
apapun yang kamu kerjakan bersungguh-sungguh lah tak ada keberhasilan tanpa adanya kerja keras. tapi tetap pondasi kita itu agama Allah .
*******
" kenapa sih Hafsah." ucap Mahya melihat Hafsah yang menggerutu dari tadi.
" mungkin lagi kumat obatnya habis". ucap Khansa tak ingin membahas laki-laki yang bikin Hafsah kesal.
__
Ameer berjalan menemui bundanya karena acara sudah selesai ia ingin mengajak bundanya untuk pulang. Bunda Aisha masih asyik mengobrol dengan alira membicarakan desain baju yang Aisha inginkan. alira berusaha memahami seperti apa yang di inginkan dari istri sang dokter azzam itu.
" Baik ustadzah alira tolong buatkan sesuai yang aku inginkan ya " pinta Aisha karena Ameer sudah mendekati nya tanda ia ingin mengajak bundanya Aisha untuk pulang.
" insyaallah Bu Aisha saya akan coba untuk membuat kan untuk anda" ucap Alira ia menyalami Aisha yang pamit untuk pulang.
Aisha bersama Ameer menemui dokter Azzam mereka akan pulang bersama dengan satu mobil. di sana dokter azzam masih mengobrol dengan ustadz barra, juga yang lainnya ustadz Ilyas dan Zaky. Ammar menunggu dengan berdiri saja melihat para anak-anak pondok yang berlalu lalang kesana kemari.
" Khansa ayo nak nanti keburu malam mana Khalid". tanya alira mencari keberadaan Khalid.
" iya umi sebentar".
" Mahya aku duluan ya umi ku sudah memanggil". Mahya mengangguk mengizinkan Khansa pergi.
" ayo Hafsah cepetan keburu malam".
" Dokter perkenalkan ini istri saya dan ini anak perempuan saya Khansa." alira dan Khansa menangkupkan tangannya di depan dada.
" oh ustadz punya anak gadis". ucap dokter azzam pikirannya sudah mengarah ke sana.
" Alhamdulillah dokter baru saja masuk kuliah".
Dokter azzam adalah salah satu donatur untuk pondok pesantren ini, suatu kehormatan mereka di undang untuk menghadiri pengajian di ponpes.
" Ini istri saya dan ini kedua anak saya ". Ammar dan Ameer menunduk memberikan hormat.
Hafsah terkejut melihat wajah yang sama, Khansa hanya melirik sebentar dan ia kembali menunduk. Ammar sikapnya yang dingin tak peduli dengan pembicaraan tetua sedangkan Ameer yang mempunyai sikap ramah tamah ia selalu tersenyum kepada semua. mungkin bawaan juga sebagai seorang dokter agar pasiennya tak takut melihat dirinya.
" mbak ternyata dia kembar ". ucap Hafsah menyenggol lengan Khansa, khansa hanya terkekeh saja.
__ADS_1
' pantas saja tadi ia bingung'. batin Hafsah.
" Maaf ustadz saya harus pamit dulu sudah malam terima kasih atas undangan nya kami senang."
" ya dokter kami juga merasa sangat terhormat dokter bisa datang".. keduanya berjabat tangan dan memeluk sebentar begitu juga dengan alira dan Aisha.
" yang satu serem mbak yang satu kelihatan nya ramah".
" astaghfirullah hal adzim Hafsah tundukkan pandangan mu".
" dikit mba, Hafsah terkejut saja ternyata kembar ".
" makanya hafsah jangan menilai orang langsung negatif jadinya kamu salah orang kan". Hafsah lalu nyengir ia tertawa atas kebodohan nya.
Dokter azzam pun pamit untuk pulang, Ameer yang selalu saja mengendarai mobil nya. Ammar duduk di depan sedangkan azzam dan Aisha duduk di belakang. anak perempuan nya tidak ikut ia di rumah bersama Oma karena banyak tugas yang harus ia selesaikan.
" ustadz Barra ternyata punya anak gadis ya Bun". Azzam membuka pembicaraan kepada istrinya.
" bunda juga baru tau ayah, anaknya cantik".
Obrolan berlangsung di mobil membicarakan soal segalanya dan selalu berakhir dengan menyindir Ammar yang memang sudah cukup umur nya untuk menikah. namun Ammar enggan ia masih senang mengembangkan bisnisnya. sejak kecil jiwanya adalah bisnis. Berbeda dengan Ameer perasaan nya yang begitu tersentuh ia lebih suka menjadi dokter seperti ayahnya.
__
" sayang capek". tanya Barra yang tak pernah hilang dengan sikap romantisnya.
" iya mas sedikit tak apa kok alira langsung istirahat saja". ucap Alira ia mulai naik ke ranjang setelah sebelumnya berwudhu.
Barra menarik kaki alira di letakkan nya di pangkuan barra ingin memijit nya. ia tau jika istri nya begitu lelah siang tadi di butik cukup ramai dan ia mengurus pesanan yang cukup banyak.
" mas tak usah alira istirahat saja." selalu begitu saja alira menolak ia merasa tidak enak kepada suaminya yang selalu mengistimewakan dirinya padahal ia tau jika Barra juga lelah. aktivitas nya lebih padat dari pada Alira.
" tak apa sayang biarkan aku juga meraih pahala atasmu, ".
" tapi mas, kamu lebih lelah dari pada aku".
" tidur lah mas ingin memijat kakimu ini perintah jangan dibantah ". jika Barra sudha mengatakan perintah alira sudah tak bisa lagi mengelak.
__
__ADS_1
Matahari mulai tersenyum menampakkan sinarnya, Khansa sudha siap dengan tas yang ada di bahunya tak lupa juga buku ditenteng di tangan.
" bagaimana kuliah di sana nak". tanya Barra melihat anak perempuan nampak menikmati perannya sebagai mahasiswi baru.
" Alhamdulillah Abi aman".
" aman gimana maksudnya". tanya barra heran dengan anak sekarang di tanya apa jawabnya apa.
" iya Abi aman, Khansa bisa mengikuti dengan mudah."
" syukurlah nak apapun yang kamu kerjakan bersungguh-sungguh lah tak ada keberhasilan tanpa adanya kerja keras. tapi tetap pondasi kita itu agama Allah ya". Barra selalu menasehati untuk anak perempuan yang kini memasuki dewasa
" iya Abi insyaallah Khansa tak lupa ".
" Mbak nanti ajarin Khalid ya mbak, nampaknya aku tak bisa dengan soal ini susah". ucap Khalid yang mulai menuangkan nasi goreng buatan uminya untuk sarapan.
" kalau minta di ajarin itu perhatikan caranya Khalid jangan mbak yang nyelesaiin kamu ngga akan bisa-bisa kalau begini terus". kata khansa mulai memasukkan satu suap nasi goreng ke dalam mulutnya.
" iya ya mbak maaf nanti Khalid belajar sungguh-sungguh, Khalid mau sekolah di Kairo bisa gantiin Abi di pesantren". ucap Khalid memang dia sangat menyukai dunia Abi nya apalagi sering berinteraksi dengan orang lain sesuai dengan Khalid yang lebih cerewet dari pada Khansa.
" Alhamdulillah kalau kamu sudah punya cita-cita mulia Khalid, Abi senang karena memang kamu satu-satunya harapan Abi". kata Barra ia tersenyum menatap istrinya yang baru saja duduk. senyum terukir menyambut paginya dengan bahagia.
" sayang nanti ke butik tidak." tanya Barra.
" tidak mas, alira mau selesaikan pesanan desain punya Bu Aisha". ucap Alira menuangkan juz jeruk hangat untuk barra.
" Bu Aisha istrinya dokter Azzam ".
" iya mas semalam ia sudah bicara sama alira ".
" ya sudah mas nanti ada jadwal ceramah di desa Abah mau nitip apa".
" ajak aki sama Nini ke sini Abi Khansa kangen."
" iya Abi, ajak Aki ya bi". ucap Khalid ia yang paling senang jika sama akinya.
" ya nanti kalau mau aki sama Nini Abi ajak". semuanya tersenyum bukan mereka tak pernah ke desa tapi rindu saja.
Semua berpamitan tak lupa Salim dengan takzim, barra yang sudah di tunggu Fauzan dan Ratih. Khalid dengan sepeda nya dan Khansa dengan motor maticnya.
__ADS_1
__
bersambung