Cinta Untuk Khansa

Cinta Untuk Khansa
Part 45. pernikahan haris


__ADS_3

Seperti yang pernah di katakan haris jika Ameer harus datang ke pernikahan nya. Malam ini di mana resepsi pernikahan haris di gelar dengan seorang guru madrasah, Haris memang di jodohkan oleh orang tuanya. Ketika pertama kali melihat perempuan itu Haris langsung klik dan mau menerima perjodohan itu begitu juga dengan Zahra dia pun juga mau.


Ameer dan keluarganya sudah siap untuk datang menghadiri acara resepsi pernikahan haris yang di adakan di hotel milik Hamdan. Ameer memakai pakaian batik saja tak mau dia pakai jas ayahnya akhirnya pun mengikuti gaya pakaian Ameer yang sederhana.


Suasana pesta yang cukup ramai, semua kerabat saudara serta kerabat orang tuanya datang. Ameer hanya duduk saja menikmati hidangan yang sudah tersedia ia tak ingin seperti yang lain jalan ke sana ke mari. Ameer sednag menikmati kesendirian nya padahal ada juga teman dokter yang lainnya di sana.


" hai Ameer kamu juga pulang." tanya seorang wanita menghampiri nya.


" iya aku pulang". Ucap Ameer yang kini memang ia lebih banyak diam meski senyum manis terus terukir di wajahnya.


" bagaimana kuliahmu."


" Alhamdulillah baik". Jawab Ameer singkat ia masih asyik menikmati minuman dan makanannya.


" yuk gabung sama yang lainnya ke sana." ajak Salsabila.


" maaf aku di sini saja "


" ngga asiik Ameer kamu cuma sendirian." Salsabila langsung memegang pergelangan tangan Ameer untuk ikut dengannya. namun dengan kuat ameer mengibaskan tangannya ia sedikit marah karena tangannya tersentuh oleh kulit Salsabila langsung.


" eh maaf ." ucap Salsabila yang melihat raut wajah Ameer berbeda.


" Hay dokter Ameer." sapa seseorang salah satu temannya hingga membuat Ameer tak jadi marah dengan Salsabila. Salsabila pun pamit melenggang pergi ia sedikit takut.


" Dokter Athar bagaimana kabarmu sudah lulus belum." tanya ameer.


" Alhamdulillah kak sudah ".


" selamat ya." ucap Ameer.


" terima kasih kak." mereka berbincang akhirnya Ameer punya teman mengobrol juga.


Karena waktu sudah malam akhirnya ayah dan bunda pamit otomatis Ameer pun ikut pulang meski masih banyak berbagai acara di sana karna yang datang banyak muda mudi nya.


" terima kasih ya bro Sudah mau datang." ucap haris.


" sama-sama cepat beri aku keponakan."


" pasti tokcer lah." semua yang mendengar tertawa.

__ADS_1


Ameer sebagai pengendara, ayah duduk di depan dan bunda duduk di belakang. Perbincangan hangat selalu saja tak pernah surut dari mereka, kerinduan satu tahun lamanya terobati.


" nak sudah ada calon yang ingin kamu khitbah." tanya bunda.


" Ameer masih fokus dengan sekolah bunda, jangan bicarakan soal jodoh dulu.". Ucap Ameer tak ingin pembicaraan tentang jodoh berlanjut.


" umur mu hampir menginjak kepala tiga Lo nak, kakak mu ammar sudah mau punya anak. terus kamu kapan setidaknya ada wanita yang kamu ingin khitbah".


" iya bunda nanti saja ya, soal jodoh biar Ameer cari sendiri. Ameer mohon sama bunda jangan Carikan Ameer jodoh nanti kalau sudah waktunya Ameer pasti menikah ". Bunda menghela nafas sebenarnya ia ingin Ameer juga cepat menikah.


" Waktu itu kamu pernah bilang kan mau mengkhitbah seorang wanita jika kakakmu ammar sudah menikah." tanya ayah masih mengingat ucapan Ameer dulu.


" itu hanya bercanda ayah supaya kak ammar cepat menikah saja dengan pilihan bunda."


" ayah percaya padamu tapi ingat jangan sampai kamu jadi bujang tua ya tak nikah-nikah." ucap ayah.


" iya ayah doakan saja Ameer, untuk sekarang Ameer ingin fokus dulu ". Hingga mobil sampai di depan rumah.


__


Di sebuah bilik kamar sepasang suami istri yang sedang sayang-sayange mengobrol asyik. Kini Khansa dan Ammar tinggal di rumah Barra, karena alira sangat mengkhawatirkan Khansa di umur kandungan nya menginjak sembilan bulan sebentar lagi akan melahirkan. Khansa berharap ia bisa melahirkan dengan normal.


" siapa ya sayang." Ammar diam berfikir.


" kamu punya usulan nama ngga siapa,". Tanya ammar balik.


" kalau Khansa terserah mas saja, ini anak pertama Khansa mau mas yang memberinya nama."


" Gaza ". ucap ammar.


" Gaza " Khansa mengulang kalimat ammar.


" iya Gaza yang artinya pemberani kuat sayang, Adera Gaza Ar Rasyid. Gimana baguskan".


" kenapa nama akhirnya pakai nama Abi mas." tanya Khansa.


" ngga apa-apa sayang mas ngga punya nama akhir yang bagus tapi nama Abi ini bagus ngga apa-apa kan, cucu ustadz Barra. kalau nama mas cuma ammar saja ngga pantas di masukkan."


" ya sudah terserah mas saja Khansa ikut".

__ADS_1


" nanti jika anak ini lahir jangan lupa sematkan nama itu ya." Khansa mengangguk setuju.


Karena waktu sudah malam mereka pun akhirnya tertidur. Khansa dan Ammar tidur dengan saling memeluk.


Tiga hari kepulangan Ameer ia sama sekali belum bertemu Khansa karena Khansa berada dirumah Barra. Khansa belum pernah keluar rumah semenjak itu, ia hanya di rumah bersama aki dan Nini. Alira terkadang saja ada di butik untuk melihat kerja pada karyawan meski Ratih sudah mengontrol nya.


Ameer berusaha memejamkan mata tapi ia tak bisa entah kenapa hatinya merasa takut. Ia menjadi tidak tenang tapi tidak tau apa yang membuat nya tidak tenang padahal ia berada di sisi semua keluarganya. kemudian Ameer mengambil air wudhu dan ia tilawah sejenak agar hatinya lebih tenang.


_


Azkiya sibuk mencoba kebaya yang akan ia pakai untuk acara perpisahan besok. Umi alira yang mendesain nya dan menjahit dengan tangannya sendiri. Kini azkiya sedang mencobanya di rumah barra dan di antar oleh sopir saja. Saat Ameer di ajak tak mau dengan alasan capek mau istirahat.


" kak bagaimana ini sudah pas apa belum." tanya azkiya kepada Khansa yang sedang duduk memperhatikan azkiya.


" cantik adik mbak itu selalu cantik pakai apapun." ucap Khansa sembari tersenyum.


" jika ada yang belum pas katakan saja azkiya nanti umi bisa rubah sebelum kamu pakai ke acara besok." kata alira yang juga ikut melihat azkiya mencoba kebaya nya.


" seperti nya sudah pas umi memang begini badanku tipis." ucap azkiya membuat Khansa dan alira terkekeh.


" namanya juga baru lulus smp nanti juga berisi kalau sudah SMA, bagaimana pun kamu tetap cantik azkiya." ucap Khansa, azkiya pun tersenyum girang.


" Ah sudah pas ini umi, nanti kalau terlalu ketat juga tak boleh sama kak Ameer pasti tak boleh ku pakai".


" ngga perlu ketat juga kalau memang dasarnya cantik tetap cantik mau pakai pakaian apapun azkiya". Ucap Khansa memberi semangat.


" Ya sudah umi ini azkiya bawa ya berapa semuanya."


" untuk azkiya gratis anggap saja ini hadiah dari umi untuk kamu karena lulus ya."


" ah azkiya jadi ngga enak nih umi nanti di marah bunda ". Kata azkiya bingung.


" ngga azkiya juga anak umi, wajarkan ibu ngasih sesuatu untuk anaknya ". Kata alira lembut. Azkiya pun tersenyum senang.


" makasih banyak ya umi, azkiya mau langsung pamit tadi ngga boleh lama-lama keluar rumahnya. kak Khansa besok harus ikut kak ammar ya wajib ngga boleh tidak." ucap azkiya menekankan agar Khansa ikut.


" insyaallah ya dek".


Lalu azkiya pamit untuk pulang ke rumah nya, sopir sudah menunggu nya sejak tadi.

__ADS_1


__


__ADS_2