Cinta Untuk Khansa

Cinta Untuk Khansa
Part 32


__ADS_3

Dear pembaca sebelum nya aku mau kasih visualisasi tokoh ya tapi yang utama saja.



Khansa Aurelia Ar Rasyid.


Anak dari pasangan Alira dan Barra, bisa baca kisahnya di novel sebelumnya " Ajari Aku Ustadz".



Muhammad Ammar.


Anak dari pasangan Dokter Azzam dan Aisha bisa baca kisahnya di novel " Titip istriku".



Muhammad Ameer


Saudara kembar Ammar yang juga mencintai Khansa.


Maaf jika kurang sesuai dengan angan-angan pembaca hehehehe...


___


Hotel milik Hamdan kini sudah di tata sedemikian rupa oleh tim WO. Azzam mengundang semua kerabat saudara juga rekan bisnis Ammar. Acara cukup ramai kini azzam tidak memisahkan acara mereka semua campur jadi satu, azzam memilih hotel Hamdan yang ada di kota. cukup luas biasa memang di sewakan untuk acara pernikahan. Baik nya Hamdan karena sudah menganggap Ammar itu keponakan nya ia memberi gratis untuk azzam.


Hamdan itu adiknya Hanafi suami Aisha yang meninggal, jadi Aisha dulu kakak iparnya Hamdan. Baca kisahnya di novel Titip istriku.


Wajah bahagia tampak dari wajah semuanya apalagi bunda Aisha inilah yang ia nanti sejak dulu melihat anaknya menikah. Ameer sengaja memilih menemui teman-teman nya saat masih SMA para sahabat Ammar yang juga dekat dengan Ameer.


" Seperti nya itu Zain kan anaknya dokter Zaskia kapan dia pulang ". gumam Ameer, dulu Zain SMA bersama dirinya dan kini Zain menjadi pengusaha sebagai rekan bisnis Ammar. Zain selama ini sekolah di sekolah bisnis Harvard university dan baru pulang setelah menyelesaikan S2 nya di sana juga.


Ada yang masih ingat Zain, ada di novel " Rahim Untuk Suamiku ".


" Ameer kamu apa kabar". tanya Zain yang menghampiri Ameer.


" Alhamdulillah baik, benar ini kamu. tadi aku ragu saja benar tidak itu kamu."


" yah aku memang pulang belum lama, baru juga pegang perusahaan papa". ucap Zain.


" syukurlah kamu sudah balik, kapan menyusul kakak ku nih."


" doakan saja semoga wanitanya mau sama aku, aku sedang ikhtiar langit dan bumi ".


" wah dia pasti wanita spesial Zain."


" sangat dari bayi aku sudah mengkhitbah nya".


" dasar gila kamu Zain." Ameer terkekeh.

__ADS_1


" tak apalah sedikit gila karena cinta". Zain jadi tertawa.


" kapan kamu menikah Ameer". tanya Zain balik.


" Aku masih mau ke Amrik ambil spesialis". ucap Ameer.


" kamu serius, kapan berangkat"


" Lusa insyaallah".


" aku kira di sana tadi ada dua pengantin kamu sama Ammar"


" aku belum laku Zain". Ameer tertawa.


" aku yakin pasti tak akan ada wanita yang menolakmu".


" ah kamu bisa aja Zain". akhirnya mereka tertawa kembali berkumpul mengobrol dengan yang lain.


Sang raja dan ratu yang sangat terlihat cantik dengan balutan baju pengantin, Khansa terus melingkar kan tangannya di lengan Ammar. Ammar sudah tak canggung lagi jika Khansa memegangnya tiba-tiba meski kadang sedikit risih.


Acara demi acara terlewati sudah banyak tamu juga yang pulang, kini Ammar di beri satu kamar khusus di hotel itu oleh Hamdan. Mereka di izinkan menginap di sana sesukanya, Hamdan memang sangat baik sejak dulu.


Ameer sengaja memang tidak pamit dengan Ammar, jika ia mendekat masih saja terasa hatinya tercubit. apalagi melihat kemesraan Ammar dan Khansa, saat ini itu hanya terlihat kenyataan nya di kamar belum ada adegan apa-apa selain gemetar.


" Lelahnya, ". ucap Khansa duduk di ranjang, ia melepas kaos kaki milik nya.


" Aku mandi dulu ya dek." ucap Ammar ia memang selain punya sifat yang dingin anaknya sangat rajin tak suka dengan bau keringat dan badannya yang lengket.


Tiga puluh menit Ammar selesai mandi ia memakai baju ganti nya di dalam kamar mandi karena masih makubjika di hadapan Khansa. Dilihatnya Khansa yang masih terbalut gaun pengantin.


" cepetan mandi dek sudah malam sudah ku siapkan air hangat nya." kata Ammar.


" gaunku tak bisa di buka mas " ucap Khansa namun ia tak berani meminta Ammar untuk bantu membukanya.


" tak bisa bagaimana dek". tanya Ammar juga bingung. umur Khansa dan Ammar berjarak tujuh tahun sehingga Ammar lebih nyaman dengan panggilan adik.


" ini tanganku tak sampai mas buat buka resleting nya." ucap Khansa.


" sebentar aku bantu".


sreg...


Punggung halus Khansa terpampang putih mulus dan halus. kembali Ammar menelan salivanya ia berusaha menahan hasrat yang mulai muncul.


" sudah sana mandi nanti airnya dingin." ucap Ammar jalan ke ranjang.


Khansa langsung berlari kecil masuk ke dalam kamar mandi. Jantung nya pasti berantakan tak hanya Khansa tapi Ammar juga, ia menolak tapi berbeda dengan magnet dalam tubuhnya seakan ingin cepat menerkam khansa. eh bukan maksudnya beribadah dengan Khansa.


" ya Allah sampai kapan aku bertahan". ucap Ammar lirih dan hanya ia yang mendengar saja.

__ADS_1


Ammar tersenyum melihat grup wa punya keluarga, semua sedang mengucapkan selamat untuk Ammar. ada juga yang sedang meledek Ammar habis-habisan, Ammar hanya membacanya enggan untuk membalas grup WhatsApp tersebut. Tetaplah Ammar yang dingin seakan tak peduli dengan sekita tapi kenyataannya ia sangat menyayangi orang di sekitarnya.


Khansa keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya, karena merasa panas ia mandi. Ammar masih senyum-senyum melihat Handphone dalam tangannya.


" mas kenapa kok senyum sendiri." tanya Khansa penasaran.


" ngga apa-apa". jawab Ammar yang selalu singkat.


Ammar masih saja terus terkekeh membaca pesan dari para keluarga juga grup SMA nya. Semua topiknya sama yaitu Ammar, begitulah suasana bahagia WhatsApp selalu ada candaan tiada henti.


" mas besok pulang ke rumah bunda." tanya Khansa lagi.


" langsung ke rumah saja." ucap Ammar tanpa memandang Khansa.


" Rumah baru mas Ammar maksudnya ". tanya Khansa.


" bukan rumah mu." Khansa jenuh jawaban Ammar hanya singkat saja.


" maksudnya gimana mas rumah Abi."


" bukan rumah baru itu aku beli dulu untuk istriku sekarang rumah baru itu milikmu." ucap Ammar mulai melihat ke arah Khansa. Khansa tersenyum bukan karena di beri hadiah atas rumahnya tapi panjangnya kata-kata Ammar.


" mas apa tak pernah suka sama wanita."


" cinta ." ucap Ammar lagi.


" siapa, itu cinta pertama mas."


" iya ". jawab Ammar, Khansa cemberut ia langsung masuk ke dalam selimut nya mode ngambek.


" kok langsung tidur." tanya Ammar yang melihat Khansa tak terlihat tertutup selimut hingga kepala.


Di dalam selimut Khansa menitikkan air mata meski memang itu masa lalu Ammar tetap saja ia punya rasa cemburu. Suara Isak tangis pun terdengar Ammar langsung meletakkan handphone.


" kenapa nangis dek." Ammar berusaha membuka selimutnya. Khansa tetap tak menjawab ia kembali terisak.


" ya Allah apa gara-gara tadi, maaf kamu tau kan aku tak suka bicara banyak. jangan nangis dek, mau tau ngga cinta pertama ku siapa." Khasna berhenti menangis.


" Bunda..." ucap Ammar lirih di telinga Khansa, Khansa tersenyum ia malu.


" jangan terbiasa langsung ngambek, marah ataupun menangis sebelum tau penjelasan nya ya.." Khansa mengangguk ia lalu berbalik memandang suaminya. Ammar gelagapan seperti biasa ia masih belum bisa di pandang mesra oleh Khansa.


" sudah malam tidur yuk, besok kita ke rumah bunda dulu sebelum melihat rumah kita." selalu berakhir mengajaknya tidur.


' ya Allah apa mas Ammar benar-benar belum ingin menyentuh ku. Padahal aku sudah halal baginya apa benar hanya Karena bunda ia menikah dengan ku tanpa ingin mencintai ku.' batin Khansa melihat Ammar yang sudah memejamkan matanya.


" sudah ayo tidur jangan mikir yang macam-macam aku hanya belum siap saja. nanti kalau sudah waktunya aku benar-benar siap pasti akan terjadi juga." ucap Ammar masih dengan mata terpejam. Khansa tersenyum malu, bukan ngebet Khansa ingin melakukan ibadah. tapi setidaknya Ammar berlaku mesra padanya tapi kenyataannya belum sama sekali. Memegang nya pun karena terpaksa bukan kemauan Ammar.


bersambung

__ADS_1


Senang dengan ramainya komentar pembaca, terima kasih. dukung othor nulis ya


__ADS_2