokter lain memasang alat-alat untuk membantu Ammar, infus, oksigen dan yang lainnya.
" maaf dok pasien..." ucap dokter Raka.
" Kak bangun kak bangun, jangan tinggalkan kami kak. lihatlah Khansa kak sebentar lagi ia akan melahirkan anakmu, kak ammar bangun." Ameer yang sadar dengan yang akan dokter Raka katakan berteriak tak sadarkan diri. Azzam akhirnya mundur ia lemas duduk di samping ranjang pasien.
" Ammar bangun nak..." ucapan azzam terdengar pilu.
" hiks...hiks..." tangis Ameer membuat semua dokter yang ada di sana merasakan kesedihan keluarga ammar. Ammar mengembuskan nafas terakhirnya saat sampai di rumah sakit. Tak sempat di berikan penanganan tapi Allah sudah menjemputnya lebih dulu.
" dokter apa aku ini. sedangkan kakak ku saja tak bisa ku selamat kan, kalian semua tolong selamatkan kakak ku." ucap Ameer memohon dengan menelangkupkan tangan nya di dada, tiga dokter yang ada di sana ikut menitikkan air mata. Kemudian dokter Raka memeluk Ameer menenangkan nya.
__ADS_1
" Nak kamu dokter hebat, ini semua kuasa Allah bukan kita. semaksimal apapun usaha kita jika Allah ingin menjemput nya kita tak bisa menolak. Ingat Ameer kita ini milik Allah dan akan kembali kepada Nya juga. Kita yang masih hidup hanya tinggal menunggu waktunya." ucap dokter Raka agar Ameer tenang.
" ya Allah kak apa yang akan aku katakan kepada Khansa." ucap Ameer tersadar.
Dokter menutup tubuh ammar hingga menutupi kepalanya, Ameer yang melihatnya baru percaya jika kakaknya ammar benar-benar telah tiada kembali ia terisak tubuhnya pun bergetar seakan tak mampu untuk melangkah.
Dengan masih berderai air mata Azzam memegang kepalanya ia juga bingung bagaimana menyampaikan kabar yang sangat menyakitkan ini. Sedangkan keluarga nya semua sedang menunggu panik, kini Khansa sudah di dampingi oleh Barra dan alira yang langsung di beri kabar oleh azkiya.
Jika itu orang lain Azzam bisa dengan mudah menyampaikan kenyataan yang ada tapi ini anaknya sendiri darah dagingnya ia tak bisa menyelamatkan dengan tangannya sendiri.
Azzam keluar di lihatnya semua keluarga yang ada terutama Khansa dan perutnya yang sudah membesar. Matanya lalu menyisir Aisha istrinya yang mempunyai kekhawatiran yang sama. Azzam berjalan menemui mereka mulutnya bahkan seperti terkunci tak bisa mengatakan apapun. Di temui nya Aisha dan dipeluk sembari terisak, Aisha hanya menerima pelukan sang suami ikut menitikkan air mata.
" Bagaimana ammar mas." tanya Aisha. Azzam tetap tak bisa membuka mulutnya masih terisak.
Dokter Raka keluar ia tau jika dokter Azzam dan Ameer tak akan sanggup menyampaikan kabar duka ini. Di temui nya keluarga nya yaitu ustadz Barra karena memang dokter Raka mengenal ustadz Barra.
" Bagaimana menantu saya dokter."
" Kami sudah mengupayakan dengan maksimal ustadz, maaf kami tak bisa menyelamatkan pasien".
" mas ammar..." teriak Khansa, Ameer yang baru keluar dari ruangan pun merasa perih hatinya mendengar teriakkan Khansa.
Tiba-tiba Khansa langsung saja limbung ia pingsan, alira dan Barra menahannya. Kemudian suster langsung membawakan ranjang beroda untuk membawa Khansa ke ruang UGD. Khansa tak sadarkan diri di ikuti Aisha yang masih ada di pelukan Azzam.
" Bunda ." ucap Ameer langsung menangkap bundanya lalu membawanya bersanding dengan Khansa di dalam.
__
Langit yang cerah tiba-tiba mendung awan pun menjadi gelap, orang-orang memakai pakaian serba hitam melayat ke rumah azzam. Khansa duduk di samping alira dan Nini menghadap sosok ammar yang sudah terbujur kaku. Bagi Khansa seakan ini hanyalah mimpi, pagi tadi mereka masih bersama bahkan ammar memakaikan istrinya kaos kaki dan membantu khansa berpakaian.
Flashback on
__ADS_1
Demi menghadiri acara azkiya, ammar dan Khansa akan berangkat meski perut nya yang sudah begitu besar. Ammar sengaja tidak masuk kerja hari itu karena azkiya adiknya.
" minum susunya dulu sayang". Ucap ammar membawakan satu gelas susu khusus untuk ibu hamil.
" makasih mas " Khansa masih memegang kaos kaki yang akan di pakai nya, ammar memandangi istrinya sembari tersenyum lalu mengusap perutnya.
Setelah satu gelas ia habiskan Khansa lalu memakai satu kaos kakinya sebelah kanan terlebih dahulu. Jelas Khansa kesulitan karena perutnya yang begitu besar.
" sini mas pakaian". Ammar berjongkok di depan Khansa memakaikan kaos kaki nya.
" saat mas nanti ngga ada pakainya pelan-pelan saja kasihan baby nya tertekan." ucap ammar.
" iya mas nanti Khansa minta umi untuk pakaikan".
" tak sopan itu namanya sayang, kamu harus berusaha sendiri ". ucap ammar.
" iya mas ". Khansa nyengir tangannya melingkar di leher sang suami.
" Baik-baik kamu dan baby harus kuat sayang". ucap ammar. Khansa mengangguk ammar lalu mengecup kening nya cukup lama.
Flashback off
Tes
Bulir air mata itu jatuh kembali menetesi hijab nya yang panjang menjulur hingga ke bawah. Kegiatan pagi tadi bersama suaminya teringat kembali, sedangkan Aisha juga duduk didampingi oleh azkiya juga umi nya.
Suasana ramai hilir mudik tetangga kerabat berdatangan melayat ammar hingga mayat itu pun di solatkan yang di pimpin oleh ustadz Ilyas kakek Khansa. Ammar di kebumikan pukul empat sore, dengan langkah terseok-seok Khansa pun ikut mengantar suaminya untuk terakhir kalinya.
___
Dear pembaca bantu novel ini bisa di nikmati banyak pembaca ya.
__ADS_1
Beri hadiah yang banyak sertakan komentar mu untuk membangun penulis supaya lebih giat lagi.
Terima kasih sudah setia mengikuti novel Cinta Untuk Khansa.