
Benar saja Salsabila kini menikah dengan Nino dokter itu, salsabila sudah ikhlas legowo dengan Ameer yang sudah menjatuhkan pilihannya kepada Khansa.
Gaun yang indah di kenakan Salsabila nampak cantik bagai bidadari. Nino bersedia dengan semua yang terjadi dalam hidup salsabila bahkan perasaaan cinta yang belum ada pada mereka.
Umur yang cukup menuntut mereka untuk segera menikah. Keduanya berjanji akan membuat hati satu sama lain untuk saling mencintai.
Kata sah terucap dari semua yang menyaksikan ijab kabul salsabila dan Nino. Ameer dan Khansa pun datang ikut menyaksikan sang pengantin.
" Khansa memegang perutnya yang terasa sangat mual."
" kenapa sayang." tanya Ameer yang khawatir kini umur pernikahan mereka menginjak enam bulan.
" Perutku mual serasa mau muntah".
Karena tak tega Ameer lalu mengikuti Khansa hingga ke toilet, Khansa memuntahkan beberapa kali.
" Kak kalau kita pulang saja bagaimana Khansa tak tahan kak, mual sekali perut ku bau parfum banyak orang ini."
" ya sudah kita pulang saja."
Setelah berpamitan dengan kedua pengantin kini Khansa dan Ameer pulang. Sebelum pulang Ameer berhenti dulu di apotik untuk membeli sesuatu.
Ameer tak sabar berdoa semoga apa yang ia pikirkan itu benar, karena Khansa sejak tadi mual terus. Apalagi saat lagi tadi, Ameer memijit tengkuk leher Khansa agar muntah tapi yang keluar cairan kuning kental yang terasa pahit.
Khansa langsung merebahkan tubuhnya di ranjang, Ameer melepaskan kaos kaki milik istrinya ia mencari pakaian ganti untuk Khansa.
" ganti dulu pakaian nya biar ngga gerah dan nyaman."
Ameer memilihkan daster longgar untuk Khansa, cuaca juga hari itu begitu panas.
" Coba cek dulu ya." Ameer menyerahkan tespek kepada Khansa.
" kak aku masuk angin saja." ucap Khansa malas ia takut Ameer kecewa, satu bulan yang lalu Khansa sudah mengecek nya tapi ternyata negatif.
" Sayang coba saja kalau belum juga ngga apa-apa mungkin emang belum rezeki saja." ucap Ameer yang sangat semangat.
Khansa akhirnya menurut ia masuk kamar mandi dan memakai alat tespek itu.
Lima belas menit, Ameer sudah tak sabar untuk melihat hasilnya. Ada ataupun tidak Ameer tak akan kecewa ia sudah berjanji pada diri nya sendiri.
Pintu kamar mandi terbuka, Khansa memperlihatkan alat tespek itu namun mata Khansa sudah berembun.
" masyaallah Alhamdulillah", ucap ameer saking bahagianya.
Ameer memeluk Khansa erat ia menciumi wajah Khansa tiada henti lalu ke perut yang masih rata itu.
" terima kasih sudah hadir didalam perut bunda ya sayang." ucap ameer mencium perut Khansa perlahan.
__ADS_1
" makasih sayang." Ameer memeluk kembali istri nya.
" Khansa senang kak, apalagi Gaza nanti jika ia tau jika akan punya adik."
" iya sayang, kebahagiaan kita semakin bertambah ya."
Ameer menuntun Khansa perlahan ia takut terjadi apa-apa dengan Khansa.
" sayang pelan-pelan". Ameer mengangkat kaki Khansa perlahan.
" sayang tidurnya jangan tengkurap, kalau miring kasih bantal".
" ya ampun dokter aku ini hamil bukan sakit."
" iya tapi kan harus hati-hati ".
" sayang mau makan apa, ". tanya Ameer semangat sekali.
" Khansa mau tidur saja kak."
" makan yang banyak biar kamu sehat sayang".
" iya nanti tapi Khansa lemas mau tidur kepala Khansa pusing kak." Ameer kemudian memijit kepala Khansa.
Ia menghubungi bibik untuk membawakan sidikit kue dan dan buah ke kamarnya. Khansa masih tak bisa terlelap ia merasakan mual dalam perutnya. Kali ini kehamilan berbeda dengan Gaza dulu.
" ngga enak kak". Khansa sangat tidak bernafsu sekali dengan makanan yang ada didepan mata.
" mau makan apa sayang nanti kakak Carikan".
" mau makan kakak saja." Ameer melotot.
" siang-siang gini sayang sebentar kakak cuci tangan dulu." Khansa menahan tawa hanya saja ia kesal Ameer bawel sekali kali ini.
Ameer membuka bajunya, ia sudah siap di makan oleh Khansa. Khansa justru tertawa terbahak-bahak sembari memegang perutnya.
" kenapa kok malah tertawa sih, kakak sudah siap ini loh." Ameer naik ke ranjang menghadap Khansa.
" ya ampun kakak percaya saja sama Khansa, lemas begini tak mungkin Khansa bisa makan badan sebesar kakak."
" kakak pasrah mau kamu apain ini, cubit boleh pukul boleh." kata Ameer, Khansa makin ngakak tiada henti.
" kakak ini, sini Khansa mau peluk aja. Ngantuk ayo tidur, siang-siang gerah kak tak asik".
" justru malah semangat sayang, keluar keringat banyak."
" issh... Kakak sudah ayo tidur ".
__ADS_1
" beneran ini ngga jadi sayang". Khansa sudah tak mau berkata apapun, ia menyembunyikan wajahnya di dada milik suami yang tak memakai bajunya itu.
Ameer mengusap kepala Khansa ia mencium nya beberapa kali. betapa sayangnya Ameer kepada Khansa cintanya kini berbalas.
Khansa pun akhirnya terlelap ia tidur memeluk Ameer.
__
Gaza merasa kesepian biasanya ada omnya Khalid yang bawel tapi sudah berangkat ke Kairo. Hanya ada Nini dan Nini buyut saja di rumah itu serta aki, kakeknya barra sedang ceramah.
Ia bertopang dagu melihat ke arah luar jendela, alira mendekat melihat cucunya yang sedikit murung.
" kenapa sih cucu Nini ini". Tanya alira membawa es krim yang di belinya kemarin.
" sepi tak ada om Khalid."
" kan ada Nini sayang."
" Gaza boleh pulang tidak sih nek, Gaza kangen sama ayah." ucap Gaza.
" ya boleh dong sayang emang siapa yang melarang mu pulang."
" om Khalid nek, katanya biar adeknya jadi dulu baru boleh pulang." alira menggeleng kan kepalanya.
" astaghfirullah ya ngga dong sayang, nanti kalau aki pulang biar Gaza di antar aki ya."
" beneran nek boleh pulang."
" iya sayang."
" Gaza kangen ayah sama Bunda."
" baru ketemu semalam sudah kangen ."
" iya nenek, ayah kan dulu pergi. Gaza lama sekali tak sama ayah, sekarang ayah di rumah ."
" iya sayang , ini mau ngga." Gaza mengangguk ia sangat senang.
" Khalid bicara sama Gaza kok seperti itu, kasihan Gaza nya menahan rindu tidur sama ayah nya." gumam alira.
Gaza menghabiskan es krim ia menunggu sang aki pulang ingin segera pulang ke rumah bertemu ayah dan bundanya.
__
Hai pembaca.
Maaf kemarin tidak up, othor lagi ada acara. Mau nulis jadi ngga konsen, setelah pulang juga kelelahan. Maaf ya...
__ADS_1
Sudah mampir kan ke cerita Khalid ramaikan ya. Terima kasih.