
Ameer sulit sekali dia tidur pikirannya masih memikirkan Khansa, keluarganya yang ke sana untuk mengkhitbah Khansa untuk kakaknya Umar. Rasa sesak di dada kini kembali muncul ia membuka selimutnya di ambilnya handphone Ameer ia memandang Khansa foto yang ia curi saat di kampus. pupus sudah harapan Ameer lalu Ameer bergegas untuk memasukkan pakaian nya. seperti nya ia ingin cepat mulai kuliah pergi ke Amerika.
" ya Allah kenapa aku begini, wajar kan jika bunda mengkhitbah Khansa. aku yang bodoh kenapa tak mengatakan kepada bunda sebelumnya." ucap Ameer seorang diri.
kembali ia berusaha untuk tidur lagi memejamkan matanya agar bisa melupakan sejenak lagi tentang Khansa.
__
Lanjut dengan perbincangan tentang pernikahan Khansa dan Ammar. Memang hal yang baik harus di segerakan tak boleh lama-lama.
" Maaf ustadz sebaiknya kita bicarakan langsung soal pernikahan keduanya tak baik juga jika berlarut lama." ucap Aisha dengan berani.
" bunda Khansa masih sekolah kenapa tidak di tunda sampai dia lulus". ucap Ammar berusaha mengelak.
" tidak bisa nak khitbah itu jaraknya jika bisa tak lebih dari tiga bulan". ucap Aisha.
" Betul yang di katakan ibu Aisha kalau saya memang tak ingin lama-lama agar tidak terjadi fitnah". ucap Barra.
" bagaimana jika bulan depan Ustadz, ". Ammar hanya garuk-garuk kepala meski dia mengelak bagaimana pun tetap saja tak bisa menolak keputusan bundanya.
" Bulan depan". ucap ustadz Barra terkejut baginya memang terlalu cepat.
" Karena adeknya Ameer akan pergi ke Amerika untuk melanjutkan pendidikan nya, saya berharap mereka menikah sebelum Ameer pergi". ucap Aisha ingin Ameer juga merasakan kebahagiaan sang kakak. tapi kenyataan sebenarnya tidak, justru Ameer hancur.
" Khalid juga akan ke Kairo mas, benar yang di katakan Bu Aisha lebih cepat lebih baik dan ketika Khansa menikah Khalid masih di rumah." ucap Alira juga memiliki pemikiran yang sama.
" Baiklah jika memang itu yang terbaik untuk semuanya kita langsung bahas saja kapan pernikahan akan di laksanakan". ucap barra kemudian.
" Ameer akan berangkat pertengahan bulan." ucap Aisha.
" Khalid akan berangkat sekitar tanggal 10". ucap Alira menghitung.
" Berarti pernikahan di laksanakan pada tanggal 5 ". ucap azzam kemudian.
__ADS_1
Semuanya akhirnya sepakat jika pernikahan akan segera di laksanakan. Khansa tersenyum malu ia tetap menunduk tak berani menatap Ammar berbeda dengan Ammar justru ingin menatap Khansa ingin memastikan apa benar dia calon istrinya.
Karena waktu sudah siang mereka pun pamit, Aisha merasa lega karena keinginan nya sebentar lagi akan terwujud berbesanan dengan ustadz Barra. Ia mendambakan sosok Khansa yang saliha.
" cie yang mau menikah". goda Khalid kepada Khansa.
" apaan sih". khansa malu
" sudah waktunya Khalid mbakmu juga sudah cukup umurnya 22 tahun".
" masih muda banget itu Nini." ucap Khalid.
" tak apa, umi mu saja menikah 19 tahun kalau sudah datang jodohnya jangan lama-lama ". ucap Nini .
" Khalid boleh menikah sekarang ". ucap Khalid, semua melotot ke arah Khalid ingin rasanya menjitak kepala Khalid.
" Menikah itu tak hanya sekedar mengucapkan ijab kabul Khalid, sebagai seorang laki-laki harus punya persiapan yang matang. Jangan sampai kita menikah justru menyusahkan orang tua atau membuat sedih istri kita. Setelah ijab kabul terucap tanggung jawab kamu akan besar, istrimu bukan tanggung jawab orang tua nya lagi tapi sudah di limpahkan ke kamu. Dulu emang umi mu Abi nikahi baru lulus SMA tapi kan perempuan, kalau Abi sudah berumur. Abi juga sudah punya persiapan untuk menikah sedangkan kamu buang ingus saja belum bersih." semuanya tertawa.
" kok umi dulu mau nikah sama bujang tua." tanya Khalid kemudian. barra mendelik di katakan bujang tua.
" Abi belum terlalu tua saat itu umimu saja yang masih sangat muda ". alira tertawa melihat Barra yang sedikit tak terima di katakan tua.
" Karena umi yakin, Abi mu bisa membuat umi bahagia. betul kan sekarang umi punya kamu dan mbak mu, umi sangat bahagia nak". semua tersenyum.
" sudah-sudah kamu harus fokus dulu sama belajar mu sampai lulus, Abi mau liat bagaimana kamu jadi seorang ustadz Khalid ".
" iya Abi insyaallah Khalid akan belajar sungguh-sungguh. "
Khansa masuk ke dalam kamar untuk mengatur debar jantungnya yang berdegup kencang sejak tadi. apalagi saat Ammar mengatakan khitbah untuk nya kenapa perasaan itu langsung tumbuh. itulah sinyal jodoh tak perlu lama langsung merasa cocok.
Ammar langsung masuk juga ke dalam kamar ia masih merasa bingung dengan kejadian hari ini. menikah itu hal ngeri yang terdengar di telinga Ammar.
" secepat ini kah aku akan menikah ya Allah aku tidak mencintai nya". gumam Ammar.
__ADS_1
Ammar lalu tidur ia pusing memikirkan soal pernikahan, perjodohan yang sulit ia hindari apalagi ini bundanya yang meminta.
Ameer seharian tak keluar dari kamar ia tak ingin mendengar keputusan keluarga Khansa. ia yakin keluarga Khansa pasti akan menerima khitbah dari ayah dan bundanya. Ameer sibuk dengan gawainya ia menghubungi temannya yang ada di Amerika untuk mencarikan tempat kos di sana. Ameer ingin rasanya segera pergi agar tak melihat acara sakral Khansa dan Ammar.
" nak ". Aisha mengetuk pintu kamar Ameer yang memang tadi dia kunci.
" iya bunda sebentar." ucap Ameer lalu beranjak dari ranjang.
" apa kamu sakit kata bibik sejak tadi kamu ngga keluar kamar." tanya bunda.
" ngga bunda Ameer lelah saja semalam banyak pasien." bunda lalu mengusap kepala Ameer. Ameer lalu berbaring meletakkan kepalanya di pangkuan bundanya.
" jangan terlalu di forsir nak, kenapa kamu belum resign nak istirahat lah tinggal satu bulan lagi kan kamu berangkat".
" Ameer mau berangkat dua Minggu lagi bunda mau cari tempat kos dulu."
" Kalau tempat di sana kamu ngga perlu khawatir ayahmu bisa mencarikannya di sana banyak teman ayah." ucap Aisha.
" Ameer sudah minta bantuan sama teman Ameer di sana juga bunda, dan niatnya tanggal satu mau berangkat ke sana ".
" berangkat lah setelah tanggal 5 nak kuliah kamu juga belum mulai kan. Apa kamu tak ingin lihat kakakmu Ammar menikah dulu tak akan lengkap jika tak ada kamu." ucap Aisha.
" Ameer bisa mendoakan nya dari sana saja bunda."
" jangan tunggu lah kakak mu menikah dulu, dia tak akan menikah jika tak ada kamu. kamu tau kan bagaimana kakak mu." ucap Aisha.
" tapi bunda."
" demi Ammar nak dia pasti tak ingin bahagia sendiri, jangan berangkat dulu bunda tak akan ridho jika kamu pergi lebih dulu sebelum menyaksikan kakakmu Ammar menikah."
" Baiklah bunda." Ameer memejamkan matanya rasanya hatinya sakit tanpa seorang pun yang tau.
bersambung
__ADS_1