Cinta Untuk Khansa

Cinta Untuk Khansa
Part 84. biar mesra


__ADS_3

Waktu istirahat siang sudah tiba Khansa shalat dulu ke masjid rumah sakit, bersama Mahya. Mahya pun saat ini membawa bekal jadi ia tak perlu pergi ke kantin. Umi Ratih tadi membawakannya untuk Ratih bekal.


" Mahya aku duluan ya takutnya kak Ameer sudah nunggu". Ucap Khansa beranjak memakai sandal jepitnya.


" iya Khansa aku makan di dalam saja." ucap Mahya juga beranjak.


Lega ternyata Ameer belum keluar dari ruang operasi, ia masih bisa menyiapkan makanan yang sudah Ameer pesan. Khansa tersenyum hatinya merasa bahagia dirinya kini ada yang menjaga dan memperhatikan nya. Makanan sudah siap ia sajikan di karpet kecil yang ia letakkan di bawah, karena ruangan yang sempit dan Ameer lebih nyaman jika makan di bawah.


" assalamu'alaikum." sapa Ameer saat masuk dengan senyuman spesial nya.


" wa'alaikumsalam kak." Khansa langsung berdiri dan Salim tak lupa ciuman kening Ameer layangkan.


" sudah menunggu dari tadi." ucap Ameer sembari meletakkan snelinya dan jas kedokteran nya.


" baru saja selesai siapin makanannya." ucap khansa membantu Ameer melepaskan jasnya.


" sudah shalat."


" Alhamdulillah sudah, kakak."


" sudah tadi shalat dulu sebelum masuk ke sini ". Ucap Ameer kemudian duduk di karpet kecil alas untuk mereka makan.


" Kakak tadi pesan ini aja kamu suka tidak." ucap ameer, ikan emas goreng dan capcay.


" asal makan sama kakak Khansa suka."


" udah pinter gombal sekarang ya". Khansa terkekeh Ameer mencubit hidung nya.


" Kak ada operasi setelah ini." tanya Khansa membuka bungkusan milik Ameer.


" ada cuma satu tapi lumayan sulit, kenapa kamu mau pulang duluan".


" ngga kak, Khansa tunggu kakak saja. Gaza ada di rumah Abi ".

__ADS_1


" makasih ya sudah mau tunggu kakak terus."


" biar mesra katanya kan ." Khansa terkekeh, Ameer lalu mengusap kepala Khansa.


Keduanya makan bersama seperti hari-hari yang mereka lalui selama bekerja di rumah sakit. Canda tawa kasih sayang mereka curahkan sebelum kembali berkerja lagi.


" Kakak antar ke farmasi yuk ."


" kakak apa ngga langsung masuk ke ruangan operasi saja nanti di tunggu yang lain." Khansa berdiri di dekat meja, Ameer pun mendekatkan tubuhnya membenarkan jilbab Khansa yang sebenarnya sudah rapi.


" Kakak itu kalau ke ruangan operasi tunggu di panggil dulu baru ke sana". Khansa melingkar kan tangannya di pinggang Ameer.


" ya sudah kalau gitu antar Khansa dulu, tapi malu kak nanti ada yang bilang Khansa manja." Ameer justru terkekeh.


" emang siapa yang berani bilang begitu sama istri ku, mereka itu belum pernah ngerasain pengantin baru ". ucap Ameer menciumi kepala Khansa.


Khansa pun terkekeh di balik kedewasaan Ameer akan manja di depan seorang istri nya. Dia bisa menempatkan dirinya sebagai suami, sebagai ayah dan sebagai dokter.


" Ayo Kak tak enak sama yang lain mereka sudah bekerja Khansa malah bermesraan sama dokter Ameer."


Ameer berjalan beriringan dengan Khansa ia mengantar Khansa terlebih dahulu sebelum ke ruangan operasi. Setelah sampai Ameer lalu pamit, ada pasang mata yang tak bersahabat melihat ke arah keduanya.


Dokter Salsabila mengepalkan tangannya melihat kedua pasangan itu begitu mesra.


" seharusnya aku yang ada di sana kenapa harus jandanya Ammar yang ada di samping Ameer. Kamu benar-benar buta Ameer, apa yang sudah kamu terima dari wanita itu hingga kamu menerima dia dengan tangan terbuka mu." gumam Salsabila yang hanya di dengar nya saja.


__


Malam ini Gaza menginap di rumah Alira, ia benar-benar tak mau di jemput oleh Ameer dan khansa. Karena rayuan dari omnya Khalid, Khansa dan Ameer pun tak menjemput Gaza membiarkan Gaza bersama Khalid dan orang tua nya.


" sepi tak ada Gaza." ucap Ameer kini bersandar di ranjang.


" Khansa kira kakak akan bebas jika tak ada Gaza." .

__ADS_1


" bebas apa sayang, ada Gaza pun kita bebas kan bikin adeknya Gaza ".


" kakak, sempat berfikir Gaza akan mengganggu dan kakak akan merasa terganggu ". ucap Khansa.


" astaghfirullah hal adzim sayang, ya ngga lah kalian itu hidup ku. tak ada pikiran kakak seperti itu."


" iya maaf kakak itu hanya kekhawatiran Khansa ."


" kakak itu sadar siapa yang kakak nikahi, Gaza anak kakak khansa aku berhak menjadi walinya."


" iya kak maaf."


" sini dekat kakak, tolong jangan berfikir begitu ya. Kakak ini benar-benar cinta sama kamu, kakak juga tak pernah berfikir setelah kamu menjadi istri kak ammar akan bisa bersama kamu seperti ini. Ini di luar logika ku Khansa, aku pergi dari kota ini karena ingin menjaga hatiku sendiri. Kakak ingin kalian yang aku sayangi bahagia. " terang Ameer, khansa menyandarkan kepalanya di dada milik Ameer.


" maaf kak, Khansa minta maaf. Khansa sekarang sungguh bahagia, mas ammar memang Suamiku tapi itu dulu saat dirinya masih ada di sisi ku. Sekarang kak Ameer yang Allah hadirkan di sisiku sudah menjadi kewajiban jika Khansa mencintai suami Khansa."


" terima kasih ya sayang." Ameer mengecup kepala nya beberapa kali.


__


Di suatu rumah Salsabila merasa dirinya sudah tak berguna lagi untuk hidup. Ia menegak minum-minuman keras, yang tak pernah dia lakukan sebelumnya. Memiliki orang tua yang hanya sibuk mementingkan karirnya tanpa peduli bagaimana hidup Salsabila di luaran sana.


Malam itu Salsabila minum hingga mabuk ia pun meracau terus memanggil nama Ameer. Rumah besar dan mewah yang menjadi tempat tinggalnya kini Salsabila hanya sendiri. Orang tuanya selalu sibuk dengan urusan karir bahkan mereka jarang untuk pulang.


Salsabila hanya di penuhi terus kebutuhan nya tanpa peduli apa yang Salsabila lakukan selama ini. Salsabila sungguh rindu akan kasih sayang kedua orang tuanya sebagai penguat dirinya kala jatuh dan kecewa. Malam ini entah apa yang Salsabila pikirkan dia benar-benar hingga tak sadar kan diri meneguk begitu banyak minuman nya.


" Non ada telepon dari bapak" bibik mengetuk-ngetuk pintu kamar Salsabila, namun tetap saja tak di bukanya.


Perasaan bibik ngga enak terasa, ia pun mencoba memegang handel pintu. Tak terkunci bibik bisa masuk, namun kaget melihat keadaan kamar yang begitu berantakan seperti orang yang habis marah.


Bibik menjerit ketika melihat Salsabila sudah tak sadarkan diri. Bibi langsung berlari turun memanggil sopir untuk membawa Salsabila ke rumah sakit. Orang tua Salsabila menelepon mendengar kabar tersebut mereka pun bergegas pulang yang saat itu masih berada dengan rekannya.


" ya ampun non kenapa bisa seperti ini, dari mana non salsa dapat minuman memabukkan ini,.". ucap bibik yang sejak tadi berusaha mengusap kepala Salsabila yang banyak keringat.

__ADS_1


Mobil melaju begitu kencang langsung menuju rumah sakit. Nampaknya Salsabila over dosis meminum minuman keras.


__


__ADS_2