
Bunda dengan telaten mengambilkan nasi juga lauk, memang ada yang ingin bundanya katakan kepada Ammar. ucapan yang sempat di bicarakan tadi dengan suaminya.
" nambah lagi nak".
" sudah bunda Ammar kenyang".
" kenapa makanannya sedikit, "
" kalau kebanyakan nanti Ammar mengantuk , pekerjaan Ammar masih banyak."
" jangan di forsir nak, ingat tubuh juga butuh istirahat. bunda tau kamu suka sekali bekerja dengan bisnis tapi ingat kesehatan. emang kamu kerja untuk siapa".
" untuk bunda ".
" bunda sudah cukup nak, ayahmu selalu memberi lebih untuk bunda. Cari istri ya nak." seketika Ammar batuk.
" pelan-pelan baru mau ngomongin nikah udah keselek". ucap ayah meledek anak sulungnya.
" nikah ayah, Ammar belum siap."
" apa yang membuat mu tak siap nak, kamu sudah punya segalanya".
" tapi Ammar masih ingin meniti karir bunda, belum bisa seperti om Hamdan yang sukses ". ucap Ammar.
" rezeki orang itu masing-masing nak, om mu dulu menikah nya lebih muda dari pada kamu".
" tapi bunda, Ammar masih ingin membangun bisnis."
" apa kamu tak kasihan sama bunda, bunda ingin menimang cucu nak."
" kenapa tak Ameer saja duluan yang menikah, Ammar nanti dulu " kata Ammar mengelak, belum ada terbersit satu pun soal wanita di benak Ammar.
" kamu anak pertama nak, bunda mau kamu lebih dulu menikah ketimbang Ameer. setelah kamu baru nanti Ameer ".
" umur Ammar belum cukup tua jika harus menunggu tiga atau empat tahun lagi bunda ".
" tapi bundamu sudah cukup tua nak, hanya itu harapan bunda untuk mu nak."
" Ammar belum ada calonnya bunda, nanti saja ya ngomongin pernikahan ". ucap Ammar terus mengelak.
" kalau masalah calon gampang bunda sudah punya". ucap bunda berusaha meyakinkan anaknya.
__ADS_1
" tapi bunda menikah itu kan butuh kesiapan"
" memang iya, makanya dari itu sekarang siapkan dirimu untuk mengkhitbah gadis saliha itu ". Ammar gusar ia mengusap wajahnya tak bisa jika Bunda nya yang meminta.
" oke bunda tahun depan". setelah Aisyah berfikir ia pun mengiyakan.
" tapi mau ya pilihan bunda."
" iya Ammar mau".
Bunda tersenyum senang rencana demi rencana sudah bunda susun di benak bunda. setelah selesai dengan misinya bunda lalu pulang bersama suaminya.
" apa tidak terlalu memaksa untuk Ammar sayang". ucap azzam ia sebenarnya tak ingin mengekang anak nya.
" Ammar itu memang harus di paksa ayah, jika tidak tak mungkin ia akan cari sendiri". ucap Aisyah tersenyum senang.
" ya sudah jika memang kamu yakin".
" aku ini ibunya mas, aku yang mengandung dan melahirkan nya. Aisyah yakin Ammar akan mau dengan semua keputusan bunda." begitu yakinnya Aisyah.
__
" Ra kok ngga istirahat sudah malam loh ini sayang". Barra mendekat memijat pundak istrinya yang masih sibuk dengan jarum dan benang nya.
" sedikit lagi mas, besok mau di ambil sama Bu Aisyah". ucap Alira masih sibuk memasang manik-manik.
" mas tu pingin kamu istirahat jangan terlalu sibuk lagi, umur juga sudah bertambah kita Ra."
" iya mas, alira tau makin hari Alira makin tua ya mas." ucap Alira mendongak dan tersenyum ke arah suaminya.
" kita tak akan bisa menolak tua sayang karena itu hal yang pasti. tapi buat mas meski kamu sudah tua kamu tetap cantik."
" issshhh... mas gombal."
" beneran sayang karena mas melihat nya bukan dari mata tapi dari hati " kata Barra mencoba romantis.
" hmmm... oh ya apa alira harus percaya mas, bagaimana pun alira tetap tua mas keriput."
" tak apa sayang karena memang sudah waktunya, ana Uhubbika Fillah sayang." alira tersenyum begitulah Barra meskipun sudah tua ia masih menumbuhkan momen romantis terhadap pasangan nya.
" iya mas, alira juga mencintai mas."
__ADS_1
" kalau cinta letakkan dulu kerjaannya sayang, mas kangen sama kamu".
" mas nanti tak selesai loh ini "
" biarin nanti hubungi saja dulu bu Aisyah supaya ambilnya jika sudah selesai."
" mas ini memang nakal". ucap Alira ia mengikuti ke mana arah suaminya membawa yah benar tak lain ke ranjang.
Pergulatan panas yang saling mencintai karena Allah, meski umur sudah tak muda lagi keduanya masih terus saling romantis juga humoris.
" sayang sebentar lagi Khalid sudah lulus SMA seperti yang dia inginkan ia ingin sekolah di Kairo. izinkan Khalid ya sayang, mas tau kamu sayang sama Khalid tapi demi pendidikan nya dan pesantren kita Khalid harus punya banyak bekal ilmu. Khalid yang akan meneruskan mas sayang" ucap Barra ia bicara pelan-pelan karena alira pasti sulit untuk mengizinkan Khalid. Barra mencuri star dulu agar jalan Khalid lebih di permudah.
" rasanya baru kemarin ya mas kita menimang anak-anak cepat sekali mereka sudah dewasa." alira mengeratkan pelukannya ingin rasanya ia menangis.
" semua akan ada waktunya sayang, kamu tau kan jika anak juga merupakan titipan Allah. tugas kita mendidik nya dengan baik kelak kita bisa berkumpul bersama di surga Nya Allah. Akan ada masanya juga hidup kita akan berakhir, entah mas atau siapapun yang akan lebih dulu pergi".
" mas jangan ngomongin itu, alira takut mas. alira takut sendiri bawa Alira kemanapun mas pergi ". Barra menciumi puncak kepala alira.
" Istri ku masih sama saja seperti dulu, tapi sekarang beda tambah manjanya." Barra tersenyum menarik hidung Alira yang mancung itu.
" mas sakit". Barra terkekeh.
" sudah yuk tidur sayang, apa mau mandi dulu". alira menggeleng.
" mau lagi berarti ya." alira mencubit pinggang Barra, Barra tertawa terbahak.
___
Khansa belum tidur ia masih berkutat dengan tugasnya, begitu serius Khansa dalam menjalani sekolahnya. sedangkan di sana ada insan yang selalu menyebut namanya dalam doa. Ameer belum berani mengungkapkan perasaan nya terhadap Khansa hanya lantunan doa yang ia langitkan.
" insyaallah tahun depan sebelum aku berangkat sekolah spesialis aku mau khitbah Khansa." gumam Ameer yang hanya di dengar oleh telinga nya sendiri, di kamar itu ia terbaring setelah shalat malam. tiada henti doa yang ia panjatkan untuk pujaan hatinya, minta di dekat kan jika memang jodoh nya. Minta agar Allah mengumpulkan keberanian untuk bisa mengkhitbah gadis pujaannya. Ameer akan mengkhitbah Khansa dan setelah Khansa lulus Ameer akan menikahi nya , itulah rencana Ameer.
' Angin sampaikan salam rinduku padanya, rindu yang tak pernah bertepi. Rasa ini tumbuh mampir lalu hinggap saja tanpa permisi. Izinkan aku membawanya pergi, ya pergi untuk hinggap di hatiku untuk selamanya. Khansa aurelia Ar Rasyid nama yang indah, nama yang selalu ku lantunkan doa dalam setiap malam panjangku. Titip tolong lindungi dirinya dalam setiap langkah, titip berikan hatinya untuk ku saja'. dan kebahagiaan selalu untuk nya. monolog Ameer dalam hati.
" apa aku terlalu egois jika menginginkan nya, belum tentu dia itu jodohku, apa aku salah jika menginginkan nya. untuk pertama kalinya aku merasakan jatuh cinta. oh cinta kenapa harus aku tak seberani ini, jika aku bilang sama Abi gimana ya. oh tidak... kak Ammar saja belum masa aku duluan". Ameer seperti orang tak waras berbicara sendiri lalu ia terlelap, dalam setiap mimpi istikharah nya jelas Khansa yang ada dalam mimpinya. untuk itu Ameer begitu yakin jika Khansa lah jodohnya.
___
bersambung
jangan lupa komentarnya yaz beri hadiah juga vote. jangan lupa bintang limanya. terima kasih.
__ADS_1