
Ameer terbangun saat terdengar suara adzan Zuhur dari suara Khalid, ia bangun terlebih dahulu mandi dan langsung ke Masjid. Ameer membiarkan Khansa yang masih tertidur, Ameer tersenyum membenarkan selimut yang sudah melorot dari tubuh Khansa.
Khansa terbangun ia tak melihat Ameer di sebelah sisinya ia lalu mengambil air wudhu dan bersiap untuk pergi ke bandung. Pakaian sudah Khansa siapkan kemungkinan besar mereka akan menginap meski hanya semalam. Tak akan mungkin jika Ameer akan langsung pulang, pasti akan lelah di perjalanan.
" Gaza sudah bangun belum." tanya Ameer setelah masuk ke dalam kamar kembali.
" belum tau kak, Khansa belum liat ke sana." ucap Khansa setelah merapikan ranselnya.
" Ya sudah aku liat Gaza dulu ya".
" iya, kakak di sana masih ada baju ganti tidak."
" masih ada kamu bawa beberapa saja tak usah banyak besok nya kita langsung pulang." ucap Ameer tak ingin dia memaksa Khansa di sana lebih lama.
" apa tak ada tempat wisata di sana, aku mau liat kebun teh". Ucap Khansa berhenti dengan aktivitas nya lalu melihat ke arah Ameer. Ameer pun berhenti saat ia akan keluar dari kamar nya.
" Bagaimana dengan pekerjaan mu apa tidak akan menggangu."
" apa kakak tak ingin ajak Khansa jalan-jalan ". Khansa justru balik bertanya.
" ya ma...mau tapi ".
" tapi apa kak, ya sudah kalau memang kakak sibuk tak apa." Khansa berbalik ia mengambil jaketnya yang akan ia pakai, kemudian memakai kaos kaki tanpa peduli Ameer yang sedang mematung di pintu memandangi Khansa.
' secara tidak sadar sikapmu seperti mas ammar kak, aku rindu itu.'. Monolog Khansa dalam hati.
" Kamu mau kita jalan-jalan". Ameer mendekati Khansa. Khansa pun mendongak ia sedang menunduk memakai kaos kakinya.
" tak usah di pikirkan kak, mungkin karena aku selama ini hanya di rumah saja. Terlalu senang jika bisa keluar rumah". Ameer lalu mengusap kepala Khansa.
" kita akan jalan-jalan ". ucap Ameer.
" jangan di paksa kak." Khansa menghela nafas.
" ngga di paksa tiga hari ini aku memang tak ambil jadwal operasi, mau fokus dengan Gaza dulu."
" hanya Gaza saja." Ameer garuk-garuk kepala ia bingung mau ngomong apa sebenarnya dalam hatinya bukan juga, sebagai pengantin baru pengen juga kan ngerasain bulan madu.
" ayah bunda..." Gaza datang ke kamar mereka setelah sudah rapi bersiap untuk berangkat.
__ADS_1
" anak ayah sudah siap." Gaza mengangguk.
" oke, sebentar ya ayah ambil jaket dulu".
" ini kak." Khansa ternyata sudah mempersiapkan semuanya.
" terima kasih ya". Ucap Ameer melayangkan senyum nya. Khansa mengangguk, mereka kemudian turun.
Semua melambaikan tangan ketika Ameer mulai akan melajukan mobilnya, mau mampir dulu ke rumah bunda pamit. Ameer tak bisa lepas dari bundanya jika akan pergi ia selalu minta izin dengan bunda.
" Gaza senang." tanya Aisha.
" iya nenek bisa jalan-jalan sama ayah dan bunda".
" hati-hati ya, di sana tempat asing jangan pergi ke manapun tanpa ayah dan bunda." Gaza mengangguk.
" ayah, Khansa bisa minta izin selama tiga hari." ucap Ameer, sebenarnya ia malu mau izin dengan ayahnya.
" lebih dari tiga hari juga boleh, Mahya bisa merangkap pekerjaan Khansa". Ucap ayah.
" insyaallah tiga hari saja ayah, Ameer ada jadwal operasi setelah nya dan mulai bekerja di rumah sakit."
" ya sudah kalian hati-hati, cepat berangkat saja supaya sampai di sana belum gelap". Mereka Salim terlebih dahulu kemudian berangkat dengan mobil Ameer, perjalanan jakarta bandung sekitar dua jam lamanya.
" rumah baru, rumah siapa sayang." tanya Khansa ia melirik ke arah Ameer, namun Ameer sedang fokus menyetir.
" rumah baru, rumahnya masih di perbaiki kata ayah kalau sudah jadi kita pindah ke sana ya bunda "
" kak apa maksud Gaza".
" Aku memang beli rumah, sebelum balik ke Jakarta rencana memang rumah itu akan aku tinggali setelah kembali ke Jakarta. Memang benar jika rencana Allah itu yang terbaik, rumah itu tak hanya aku tinggali Sendiri tapi bersama kalian. ".
" Gaza juga sudah memilihkan kamar untuk adik loh bunda, Gaza mau adik bunda seperti Evelin teman Gaza punya adik." Ameer diam saja.
" Bener Gaza mau adik, ". Gaza mengangguk.
" bilang dong sama ayah.".
" sudah, kata ayah Gaza suruh bilang sama bunda". Ameer garuk-garuk kepala ia malu, jika bisa ia ingin tenggelam saja. Apalagi saat Khansa sejak tadi memandanginya.
__ADS_1
" Gaza berdoa ya semoga Allah lekas kabulkan Gaza punya adik".
" Amin ya Allah Gaza mau punya adik." Gaza mengusap kedua tangan nya ke wajah nya.
Sebelum ashar mereka sudah sampai di kota bandung, melewati masjid raya bandung dengan bangunan megahnya. Dulu Khansa ingin ke sini tapi belum sampai hal itu terwujud karena ammar yang begitu sibuk dan berakhir pada kematian ammar.
Mobil berhenti pada bangunan kecil, rumah dinas dokter yang dekat dengan rumah sakit tersebut. Gaza turun bersama Khansa dan Ameer membawa koper milik Khansa berisi pakaian Khansa dan Gaza.
" Alhamdulillah sudah sampai".
" hore... Kita sampai ayah."
" iya sayang, ini rumah dinas ayah tak besar dan fasilitas pun terbatasi. Jika tak nyaman kita ke hotel saja bagaimana." tanya Ameer.
" di sini saja kak, tak perlu menyewa hotel."
" oke ayo kita masuk putri dan permaisuri ayah." Ameer lalu membuka pintunya.
Tampak tempat yang bersih tertata rapi, ada foto yang Ameer pajang di dinding ruang tamu. Foto keluarga nya lengkap, ayah, bunda, Ammar, Ameer juga azkiya. Langkah Khansa berhenti saat melihat foto tersebut, foto dengan tawa lepas mereka. Gaza sudah berlari masuk ke dalam kamar yang Ameer tunjuk merupakan kamar nya.
Tes.
tiba-tiba air mata Khansa luruh memandang foto itu, Ameer pun melihat nya lalu ia mendekat. Di rengkuhnya jemari Khansa, ia tau jika Khansa butuh kekuatan untuk perlahan menerima kenyataan hidup nya yang sekarang. Untuk pertama kalinya Ameer memberanikan diri untuk menyentuh Khansa terlebih dahulu.
" maaf kak". Ucap Khansa mencoba menghapus air matanya.
" tidak apa-apa menangislah jika ingin menangis Khansa, tapi kakak mohon jangan menangis di depan Gaza ya."
" iya kak, ia baru saja bahagia mendapati seorang ayah". Khansa meletakkan kepalanya di bahu Ameer, Ameer mengusap nya.
" aku yakin kak ammar juga bahagia di sana jika melihat kalian bahagia, mulai sekarang jangan bersedih lagi ya kasihan kak ammar di sana juga Gaza".
" terima kasih kak, bantu Khansa ya kak. Maaf jika Khansa masih suka teringat mas ammar ".
" tak apa karena aku tau kalian saling mencintai, aku tak akan pernah menghapus cinta mu untuk kak ammar dalam hatimu ". Kata Ameer.
" tapi Khansa mau kakak bisa mencintai Khansa dengan tulus, dan Khansa akan terus berusaha mencintai kakak".
" pelan-pelan saja Khansa jangan terlalu di paksakan ". Keduanya lalu tersenyum, lalu mereka masuk ke kamar yang di dalamnya sudah ada Gaza yang terlentang menikmati ranjang milik ayahnya.
__ADS_1
___
jangan lupa vote nya ya...