Cinta Untuk Khansa

Cinta Untuk Khansa
Part 59. Sah


__ADS_3

Semua keluarga sudah berkumpul di ruang kerja dokter Azzam, keluarga inti dan ada juga kepala kampung sebagai saksi pernikahan Ameer dan Khansa. Acara khidmat ini meski tak ada gaun atau baju paling bagus milik Ameer. Saat itu Khansa hanya memakai gamis seadanya dan Ameer dengan baju Koko nya.


Ketegangan di rasakan oleh Ameer karena ini untuk pertama kalinya ia akan menikah, mengucapkan ijab kabul untuk orang yang ia cintai. Dari awal bukan ini tujuannya, tidak menikah bukan berniat untuk menikahi Khansa tapi ia belum bisa menerima wanita lain. Surat menyurat akan di di lengkapi nanti setelah urusan akad ini selesai, karena mendadak pak penghulu belum bisa membuat kannya.


" aku yakin Khansa almarhum suamimu akan bahagia jika yang menjaga kamu dan Gaza adalah kak Ameer." ucap Mahya.


" doakan aku Mahya bisa menjalani ini semua dengan baik."


" pasti Khansa, aku sungguh sangat bahagia ". Ucap Mahya merengkuh jemari tangan sahabatnya itu.


" Jangan lekat-lekat lihatnya, itu zina mata loh". Ucap Fauzan menyenggol lengan Fahri yang sejak tadi penglihatannya memindai pergerakan Mahya.


" Abi liat dikit aja bi, cepat Abi khitbahkan ya".


" sabar tunggu setelah ini". Ucap Fauzan , Fahri hanya nyengir saja.


" Nak Ameer sudah siap." ucap bapak penghulu yang sudah duduk di depan Ameer bersama Barra.


" insyaallah pak."


" mari ustadz Barra." ucap bapak penghulu.


Flashback on


Barra terkejut ketika Aisha memberikan tulisan tangan Ameer kepadanya, pernyataan cinta Ameer terhadap Khansa sebelum Aisha mengkhitbah khansa. Di dalam isi surat itu tertera tanggal kapan Ameer menulisnya.


" astaghfirullah hal adzim jadi Ameer mencintai Khansa sebelumnya". Ucap ustadz barra terkejut.


" saya juga baru tau ini ustadz ". Ucap azzam.


" lalu bagaimana ini apakah kita akan menyatukan mereka ".


" saya tak berani mengambil keputusan ustadz hanya saja melihat kejadian hari ini tentang Gaza. Gaza sangat berharap jika Ameer itu ayahnya". Ucap Aisha .


" sebenarnya saya ingin mengatakan nya tapi jujur saya tak berani Bu, memang akan lebih baik jika Ameer bersedia menikah dengan Khansa terlebih Gaza yang sangat membutuhkan nya. apa dokter azzam dan Bu Aisha setuju menikahkan mereka ". Tanya barra langsung.


*" Dari pihak Ameer saya setuju ustadz karena Ameer ternyata mencintai Khansa dan ia juga sangat menyayangi Gaza ". *


" ya sudah kalau begitu kita memang harus ikut campur tangan karena aku yakin Ameer tak berani mengatakan nya". Ucap Barra tersenyum ia senang.


Dan pada akhirnya setelah diskusi panjang lebar para tetua memanggil Ameer dan Khansa.


Flashback off


Barra menjabat tangan Ameer yang cukup dingin setelah kehujanan juga rasa gugup. Keringat dingin pun bercucuran dari pelipis Ameer, ia menarik nafas dalam sembari berdoa di dalam hati.

__ADS_1


" Saudara Ameer saya nikahkan putri saya Khansa aurelia Ar Rasyid binti Barra Ar Rasyid denganmu Muhammad Ameer bin Muhammad azzam dengan maskawin cincin berlian 25 karat dan uang tunai 500juta di bayar tunai ". Ucap Barra sembari menghentak kan tangan Ameer.


" saya terima nikahnya Khansa Aurelia Ar Rasyid binti Barra Ar Rasyid dengan mas kawin tersebut di bayar tunai". satu tarikan nafas Ameer mampu untuk melafalkan tanpa terputus.


" bagaimana saksi".


" Sah..." ucap kedua saksi semua terlihat bahagia, Aisha pun menitikkan air mata hanya alira yang tak ikut karena ia menemani Gaza.


" Alhamdulillah..." Ameer dan khansa pun menitikkan air mata.


Doa untuk kedua pengantin pun di lafalkan oleh bapak penghulu kini Ameer meletakkan tangannya di atas kepala Khansa ia membacakan doa untuk keberkahan Khansa yang kini sudah sah menjadi istri nya. Khansa pun meraih tangan Ameer yang masih dingin ia mencium punggung tangan Ameer dengan ikhlas.


Memang tak ada kue apalagi makanan yang tersaji, Ameer pun memeluk azzam Bunda nya Aisha juga ustadz Barra dan yang lainnya.


" ku serahkan kini tanggung jawab Khansa dan Gaza padamu nak, jaga dia sebagaimana Abi menjaga dan menyayangi nya. Abi percaya padamu nak". ucap Barra tak bisa menahan haru.


" iya Abi insyaallah, Ameer akan menjaga keduanya selalu."


Setelah selesai Ameer dan Khansa mendatangi kamar Gaza, pasti sejak tadi Gaza menanyakan keberadaan Khansa dan Ameer. Senyum tersungging dari wajah Gaza ketika melihat kedua nya bersama masuk.


" Ayah,,, " ucap Gaza lagi ia minta di peluk oleh Ameer, semua orang yang ada di sana mengusap matanya karena tangis haru.


" Sudah malem kok belum tidur sayang."


" Biar bunda ya yang bobo di sini, tak akan cukup jika ayah juga di sini. ". ucap Ameer memang brankar rumah sakit itu tak terlalu besar jika di pakai bertiga jelas tak akan cukup.


" ayah jangan pergi".


" ngga sayang, ayah ngga akan pergi lagi terus di sini menemani Gaza". Ucap Ameer tersenyum mengusap kepala Gaza.


". Ayahmu tak akan pergi lagi anak manis, sudah ada ayah sama bunda bobo istirahat besok biar sembuh ya sayang."


" iya Tante, Gaza ngga sakit kok udah sembuh kan ada ayah yang jaga Gaza. Ayah Gaza dokter loh Tante ". Ucap Gaza membuat orang tertawa.


" wah hebat ya ayah Gaza dokter,".


" iya kayak kakek, jangan Macam-macam sama Gaza bisa di suntik". Semua yang ada di sana tertawa.


" ih Tante jadi takut". Gaza menutup mulutnya tertawa.


__


Di luar fauzan mendekati abinya Mahya dengan tujuan seperti apa yang Fahri katakan tadi.


" Ustadz boleh bicara sebentar".

__ADS_1


" ya silahkan".


" sebelum nya maaf, ini atas permintaan anak saya. bolehkah kami bertanya apakah Mahya putri bapak sudah ada mengkhitbah " tanya Fauzan langsung.


" belum ustadz ada apa ."


" anak saya punya niat untuk mengkhitbah Mahya putri ustadz".


" anakmu yang mana Ustadz Fauzan." abinya Mahya hanya tau Fahri yang belum lama lulus dari Kairo itu.


" Fahri anak saya, saya menyampaikan keinginan nya untuk mengkhitbah Mahya putri ustadz". Ucap Fauzan sedikit gugup karena ayah Mahya termasuk senior di pesantren ia adalah sahabat Barra.


" Fahri dia kan baru lulus kuliah dua tahun ini, umurnya tua Mahya dong ustadz Fauzan."


" Iya kami tau dan Fahri pun juga tau, Islam tidak melarang kan jika wanita umur nya lebih tua dari laki-laki ustadz. layaknya seperti bunda Khadijah istri nabi Muhammad ".


" masyaallah iya benar ustadz Fauzan, jika memang jodoh biarkan Allah yang memberikan jalannya yang terbaik. Keputusan ini tak bisa saya ambil sendiri, nanti saya akan bicarakan kepada putri saya Mahya. Dan jika Mahya mengiyakan niat ustadz Fauzan untuk meminang mahya untuk Fahri saya akan memberi kabar langsung. Saya pun sebenarnya ingin sekali Mahya cepat menikah umurnya juga sudah cukup bahkan temannya khansa anaknya sudah empat tahun". Ucap abinya Mahya.


" terima kasih ustadz saya menunggu kabar dari ustadz ".


" baik ". Lalu mereka mengobrol sembari menunggu yang masih berada di rumah rawat inap Gaza.


" ayah sama bunda pulang dulu ya nak, mau buat syukuran kecil-kecilan di bagikan kepada tetangga".


" kami juga pulang dulu sama seperti bunda kalian buat syukuran juga ". Ucap Alira sengaja membiarkan Khansa dan Ameer berdua menunggu Khansa.


" aku juga mau pulang ngantuk Khansa ya, anak manis besok harus bisa pulang ya." ucap Mahya mencium Gaza, Gaza pun mengangguk.


Setelah semuanya pergi tinggallah Ameer dan Khansa yang menemani Gaza. Gaza masih terjaga ia tertawa senang ada Ameer sang ayah di sisinya.


" sudah malam nak ayo tidur, ayah di sini".


" ayah jangan pergi lagi". Gaza masih menyimpan kekhawatiran.


" iya sayang ngga akan ." Ameer mengusap kepala Gaza dan menciumnya.


" naiklah ke ranjang Khansa tidurlah di samping Gaza." ucap ameer, Khansa pun mengangguk.


" ayah juga cium Bunda." khansa dan Ameer terkesiap mereka masih sama-sama kaku.


" Bunda belum keramas sayang masih bau kan tadi habis kehujanan langsung ke sini." ucap ameer sembari memegang hidung nya. Gaza pun mengangguk, khansa menahan tawa bisa saja ameer membuat alibi.


___


Tinggalkan jejak ya beri hadiah lagi...

__ADS_1


__ADS_2