Cinta Untuk Khansa

Cinta Untuk Khansa
Part 23. Ammar luruh


__ADS_3

Ammar izin kepada bundanya jika pulang malam, jelas Ammar menghindari jika Bunda nya bertanya sudah ada calon istri yang mau di khitbah apa belum. memang siasat bunda ini bagus, akhirnya sampai juga di penghujung hari. Ammar pulang selepas isya semuanya masih berkumpul di ruang keluarga menonton televisi sembari mengobrol. Ammar masuk langsung naik ke atas, jas sudah ada di tangannya.


" sampai malam Ammar pulangnya nak" tanya bunda.


" iya bun ada pekerjaan yang harus di lembur, Ammar ke atas ya Bun capek". Ammar langsung saja berlari kecil untuk sampai ke kamarnya.


" Jangan terlalu memaksa bunda kasihan dia sudah lelah bunda paksa untuk cari istri". ucap azzam merasa kasihan dengan Ammar.


" Ammar itu memang harus di paksa mas, kalau tidak ia akan abai kerja terus. bunda capek liatnya". Azzam sudah tak berani lagi menjawab. Aisha tetap kekeh dengan keinginan nya.


" memang kak Ammar sejak dulu kan begitu yah, gila kerja. kalau tak di ingatkan pun ia lupa makan". kata Ameer lalu.


" memang iya sikapnya dingin jika dengan orang lain, kalian ini sifatnya sangat bertolak belakang."


" meskipun kembar juga tak sama mas, kalau sama bagaimana coba. Bunda tau kalau Ammar sekarang ini masih menghindari bunda terus tapi bunda tak mau hilang kesempatan mumpung Ammar sudah berjanji sama bunda." kata Aisha tetap pada pendiriannya.


Ammar mandi di bawah shower cukup lama, entah kenapa soal pekerjaan tak membuat nya lebih pening dari soal jodoh. bahkan bisa di bilang kali ini Ammar stress, memikirkan apa yang harus ia katakan pada bundanya. bahkan doa yang ia lantunkan pun tak ada jawaban atau kemantapan hati meski lewat mimpi.


Di ambilnya sajadah hanya ini yang ia bisa lakukan meminta pertolongan kepadaNya. Ammar sudah sholat isya tadi tapi ia kini shalat taubat, lalu di raihnya Al Qur'an untuk kemudian ia baca agar hatinya lebih tenang.


Bundanya ingin masuk menemui Ammar tapi tak jadi mendengar Ammar sedang mengaji lalu bunda turun ke bawah lagi. Tak terasa hingga dua juz ia baca setelah merasa hatinya tenang Ammar lalu tidur.


Di dalam tidur nya seakan bundanya menautkan kedua tangan nya untuk seorang gadis, tapi tidak terlihat siapa gadis dalam mimpi Ammar. semua orang tersenyum bahagia, Ammar genggam tangan gadis itu kuat lalu ia bawa wanita itu menghadap seorang laki-laki dan wajahnya pun samar tak terlihat.


Ammar lalu terbangun ia baca istighfar beberapa kali, lalu ia ambil air wudhu untuk melakukan shalat malam.


" ya Allah jika wanita yang ingin bunda tautkan kepada Ammar baik menurut Mu permudah lah jalan kami". singkat malam ini doa Ammar lalu ia tidur kembali hingga pagi.


Terdengar suara adzan subuh Ammar membuka matanya ia menggeliat, bergegas ia masuk ke kamar mandi lalu ke masjid. Di lihatnya bundanya yang sedang memasak air untuk membuat kopi, jika pulang dari masjid biasanya azzam minum kopi. jadi sebelum shalat subuh Aisha membuatkan nya agar jika azzam pulang kopi itu tak terlalu panas.

__ADS_1


Pagi hari, ini hari libur momen yang sangat cocok untuk Aisha menanyakan keinginan nya kepada Ammar. Ammar sudah pasrah dengan keputusan bunda nya, ia turun untuk sarapan pagi setelah tadi olahraga lari pagi. Ammar hanya diam menatap bunda nya pun ia tak sanggup, ia hanya fokus untuk sarapan nasi goreng kesukaan nya.


" makan dulu bicaranya nanti". ucap azzam ia tau jika Aisha ingin membuka omongan.


" ayah, azkiya mau sekolah di madrasah saja ya " ucap azkiya ia mau di sekolah yang notabene nya sekolah agama.


" iya di manapun sekolah itu sama".


" tidak dong ayah, di madrasah ada nilai plusnya. azkiya mau belajar agama." ucap azkiya .


" oke ayah izinkan yang penting kamu fokus untuk belajar." azkiya mengangguk.


Momen sarapan selesai, Ameer pun baru pulang dinas malam ia langsung duduk ikut sarapan juga. Ameer melahap roti berisi selai kacang, dengan segelas susu di rumah sakit ia tak sempat sarapan. biasanya Ameer akan pulang sudah sarapan pagi.


" nak bagaimana ini tepat satu minggu". ucap Aisha datar. diam... Ammar bukan tak mendengar tapi ragu untuk menjawab.


" umi hanya menagih janji mu nak". ucap Aisha lagi.


" Bunda mau kamu tetap jadi sosok yang bertanggung jawab. tak hanya sebagai anak tertua di keluarga ini, bunda hanya ingin kamu bahagia. mungkin kali ini dalam pikiran mu bunda memaksa mu untuk mengikuti kemauan bunda. tapi kamu taukan jika seorang orang tua hanya ingin kebahagiaan anaknya. bunda tak mau kamu larut hanya dengan pekerjaan mu saja, pekerjaan itu memang penting tapi menikah jauh lebih penting. Merupakan sunah rasul juga, lengkapi separuh agamamu dengan menggapai pahala dengan pernikahan." ucap Aisha panjang lebar.


" Tak ada yang bisa Ammar berikan untuk kebahagiaan bunda, bahkan uang Ammar pun tak bisa menggantikan nya. Ammar mau dengan wanita pilihan Bunda ". ucap Ammar mantap dengan keputusan nya.


" Alhamdulillah ". ucap bunda dan ayah.


" terima kasih nak, bunda tak mau apapun dari kamu. bunda hanya ingin melihat kamu menikah insyaallah dia wanita yang saliha nak semoga Allah menuntun untuk menjodohkan kalian." kata Aisyah.


" aamiin ". ucap semuanya.


" oke karena kamu sudah mau dengan pilihan bunda kita ke sana hari ini juga." ucap Aisha.

__ADS_1


" harus hari ini bunda kenapa tak nanti saja." ucap Ammar yang masih tak siap.


" mau kapan mumpung kamu libur kita ke sana berniat mengkhitbah gadis saliha itu." ucap bunda.


" tapi bunda Ammar hanya baru mengatakan mau tapi juga ngga harus hari ini bunda".


" niat baik tak boleh di tunda sayang, kita ke sana sebelum ada orang lain yang mengkhitbah nya lebih dulu." ucap Aisha yakin dengan keputusannya.


" Bunda ini becandanya jangan kelewatan bunda. bunda tau kan jika menikah itu tak semudah membalikkan telapak tangan. harus ta'aruf dulu, mengenal satu sama lain. gimana kalau Ammar atau si gadis itu tidak cocok." kata Ammar terus berusaha menolak.


" bunda yakin kalian ini berjodoh ".


" atas dasar apa bunda seyakin itu". tanya Ammar lagi.


" atas doa bunda setiap hari, doa seorang ibu pasti di ijabah." kata Aisha penuh dengan keyakinan.


Tak ada yang berani menengahi perdebatan antara ibu dan anak, semua diam. melihat Ammar yang terus menolak dan bunda yang kekeh.


" Bunda selalu mengikuti setiap apa yang kamu mau nak, bahkan bidang apa yang kamu sukai. Tak pernah sekalipun bunda menolak keinginan kalian anak-anak bunda. Kali ini bunda hanya mau kamu menikah, bunda pun tidak memaksa jika memang kamu punya pilihan. Tapi sampai saat ini belum ada kan. Bunda tak akan minta apa-apa lagi setelah ini, terimalah pilihan bunda nak". ucap bunda yang memang menusuk di hati Ammar ya memang selama ini bundanya mengikuti semua keinginan anaknya.


" maaf bunda, iya Ammar mau siapapun pilihan bunda." akhirnya Ammar pasrah luruh.


" bunda memang siapa calon yang ingin bunda jodohkan dengan kak Ammar." tanya azkiya yang penasaran.


" Khansa anak ustadz Barra ". ucap Aisha.


Jeddaaarrrrr....


__

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2