
...Meskipun berusaha untuk menjauh tetap saja Allah mendekat kan dengan caraNya...
...💕💕💕...
Matahari sudah nampak turun tertutupi dedaunan yang menjulang tinggi di sekitar kebun teh. Ameer bersiap untuk pulang ke rumah dinas, melihat Khansa dan Gaza yang cukup kelelahan hari ini.
" sudah sore kita pulang ya sayang". Ucap ameer merapikan jilbab Gaza yang sudah sedikit acak-acakan. Gaza tidak pernah menolak jika akan di pakaikan jilbabnya.
" tapi kita ke sini lagi ya ayah".
" jika nanti ayah libur, bunda libur juga Gaza libur insyaallah kita ke sini lagi." Gaza terlihat cukup senang.
Khansa pun melangkah dengan tubuh yang terlihat cukup lesu. Ameer lalu menggandeng Khansa untuk masuk ke dalam mobil. Mereka tadi sudah berpamitan dengan orang-orang yang ada di kebun, juga menitipkan kebun teh nya kepada pak Eman jika akan Ameer tinggal ke Jakarta.
Gaza tak mau duduk di depan ia memilih duduk di belakang karena lebih leluasa untuk nya di sana. Khansa membanting tubuhnya di jok mobil ia terlihat kelelahan karena mereka menyusuri kebun dengan berjalan kaki. Sedikit ia pijit tumit nya merasa begitu pegal, ameer pun meliriknya sejenak.
" kita beli makan dulu untuk makan malam Khansa" Khansa mengangguk.
Mobil berhenti di sisi pedagang, Khansa akan turun namun Ameer mencegahnya ia tau istrinya itu kelelahan. Lalu Ameer memilih beberapa menu untuk di makan di rumah saja.
" ada yang mau di beli lagi Khansa, mumpung masih di luar". Tanya Ameer, Khansa hanya menggeleng kan kepala ia ingin cepat pulang dan tertidur.
" ya sudah kita langsung pulang saja ".
Tak lama mobil pun sampai di gedung kecil rumah dinas milik Ameer tersebut. Ameer membantu menurunkan Gaza yang nampak mengantuk lagi, namun Ameer menyuruh Gaza untuk mandi dulu.
" sehabis mandi jangan tidur lagi ya sayang, tidur habis ashar itu di larang dan sebentar lagi juga akan magrib". Ucap Ameer kepada Putri nya dan Gaza mengangguk ia memilih menonton televisi dan memakan cemilan.
Khansa sudah mandi begitu juga dengan Ameer, mereka duduk menemani Gaza yang sedang menonton televisi. Khansa merebahkan tubuhnya di sofa panjang dan kakinya ia angkat di sofa karena terasa pegal. Ameer pun duduk di sisinya ia angkat kaki Khansa agar berada di dalam pangkuannya.
" eh kak kakiku". Ucap Khansa ingin menurunkan kakinya.
" sudah tak apa." Ameer sengaja menahannya karena memang dia ingin memijat kaki Khansa.
__ADS_1
" eh kak jangan ." ucap Khansa berusaha terus menarik kakinya ia merasa tidak enak dengan suaminya yang menyentuh kakinya, belum juga ia memberikan haknya untuk Ameer berasa sudah ngelunjak meletakkan kakinya di pangkuan Ameer bahkan Ameer pijit.
" supaya kakimu tidak kaku Khansa, pasti lelah kan berjalan di kebun teh tadi". Karena Ameer terus menahannya akhirnya Khansa pasrah ia merasakan enaknya pijitan Ameer.
Malam semakin larut Gaza pun tertidur karena lelah, Khansa masih menata pakaian yang tadi ia cuci sebelum ke kebun teh sedangkan Ameer sedang merapikan tempat tidurnya.
" mau ke mana kak." tanya Khansa melihat Ameer membawa bantal beranjak keluar dari kamar.
" tidurlah kamu sama Gaza biar aku tidur di sofa saja, tempat nya sempit kamu pasti sulit bergerak nanti" ucap Ameer akan menutup pintu kamarnya.
" jika kakak tidur di sofa, Khansa juga ikut tidur di sofa." Ameer langsung mendelik mendengar ucapan Khansa ia sedikit terkekeh, bagaimana bisa berdua tidur di sofa.
" ya sudah ayo kita tidur di sofa." ucap Ameer sengaja bercanda, namun Khansa juga sengaja berdiri mau ikut ke sofa.
" eh mau kemana kamu Khansa ". Ameer menghentikan langkah Khansa.
" ikut kakak tidur di sofa". Ameer matanya membulat menangkap pergelangan tangan Khansa.
" kok tidur di sofa, di ranjang saja sama Gaza ya." ucap Ameer menatap intens Khansa, kini jarak mereka tak lebih dari setengah meter.
" ranjangnya sempit nanti kamu tak bisa bergerak seperti semalam sayang". Ameer garuk-garuk kepala ia malu ucapan sayang terucap begitu saja dari bibir Ameer.
" tak apa, di bandung ini kan dingin kak".
" terus..." Ameer mengerutkan keningnya.
" ya itu, anu... Selimutnya tidak tebal milik kakak dan kecil." ucap Khansa kikuk.
Ameer lalu mengusap kepala Khansa ia perlahan membuka hijab yang menutupi kepala Khansa lalu mengajaknya tidur di ranjang yang sempit untuk mereka. Khansa tersenyum Ameer mengerti maksud Khansa, pelukan hangat dari sang suami kini yang ia butuhkan. aroma tubuh Ameer kini menjadi candu Khansa untuk menghirup nya.
" ayo tidur sudah malam, besok kita pulang". Khansa mengangguk mereka tidur berhimpitan.
" kak...".
__ADS_1
" hemmm..."
" di bandung ini dingin sekali ya kak, kakak setiap malam hanya sendirian di sini." tanya Khansa, Ameer pun terkekeh.
" ngga dong,". Khansa lalu mendongak melihat raut wajah Ameer yang cukup tenang.
" kakak sama siapa emangnya apa ada teman kakak atau teman tidur kakak selama di sini". Tanya Khansa bgitu serius.
" iya ada setiap malam setia menemani ku". Khansa mengerutkan keningnya seakan ia ingin marah saat itu juga, selama ini ia berfikir jika Ameer itu laki-laki baik.
" siapa kak". Tanya Khansa dengan suara sedikit meninggi.
" nyamuk..." bisik Ameer di telinga Khansa.
" ih kakak khansa serius".
" kakak juga serius Khansa, ngga bohong kan. Memang dia yang selalu setia menemani ku di sini." Ameer terkekeh, Khansa memukuli dada Ameer dengan tawa tapi juga kesal.
" sudah malam ayo tidur nanti suaramu mengganggu Gaza juga." Ameer menyelipkan anak rambut yang kini menutupi mata Khansa.
" kak kenapa kakak kemarin mau menikah sama Khansa sedangkan Khansa bek...". Ameer meletakkan telunjuk di bibir Khansa.
" sudah tidak perlu di pertanyakan lagi, sekarang yang jelas kita sudah menikah kamu dan Gaza ada dalam perlindungan ku. Tak ada alasan lagi untuk aku tidak menikahi mu, meskipun aku kemarin tidak menikah denganmu kalian tetap menjadi tanggung jawabku. Tapi inilah takdir Allah menyatukan kita, meski aku mencoba terus menjauh tapi tetap saja Allah mendekat kan kita dengan caraNya ". Ucap Ameer membelai rambut Khansa dengan lembut.
" saat kemarin dokter Mala berkata seperti itu Khansa merasa bersalah dengan kakak. Khansa jadi berfikir seharusnya kakak memang lebih pantas mendapatkan yang gadis bukan janda seperti Khansa ".
" Lalu bagaimana dengan Gaza, apa aku harus egois mengabaikan Gaza. Tidak, aku sangat menyayangi nya dia yang kak ammar tinggalkan untuk ku. Setiap aku mencoba menerima orang lain dalam hidupku bayangan kak ammar dan Gaza selalu menghantuiku." ucap Ameer mulai mengeratkan pelukannya, angin berhembus begitu kencang seakan memberi kesempatan untuk mereka berdua menyatu.
Seandainya tempat itu tak sesempit itu mungkin saja mereka....
__
Bersambung.....
__ADS_1
Waktu tidur yang tidak di anjurkan adalah tidur setelah masuk waktu ashar. Tidur di waktu ini bisa mengakibatkan berkurang nya daya aktif akal manusia.