Cinta Untuk Khansa

Cinta Untuk Khansa
Part 56. ucapan bunda aisha


__ADS_3

Ameer menggendong Gaza untuk di bawa pulang namun ke rumah nya ustadz Barra. Karena Ameer harus berangkat sore ini, tak mungkin ia akan ambil libur jadwal operasi sudah terjadwal. Sesampainya di kamar Gaza menangis saat di turunkan dari gendongan Ameer.


" ayah...hiks..hiks..." ucap Gaza lalu duduk.


" iya sayang om di sini, bobo lagi ya jangan nangis pintar." Ameer mengusap kepalanya, lalu Gaza tidur kembali setelah memastikan jika Ameer masih ada di sampingnya.


" Bagaimana ini jeng Ameer harus berangkat sore ini, semoga Gaza mengerti". Kata Aisha melihat Gaza seperti itu ia tak tega.


" yang penting jangan langsung di tinggal pergi, Ameer harus berpamitan langsung biar dia mengerti jika Ameer memang harus bekerja seperti bundanya". Jawab alira yang sebenarnya juga ikut bingung.


Setelah benar Gaza tertidur pulas Ameer lalu keluar dari kamarnya, ia ingin pulang terlebih dahulu untuk istirahat sejenak dan menyiapkan segalanya untuk pulang sore nanti.


" umi , Ameer pulang dulu ya Gaza sudah tertidur".


" nak nanti kalau mau pergi kamu ke sini ya pamit dulu sama Gaza, takutnya dia cari kamu lagi."


" iya umi insyaallah nanti Ameer ke sini dulu." Ameer dan Aisha lalu pamit pulang.


__


Di dalam kamar Ameer berniat untuk beristirahat sebelum sore nanti ia akan berangkat. Namun bundanya nerobos masuk kamar ia ingin bicara sesuatu dengan ameer.


" nak bunda mau bicara sebentar". Ameer yang sudah memeluk guling nya lalu duduk.


" iya bunda ada apa".


" kenapa kamu tak khitbah Khansa saja". Aisha langsung to the point ke akar masalah.


" astaghfirullah hal adzim bunda ini ngomong apa, Khansa kakak ipar Ameer bunda." ucap Ameer garuk-garuk kepala.


" iya bunda tau, tapi kakakmu sudah ngga ada dan Khansa janda masa idah nya sudah habis lebih baik kamu mengkhitbah nya sebelum keduluan orang lain."


" ngga bunda dia istri kak Ammar, suatu saat pasti Khansa akan bisa move on dan menerima orang lain dalam hidupnya ".

__ADS_1


" apa cintamu sudah hilang untuk khansa." tanya Aisha, Ameer pun langsung kaget tak ada yang tau masalah ini kecuali dirinya sendiri dan kakek. Tapi kakeknya tak mungkin mengatakan nya kepada siapapun.


" apa maksud bunda."


" bunda ini ibumu nak, kamu mencintai Khansa bahkan bunda tak tau kamu lebih mengorbankan kebahagiaan mu demi ammar kakak mu". Kata Aisha.


" tidak bunda Khansa dan kak ammar saling mencintai, bukan Ameer ".


" nak jujur sama bunda, baru kali ini kamu tak jujur sama bunda. apa kepergian mu ke Amerika karena ini dan kamu menerima tugas ke Yogyakarta karena hanya untuk menghindari Khansa. Jika kamu sudah tak mencintai nya kamu pasti sudah menikah dengan orang lain." ucap Aisha tegas karena Ameer di larang ke luar kota ia tetep kekeh pergi ke Yogyakarta menerima tawaran kerja di rumah sakit.


" bukan gitu bunda, memang belum sampai saja Ameer pada jodohnya".


" wanita yang akan bunda kenalkan semua baik, cantik juga saliha nak. tapi tak satupun yang bisa membuat dirimu jatuh cinta pada mereka. Lalu apa yang kamu tunggu nak". ucap Aisha air matanya mulai mengembun.


" Menikah itu akan seumur hidup bunda dan Ameer tak mau yang asal saja".


" ya sudah kalau begitu nikahi khansa nak, bukan asal kan. Khansa saliha kita sudah mengenalnya hanya satu mungkin kekurangan Khansa...dia janda". Ucap Aisha.


" bunda bukan begitu tak masalah buat Ameer janda ataupun gadis, tapi Khansa itu istrinya kak ammar bunda. Dan tak mungkin Khansa mau bersama Ameer, biar kan Ameer menjadi pelindung Gaza tanpa harus menikahi Khansa bunda."


" maaf bunda Ameer...." ia tak mau melanjutkan ucapannya.


" jika kamu tak mau menikahinya akan ada laki-laki lain yang belum tentu dia menyayangi gaza sepertimu nak". ucap Aisha terus meyakinkan Ameer.


Tanpa mengucap kata-kata lagi Ameer merebahkan tubuhnya membelakangi bundanya berusaha memejamkan matanya. Ucapan bundanya sangat mengganggu pikirannya, dia tak punya keberanian untuk mendekati Khansa apalagi mengajak dia menikah. Lalu Aisha keluar ia tau Ameer butuh ketenangan berharap memikirkan yang Aisha katakan.


__


Ameer ke rumah ustadz barra dulu sebelum ia akan terbang ke Yogya, tak tega rasanya jika harus pergi tanpa pamit. Gaza sudah mandi setelah ia bangun dari tidur nya dan ayah yang ia cari karena tadi dia bersama Ameer.


" ayah..." Gaza berlari ketika melihat Ameer datang.


" putri Gaza sudah cantik harum pula." ucap Ameer mencium Gaza, Gaza langsung mengalungkan tangannya di leher Ameer meminta di gendong.

__ADS_1


" Gaza harus makan yang banyak, sehat ya, om mau pergi kerja dan pulangnya masih lama lagi." Gaza cemberut.


" iya sayang nanti uangnya bisa untuk beli boneka lagi buat Gaza." ustadz Barra membantu Ameer agar ia melepas pelukannya.


" sama nenek yuk antar ayah ke bandara". ucap Aisha.


" mungkin lebih baik begitu, jadi Gaza tau jika Ameer pergi bekerja tak mencari-cari terus." ucap Alira, Khansa yang duduk bersama Nini hanya diam saja ia juga bingung mau ngomong apa ngga enak hati rasanya sama Ameer.


" Om Ameer harus bekerja sayang, banyak orang yang membutuhkan om Ameer. Nanti kalau libur lama om akan pulang lagi menjenguk Gaza." Gaza akhirnya mengangguk. lalu Ameer pamit kepada semuanya, netranya pun bertemu dengan Khansa ada perasaan yang canggung antara keduanya.


" Salim..." ucap Gaza, lalu Gaza Salim kepada bundanya Khansa.


" ayah..." Gaza menarik tangan Ameer agar Salim dengan khansa.


" ayo cepat pesawatnya nanti keburu terbang". Suara Barra mengagetkan semua nya, barra mengalihkan sengaja Gaza. Tak akan mungkin Khansa ataupun Ameer akan saling bersalaman, mereka tak kan mungkin bersentuhan meski hanya berjabat tangan. Barra yang tau itu tiba-tiba mengagetkan semuanya.


Gaza pun ikut Aisha dan azzam untuk mengantar Ameer ke Bandara. Di mobil bahkan Gaza tak ingin lepas dari Ameer ia menempel terus, Ameer selalu memberi candaan tiada henti dan Gaza tertawa lepas.


" Khansa apa benar kamu belum siap menikah lagi nak." tanya alira membuat semua yang ada di sana pun kaget.


" Tidak umi, Khansa ingin membesarkan Gaza sendiri saja".


" ternyata anak umi ini tetap seperti dulu ya keras kepala memikirkan diri sendiri, ini bukan karena Gaza tapi untuk mu sendiri kamu tak memikirkan Gaza.". ucap Alira semua terdiam tak ingin ikut campur.


" sudahlah umi, Khansa tak ingin berpikir tentang menikah lagi."


" Ameer pantas menjadi ayah Gaza nak." Khansa lalu mendongak.


" apa maksud umi, aku janda umi dan kak Ameer masih bujangan tak akan mungkin kasihan juga kak Ameer harus berkorban demi Gaza. Biarkan kak Ameer bahagia dengan wanita yang ia cintai umi, Khansa tak mau menjadi perusak masa depan kak Ameer. ". Ucap Khansa ia berlalu pergi naik ke atas.


Ameer menciumi gadis kecil itu terasa tak tega juga meninggalkan nya begitupun Gaza ia balik mencium Ameer.


" putri Gaza anak saliha ngga boleh nakal ya, harus makan yang banyak jangan sakit. Kalau kangen om Ameer telepon pakai handphone Nini atau Aki ya sayang." Gaza mengangguk. Dengan berat hati Ameer melangkah kan kakinya naik ke pesawat sebelum masuk ia melambaikan tangan nya terlebih dahulu melepas Gaza. Gaza tertawa dengan di gendong kakek nya Azzam. Gaza tak mau masuk mobil hingga pesawat itu tidak terlihat. Di dalam pesawat Ameer tak sengaja menitikkan air mata nya ia mengingat kakaknya Ammar.

__ADS_1


__


__ADS_2