Cinta Untuk Khansa

Cinta Untuk Khansa
Part 65. ya zaujati


__ADS_3

Ameer berangkat ke masjid yang dekat dengan rumah dinasnya untuk melaksanakan solat subuh. Khansa pun terbangun saat suara pintu di buka oleh Ameer.


'Selalu saja kak Ameer tak mau mengganggu tidur ku'. Batin Khansa sembari tersenyum.


Melihat ke arah sisinya jika Gaza masih tertidur pulas dengan selimut yang melekat dalam tubuhnya.


' pasti kak Ameer yang meletakkan selimutnya ' batin Khansa.


Tak lupa juga guling Ameer letakkan di sisi Gaza agar anak gadisnya tidak kedinginan. Khansa lalu beranjak ia mandi terlebih dahulu kemudian shalat subuh.


Ameer belum juga pulang lalu Khansa memasuki dapur yang terlihat sangat rapi. Ia membuat kan kopi yang di belinya semalam untuk Ameer.


Tak lama Ameer pun pulang dengan kopi yang sudah tersaji di meja dapur. Meja kecil dengan tiga kursi menyempil di dapur.


Menghirup aroma kopi yang sangat Khas Ameer langsung menuju dapur karena ia yakin itu Khansa yang membuat kan nya. Ameer tersenyum melihat Khansa yang sibuk dengan teflon yang ada ditangan nya. Khansa sedang membuat roti Bakar untuk teman kopi suaminya.


" sudah pulang kak". Senyum terukir dari wajah sang permaisuri hati Ameer.


" maaf aku tadi ikut kajian sebentar."


" tak apa jika kakak pulang tadi roti bakarnya belum masak juga".


" kamu bikin roti bakar Khansa." tanya Ameer yang mencium sedikit bau gosong itu.


" iya kak, buat mengganjal perut kita, tak ada yang lain selain roti yang kita beli semalam."


" maaf rumah ini dulu yang menempati bujangan jadi aku lebih sering beli di luar makanan ". ucap Ameer.


" sekarang sudah bukan bujangan lagi kan, jadi ada bau gosong nya". Khansa terkekeh di ikuti Ameer.


" ayo kak di makan dulu ". Khansa menyodorkan satu potong roti untuk Ameer.


" enak..." ucap Ameer lahap.


" itu kan cuma roti. Khansa beri aja selai, ya enaklah kak tapi maaf gosong". Khansa tertawa.


" tak apa masih enak kok bisa di makan, mau sini." Ameer menyuapkan sedikit untuk Khansa. Khansa tertawa ia jadi mengingat Ammar, tapi ia berjanji di depan Ameer tak akan bersikap sedih atau sedang memikirkan Ammar.


" ayah... Bunda..." terlihat Gaza masih mengucek matanya bangun dari tidur.


" anak ayah bangun sayang". Ameer mengangkat tubuh Gaza ke dalam pangkuannya lalu mencium rambutnya.


" mau nak." Gaza mengangguk.


" ini gosong ayah". Khansa dan Ameer tertawa.

__ADS_1


" enak sayang ini bukan gosong tapi lapis coklat, kamu tau siapa yang bikin... permaisuri nya ayah." Gaza mengerutkan keningnya.


" permaisuri..." Khansa hanya terkekeh saja.


" iya permaisuri bunda Khansa." Gaza ikut tertawa.


" ayo mandi dulu putri Gaza, bau asem gini." ajak Khansa berlalu ke kamar menyiapkan pakaian nya.


_


" mau ke rumah sakit sekarang kak." Khansa melihat Ameer sudah rapih dengan kemeja nya, terlihat sangat tampan sekali siapapun yang melihatnya pasti akan terkesima.


" iya aku urus dulu kepindahan ku ya, kemarin sebenarnya sudah aku ajukan suratnya memang kontrak ku di sini tak lama. Ini hanya tanda tangan saja dan membawa surat pindah ku dari sini". Ucap Ameer merapikan kancing tangan kemejanya.


Melihat suami nya sibuk dengan kancing yang belum bertaut Khansa pun mendekat. Ia tak melihat wajah Ameer tapi tangannya langsung mengambil alih mengancingkan baju Ameer.


" sudah ada aku jika sulit minta bantuan saja kak."


" maaf Khansa aku belum terbiasa ".


" makanya kakak harus biasakan sejak dini, sekarang Khansa istri kakak". Ucap khansa setelah selesai mengancingkan bajunya, ia melihat mata Ameer tatapan mereka bertemu.


" terima kasih ya zaujati". Ucap Ameer, Khansa pun tersenyum tersipu malu.


" kalian di rumah saja ya, insyaallah kakak tak akan lama apa mau ikut ke rumah sakit saja".


" insyaallah tidak jika aku menghadap direktur kalian tunggu aku di luar setelah selesai kita sekalian jalan ke kebun teh." ucap Ameer merapikan jilbab Khansa yang sebenarnya sudah rapi.


" baik kak kita ikut saja ke rumah sakit."


" baiklah ayo kita bersiap ". Khansa menahan Ameer memegang pergelangan tangannya.


" kenapa ". Tanya Ameer yang bingung, Khansa tidak menjawab hanya melihat Ameer dengan intens.


Ameer tersenyum ia juga tak tau harus apa, Ameer hanya mendekat kan bibirnya lalu mengecup kening Khansa cukup lama. Khansa pun memejamkan mata merasakan sentuhan Ameer yang begitu masih kaku.


" Gaza juga mau di cium ayah " keduanya terkesiap Gaza masuk tanpa mereka sadari.


" iya sayang sini." Ameer mencium pipi kanannya dan Khansa pipi kirinya.


__


Di rumah sakit


Ameer masuk dengan senyuman khasnya seperti biasa dia tetap seseorang yang ramah. Beberapa staf yang sudah ia kenal setahun terakhir ini, Ameer menggandeng Gaza berjalan dan ada Khansa di sisinya.

__ADS_1


" pagi dok". Sapa salah satu perawat, Ameer hanya tersenyum dan mengangguk.


". Kalian tunggu di sini ya ayah masuk dulu " khansa dan Gaza mengangguk, Ameer masuk ke ruang direktur rumah sakit.


" maaf mba ini siapanya dokter Ameer, kakaknya ya." tanya satu dokter wanita bernama Mala.


" dokter Ameer ayahku Tante." ucap Gaza dengan polosnya, Khansa hanya tersenyum.


" bukankah dokter Ameer masih bujangan." tanya Mala lagi penasaran, ia salah satu dokter wanita yang mengagumi sosok Ameer.


" sekarang sudah tidak dokter Mala, dokter Ameer suamiku". ucap Khansa yang melihat name tag di sisi dada dokter Mala.


" Ini anak kalian, maksudnya bagaimana dokter Ameer menikahi janda." tanya Mala makin penasaran. Khansa hanya mengangguk.


" ya salam, dokter Ameer itu tampan apa ia tak bisa mencari wanita single. Kayak tak ada wanita lain saja." gumam nya yang masih terdengar oleh Khansa.


" kamu pakai pelet ya buat dapetin dokter Ameer". Tuduh Mala lagi.


" astaghfirullah hal adzim dokter untuk apa saya melakukan itu, takdir yang sudah mempertemukan kita. Meski sejauh apapun kita melangkah jika memang Allah berkehendak kita tak mampu untuk mengelaknya. Kami menikah di hadapan keluarga kami dan pernikahan kami sah di mata negara dan agama ". ucap Khansa tersulut emosi.


" kenapa kamu mau. tak kasihan dengan dokter Ameer yang masih bujang ting-ting dapetin janda seperti mu." Khansa tidak menjawab ia terus beristighfar sejak dari tadi menahan amarah ia sadar jika ini di rumah sakit.


" Awww...." teriak dokter mala.


" sayang ngga boleh begitu tak baik". tiba-tiba saja Gaza menggigit tangan dokter Mala, ia tau jika dokter Mala sedang tak baik dengan bunda nya.


" dasar anak tak tau diri, kamu sama seperti ibumu ". suara itu di dengar oleh orang-orang di sekitar hingga membuat orang berkumpul.


" anak kecil saja tau dokter, jika dokter tidak punya etika baik". Ucap sari sang suster yang tadi tau ucapan dokter Mala menghina Khansa.


" apa pedulimu ikut campur." dokter Mala menahan sakit hingga emosinya meluap.


" Bukan saya ikut campur, jika dokter ke sini untuk menghina istri dokter Ameer lebih baik dokter pergi dari sini. Dokter Ameer memilih istri mbak ini pasti ada yang spesial dari beliau." ucap suster sari yang juga geram dengan dokter Mala, rasanya ia ingin menjambak rambut dokter Mala.


" ada apa." Ameer keluar dari ruangan ia mendengar ribut-ribut dan Gaza memeluk bundanya seperti ketakutan.


" ayah dia jahat..." ucap Gaza yang masih meringkuk berpegangan erat dengan Khansa.


" ada apa dokter Mala, suster sari." tanya Ameer.


" Dokter Mala menghina istri anda dokter ". Ucap suster sari.


" jangan memfitnah kamu suster saya hanya bertanya saja."


" saya tidak memfitnah dokter saya punya buktinya ". Suster Sari memberikan rekaman handphone nya kejadian tadi pada Ameer, karena suster sari memang tak suka dengan dokter Mala baginya ini kesempatan memberikan pelajaran kepada dokter Mala.

__ADS_1


" atas dasar apa dokter Mala menghina istri saya, dia lebih baik dari wanita lain yang pernah saya kenal. Aku memilih nya karena memang dia istimewa bagiku. Jangan pernah menghina istri saya lagi dokter, meskipun ada seribu wanita di bumi ini tak akan ada yang lebih baik di mata saya kecuali istri saya". Tegas Ameer, ia lalu berterima kasih kepada suster sari sudah membela Khansa dan pamit sembari menggendong Gaza dan memegang erat tangan Khansa keluar dari rumah sakit.


__


__ADS_2