
Beberapa kali mobil harus berhenti karena adanya lampu merah, di saat itu Ammar menyempatkan tangannya untuk mengusap kepala Khansa. Khansa sangat senang meski hanya usapan kepala belaka tapi Khansa merasakan kasih sayang yang tulus dari Ammar. Ammar selalu tersenyum ketika menolah ke arah Khansa, memang ammar ini sangat berbeda ketika ada di luar sikapnya memang begitu dingin sekali. Tapi terhadap orang yang ia sayangi terutama keluarga nya ia juga bisa humoris.
Mereka pun sampai ke mall yang mereka tuju bagian selatan, di sana juga banyak desain baju uminya khansa. Alih-alih ammar tetap memilih baju yang bermerek Zahir itu desain miliknya Alira. Karena memang hanya pakaian milik alira yang terlihat anggun jika di pakai Muslimah dan ammar pun menyukai karena bundanya juga memakai nya.
" Mas kok tetep desain punya umi yang di pilih ini, baju umi semua". Khansa membolak balikkan beberapa baju yang Ammar pilih, ammar justru malah tertawa.
" punya umi lebih bagus di pakai muslimah sayang, mas lebih cocok dengan desain umi yang ngga terlalu norak tetap elegan di pakai ". Ucap ammar masih dengan senyuman.
" mas ini kirain mau belikan yang lain tetap desain umi". Khansa tersungut-sungut Ammar terkekeh lalu mengusap puncak kepala Khansa.
" tapi model ini kamu belum punya kan sayang".
" belum".
" ya udah pakai aja ya." kata ammar, akhirnya Khansa pun menurut.
Setelah selesai belanja ammar lalu mengajak Khansa ke taman ia membeli dua eskrim untuk mereka makan. Duduk berdua menikmati pemandangan kota karena weekend di sana banyak orang yang hanya sekedar nongkrong atau anak-anak yang sedang bermain.
" Pelan-pelan makannya sayang." Ammar mengusap sudut bibir Khansa yang belepotan. Khansa tersenyum senang kini ammar punya perhatian lebih.
" Lihat mas anak itu, gemuk lucu ya." ucap Khansa menunjuk anak perempuan sekitar umur dua tahun yang sedang berlari mengejar bola.
" Sudah pengen punya anak". ucap ammar, Khansa tersipu malu dan mengangguk.
" aamiin semoga Allah tumbuhkan janin di rahim istriku ya Allah". Khansa kemudian mengaminkan.
Karena sangat lelah akhirnya Khansa meminta untuk pulang. Waktu juga sudah sangat siang mereka tadi shalat di masjid dekat taman. Khansa langsung merebahkan tubuhnya di ranjang merasa dirinya sangat lelah tiba-tiba perut nya kembali merasa mual.
" kenapa gelisah perutnya sakit"
" mual mas". Khansa ingin muntah ia menutup mulutnya.
__ADS_1
" minum obat ya sayang." Ammar pun khawatir.
" Ngga apa mas, Khansa istirahat duluan ya." Khansa lalu berusaha memejamkan matanya ingin tidur saja.
Karena masih menggunakan atribut lengkap perlahan ammar membuka kaos kaki khansa dan hijabnya agar Khansa lebih leluasa. Ammar mengusap-usap terus kepala Khansa sembari ia bacakan doa hingga Khansa terlelap. Setelah yakin Khansa terlelap ammar langsung berkutat dengan laptopnya, ya kembali bekerja itulah ammar tetap pekerjaan yang menjadi hari-hari nya.
__
Haris mengajak Ameer keluar sesekali karena memang hari libur, biasanya sih Ameer akan ke rumah sakit membantu di sana. Karena dokter Bastian memberi izin terhadap Ameer untuk ikut dalam praktek.
" Aku mau cari bahan makanan semuanya habis." ucap haris sembari berjalan bersama Ameer di supermarket.
" aku juga ada beberapa yang habis di kulkas sekalian mumpung kamu ajak aku keluar". Ucap Ameer berjalan santai beriringan dengan Haris.
Keduanya langsung memilih apa yang mereka beli dulu, Ameer sih memang hanya ingin keluar untuk belanja saja sekalian karena laki-laki mereka tak suka sering belanja.
" duduk dulu yuk aku capek." ucap haris yang langsung duduk di kursi yang di sediakan supermarket ada di luar dekat kaca. Ameer pun mengikuti Haris duduk sembari membuka minuman soda yang ia beli.
" Betah atau tidak sudah resiko aku harus menyelesaikan sekolah ku segera, hidup jauh dari keluarga tak enak rasanya. Aku tak bisa makan masakan bunda ku puas "
" iya aku jadi kangen makan masakan bunda Aisha ". Ucap haris mengingat dulu Ameer suka bawa makanan untuk nya saat di kampus Indonesia.
" Kalau pulang nanti mampirlah kamu ke sana bunda pasti senang ris".
" Tak ada kamu ataupun Ammar aku sungkan mau mampir ".
" eh jangan gitu dong kayak ngga kenal bundaku saja, datanglah saat kau mau antar undangan pernikahan mu". Kata Ameer sembari meneguk minumannya.
" Apa sempat, aku lulus langsung menikah ".
" kira-kira kapan." tanya Ameer.
__ADS_1
" sekitar bulan enam dan orang tua sudah memberi kesepakatan untuk menikah supaya tak lama-lama".
" Seperti nya aku juga akan pulang di bulan itu, adikku azkiya lulus mau masuk SMA dia mau aku pulang juga."
" ya pulang lah Ameer setahun sudah itu kamu di sini, nanti bisa ikut menghadiri pernikahan ku siapa tau ketemu jodoh di sana." kata Haris, namun Ameer terkekeh.
" Bisa aja kamu, aku belum mikirin jodoh sudah ku bilang mau lulus dulu dan pasti aku akan mengasah ilmuku dulu".
" kenapa sih Ameer kamu seperti kehilangan semangat mu untuk menikah saja, apa ada sesuatu yang membuat mu trauma untuk menyukai wanita atau menikah. cerita padaku siapa tau aku bisa meringankan sedihku." ucap haris penasaran.
" ngga ada aku ngga apa-apa Ris mau fokus saja dulu".
" aku tau kamu pintar tapi masalah masa depan hidupmu harus kamu pikirkan juga Ameer, apa kamu pergi ke sini karena lari dari kenyataan". Tanya Haris langsung membuat Ameer terbelalak.
" Ng.. Ngga memang aku berniat sekolah di sini seperti ayah ku".
" gelagat mu terlihat Ameer, sekarang kamu lebih banyak diam. Jangan kamu lari dari kenyataan Ameer hadapi semuanya, boleh sakit hati tapi kamu perlahan harus hapus mungkin memang ini yang terbaik menurut Allah untuk mu. jangan hanya menerima takdir saja Ameer tapi berusahalah untuk mencintai Takdir". Kata Haris langsung jleb di hati nya, benar yang haris katakan mungkin yang terbaik karena kita tak bisa menghalangi takdir terlebih tentang jodoh.
" aku tak apa, dulu aku belum siap jauh dari bunda sekarang karena azkiya sudah besar dan ayah sudah lebih banyak di rumah aku yakin untuk melanjutkan sekolah ku".
" aku kira dulu kamu akan menikah dulu sebelum ke sini".
" sudah ku bilang belum ada jodohnya."
" kamu ngga nyari sih Ameer, jangan hanya diam menunggu saja tapi harus ikhtiar juga. Menunggu itu untuk perempuan bukan laki-laki. Kamu tampan kantong juga ngga kempis pasti siapapun wanitanya akan mau kamu jadikan istri".
" Haris menikah itu ibadah terpanjang, menikah tak hanya sehari dua hari saja tapi seumur hidup. Bukan aku pilih-pilih tapi belum ada yang sreg dalam hati". ucap Ameer rasanya ingin menyudahi pembicaraan nya tentang jodoh ini mengingat kan dirinya pada sosok Khansa.
" okelah aku mengerti memang bener harus sreg, tapi aku harap kamu tak akan jadi bujang tua. Wajah tampan materi mapan, rugi...." kata Haris menekan kata terakhir nya. Ameer pun hanya terkekeh saja temannya ini memang begitu langsung jleb aja kalau ngomong.
__
__ADS_1