
Seharusnya jadwal operasi Ameer hari ini hanya dia pasien saja namun ia harus menambah karena Athar tidak bisa datang. Jadi Athar meminta Ameer untuk menggantikan nya, karena mereka memang cukup dekat mau tak mau Ameer bersedia.
Ameer mengirim pesan kepada Khansa jika ia akan melakukan operasi lagi, jika Khansa sudah selesai bekerja ia meminta agar segera pulang naik taksi saja ia benar-benar tak bisa mengantarkan.
" Mau langsung pulang Khansa". Tanya mba meta yang kerjanya sama berada dalam ruangan nya
" iya mbak". ucap Khansa memasukkan segala keperluan ke dalam tasnya.
" mau bareng sama aku, kebetulan aku sendiri".
" ngga usah mbak aku naik taksi saja ".
" oh ya sudah kalau begitu aku duluan ya". Khansa mengangguk.
Setelah semua sudah siap ia lalu pergi dari rumah sakit menunggu di depan. Taksi yang ia pesan belum datang.
" Dokter tumben tak bawa mobil " tanya Nilam yang jga akan pulang.
" mobilku di bengkel Nilam minta di manja." Salsabila terkekeh.
" Ngga bareng sama kak Ameer aja." Nilam terkekeh ia memang senang menggoda Salsabila.
" Kak Ameer sepertinya ada operasi, dokter Athar tadi izin ngga datang." ucap Salsabila tersenyum.
Ada hati yang terasa bergerimis mendengar ucapan Nilam yang terus mengatakan nama Ameer. Rasanya ingin menangis tapi tak mungkin, ingin bertanya langsung ia malu.
Tak lama taksi yang Khansa tunggu datang ia langsung beranjak pulang, namun di pertengahan jalan Khansa berfikir ulang untuk langsung pulang.
" pak maaf antarkan saya ke pemakaman dekat kota ya pak." ucap Khansa mengganti arahnya.
" iya baik Bu". Sopir taksi pun melaju sesuai yang Khansa mau.
Sesampainya di sana Khansa turun dan meminta taksi menunggu nya tanpa mematikan argo nya.
" assalamu'alaikum mas, maaf Khansa sibuk dari kemarin ingin kemari tapi tidak jadi ". Ucap Khansa lalu ia mengusap papan nama yang tertuliskan nama ammar suaminya itu. Lalu Khansa melantunkan doa untuk almarhum ammar.
Di tahan nya air mata yang ingin terjatuh ia berjanji jika tidak akan menangis di makam suaminya. Selepas berdoa Khansa mencabuti rumput di sekitaran makam ammar. Bibir Khansa tercekat untuk mengatakan gundah gulana hatinya ia hanya menceritakan Gaza dalam keseharian nya, itulah yang selalu Khansa lakukan.
_
Ameer selesai melakukan operasi dia pasien kebetulan tak begitu sulit jadi tidak lama, setelah selesai Ameer pamit pulang kepada asistennya dan beberapa staf di sana.
__ADS_1
Tak sabar ingin bertemu Khansa dan Gaza saat pulang, kini ada orang yang ia harapkan jika pulang ke rumah. Ia cium dan peluk, Ameer berhenti dahulu ke tempat jajanan ia membeli sempol kesukaan Gaza. Ameer tersenyum ketika satu plastik ia bawa untuk pulang ke rumah.
Gaza melihat mobil ayahnya langsung berlari menemui Ameer dan tentunya langsung di sambut oleh Ameer dengan pelukan dan ciuman seorang ayah kepada putrinya.
" ayah bunda mana". Ameer mengerutkan keningnya nampaknya Khansa tak pulang ke rumah.
" bunda belum pulang nak".
" belum ayah".
Kemudian Ameer bertanya kepada orang rumah dan benar jika Khansa belum pulang ke rumah. Ameer mengambil handphone di sakunya ia hubungi Khansa namun tak di angkat.
" sama nenek dulu ya, ayah pergi sebentar".
" Gaza ikut ya ayah".
" Gaza kan belum mandi sayang, ayah cuma sebentar saja". Ameer lalu mencium kepala Gaza berlalu mencari keberadaan Khansa.
Khansa tidak bisa di hubungi lalu Ameer mencoba menelepon abinya. Kebetulan abinya sudah pulang ke rumah dari pesantren sejak tadi.
" assalamu'alaikum Abi, apa Khansa ke rumah Abi".
" wa'alaikumsalam tidak nak, ada masalah". Tanya Barra.
" sudah kamu hubungi handphone nya nak".
" sudah Abi tapi tak di angkat nya". Ucap Ameer lagi sembari memutar setir mobil melaju ke luar rumah.
" coba nak ke makam, kemungkinan ia ada di sana. Nanti kabari Abi ya nak".
" baik Abi".
Ameer memutar balik menuju pemakaman ammar hanya itu tempat yang bisa jadi Khansa tuju. Mahya sudah menikah tak mungkin dia menemui Mahya.
Benar saja ada mobil taksi yang berhenti di sana menunggu Khansa yang belum beranjak sejak tadi. Khansa masih asyik bercerita tentang harinya Gaza tanpa menceritakan jika ia telah menikah dengan Ameer adik dari ammar saudara kembarnya.
" pak berapa argonya saya bayar sekarang itu istri saya terima kasih sudah menjaga istri saya ya pak".
" oh iya den". Setelah taksi itu di bayar oleh Ameer lalu ia pergi dan Ameer pun membayarnya lebih.
Ameer mendekat tanpa mengganggu Khansa yang sedang bercerita di makan ammar. Hati Ameer terasa bergerimis melihat pujaan hatinya tersenyum sembari mengusap papan nama ammar. Ameer lalu mengusap kepala Khansa dan menciumnya, khansa kaget ia terkesiap ada tangan yang menyentuh kepalanya. Ameer lalu menengadahkan tangannya untuk mendoakan almarhum.
__ADS_1
" Kak Khansa dan Gaza sudah bersama ku aku akan menjaganya dengan baik". Ameer mengusap papan nama itu.
Khansa hanya terdiam tak sampai bibirnya mengatakan itu namun Ameer justru mengatakan nya di makam ammar.
Sebenarnya dari bandung kemarin mereka ingin berkunjung ke makam karena aki sakit akhirnya tertunda juga.
" sudah belum kangennya hemm,,, ini udah sore Gaza tadi tanyain bundanya." Ameer mengusap kepala Khansa mengajaknya untuk berdiri.
Khansa mengikuti langkah Ameer hingga ke mobilnya rasanya ia tetap tak bisa menolak Ameer. Ameer membukakan pintu untuk Khansa agar masuk untuk pulang ke rumah.
" Sebenarnya kenapa kamu begini terus ". Tanya Ameer di perjalanan.
" Khansa bimbang kak, khansa mengganggu hubungan kakak dengan dokter Salsabila ".
" sudah ku katakan tidak, besok kakak klarifikasi sama dokter Salsabila jika kamu istriku."
" jangan kak kasihan dia, dokter Salsabila sangat berharap kakak".
" apapun harapan dan keinginan kita belum tentu Allah ridho, tetaplah takdir Allah yang menentukan baik atau tidaknya untuk kita. Jika kakak katakan mencintai mu apa kamu masih tak percaya ". Khansa menggeleng.
" itulah kenapa kakak tak mengatakan nya, kakak yakin kamu tak percaya sama kakak". Ucap Ameer terus melajukan mobilnya.
" kita pulang ya ." Khansa mengangguk.
__
Membersihkan diri setelah seharian berada di luar rumah, kini saatnya makan malam keluarga semua sudah berkumpul tanpa terkecuali.
" Makan yang banyak sayang". Ameer mengusap kepala gadis kecilnya itu.
" nanti Gaza gendut ayah". Gaza mengerutkan alisnya.
" ayah suka kalau Gaza gendut ".
" ngga mau ayah nanti gaza jelek".
" ngga sayang puteri ayah tetep cantik ". Mata Gaza langsung berbinar, semua terkekeh melihat Gaza yang terlihat bahagia.
Makan malam dengan keluarga yang sekarang lebih terlihat hidup kembali setelah sekian lama kehilangan sosok ammar. Kebahagiaan kembali hadir dengan celotehan Gaza yang bikin semuanya jadi gemas.
Masih sama Khansa yang hanya terdiam dengan nafsu makan yang tak begitu semangat.
__ADS_1
__