
Khansa terbangun dari tidurnya ia langsung masuk ke kamar mandi untuk mandi pagi dan shalat malam. Cuaca cukup gerah semalam memang AC tak ia hidupkan, Khansa berganti pakaian dengan daster pendek ia gerai rambutnya yang basah. Kulit nya yang putih mulus terekspos membuat Ameer yang bangun menelan ludahnya.
' MasyaAlloh cantiknya '. Batin Ameer ia tak hentinya untuk terus menatap Khansa.
" astaghfirullah hal adzim, eh maaf kak maaf". Ucap Khansa langsung menarik mukena yang sudah siapkan sejak tadi. Khansa nyengir, Ameer menahan tawa dengan sikap Khansa. Khansa lupa jika kini ia sudah bersuami lagi.
" Aku ke kamar mandi dulu tunggu ya kita sholat berjamaah". Khansa mengangguk tanpa melihat wajah Ameer yang menahan tawa.
Untuk pertama kalinya Ameer dan Khansa untuk shalat berjamaah, setelah selesai Ameer menghadap ke belakang ia berikan tangan nya agar Khansa mengecupnya. Hati ingin mengecup kening khansa tapi Ameer canggung ia malu. Ameer melanjutkan zikir dan doa lalu ia tilawah bersama Khansa.
" Kamu masuk kerja hari ini." tanya Ameer membuka suara di dalam kamar menghilangkan kekakuannya.
" iya kak ". Jawab Khansa melipat mukenanya.
" aku akan balik ke bandung mengurus kepindahan ku ke Jakarta, tapi aku bingung bagaimana caranya ngomong sama Gaza. Takutnya ia berfikir jika aku akan meninggalkan dia lagi." kata Ameer ia duduk di sofa sembari menatap Khansa.
" maafkan Gaza ya kak selalu merepotkan."
" tidak bukan itu, Gaza tak pernah merepotkan ku sama sekali aku senang bisa menjadi ayahnya. Mungkin kamu yang keberatan dengan hal ini." ucap Ameer. Khansa menoleh menatap Ameer netra keduanya bertemu dan Ameer langsung mengunci mata Khansa tidak berpaling dari Ameer.
" tidak kak, aku percaya dengan takdir dan hal yang terjadi sekarang ini atas kehendak Allah. ".
" maafkan aku Khansa, aku berharap kita bisa sama-sama belajar menjalani takdir yang sudah tertulis. Kita berjalan bersama-sama, aku tak akan memaksamu mau menerima ku atau mencintai ku". Ucap Ameer ia bicara serius, memang harus ia bicarakan sebelum semuanya akan menjadi basi.
" bantu khansa kak,".
" jangan kamu jadikan beban atas diriku sebagai suamimu Khansa, berjalanlah seperti biasanya. aku akan mengerti seperti apa posisi aku kini, sebatas seorang ayah". Ucap Ameer, Khansa lalu mendongak menatap Ameer lagi.
" Kak ameer bukan hanya sebatas ayah saja tapi juga suami dariku kak." kata Khansa tak ingin membuat Ameer sakit hati.
" ya sudah bersiaplah jika akan bekerja aku antar sembari kita antar Gaza ke sekolah. Aku berangkat ke Bandung nanti saja ketika Gaza pulang, tak tega melihat dia harus melepaskan ku pergi lagi".
" Kakak berapa hari lamanya di bandung." tanya Khansa.
" jika hari ini bisa di selesaikan akan langsung pulang, " Khansa mengangguk.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu dan suara cempreng Gaza yang memanggil ayahnya terdengar, keduanya saling tatap dan tersenyum.
" ayah ..." Gaza langsung loncat dalam pelukan Ameer.
" putri ayah, gimana bobonya semalam sayang."
" om khalid reseh ayah, Gaza hampir jatuh di tendang nya." kata Gaza polos, Khansa dan Ameer tertawa.
" masa sih gitu om Khalid." Gaza mengangguk.
" kok belum pakai seragam sekolah sayang".
__ADS_1
" nini bilang suruh izin sama ayah dan bunda dulu boleh tidak Gaza mulai sekolah."
" jika Gaza merasa sudah sehat boleh kok sayang." Ameer menoel hidung Gaza.
" hore...Gaza sekolah, nanti aku bilang ke teman Gaza jika ayah sudah pulang ngga kerja jauh lagi ". Ameer tersenyum di ikuti khansa juga.
__
Gaza menarik ameer masuk ke dalam sekolah nya, ia ingin memberitahu kepada ibu gurunya jika ayahnya sudah ngga pergi jauh lagi. Dan ia juga memperkenalkan kepada teman-temannya sosok ayahnya.
" masuk sana bunda juga mau kerja sayang.". Gaza mengangguk, Ameer dan Khansa mencium Gaza.
" ayah nanti jemput Gaza ya."
" iya sayang." Gaza pun dengan riang masuk ke dalam kelasnya sembari melambaikan tangan dan di balas oleh Ameer serta Khansa.
Ameer mengantar Khansa ke tempat kerjanya dan ia pamit untuk ke rumah bunda. Khansa menyodorkan tangannya untuk Salim, Ameer gelagapan ia belum terbiasa dengan hal ini.
" Khansa kerja dulu ya kak."
" iya, nanti jika Gaza pulang aku jemput dan aku langsung ke Bandung ya Khansa."
" iya kakak kabari saja Khansa ". Ameer tersenyum tangannya mulai aktif mengusap kepala Khansa.
" Hati-hati ya". Khansa mengangguk.
" Khansa ya Allah auramu kini keluar lagi". Ucap Mahya cukup bahagia.
" apa sih Mahya, aku tetap begini dari dulu."
" tidak dong berbeda banget, aku lihat kamu lebih bahagia Khansa.".
" biasa aja Mahya udah yuk masuk." ucap Khansa.
" tuh kan senyummu saja kelihatan banget Khansa, ingat pesanku ya terima lah pak Ameer dengan tulus. Bagaimana pun sekarang dia suamimu dan berdamai lah dengan keadaan Khansa. Aku harap kamu juga Gaza bisa bahagia hidup bersama kak Ameer." ucap Mahya bersemangat.
" mikirin orang terus, kamu kapan umurmu sudah 27 loh." Mahya tersenyum.
" daoakan aku ya sebentar lgi".
" kamu serius Mahya, sama siapa ." Mahya mengangguk.
" rahasia," Khansa mencubit pinggang Mahya.
" aku tak akan melepaskan mu sampai kamu mengatakan siapa calon suami kamu". Mahya kesakitan Khansa benar-benar mencubit nya.
" oke-oke, calon suami ku Fahri." ucap Mahya, lalu Khansa menghentikan cubitannya.
" Fahri siapa Mahya."
__ADS_1
" cari tau sendiri saja siapa". Kata Mahya tersenyum tersipu malu jika suaminya brondong lebih muda dari dirinya.
" Fahri yang aku kenal itu anaknya paman Fauzan teman Abi, apa dia. tapi Fahri lebih muda dari mu umurnya Mahya." Mahya lalu cemberut secara tidak langsung Khansa mengatakan jika Mahya tua.
" Rasulullah saja menikahi bunda Khadijah yang lebih tua umurnya dari Rasulullah, memang aku tak boleh ya nikah sama brondong." ucap Mahya dengan nada memelas.
" ya Allah kamu serius Mahya sama Fahri, ustadz Fahri anaknya Tante Ratih ". Mahya mengangguk.
" masyaallah sahabat ku selamat ya, tak apa lebih muda lebih kuat." ucap Khansa membuat keduanya tertawa.
" aku juga awalnya ngga yakin Khansa ketika Abi bilang jika om Fauzan mengkhitbah aku untuk anaknya Fahri. tapi ternyata benar dengan bismillah dan keyakinan Fahri untuk meminangku akhirnya aku terima khitbah Fahri ".
" Alhamdulillah sahabat ku aku ikut bahagia, selamat ya. Jika sama Fahri ustadz muda kita masih bisa sama-sama tak akan jauhan." Mahya mengangguk dan tersenyum.
Keduanya lalu masuk ke dalam ruangan, mereka mulai bekerja. Seperti biasa keduanya mendapat tugas untuk meracik obat.
Ameer tiba di rumah bunda dan langsung di sambut oleh bunda. Bunda tersenyum bahagia di ciuminya anaknya itu yang kini sudah bersatu dengan cintanya.
" mana Gaza dan Khansa nak".
" Khansa kerja Bunda dan gaza sekolah".
" Bunda sungguh bahagia nak dengan pernikahan kalian berdua, dan sudah tak khawatir dengan keadaan Gaza lagi".
" doakan rumah tangga kami bunda ".
" iya sayang itu pasti".
" kata ayah kamu sudah beli rumah ". Tanya bunda.
" iya bunda, ketika Ameer pindah tugas ke sini lagi berniat akan menempati nya."
" bukan untuk menghindari Khansa kan."
" apaan sih bunda." ucap Ameer malu.
" maaf kan bunda nak yang tidak tau dulu jika kamu sebenarnya menyukai Khansa. Jika dulu bunda tau, pasti bunda akan mengkhitbah nya untuk mu".
" bunda jangan menyalahkan diri bunda,semua ini takdir yang sudah tertulis. mungkin memang ini jalan yang sudah di tulis untuk ku dan kak Ammar ". Aisha lalu tersenyum ia mengusap kepala Ameer.
" Gaza adalah peninggalan Ammar nak, ".
" aku menyayangi Gaza seperti darah daging ku sendiri bunda."
" kamu juga walinya nak."
Ameer tersenyum ia lalu pamit masuk ke dalam kamarnya. Untuk bersiap jika siang ini akan berangkat ke Bandung.
__
__ADS_1