Cinta Untuk Khansa

Cinta Untuk Khansa
Part 68. rencana pulang


__ADS_3

...Hai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. QS. Al-Baqarah: 153...


...💕💕💕...


Cuaca yang mendukung tapi keadaan tidak, tempat yang cukup sempit untuk mereka memadu kasih. Kini Khansa sedang ada di dapur ia menyiapkan roti bakar untuk sang suami pulang dari masjid, sekarang sudah tidak gosong lagi.


Khansa tersenyum ketika satu gelas kopi dan roti bakar sudah tersaji di meja makan. Menunggu sang suami pulang kembali ke rumah dinas dan ini adalah terakhir kalinya akan mereka tempati.


Suara pintu terbuka dari luar, Khansa sedang mencuci teflon membersihkan semua alat yang ada di dapur, hari ini ia akan meninggalkan ruangan itu. Khansa bersihkan karena memang tak terlalu kotor selama di sana mereka sering membeli makanan dari luar saja.


" Alhamdulillah sudah tersaji, terimakasih ya sayang." ucap Ameer lalu menutup mulutnya, seakan ia terlalu lancang mengucapkan kata sayang secepat ini. Pernikahan mereka berjalan baru satu minggu saja belum lama.


Khansa terkekeh melihat reaksi Ameer kala itu, tapi ia suka panggilan sayang itu tersemat lagi untuk dirinya.


" Di makan dulu yuk kak, mumpung masih hangat". Khansa lalu duduk di sisi Ameer.


" Gaza belum bangun." tanya Ameer kemudian.


" belum ia mungkin kelelahan karena kemarin ". Khansa memotong roti yang ada di piring supaya lebih mudah Ameer makan. Ameer melihatnya dengan penglihatan yang mematikan.


" Kak ayo makan jangan liatin Khansa begitu." Khansa sadar jika Ameer memperhatikan nya sejak tadi.


" Halal tak apa sekarang aku liatin terus, dari pada liat istri orang kan." Khansa menghentikan kegiatan nya.


" emang masih punya rencana mau liat wanita lain kak".


" sudah cukup kamu saja Khansa, sudah ngga ada lagi wanita lain yang bisa memporak-porandakan hatiku. Hatiku hanya luluh oleh Khansa seorang."


" gombal kak... ". Khansa mendorong dada Ameer mereka berdua tertawa.


" kita mau pulang jam berapa kak."


" tunggu Gaza bangun saja, kasihan dia pasti capek banget. Apa kamu tak capek hemmm...". Ameer menyuap kan satu potong roti bakar ke dalam mulut Khansa.


" capek sih iya, tapi semalam sudah ada yang pijitin kaki Khansa sudah terasa lebih baikan kak". Khansa tersenyum dengan pelan ia mengunyah roti bakarnya.


" Sayangnya kakak dokter bukan tukang pijit".


" tapi beneran kok enakan, ini Khansa sudah ngga sakit lagi tumitnya ".

__ADS_1


" syukurlah kalau begitu, kita pulang siang aja ya biar badan lebih fit." Khansa mengangguk setuju.


Mereka berdua berjalan di depan televisi duduk sejenak menunggu Gaza bangun, perlengkapan untuk di bawa pulang sudah mereka siapkan. Khansa duduk di sisi Ameer lalu menyalakan televisi.


" Kak setelah pulang dari sini kita ke makam mas ammar ya, boleh." ucap Khansa hati-hati takut Ameer tak setuju.


" iya nanti kita ke sana, aku juga berniat untuk mengunjungi makam kak ammar". Ucap Ameer lalu menarik Khansa dalam pelukannya, kesempatan mumpung Gaza belum bangun wkwkwkwk.


" Pakai sampo apa sih harum banget." alibi mulai inih Ameer.


" Rejoice yang hijab kak biar tetep dingin jika pakai jilbab ". Ameer memainkan rambut khansa lalu sesekali mencium nya.


" Di Jakarta kakak kerja di rumah sakit mana." tanya Khansa.


" rumah sakit harapan tempat kamu juga bekerja, ayah memintaku ke sana dokter yang lama pensiun karena sudah terlalu tua." ucap Ameer tetap pada posisinya memeluk Khansa dari belakang.


" Jadi kita satu rumah sakit kak nanti".


" iya memang kenapa kamu tak suka."


" bukan gitu takut ngga fokus bekerja saja". Ucap Khansa.


" eh iya ya, aku saja yang berpikiran nggak-nggak ". Khansa terkekeh.


" emang mikirin apa."


" ngga apa-apa".


" ayo katakan jadi bisul loh nanti".


" ah ngga kok cuma Khansa saja yang terlalu baper". Ameer lalu mencubit hidung Khansa mereka berbincang hingga Gaza bangun dari tidur nya dan yang pasti akan nyempil antara ayah dan bundanya.


___


Mahya masih menyiapkan pernikahan nya dengan Fahri, sungguh terlihat bahagia tak peduli lagi dia di katakan menikah sama brondong toh sudah takdir untuk nya menerima Fahri. begitu juga dengan Fahri ia yang memang meminta mahya menjadi istrinya terlebih dahulu.


Dua hari lagi pernikahan itu akan berlangsung, niat hati mau satu bulan lagi tapi malah di ajukan oleh pihak Mahya. Karena sang nenek yang menginginkan nya, keluarga Fahri pun tak keberatan lebih cepat lebih baik.


" Bagaimana gaun pernikahan nya sudah siap semuanya." tanya umi takut jika belum jadi.

__ADS_1


" insyaallah umi, tadi Mahya sudah menghubungi umi alira katanya tinggal sedikit lagi". ucap Mahya yang sedang merapikan pakaian nya di lemari.


" syukurlah kalau begitu, umi takut pas hari h malah belum jadi."


" jangan khawatir umi jika sudah di pegang oleh umi alira, desain nya bagus syar'i dan selalu tepat waktu besok Mahya tinggal pakai saja." ujar Mahya meyakinkan ibunya.


" iya umi si percaya sama ustadzah dia selalu tepat waktu".


Mahya melihat beberapa pakaian yang baru ia beli, sprei baru dan banyak yang juga serba baru. agar nyaman saat suaminya berada di sampingnya.


" Khansa pasti belum tau jika pernikahan ku di ajukan, biarin aja buat kejutan buat dia pasti nanti dai cepat pulang juag." gumam Mahya dalam kamarnya sendiri.


Khalid berkunjung ke rumah fahri ia di beri tau oleh Abi Barra jika Fahri akan menikah. Khalid pun senang mendengar jika calon istrinya adalah Mahya kerabat terdekat nya juga.


" Masyaallah ustadz Khalid bagaimana kabarnya, maaf aku belum sempat berkunjung ke rumah mu".


" Alhamdulillah baik maklum kamu masih sibuk dengan pernikahan mu sampai lupa tak kabari aku kak". Ucap Khalid meninju pelan dada Fahri.


" karena kamu aku tau sudah pulang makanya aku tak telepon kamu, pasti sudah tau kabar dari abimu kan". Ujar Fahri mengajak Khalid untuk duduk.


" Untung saja aku belum berangkat lagi ke Kairo, jika tidak aku tak bisa melihat pernikahan mu kak."


" kamu mau ke Kairo lagi." tanya Fahri cukup kaget.


" iya mau lanjut S2 mumpung aku masih semangat dan belum menikah, kalau sudah menikah makin ribet".


" eh jangan bilang begitu Khalid, menikah itu banyak pahalanya loh".


" iya yang pasti dengan pahala sabar, itu aku belum bisa aku masih ingin Lanjutin kuliahku kak. sebagai laki-laki aku harus lebih dari istriku nanti." ucap Fahri geleng-geleng kepala begitulah Khalid sejak dulu.


" yang penting kamu sungguh-sungguh kuliahnya jika memang sudah tak tahan pada gadis langsung nikahin." ucap Fahri.


" jadi selama ini kak Fahri tak tahan sama mbak Mahya." tanya Khalid dan Fahri tertawa.


" aku suka pesonanya dari dulu tak rugilah aku berdoa memaksa Allah menjadikan dia jodohku".


" ya Allah kak ternyata kamu diam-diam lebih menghanyutkan kan ya." mereka saling tertawa.


Mereka mengobrol dengan canda dan tawa mengingat kebersamaan nya di Kairo. Khalid benar-benar sudah kekeh untuk tetap melanjutkan S2 nya, ngga tau juga bagaimana nasib Aulia nanti ia juga belum tau atas khitbah Khalid atas dirinya.

__ADS_1


___


__ADS_2