
" iya Khalid semalam menelepon mas jika ia minta di khitbah kan seorang gadis."
" masyaallah Khalid mas, mas serius siapa mas gadisnya". Tanya alira ikut gelisah.
" anaknya sahabat ku Fadil dan Aisyah". ucap Barra.
" ya Allah Khalid, apa wanitanya mau dengannya mas. " tanya alira .
" ngga tau juga Ra, khalid bilang kalau mas ngga mengkhitbah kan anak gadis itu dia akan pulang sendiri menemui Fadil".
" Duh mas anakmu satu itu". Alira memijat pelipisnya yang mulai pening.
" Sudah jangan di pikirkan Ra, besok mas akan temui Fadil untuk menyampaikan keinginan Khalid. Jodoh Allah yang atur yang penting kita ikhtiar dulu biar Khalid bisa tenang belajar di sana."
" Alira terserah mas saja, alira yakin mas sudah memikirkan yang terbaik untuk Khalid." Barra tersenyum lalu di rengkuhnya tubuh alira ke dalam pelukannya.
__
Setiap pagi ammar mengantar Khansa ke kampus dan siangnya jika Khansa pulang ia akan di jemput sopir Ammar, terkadang Khansa ke rumah abinya terkadang ke rumah bunda sesuai mood dia ingin ke mana. Ammar pulangnya tak tentu kadang juga sampai malam tapi ammar selalu menyempatkan menghubungi Khansa jika pulang terlambat.
Ammar memang tak mengizinkan Khansa di rumah sendirian, jadi jika pulang dari kampus lebih baik ia suruh untuk ke rumah orang tuanya.
Mobil sampai di depan kampus Khansa pamit dengan mencium tangan ammar tak lupa kecupan bertengger di kening Khansa. Khansa dan ammar sungguh bahagia kini mereka saling mencintai.
" Pulangnya langsung ke rumah bunda atau umi ya dek." ucap ammar merapikan jilbab Khansa yang sebenarnya tidak apa-apa.
" iya mas, apa nanti mas pulang malam lagi". Khansa cemberut beberapa hari memang ammar lembur pulang malam terus selepas isya.
" kenapa hemmm... Mas bekerja"
" iya mas tapi tak etis aja jika malam terus mas pulangnya, waktu untuk Khansa kapan mas. Tiap hari Khansa harus makan malam tanpa mas kan pengen juga bisa sama mas." ucap Khansa merajuk.
" Maaf ya oke mas usahakan pulang cepat, nanti kabarin kamu pulang ke mana umi atau bunda." Khansa mengangguk ia tersenyum senang lalu ia pamit.
Tinggal dua semester lagi Khansa menyelesaikan sekolah nya. Waktu berlalu lumayan cepat kini menjadi seorang istri jika Allah memberinya akan cepat juga jadi seorang ibu.
" Duh pengantin baru mesranya". Ucap Mahya menghampiri Khansa, kini Mahya membawa motor sendiri saat ke kampus.
" Alhamdulillah, yuk masuk". Khansa dan mahya lalu masuk.
" Aku malas mengerjakan tugas biasanya pak Ameer selalu membimbing kita jika kita kesusahan ". Ucap Mahya membolak-balikan bukunya.
" Dia lagi belajar juga di sana Mahya, mentang-mentang dosennya tua kamu jadi tak semangat sih." Khansa terkekeh.
" iya Khansa jadi beda auranya ".
__ADS_1
" Aura apa brondong gitu."
" iya hahahaha..." Mahya dan Khansa tertawa.
Akhirnya dosen pun masuk Khansa dan Mahya mulai serius untuk belajar lagi.
__
Di negeri sebrang.
Ameer berjalan cepat untuk masuk ke kampus nampaknya ia sedikit terlambat, padahal bangun juga pagi tapi karena azkiya menelepon ia jadi lupa jika harus ke kampus pagi.
Berpapasan dengan Salsabila Ameer pura-pura tak mengenalnya, itulah cara Ameer sejak dulu menghindari wanita. Salsabila mengernyit ia seperti melihat sosok yang ia kenal, akhirnya Salsabila ingat jika itu Ameer.
" kak Ameer". panggil Salsabila.
' ya Allah aku udah kesiangan '. Ameer lanjut berjalan sedikit berlari sampailah dia di dalam kelas merasa lega dosen belum masuk.
" kenapa kak Ameer berlari tadi ya, tapi bener kan itu kak Ameer." ucap Salsabila menggumam pelan.
" Bila..." panggil Haris yang saat itu baru saja masuk ke kampus.
" kak Haris baru datang ".
" iya kamu ada jam pagi."
" Lo kamu belum pernah ketemu bil, iya dia jadi ambil di sini ".
" Bila lagi fokus ujian kak jadi jarang keluar ruangan, tadi sih papasan tapi kak Ameer seperti terburu-buru,kami tak saling sapa". kata Salsabila memberitahu Haris.
" Kamu kayak ngga kenal Ameer saja meskipun ramah tapi kalau sama wanita kan cuek." kata Haris mengingat masa SMA nya.
" iya kak bener, bikin para wanita makin penasaran seperti aku hehehe ". Tawa Salsabila.
" Oh ya kakaknya sudah menikah Ammar itu, kamu ingat".
" ya ingat to anak kembar di sekolah kan cuma mereka ".
" Masih ada lowongan tuh Ameer, sebelum janur kuning melengkung masih bisa ikhtiar langit dan bumi". Kata Haris sembari cengengesan.
" Kak Ameer itu istimewa kak sepertinya ia tak tertarik dengan kecantikan atau pun materi.". Ucap Salsabila ia yang sudah berusaha dari dulu tapi ameer tak pernah menoleh padanya.
" begitulah Ameer aku juga kurang tau wanita seperti apa yang ia kagumi. Mungkin sebelas dua belas lah dengan ammar ". Kata Haris.
" Siapa sih istri kak ammar ".
__ADS_1
" anaknya ustadz barra pemilik pondok di kota yang sama dengan Ammar ".
" oh ya aku denger sih nama ustadz Barra cukup terkenal juga beliau, keren juga ya bisa nikah sama anak ustadz ".
" namanya jodoh bil." Salsabila cengengesan.
" ya udah ya aku mau masuk kelas ku akan segera mulai."
" iya kak, oh ya kalau ketemu kak Ameer salam dari ku ya."
" ogah ah nitip-nitip harus ada uang jalannya dong".
" ye... "
" oke aku duluan nanti ku sampaikan sama Ameer". Bila tersenyum senang.
Salsabila memang dari semenjak SMA menyukai Ameer tapi Ameer abai ia kan memang begitu tak mau memberi harapan kepada seseorang yang dia tidak inginkan.
__
Dokter Fadil sedang jaga malam dengan berat hati Barra ingin menyampaikan keinginan Khalid. Sebenarnya Barra berat karena Khalid baru saja mulai kuliah tapi mendengar ancaman Khalid barra tak bisa menolaknya. Khalid itu jika berkata sesuatu ia tak pernah mundur untuk tidak melakukan nya.
" assalamu'alaikum Fadil."
" wa'alaikumsalam sobat, tumben nih ada apa gerangan". tanya Fadil.
" kamu sedang praktek". tanya balik Barra..
" iya aku di rumah sakit, ada perlu apa katakan saja".
" Bisa kita bertemu kapan kamu ada jadwal kosong".
" ini aku kerja malam besok aku libur bisa kita bertemu, kita ketemu di mana."
" Aku akan datang ke rumah mu saja".
" Baiklah aku tunggu seperti nya penting sekali Barra".
" iya penting banget ku harap kita bisa ngobrol".
" oke aku tunggu di rumah aku sampai rumah besok sekitar jam 9 pagi". Ucap Fadil.
Lalu mereka mengakhiri teleponnya, Fadil masih terus berfikir hal penting apa hingga barra benar-benar ingin bertemu.
Fadil segera keruangan pasien ada hal urgent lagi suster memanggil nya.
__ADS_1
__