
Barra mengantar emak ke rumah terlebih dahulu karena ia akan langsung menuju pesantren. hari ini alira ada rumah untuk menyelesaikan desain untuk baju Aisha. alira memang tak banyak bertanya untuk acara apa gaun itu ia hanya mendengar penjelasan dengan seksama tentang baju yang di inginkan customer nya.
" assalamu'alaikum". ucap Bilal, sedangkan Fauzan menurunkan bawaan emak.
" wa'alaikumsalam". alira yang mendengar salam Suaminya langsung menghampiri barra. alangkah senangnya saat ia melihat emak datang alira Salim dulu kepada barra lalu memeluk emak.
" sehat Mak."
" Alhamdulillah sehat masih cantik juga". semua terkekeh emak memang tak mau di katakan tua.
" kamu sehat kan alira".
" Alhamdulillah sehat Mak". jawab alira.
" masih cantik juga Mak". celetuk Barra sembari terkekeh.
" iyalah emaknya aja masih cantik begini apalagi anaknya, eh tapi masih cantikan emaknya." semua tertawa begitulah emak selalu memecah suasana.
" udah yuk ah Mak masuk pasti capek kan Mak, Abah tak ikut nak".
" nanti nyusul lir biasalah abahmu masih ngurusin ayamnya." alira tersenyum.
" Ra mas ke pesantren dulu ya". kata Barra pamit.
" iya pulang jam berapa mas".
" sore sudah pulang Ra tak ada jadwal malam".
" Alhamdulillah kalau gitu mas."
" Mak barra ke pesantren dulu ya".
" Iyah hati-hati nak, jaga mata jaga hati sudah ada yang memiliki ". ucap emak yang sangat benci dengan pelakor. ih memang emak ini kebiasaan nonton sinetron.
" Iyah Mak, Alhamdulillah ada doa selalu yang alira lantunkan barra jadi terjaga."
" Fauzan awasi mantu emak."
" beres Mak". kata Fadil memajukan jempolnya.
" Mak jangan berlebihan gitu mas barra ini bukan laki-laki seperti itu Mak insyaallah, kita harus terus berprasangka baik Mak jangan berkata yang tak baik. karena setiap ucapan itu adalah doa".
" Iyah Mak ngerti, astaghfirullah hal adzim. mantu emak Mah hebat semua". barra dan Fauzan terkekeh mereka lalu berangkat.
___
Dua laki-laki tampan terlahir dari seorang ibu yang luar biasa serta ayah seorang dokter. Aisha hanyalah seorang ibu rumah tangga namun ia bisa mencetak anaknya menjadi apa yang mereka mau. Ammar sejak kecil memang jiwa bisnisnya sudah tertanam dalam dirinya sedangkan Ameer ia lebih dekat dengan ibunya hingga ia memilih profesi menjadi dokter seperti ayahnya.
" assalamu'alaikum bunda". Di jam makan siang tak lupa bunda selalu menelepon Ammar, karena Ammar mempunyai riwayat sakit asam lambung.
__ADS_1
" wa'alaikumsalam nak".
" sebentar lagi ya bunda , Ammar sedang menyelesaikan pekerjaan ".
" nak bunda tak melarang kamu bekerja keras tapi ingat kesehatan bunda tak mau kamu sakit, makan dulu ya tadi sudah bunda bawakan bekal kan".
" iya bunda oke ini Ammar tutup laptop nya."
" ya sudah jika selesai langsung pulang ya nak."
" iya bunda sayang ". Aisha lalu menutup teleponnya.
Jam sudah menunjukkan pukul satu siang, di lihatnya motor Ameer sampai. Aisha tersenyum anaknya satu ini selalu menyempatkan untuk makan di rumah bersama Bunda nya. salam terucap dan langsung terjawab oleh Aisha.
" Bagaimana pertama menjadi dosen nak" tanya bunda.
" menyenangkan bunda bertemu dengan banyak mahasiswa paling banyak mahasiswi di kelas farmasi." Ameer tertawa.
" hmmm... anak bunda sudah dewasa memang, adakah yang menarik perhatian mu saat pertama kali menatap nak".
" ada ngga ya bunda, mungkin wanita itu satu mahasiswi yang menarik perhatian Ameer. Dia berpenampilan sederhana namun terlihat anggun Bun, senyum nya manis seperti bunda. Entah kenapa pertama kali Ameer menatap nya langsung saja klik dengannya. Dia berbeda...". Aisha tersenyum memang sudah saatnya ini ia bicarakan umur Ameer sudah cukup jika mengenal wanita.
" ajak ta'aruf nak."
" hah,, apa-apain sih bunda Ameer mengenalnya saja belum. Tidak bunda belum Ameer masih ingin berkarir di dunia Ameer baru satu tahun juga Ameer lulus ilmunya masih dangkal."
" Ameer laper bunda yuk makan, nanti sore Ameer ke rumah sakit mau dinas malam".
" nih anak kalau di ajak ngomongin wanita selalu mengelak saja, di khitbah orang duluan baru tau rasa kamu". Ameer justru tertawa bunda nya memang selalu mengkhawatirkan anak-anaknya.
" Ammar tak makan di rumah Bun, sudah bunda telepon".
" ia sedang banyak kerjaan nak sudah bunda telepon tadi". bunda mulai menuangkan nasi untuk anak laki-laki nya .
" Dia itu selalu begitu tak ingat apa kalau sedang sakit, terlalu sibuk dengan pekerjaan. Bikin Ameer susah terus." gerutu Ameer saking sayangnya dengan kakaknya ia tak ingin kakaknya Ammar sakit.
" Bunda juga khawatir padanya nak tapi tadi sudah bunda telepon dan dia makan". Ameer melanjutkan makannya setelahnya ia akan istirahat karena akan dinas malam di rumah sakit.
___
" Aku mau langsung pulang Mahya, mau ikut denganku atau pulang." tanya Khansa.
" ikut dengan mu".
" iya tadi Abi bilang Nini Dateng, tadi Abi mengisi didesa sekalian bawa Ninik ke rumah."
" okelah aku ikut kangen sama Nini, ".
" hubungi dulu umi mu Mahya, nanti takutnya nyariin juga".
__ADS_1
" iya sebentar". Mahya terlebih dahulu menghubungi kedua orang tuanya jika ia akan langsung ikut Khansa.
" mampir dulu ke supermarket ya aku mau beli cemilan."
" di rumah ku ada Mahya tak perlu beli juga".
" serius" Khansa mengangguk ia lalu melajukan motornya.
Khansa langsung berjalan cepat untuk masuk ke rumah, rasa kangen terhadap nininya tak bisa di bendung lagi. Nini memang selalu di rindu.
" Nini..." Khansa langsung berlari melihat Nini sedang duduk.
" cucu Nini kok tak salam." Khansa nyengir ia sampai lupa.
" assalamu'alaikum".
" wa'alaikumsalam". Khansa Salim langsung memeluk Nini nya. di belakang nya ada Mahya yang juga ikut Salim.
"masih ingat nik." tanya Mahya.
" iya Nini ngga hilang ingatan kamu teh Bahaya kan." Mahya langsung cemberut Khansa tertawa terbahak.
" ih ninik katanya inget, Mahya ni bukan Bahaya." Nini pun ikut tertawa sebenarnya Nini ingat hanya senang saja menggoda Mahya.
" Makin cantik saja kamu sekarang ya sudah jadi gadis dewasa ". muka yang tadi cemberut langsung berbinar di sebut cantik.
" Iyah dong ni Mahya sudah jadi mahasiswi."
" sekolah di mana."
" bareng sama Khansa."
" Alhamdulillah belajar yang rajin jadi anak pintar jangan pikirin pacar, bisa-bisa di cakar sama Abi kalian." ucap Nini.
" ngga ni ngga boleh pacaran kita masih serius untuk sekolah dulu".
" nah pinter ini baru cucu-cucu Nini". Khansa dan Mahya tertawa mereka sangat rindu sama Nini yang selalu banyak banyolan nya.
" mana aki kok ngga kelihatan ".
" nanti nyusul sore, mau ngurusin ayamnya dulu ".
" Selalu aki ya tak lupa kalau sama ayamnya."
" ya itulah aki mu, Kalau sudah sama ayam Nini pun di lupakan nya". Khansa dan Mahya tertawa di ikuti alira yang keluar membawa makanan kecil untuk Nini.
__
bersambung
__ADS_1